Sejarah Ejaan di Indonesia (Bagian III)

Ejaan Republik bukan titik akhir dari perjalanan panjang ejaan di Indonesia. Setelah ejaan yang juga dikenal dengan nama Ejaan Soewandi itu berlaku, pembaharuan terhadap ejaan terus dilakukan. Tercatat kemudian muncul Ejaan Pembaharuan. Ejaan ini direncanakan untuk memperbaharui Ejaan Republik. Penyusunannya dilakukan oleh Panitia Pembaharuan Ejaan Bahasa Indonesia. Kepanitiaan itu dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Nomor 448/S, 19 Juli 1956. Surat keputusan itu dikeluarkan dari tindak lanjut hasil keputusan Kongres Bahasa Indonesia II yang diselenggarakan pada 1954 di Medan.

Konsep Ejaan Pembaharuan yang berhasil disusun itu dikenal juga dengan nama Ejaan Prijono-Katoppo, sebuah nama yang diambil dari dua nama tokoh yang pernah mengetuai panitia ejaan itu.

Profesor Prijono, yang mula-mula mengetuai panitia itu, menyerahkan kepemimpinan panitia kepada E. Katoppo karena pada masa itu Profesor Prijono diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan sehingga tidak sempat lagi melanjutkan tugasnya sebagai ketua panitia ejaan. Maka, tugas ketua panitia dilanjutkan oleh E. Katoppo (Mustaqim, 1992:8).

Pada 1957 panitia lanjutan itu berhasil merumuskan patokan-patokan ejaan baru. Namun, hasil kerja panitia itu tidak pernah diumumkan secara resmi sehingga ejaan itu pun belum pernah diberlakukan.

Bila suatu ejaan telah mengalami pembaharuan, tentu ada hal yang membedakannya dengan ejaan sebelumnya. Mustaqim (1992:9) menyebutkan bahwa salah satu hal yang menarik dalam konsep Ejaan Pembaharuan adalah disederhanakannya huruf-huruf yang berupa gabungan konsonan menjadi huruf-huruf tunggal. Dengan kata lain, Panitia Pembaharuan Ejaan Bahasa Indonesia itu berusaha menyusun ejaan yang bersifat fonemis. Artinya, setiap fonem dalam ejaan itu diusahakan hanya dilambangkan dengan satu huruf.

Penyederhanaan itu terjadi pada konsonan dj diubah menjadi j, tj diubah menjadi ts, konsonan ng diubah menjadi ŋ, nj diubah menjadi ň, sj diubah menjadi š. Lebih lanjut, Mustaqim (1992:9) menyebutkan bahwa vokal ai, au, dan oi atau lazim disebut diftong (vokal rangkap) berdasarkan pelafalannya menjadi ay, aw, dan oy. Jadi, kata satai, amboi, harimau, menjadi Satya, amboy, harimaw. Hal ini berlaku untuk semua kata yang memiliki vokal rangkap, seperti gulai, kalau, dan asoi. Ketika kata ini dalam Ejaan Pembaharuan ditulis gulay, kalaw, dan asoi.

Hal lain yang juga diubah dalam Ejaan Pembaharuan ialah mengenai pemakaian huruf j seperti pada kata jang yang digunakan dalam Ejaan Republik. Kata tersebut diubah menjadi huruf y sebagaimana yang berlaku dalam ejaan bahasa Indonesia sekarang.[]

Leave a Reply