“Budaya Lokal Aceh Terancam Punah”

TAKENGON – Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Gajah Putih Takengon, Dr. Zulkarnain, M.Ag, menegaskan budaya lokal di Aceh terancam punah. Kondisi itu dikarenakan muatan budaya lokal dewasa ini telah luput dari konsep pendidikan.

“Konsep budaya sangat minim dicetuskan dalam silabus pembelajaran. Sehingga nilai nasionalisme terhadap anak-anak didik juga masih dipertayakan,” kata Dr. Zulkarnain kepada portalsatu.com, Sabtu, 5 September 2015.

Dia mengatakan terbentuknya nilai nasionalisme harus dilandaskan dari deretan penguatan budaya lokal yang kuat.

“Kalau muatan budaya lokal tidak dilestarikan, maka budaya Aceh kelak hanya akan menjadi cerita pengantar tidur,” katanya.

Dia juga menilai dewasa ini konsep agamis dalam dunia pendidikan Aceh secara khusus masih tergolong rendah. Padahal, kata Zulkarnain, Aceh memiliki alasan yang cukup untuk menambahkan muatan agamis dalam silabus pendidikan. Apalagi Aceh merupakan daerah istimewa yang dikenal penerapan syariatnya.

“Akibatnya lihat saja. Banyak koruptor dan alumnus yang dilahirkan sangat rendah bekal agamanya,” ujar Zulkarnain.

Ia mengatakan saat ini pemangku kepentingan di Aceh telah menerapkan konsep pragmatis dan materialistis yang sudah mengakar dalam dunia pendidikan. Sehingga kualitas yang dilahirkan ‘pun menurun.

“Menyangkut dengan kualitas pendidikan tidak dapat kita pungkiri juga, bahwa tenaga pengajar kita masih di bawah standar. Maka ini perlu pelatihan dan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga pengajar,” katanya.

Zulkarnain mengatakan pengawasan internal keluarga tentu harus mendapat sokongan kuat disusul pengawasan lingkungan untuk menutupi kelemahan pendidikan Aceh tersebut.

“Untuk meng-couver kekurangan pendidikan di Aceh, perlu dilahirkan satu konsep yang ampuh. Konsep yang dinilai menyelamatkan langsung tata agamis dan muatan budaya lokal. Kalau ini tidak dilakukan, maka jangan heran kalau banyak koruptor di negeri ini. Alasannya satu, agamanya kurang,” ujarnya.[](bna)