Home Budaya Sejarah Ejaan di Indonesia (Bagian II):

Sejarah Ejaan di Indonesia (Bagian II):

134
0

Setelah Indonesia merdeka, Ejaan van Ophuijsen disempurnakan dan berganti nama dengan Ejaan Republik. Ejaan ini disusun oleh Panitia Ejaan Bahasa Indonesia yang diketuai oleh R.M. Soewandi. Tujuan penyusunannya, selain untuk menyempurnakan Ejaan van Ophuijsen, juga untuk menyederhanakan sistem ejaan bahasa Indonesia.

Ejaan Republik diresmikan pada 19 Maret 1947 dan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 264/Bhg.A, tanggal 19 Maret 1947.

Ejaan Republik juga sering dikenal dengan nama Ejaan Soewandi.  Penyebutan dengan Ejaan Soewandi karena nama itu disesuaikan dengan nama orang yang memprakarsainya, yaitu R.M. Soewandi. Soewandilah yang mengetuai panitia penyusunan ejaan itu dan, selaku menteri, ia pula yang meresmikannya. Boleh dikatakan, dalam sejarah bahasa Indonesia di negeri ini, namanya dibicarakan orang sebagai salah satu tokoh yang pernah menentukan tonggak perkembangan bahasa Indonesia.

Siapa Soewandi? Bernama R.M. Soewandi, ia dilahirkan di Surakarta medio Oktober 1899. Soewandi pernah menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan ketika Ejaan Republik disusun. Masa itu adalah masa Kabinet Sjahrir I, II, dan III. Soewandi juga merupakan Sarjana Hukum yang lulus tahun 1923. Ia memang termasuk satu dari sedikit orang kaum terdidik di masa-masa awal berdirinya Republik Indonesia.

Ejaan Republik yang telah mengalami penyederhanaan itu tentu saja berbeda dengan pendahulunya, Ejaan van Ophuijsen. Namun, perbedaan itu tidak terlalu banyak. Beberapa perbedaan yang tampak mencolok dalam kedua ejaan itu adalah sebagai berikut.

Pertama, gabungan huruf oe dalam Ejaan van Ophuijsen diganti dengan u dalam Ejaan Republik. Kedua, bunyi hamzah (‘) dalam Ejaan van Ophuijsen diganti dengan k dalam Ejaan Republik. Ketiga, kata ulang boleh ditandai dengan angka dua dalam Ejaan Republik. Keempat, huruf e taling dan e pepet dalam Ejaan Republik tidak dibedakan. Kelima, tanda trema (“) dalam Ejaan van Ophuijsen dihilangkan dalam Ejaan Republik.

Perbedaan itu dapat dilihat pada kata berikut: oemoer, ma’loem, rata-rata, ékor, senang, mulaï dalam Ejaan van Ophhuijsen ditulis menjadi umur, maklum, rata2, ekor, senang, mulai dalam Ejaan Republik.

Meskipun dimaksudkan untuk menyempurnakan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik ternyata masih memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan itu antara lain karena huruf-huruf seperti f, v, x, y, z, sj (sy), dan ch (kh), yang lazim digunakan untuk menuliskan kata-kata asing tidak dibicarakan di dalam ejaan baru itu, padahal huruf-huruf tersebut pada masa itu masih merupakan permasalahan dalam bahasa Indonesia.[]