Home Budaya Sejarah Ejaan di Indonesia (Bagian I)

Sejarah Ejaan di Indonesia (Bagian I)

164
0

Selama ini Anda tentu tidak asing lagi dengan kata ejaan. Istilah tersebut sering diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Sering pula ejaan diartikan sebagai keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca (Mustakim, 1992:1).

Ejaan yang kita kenal sekarang dan telah berlaku sejak 16 Agustus 1972 dikenal dengan nama Ejaan yang Disempurnakan atau sering disingkat EyD. Namun, tahukah Anda bahwa sebenarnya ejaan memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang di negeri ini, jauh sebelum EyD diberlakukan. Tercatat lima ejaan yang lebih dulu ada di negeri ini sebelum EyD, yaitu Ejaan van Ophuysen, Ejaan Republik (Ejaan Soewandi), Ejaan Pembaharuan, Ejaan Melindo, Ejaan Baru (LBK). Setelah ejaan terakhir ini, baru kemudian muncul Ejaan yang Disempurnakan.

Ejaan van Ophuijsen

Ejaan van Ophuijsen, sesuai dengan namanya, disusun oleh orang Belanda, Charles Adriaan van Ophuijsen yang dibantu oleh Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Sutan Ibrahim. Ejaan ini untuk menggantikan ejaan bahasa Melayu pada 1896.

Siapa van Ophuijsen? Ia adalah orang Belanda yang gemar mempelajari bahasa berbagai suku di Hindia Belanda. Kegemarannya dapat dibuktikan dengan munculnya karya van Ophuijsen tentang bahasa, yaitu Kijkjes in Het Huiselijk Leven Volkdicht (Pengamatan Selintas Kehidupan Kekeluargaan Suku Batak) dan Maleische Spraakkunst (Tata Bahasa Melayu). Buku Maleische Spraakkunst diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul Tata Bahasa Melayu dan menjadi pedoman bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia. Tiga tahun setelah Pemerintah Kolonial Belanda resmi mengakui Ejaan van Ophuijsen ini, tepatnya pada 1904, ia diangkat oleh Belanda menjadi guru besar ilmu bahasa dan kesusastraan Melayu di Universitas Leiden. Sebelum menjadi Profesor Bahasa Melayu di Leiden, ia pernah menjadi inspektur sekolah di maktab perguruan Bukittinggi.

Dalam sejarah bahasa Indonesia, yang waktu itu masih bernama bahasa Melayu, Ejaan van Ophuijsen merupakan ejaan yang pertama kali disusun secara sistematis.

Sebelum Ejaan van Ophuijsen disusun, para penulis pada umumnya mempunyai aturan sendiri-sendiri dalam menuliskan konsonan, vokal, kata, kalimat, dan tanda baca. Oleh karena itu, sistem ejaan yang digunakan ketika itu sangat beragam. Keragaman itu terjadi karena tidak ada ejaan baku yang dapat digunakan sebagai pedoman. Dalam situasi semacam itu, terbitnya Ejaan van Ophuijsen sedikit-banyaknya dapat mengurangi kekacauan ejaan yang terjadi pada masa itu.

Ejaan van Ophuijsen ditetapkan pada 1901 dan diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul Kitab Logat Melajoe. Sejak ditetapkannya itu, ejaan ini pun dinyatakan mulai berlaku.

Hal yang cukup menonjol dalam Ejaan van Ophuijsen di antaranya adalah dalam penulisan huruf. Huruf y ditulis dengan j (sajang), u ditulis dengan oe (oemoem), k pada akhir kata atau suku kata ditulis dengan tanda koma (ra’jat, bapa’), j ditulis dengan dj (radja), c ditulis dengan tj (tjara), kh ditulis dengan ch (chawatir).[]