Bukan Dirgahayu HUT RI ke-70

Tujuh belas Agustus adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia karena di tanggal inilah diproklamasikan kemerdekaan bangsa ini. Tepat 17 Agustus 2015 ini kita akan memperingati hari bersejarah itu yang ke-70. Berbagai kegiatan dan perlombaan telah dipersiapkan oleh panitia, mulai dari perlombaan olahraga, kesenian, permainan anak-anak, hingga perlombaan masak-memasak bagi kaum ibu.

Hal lain yang kita lakukan ketika akan memperingati hari ulang tahun negara kita adalah persiapan dalam penulisan semboyan, baik di spanduk-spanduk, gapura, maupun di media massa cetak dan elektronik.

Dalam kaitannya dengan bahasa, faktor yang sangat penting diperhatikan adalah cara penulisan semboyan itu. Pada permulaan bulan Agustus 2015 ini, saya mencatat beberapa kesalahan bahasa dalam penulisan semboyan yang berkaitan dengan persiapan menyambut hari kemerdekaan RI, di antaranya: (1) Pada tanggal 17 Agustus 2015 kita akan merayakan hari ulang tahun R.I. ke-70 (2) Dirgahayu HUT ke-70 RI.

Pada kalimat pertama, ada beberapa kesalahan penulisan yang harus diperbaiki. Kesalahan-kesalahan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

(a) Penempatan lambang bilangan. Penulisan bilangan yang berdampingan dengan RI (hari ulang tahun  RI ke-70) dalam kalimat (1) adalah salah. Jika kita perhatikan, bentuk penulisan nama sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA selalu disertai oleh bilangan, misalnya SMAN 5, SMAN 3, atau SMAN 1. Kalau kita mengatakan SMAN 5, hal itu berarti bahwa SMA tersebut yang kelima didirikan setelah SMA 1, 2, 3, dan 4. Dengan demikian, berdasarkan analogi tersebut, kalau kita menulis HUT RI ke-70, maknanya adalah negara RI bukan hanya satu, melainkan juga ada 70 buah dan yang akan berulang tahun adalah RI yang ke-70 (RI yang terakhir).

Hal tersebut tentu tak sesuai dengan maksud kita yang menulis. Kita dapat menghindari salah tafsir itu kalau bentuk tersebut diubah dengan cara meletakkan kata bilangan sebelum bentuk RI atau setelah ulang tahun sehingga menjadi hari ulang tahun ke-70 RI. Dengan penulisan seperti itu, penafsiran hanya satu, bahwa pada 17 Agustus 2015 Republik Indonesia akan berulang tahun yang ke-70.

(b) Kesalahan berikutnya adalah penulisan RI. Singkatan RI, secara ejaan, tidak boleh ditulis dengan menggunakan titik karena dalam Ejaan yang Disempurnakan disebutkan bahwa “Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri dari huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti oleh tanda titik”, misalnya DPR, PGRI, GBHN, dan KTP. Singkatan RI termasuk juga ke dalam contoh ini sehingga penulisan yang benar adalah RI (tanpa tanda titik). Berdasarkan uraian tadi, penulisan kalimat (1) yang tepat adalah Pada tanggal 17 Agustus 2015, kita akan merayakan hari ulang tahun ke-70 RI.

Selanjutnya, kesalahan pada kalimat kedua berkaitan dengan tingkat kelogikaan. Tingkat kelogikaan tersebut tampak pada penulisan dirgahayu yang diikuti oleh bentuk HUT. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dirgahayu berarti semoga panjang umur (biasanya ditujukan pada negara atau organisasi yang sedang memperingati hari jadinya). Dengan demikian, semboyan Dirgahayu HUT RI ke-70 berarti semoga panjang umur HUT ke-70 RI.

Kalimat tersebut tentu tidak logis karena hari ulang tahun, baik hari ulang tahun orang maupun negara, tetap hanya sehari atau 24 jam tanpa dapat ditambah atau dikurangi.

Pendampingan dirgahayu dengan HUT disebabkan oleh adanya anggapan sebagian masyarakat bahwa kata dirgahayu memiliki kesamaan arti dengan selamat sehingga orang sebenarnya ingin mengatakan selamat HUT RI dan dirgahayu RI secara sekaligus. Dirgahayu memang merupakan bentuk ucapaan selamat yang ditujukan bukan bagi seseorang. Namun, ucapan itu menjadi salah karena didampingkan dengan HUT. Dengan demikian, penulisan yang benar adalah Dirgahayu RI atau HUT RI.

Melalui tulisan ini, saya mengajak Saudara pembaca setia portalsatu.com untuk menuliskan semboyan HUT RI dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.[]