Home Budaya Makna di Balik Tradisi Ziarah saat Lebaran bagi Masyarakat Aceh

Makna di Balik Tradisi Ziarah saat Lebaran bagi Masyarakat Aceh

102
0

LEBARAN adalah hari yang paling dinanti-nanti. Hari tersebut merupakan momen berkumpul bersama seluruh anggota keluarga, baik yang berada di rumah maupun yang pulang dari tempat perantauan, serta ajang bersilaturahmi dengan saudara, guru dan kerabat baik dekat maupun jauh.

Namun selain merayakan lebaran dengan sanak famili, terdapat sebuah tradisi yang sudah turun temurun pada masyarakat Aceh, yaitu berzirah ke makam. Baik makam orangtua, saudara dan orang-orang muslim yang telah terlebih dahulu berpulang ke Rahmatullah.

Pada hari lebaran tiba, usai salat Idul Fitri pertama kali masyarakat megunjungi tempat-tempat pemakaman saudaranya, terlebih orangtua. Berziarah ke makam saat lebaran merupakan ajang meminta maaf pada orang yang telah tiada dan mengirimkan doa di hari istimewa tersebut karena mereka adalah orang yang dituakan.

“Berziarah ke makam memang sudah kebiasaan tiap tahunnya, jadi sebelum jalan-jalan dan merayakan lebaran, terlebih dahulu mengunjungi makam apalagi makam tersebut adalah orangtua sebagai wujud kita mengingat dan mengirimkan doa kepada mereka,” kata Rawiah, 40 tahun, warga Leupung, Aceh Besar.

Selain itu kata Rawiah, berdoa di makam lebih menyentuh emosionalnya dibandingkan berdoa di rumah, karena hari lebaran adalah hari kemenangan yang mereka di sana menantikan doa terbaik dari anak-anak dan saudaranya yang masih hidup.

Dulu sebelum tsunami lanjutnya, khusus masyarakat Leupung pergi ke jirat/makam setahun sekali pada hari ke tiga lebaran Idul Adha. Namun saat tsunami menimpa Aceh 10 tahun lalu menjadi setiap tahun dua kali berziarah ke makam yaitu Idul Fitri dan Idul Adha dan hari-hari lain jika ingin berkunjung.

“Hal ini karena rasa kehilangan sebagian keluarga bahkan seluruh keluarga masih sangat kental terasa pada masyarakat Aceh umumnya yang korban tsunami meskipun sudah sepuluh tahun silam. Bahkan kami juga mengunjungi beberapa kuburan massal karena tidak mengetahui orangtua kami di mana dikebumikan saat tsunami itu,” kenangnya.

Hal serupa juga dikatakan Sapiah, 65 tahun, setelah salat Idul Fitri harus mengunjungi makam orangtua dan saudara terlebih dahulu, baru setelah itu merayakan lebaran dengan bersilaturrahmi ke rumah guru, tetangga, dan saudara lainnya.

Phon tajak bak jirat dilee, teulebeh jirat ureung chik, baroo oh tawoe bak jirat ta meu uroe raya, tajak rumoh guree (Teungku), saudara dan ureung sampeng rumoh,” ujar Sapiah.[] (ihn)

foto: ilustrasi @harianterbit