Home Budaya Kala Siswa Sekolah Hamzah Fansuri Kunjungi Dewan Kesenian Aceh

Kala Siswa Sekolah Hamzah Fansuri Kunjungi Dewan Kesenian Aceh

74
0

Dhing dhing dhing…..!

Bum bum bum…!

Alunan musik bersahutan diiringi nyanyian ala rock terdengar riuh menggetarkan telinga Siswa SHF (sekolah Hamzah Fansuri) kala tiba di depan gedung terbuka Taman Budaya Aceh (TBA), Banda Aceh, pada Jumat 4 September 2015.

Mereka pun memarkirkan sepeda motornya di dekat tempat pergelaran musik itu. Karena baru pertama kali menapakkan kaki di sana, mereka tidak tahu di mana sekretariat DKA (Dewan Kesenian Aceh) yang dimaksudkan.

Secara kebetulan ada seseorang lalu lalang, terlihat seperti penjaga parkir. Rahmatullah, salah seorang siswa SHF pun langsung menanyakan padanya. Lalu ditunjuklah jalan lewat belakang tempat pertunjukan seni tersebut.

Dari kejauhan tampak dua orang di beranda salah satu gedung bagian belakang TBA, tengah duduk berbincang-bincang. Salah seorang di antaranya ternyata Thayeb Loh Angen (guru Sekolah Hamzah Fansuri).

Mereka pun pelan-pelan menghampirinya sembari mengucap salam. Satu persatu mereka salami. Seorang lagi ibu-ibu tampak seperti rekan Thayeb Loh Angen. Lalu mempersilakan mereka duduk. Tempat yang sederhana dengan meja dan kursi seperti warung kopi tampak sangat cocok untuk diskusi kecil.

Thayeb Loh Angen mengenalkan mereka padanya.“Ini murid SHF. Saya membawa mereka untuk belajar menulis sekalian bersilaturrahim dengan Dewan Kesenian Aceh,” jelas Thayeb kepada rekannya itu.

Mulailah mereka berbincang-bincang dengannya. Melihat bicaranya tentang DKA (Dewan Kesenian Aceh), menunjukkan ia seperti salah seorang yang penting di lembaga itu.

Semakin penasaran, siswa SHF pun menanyakan tentang dirinya. Ternyata ia bernama Maida Januar, seorang seniman di bidang Drama/Teater yang pernah mewakili Aceh di tingkat nasional. Sejak berkarir di bidang seni itu ia telah tampil di seluruh penjuru Indonesia. Selain di bidang seni, ia juga pernah menjadi pembawa acara di radio RRI Banda Aceh. Dengan segudang prestasi yang telah diraih tak membuatnya berpuas diri. Sekarang ia sedang membangun kembali DKA yang telah lama tidak berkiprah.

Maida Januar, Ketua Umum DKA (Dewan Kesenian Aceh), sangat senang kedatangan tamunya sampai ia menawarkan tempat belajar di lantai dua gedung itu.

Dengan sangat antusias, ia menceritakan bagaimana sebenarnya keberadaan lembaga itu dan apa peran yang selama ini dijalankan. DKA adalah sebuah lembaga untuk menyatukan para seniman yang ada di Aceh.

“Selama ini Pemerintah kurang menghargai keberadaan seniman. Inilah tempat menyuarakan aspirasi untuk membangkitkan kembali marwah mereka. Wadah ini bukan pelaku seninya, tetapi berusaha melayani dan memecahkan masalah yang dihadapi seniman atau komunitas seni tertentu,” ujar Maida.

Pada 11 hingga 13 September 2015, DKA meyelenggarakan Kemah Seni se-Aceh di Jantho, ibukota Kabupaten Aceh Besar.

Maida mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan menguatkan tali silaturrahmi dengan seniman yang ada di seluruh Aceh. Setiap daerah diminta mengirimkan 7 orang peserta.

”Banyak pihak protes karena pembatasan jumlah peserta, mengingat seniman yang ada di daerah sangatlah banyak. Namun, ini diputuskan karena pertimbangan dana yang ada hanya 200 juta Rupiah,” ujar Maida.

Sesudah panjang lebar mendengarkan penjelasan Maida, Thayeb Loh Angen meminta izin memanfaatkan waktu untuk belajar menulis bagi pelajar SHF.

Tidak jauh dari meja tadi, ada teras gedung dinilai sangat cocok dijadikan tempat belajar. Ke situlah mereka dibawa Thayeb. Kali ini materi yang akan dipelajari adalah menulis prosa atau cerpen. Seperti biasa, mula-mula Thayeb menjelaskan unsur-unsur penting cerpen seperti karakter tokoh, alur cerita, dan lain-lain.

“Cerpen yang bagus memenuhi semua unsur dan mudah diserap pembaca sekali duduk. Pembaca akan mudah menyerap isi cerpen apabila tulisannya dapat mempengaruhi panca indra seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan untuk larut dalam cerita itu,” ujar Thayeb dengan gaya khasnya.

Di sela-sela belajar, Thayeb Loh Angen menawarkan kepada pelajar SHF untuk ikut perkemahan ke Jantho bersama rombongan DKA (Dewan Kesenian Aceh). Semua siswa mengiyakan tawaran tersebut. Rencananya perkemahan itu dimanfaatkan untuk penutupan Kelas Sastra Dan Perkabaran Siswa Sekolah Hamzah Fanshuri. Sebab, materi tulisan jurnalistik yang diajarkan dinilai sudah memadai.

Dilaporkan oleh Nazarullah, peserta Kelas Sastra dan Perkabaran Sekolah Hamzah Fansuri (SHF). Foto: Rahmatullah Yusuf Gogo.