Bukan Punggung

Apa jadinya jika kata punggông dalam bahasa Aceh diterjemahkan menjadi punggung dalam bahasa Indonesia? Hal itu tentu saja dapat memunculkan kesalahpahaman dalam mempersepsi gagasan yang disampaikan melalui kata punggung itu sendiri.

Dikatakan demikian karena punggông dalam bahasa Aceh tidaklah sama maknanya dengan punggung dalam bahasa Indonesia. Ada perbedaan acuan dari kedua kata itu jika ditilik dari segi referennya.

Punggông dalam bahasa Aceh identik dengan bokong alias pantat dalam bahasa Indonesia, yaitu bagian pangkal paha di sebelah belakang (yang mengapit dubur). Punggông tidak boleh diterjemahkan menjadi punggung dalam bahasa Indonesia karena kata punggung itu sendiri berarti bagian belakang tubuh (manusia atau hewan) dari leher sampai ke tulang ekor.

Karena ketidaktahuannya, penulis yang berlatar belakang bahasa daerah pertama adalah bahasa Aceh menggunakan kata punggung dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan dari kata punggông. Penerjemahan dilakukan dengan cara mengubah bunyi akhir kata, dari gông menjadi gung. Dengan kata lain, penerjemahan punggông menjadi punggung dilakukan atas dasar adanya kesamaan bunyi dan hal itu diyakini tidak mengubah arti kata.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa kata dalam bahasa Aceh yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan sedikit perubahan bunyi tanpa terjadi perubahan arti. Sebut saja misalnya, kayèe, batèe, palèe, bajèe yang berturut-turut dapat diterjemahkan kayu, batu, palu, baju. Namun, fenomena seperti itu tidak berlaku untuk semua kata seperti kata punggông itu sendiri.

Uraian di atas mengantarkan kita pada suatu simpulan bahwa punggông bukanlah punggung dalam bahasa Indonesia, melainkan bokong atau pantat. Maka, bila hendak mengatakan ceumut bak punggông dalam bahasa Indonesia, bukanlah bisul pada punggung, melainkan bisul pada bokong atau bisul pada pantat.[]