Meuripee

MAKMEUGANG atau meugang adalah tradisi yang sangat penting bagi masyarakat Aceh dalam menyambut tiga peristiwa penting. Ketiga peristiwa itu adalah menyambut bulan suci Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha.

Meugang ditandai dengan acara membeli daging dan memasak daging untuk disantap bersama keluarga, satu atau dua hari sebelum hari H di atas. Meugang bahkan menjadi menjadi semacam ‘gengsi’ bagi seseorang. Sebut saja misalnya bagi pengantin baru pria atau linto baro.

Bagi linto baro, makmeugang pertama sejak setelah menikah akan jadi pertaruhan penting. Sesulit apapun kondisi keuangannya, mereka tetap akan berusaha membeli daging untuk dibawa pulang ke rumah mertua. Budaya ini walau terkesan berat namun menjadi semacam kebanggan tersendiri.

Hampir tidak ada keluarga di Aceh yang tidak menjalani tradisi makmeugang. Bahkan bagi mereka yang telah tinggal di luar Aceh. Maka jangan heran jika pada tiga momen makmeugang tersebut, harga daging di Aceh bisa jadi yang termahal di dunia. Sejumlah kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah di Aceh kemudian menyiasati tradisi makmeugang ini.

Di sejumlah daerah dikenal dengan “meuripee”. Meuripee berarti menanggung bersama-sama, bergotong royong. Ada dua model dalam meuripee. Pertama meuripe mengumpulkan uang bersama-sama. Setelah uang terkumpul sekelompok orang tadi lantas membeli sapi atau kerbau. Jumlah uang yang dikumpulkan atau diripee tergantung dengan harga sapi atau kerbau yang akan dibeli.

Sebagai contoh misalnya harga sapi lima juta rupiah perekornya. Bila jumlah orang yang meuripee ada 25 orang, maka perorang hanya membayar 200 ribu rupiah saja.

Pada saat makmeugang sapi atau kerbau yang dibeli tadi dipotong di kampung. Prosesnya juga dilakukan bersama-sama dan dibagi sama rata. Sehingga semua anggota kelompok mendapatkan jumlah daging yang sama. Mulai dari daging, tulang, usus, hati dan lainnya. Semuanya lengkap walaupun misalnya hanya dapat secuil seperti hati atau jantung.

Kedua, ada yang disebut sie ripee atau disebut juga sie jampu dan sie tumpok. Meuripee model ini bedanya, hewannya dibeli oleh satu orang. Setelah disembelih dagingnya ditumpuk persis seperti meuripee model pertama. Bedanya yang menentukan harga adalah si pemilik ternak.

Pemilik ternak akan mengambil keuntungan dari hasil sie ripee atau sie tumpok itu. Biasanya pemilik ternak sudah duluan menawarkan ke pembeli sebelum hari meugang. Sehingga sama-sama diuntungkan dan sudah ada deal harga duluan. Sehingga tidak terjadi fluktuasi harga seperti di pasar pada umumnya.

Sedangkan yang dijual di pasar terpisah. Artinya dijual dengan menggunakan satuan berat perkilo. Masing-masing bagian juga dijual terpisah dengan satuan kilo. Ada juga kemungkinan fluktuasi harga. Sejumlah masyarakat menengah kadang untuk meugang ikut juga dalam meuripee dan juga membeli lagi di pasar. Budaya meuripee lebih karena saling membantu dan saling meringan untuk tradisi meugang.[] (ihn)

Leave a Reply