Home Budaya Brimob Gugur Tersengat Listrik, Benarkah?

Brimob Gugur Tersengat Listrik, Benarkah?

121
0
Ilustrasi

Dalam sebuah koran lokal di Aceh yang terbit hari Jumat, 28 Desember 2009 terdapat sebuah penggalan berita yang berbunyi Enam brimob di markasnya tersengat listrik. Seorang brimob gugur dan lima lainnya luka-luka.

Dari penggalan berita ini, ada beberapa hal yang patut dipertanyakan. Pertama, benarkah seorang brimob yang kehilangan nyawanya karena tersengat listrik disebut gugur? Kedua, apakah yang menjadi standar sehingga seseorang yang kehilangan nyawa disebut sebagai gugur, meninggal, mati, wafat, atau mampus? Ketiga, seandainya enam warga tersengat listrik dan dari keenam warga itu satu orang meninggal, apakah kepada mereka juga pantas disebut gugur?

Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah ketika seorang prajurit berjuang mempertahankan negaranya, lalu kehilangan nyawanya, tentu orang ini disebut gugur. Anggapan ini tentu saja terlepas dari niat si prajurit. Apakah ia berjuang untuk membela bangsanya atau untuk disebut sebagai pahlawan, kita tidak tahu. Yang pasti, seseorang yang kehilangan nyawa karena membela negara dikatakan gugur, bukan mati, meninggal, wafat, apalagi mampus.

Lantas, apakah prajurit yang kehilangan nyawa hanya karena tersengat listrik di markasnya dikatakan gugur? Untuk menjawab pertanyaan ini, cermatilah pengertian gugur yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa gugur berarti 1) jatuh sebelum masak (tentang buah-buahan); lahir sebelum waktunya (tentang bayi); runtuh (tentang tanah); 2) batal; tidak jadi; tidak berlaku lagi; 3) mati di pertempuran; 4) kalah; rontok.

Mari kita kaitkan pengertian gugur ini dalam konteks kalimat. Cermatilah kedua kalimat berikut ini!

  1. Dalam peristiwa tembak menembak antara brimob dan komplotan penjahat itu, seorang brimob kehilangan nyawanya.
  2. Enam brimob di markasnya tersengat listrik. Seorang brimob kehilangan nyawanya dan lima lainnya luka-luka.
  3. Seorang brimob kehilangan nyawanya karena ditabrak mobil saat menyeberang jalan.

Apakah untuk ketiga kasus ini brimob yang kehilangan nyawanya pantas disebut gugur? Secara semantik dan secara kontekstual hal ini tidak dapat diterima. Pantaskah seorang brimob yang kehilangan nyawanya hanya karena menyeberang jalan disebut gugur? Pantaskah seorang brimob yang tersengat listrik di markasnya disebut gugur?

Dalam ketiga kasus di atas, yang lebih pantas disebut gugur adalah kasus (a). Kasus (b) lebih pantas disebut meninggal, dan kasus (c) juga lebih pantas disebut meninggal. Mengapa demikian? Hal ini tentu saja berkaitan dengan nuansa makna yang dikandung oleh kata gugur, meninggal, dan mampus.

Sebagian Anda tentu beranggapan bahwa orang dapat menggunakan kata apa pun sesuka hatinya. Pemilihan kata tak perlu mengikuti aturan tertentu. Anggapan seperti ini tentu saja keliru. Ini karena bahasa bukan milik pribadi, melainkan milik masyarakat. Artinya, pemakaian bahasa dikontrol oleh masyarakat. Kita tak dapat menggunakan kata dengan “semena-mena”.

Jika tak percaya, silakan umumkan melalui loudspeaker masjid, “Nabi Muhammad sudah lama mampus”. Anda akan melihat reaksi umat Islam yang berang dengan pernyataan itu.

Akhirnya, berhatilah-hatilah dalam berbahasa.[]