Panitia Kongres Peradaban Minta Masukan Tokoh Aceh

JAKARTA – Panitia Persiapan Kongres Peradaban Aceh (KPA) mulai melakukan diskusi intensif dengan sejumlah tokoh Aceh di Jakarta, Medan, maupun Banda Aceh. Diskusi ini dilakukan dengan cara mengunjungi tokoh masyarakat itu satu persatu. Itu dilakukan untuk mengkomunikasikan acara itu sekaligus berdiskusi dan meminta masukan tentang kongres.

“Sabtu malam tim kecil panitia bertemu dengan Prof. Dr. Nazaruddin Sjamsuddin,” kata Ahmad Farhan Hamid, Ketua Panitia Persiapan Kongres, melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Sabtu, 11 Juli 2015.

Farhan mengatakan Nazaruddin sangat antusias merespon acara itu. Direncanakan Nazaruddin akan menjadi salah seorang pembicara dalam pertemuan pra kongres di Medan, September 2015 nanti.

Setelah itu, panitia akan mengunjungi tokoh-tokoh lain yang dimulai di Jakarta. Mereka yang akan dikunjungi dan diminta masukan antara lain Adnan Ganto, Surya Paloh, Sofyan Djalil, Ferry Mursidan Baldan, Mustafa Abubakar, Abdullah Puteh, dan tokoh lainnya.

Seperti diketahui, Kongres Peradaban Aceh akan diadakan di Aceh pada akhir Oktober 2015. KPA 2015 ini mengambil tema penguatan bahasa-bahasa lokal di Aceh. Aceh setidaknya memiliki 13 bahasa lokal. “Belum semua bahasa itu memiliki kamus,” ujar Mustafa Ismail, sekretaris panitia kongres.

Menurut Mustafa, salah satu agenda aksi yang akan dilakukan pasca kongres adalah membuat kamus untuk semua bahasa di Aceh, baik dalam bentuk cetak maupun digital dan bisa diunduh di internet. Agenda aksi lainnya adalah mendorong lahirnya “majelis bahasa” di tiap daerah yang bertanggungjawab terhadap perkembangan bahasa-bahasa lokal di wilayah penuturnya masing-masing.

Bahkan, Farhan menambahkan, nanti ada satu hari tiap bulan sebagai hari bertutur bahasa lokal di masing-masing tempat, termasuk di sekolah dan instansi pemerintah. “Bahasa-bahasa lokal itu juga perlu masuk kurikulum muatan di sekolah, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi,” ujar Farhan.

Kongres di Aceh diperkirakan akan dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan, termasuk wakil dari penutur bahasa. Sebelum itu, diadakan pra kongres di Medan. Panitia pra kongres Medan telah membentuk panitianya.

“Ketua Zulkifli Husein, Sekretaris T Munthadar dan Bendahara Arbi A Gani,” kata HM Husni Mustafa, Ketua Umum Aceh Sepakat, komunitas masyarakat Aceh di Medan.

Pra Kongres di Medan direncanakan pada September 2015 dan diharapkan Gubernur Aceh yang membuka. Pihak penyelenggara di Medan juga akan mengundang 10 Konsul negara sahabat pada pembukaan pra kongres.

Sebelumnya, Panitia Persiapan KPA2015 di Jakarta juga telah mengadakan diskusi terarah di Jakarta pada 23 Juni lalu. Fahmi Mada, bendahara panitia, mengatakan semua rangkaian acara KPA2015, mulai diskusi terarah, Pra Kongres hingga Kongres, semua menggunakan dana hasil gotong royong alias meuripe di kalangan penggagas, panitia dan simpatisan, baik dari kalangan masyarakat Aceh maupun non Aceh. “Mereka menyumbang seikhlasnya,” ujar Fahmi.

Dia memastikan tidak ada sepeserpun dana pemerintah dalam pelaksanaan kongres ini. Sebab acara ini sendiri inisiatif dari kalangan masyarakat yang ingin agar identitas Aceh diperkuat.

“Jadi ini bukan acara proyek. Ini kerja peradaban di mana semua orang didorong ikut berpartisipasi di dalamnya,” tutur Fahmi.

Panitia yakin salah satu ciri peradaban Aceh yakni kebersamaan dalam kesetaraan masih tumbuh subur hingga kini. Misalnya dalam wujud meuripe untuk menyukseskan sebuah acara berbasis masyarakat.[](bna)