Bahasa Jamee-Aceh di Meureubo (Bagian I)

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa ini tampaknya sangat cocok merepresentasikan variasi bahasa yang ada di daerah Meureubo, Kabupaten Aceh Barat. Di daerah ini, selain ada masyarakat menggunakan bahasa Aceh, ada pula yang menggunakan bahasa Jamee.

Uniknya, bahasa Jamee di Meureubo, menurut hasil penelitian Saifullah (2011), adalah perpaduan antara bahasa Jamee dan bahasa Aceh. Artinya, dalam bahasa Jamee yang digunakan oleh masyarakat Meureubo terdapat kosakata bahasa Aceh. Perpaduan ini dalam kajian ilmu bahasa disebut interferensi.

Agar lebih jelas, Anda dapat mengecek beberapa kali­mat berikut: (1) Indak ang peu-ék geulayang hari ko?; (2) Sia lhat kunci ambo di bintéh; (3) Ambiak cinue sabanta!; (4) Apo  kiruah bana di balakang tu?; (5) Ambo trom baiko, keudéh teugageung; (6) Lôp ju ka siko! (Hasil penelitian Saifullah, 2011).

Keenam kali­mat di atas tidak semuanya mengguna­kan bahasa Jamee dan tidak pula bahasa Aceh. Kata-kata dari bahasa Jamee adalah yang bercetak miring tanpa ditebalkan. Adapun yang ditebalkan adalah kata dari bahasa Aceh.

Ada beberapa cara masyarakat pengguna bahasa Jamee di Meureubo memadukan kosakata bahasa Jamee dengan bahasa Aceh.

Cara pertama adalah mengguna­kan secara utuh kosakata bahasa Aceh ke dalam bahasa Jamee, misalnya dalam kali­mat Bandum ambo undang isuek pagi atau Agiah ambo   saboh. Kata bandum dan saboh pada kedua kalimat itu adalah kata dari bahasa Aceh, sisanya adalah bahasa Jamee. Perpaduan seperti itu juga tampak dalam kalimat Jamu   sabanta kain ko dakek pageu tu atau Meubhok-bhok kaluwa darah dari kapalo. Pageu dan meubhok-bhok adalah kata dari bahasa Aceh.

Cara kedua adalah dengan menyesuaikan bunyi, misalnya dalam kalimat Ka siko   meusapet tarui ka dalom atau Manga bangieh bana Buyuang? Kata meusapet dan bangieh, jika dibaca, tampaknya adalah bahasa Jamee. Padahal, kedua kata itu dari bahasa Aceh yang disesuaikan bunyinya, yaitu meusapat dan beungèh. Hal yang sama juga terlihat dalam kali­mat Apo kiruah bana di balakang tu? atau Ambo balun tantu payi, langik raduak bana. Kata kiruah dan raduak dalam kedua kali­mat itu bukan kata asli bahasa Jamee, melainkan bahasa Aceh, yaitu dari kata kirôh dan reudôk. []

Bahasa Jamee-Aceh di Meureubo

LAIN ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa ini tampaknya sangat cocok merepresentasikan variasi bahasa yang ada di daerah Meureubo, Kabupaten Aceh Barat. Di daerah ini, selain ada masyarakat menggunakan bahasa Aceh, ada pula yang menggunakan bahasa Jamee.

Uniknya, bahasa Jamee di Meureubo, menurut hasil penelitian Saifullah (2011), adalah perpaduan antara bahasa Jamee dan bahasa Aceh. Artinya, dalam bahasa Jamee yang digunakan oleh masyarakat Meureubo terdapat kosakata bahasa Aceh. Perpaduan ini dalam kajian ilmu bahasa disebut interferensi.

Agar lebih jelas, Anda dapat mengecek beberapa kalimat berikut: (1) Indak ang peu-ék geulayang hari ko?; (2) Sia lhat kunci ambo di bintéh; (3) Ambiak cinue sabanta!; (4) Apo  kiruah bana di balakang tu?; (5) Ambo trom baiko, keudéh teugageung; (6) Lôp ju ka siko! (Hasil penelitian Saifullah, 2011).

Keenam kalimat di atas tidak semuanya menggunakan bahasa Jamee dan tidak pula bahasa Aceh. Kata-kata dari bahasa Jamee adalah yang bercetak miring tanpa ditebalkan. Adapun yang ditebalkan adalah kata dari bahasa Aceh.

Ada beberapa cara masyarakat pengguna bahasa Jamee di Meureubo memadukan kosakata bahasa Jamee dengan bahasa Aceh.

Cara pertama adalah menggunakan secara utuh kosakata bahasa Aceh ke dalam bahasa Jamee, misalnya dalam kalimat Bandum ambo undang isuek pagi atau Agiah ambo saboh. Kata bandum dan saboh pada kedua kalimat itu adalah kata dari bahasa Aceh, sisanya adalah bahasa Jamee.

Perpaduan seperti itu juga tampak dalam kalimat Jamu sabanta kain ko dakek pageu tu atau Meubhok-bhok kaluwa darah dari kapalo. Pageu dan meubhok-bhok adalah kata dari bahasa Aceh.

Cara kedua adalah dengan menyesuaikan bunyi, misalnya dalam kalimat Ka siko   meusapet tarui ka dalom atau Manga bangieh bana Buyuang? Kata meusapet dan bangieh, jika dibaca, tampaknya adalah bahasa Jamee.

Padahal, kedua kata itu dari bahasa Aceh yang disesuaikan bunyinya, yaitu meusapat dan beungèh. Hal yang sama juga terlihat dalam kalimat Apo kiruah bana di balakang tu? atau Ambo balun tantu payi, langik raduak bana. Kata kiruah dan raduak dalam kedua kali-mat itu bukan kata asli bahasa Jamee, melainkan bahasa Aceh, yaitu dari kata kirôh dan reudôk.[]

Leave a Reply