Home Budaya Direktur Rumoh Manuskrip Aceh: Kembalilah Kepada Identitas ke-Acehan

Direktur Rumoh Manuskrip Aceh: Kembalilah Kepada Identitas ke-Acehan

63
0
Direktur Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid. Foto: Boy Nashruddin Agus/portalsatu.com

BANDA ACEH – Direktur Rumoh Manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, mengunjungi kantor portalsatu.com, Jumat, 27 Maret 2015. Dalam kunjungannya tersebut, Cek Midi, sapaan akrab Tarmizi A Hamid, memaparkan sejumlah informasi tentang manuskrip-manuskrip Aceh yang belum sepenuhnya mendapat perhatian Pemerintah Aceh.

“Pemerintah kita, baik Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Aceh tidak memerhatikan peninggalan-peninggalan sejarah yang ada. Kita tidak hanya berbicara mengenai manuskrip saja, tapi situs sejarah lainnya. Kondisi ini sangat berbeda dengan negara lain yang sangat menjaga sejarahnya. Di gop dari yang hana dipeuna, tanyoe dari na jeut keu hana (orang lain dari yang tiada menjadi ada, kita dari ada menjadi tiada),” ujarnya.

Menurut Cek Midi, Aceh perlu kembali ke identitas ke-Acehan untuk menjadi besar seperti era kejayaannya masa lalu. “Kembalilah Aceh ini kepada identitas ke-Acehan sendiri agar Aceh ini maju,” katanya.

Ia menilai jika Aceh bisa kembali mencintai identitasnya maka daerah ini akan menjadi lebih makmur. “Sekarang lihat saja saat banyak warga Aceh mulai melacak identitasnya, banyak kandungan alam yang muncul ke permukaan seperti emas, perak, dan yang terbaru adalah giok. Itu baru sedikit warga Aceh yang kembali memerhatikan identitasnya, coba kalau seluruh masyarakat Aceh maka bayangkan apa kekayaan Aceh yang akan muncul di kemudian hari,” ujarnya.

Berdasarkan catatan sejarah, Cek Midi menilai Aceh merupakan daerah tujuan masyarakat mancanegara di masa lalu. Hal ini terbukti dengan beragamnya suku dan adat istiadat yang berkembang di Aceh saat ini. “Pedagang-pedagang masa lalu itu menjadikan Aceh sebagai daerah tujuan. Contohnya seperti pedagang-pedagang dari Arab, China, India dan bahkan Portugis. Ini menandakan Aceh adalah daerah yang sangat maju,” katanya.

Selain itu Aceh juga memiliki keragaman bahasa. Salah satunya adalah saat Aceh memiliki tiga bahasa persatuan yang berkembang di masanya seperti bahasa Arab untuk tujuan keagamaan, bahasa Melayu untuk perdagangan dan bahasa Aceh.

“Saat Belanda datang ke Aceh, mereka hanya menguasai dua bahasa yaitu bahasa Arab dan bahasa Melayu. Namun mereka terkejut saat Aceh ternyata memiliki bahasa persatuan lainnya, yaitu bahasa Aceh. Sehingga bahasa Aceh pada masa itu dianggap sebagai bahasa sandi dan banyak manuskrip-manuskrip yang ditulis dalam bahasa Aceh dilenyapkan,” ujarnya lagi.

Aceh juga memiliki puluhan bahasa lainnya selain tiga bahasa persatuan tersebut. Di antaranya adalah bahasa Gayo, bahasa Aneuk Jamee, bahasa Defayan, bahasa Kluet dan lainnya. Untuk bahasa Aceh saja, kata Cek Midi, memiliki perbedaan walaupun secara umum memiliki pengertian yang sama.

“Banyak dialek beragam bahasa di Aceh, itu menandakan majunya Aceh pada masa lalu,” katanya.[]