Bacut, tapi Saboh Umpang Raya

Bacut, tapi Saboh Umpang Raya

Hatta, suatu ketika di halaman samping rumah si Agam, berdiri kokoh sebuah pohon rambutan yang sedang berbuah lebat. Buahnya ada yang sudah masak, ada juga yang masih putik. Di bawah pohon tampak bertaburan buah rambutan.

Di luar pintu pagar rumah si Agam, tampak seorang nenek tua bersama cucunya yang berumur sekitar 12 tahun. “Assalamualaikum,” ujar si nenek pada pemilik rumah. Setelah menjawab salam, si Agam menanyakan maksud kedatangan si nenek yang sudah sangat ia kenal itu. “Lôn kalön boh rambôt that jai. Lôn pöt bacut,” kata si nenek. Agam pun mengizinkan si nenek memetik rambutan. Singkat cerita, nenek yang dibantu cucunya, memetik buah rambutan dan membawa pulang saboh umpang raya rambutan.

Ada yang unik dari cerita di atas, yaitu si nenek yang meminta bacut ‘sedikit’ buah rambutan, tetapi membawa pulang saboh umpang raya ‘satu goni berukuran besar’. Ada apa sebenarnya dengan bacut, dan mengapa si nenek yang meminta bacut rambutan, tetapi membawa pulang saboh umpang raya?

Bacut dalam bahasa Aceh identik dengan sedikit dalam bahasa Indonesia. Artinya, bacut tidaklah banyak. Ini adalah arti sebenarnya dari kata bacut. Namun, kata mudah retak. Bacut yang awalnya bermakna tidak banyak, menjadi kata bilangan yang jumlahnya tidak tentu, mungkin saboh plastik ubiet, saboh plastik rayek, dua boh plastik rayek, saboh guni, dua boh guni. Semuanya tetap bacut, bukan le alias jai that, that jai, atau jai that-that.

Makan, jangan heran ketika ada orang yang meminta bacut buah rambutan pada Anda, tetapi mengambil saboh atau dua boh plastik rayek, bukan bacut seperti dalam arti yang sebenarnya.

Penggunaan kata bacut dalam bahasa Aceh, seperti kasus di atas, bukan hanya untuk buah-buahan. Untuk air minum, kata tersebut juga acapkali digunakan. Ketika seseorang meminta temannya menuangkan kopi untuknya ke dalam gelas, kalimat yang diucapkan, “Neubôh kupi bacut”. Kecil kemungkinan orang itu akan mengatakan, “Neubôh kupi beu le”. Kalaupun dipakai beu le, kata bacut tetap mengikutinya, misalnya “Neubôh kupi beu le bacut”.

Gejala seperti ini rada-rada mirip dengan tata bahasa Inggris yang menggunakan some atau any untuk benda uncountable noun. Ini dapat dilihat dalam kalimat berikut, “Give me some coffee” atau “Do you have any coffee?”

Selain kata bacut, pada bahasa Aceh dialek tertentu ada pula kata dua neuk yang artinya juga hampir sama dengan bacut. Namun, kedua kata ini jika dilihat dari penggunaannya, ada perbedaan yang mencolok. Kalau kata bacut digunakan untuk benda, baik padat maupun cair (countable noun dan uncountable noun), tidak demikian untuk kata dua neuk. Kata ini umumnya dipakai untuk benda cair, seperti air.

Jadi, selain mendengar kalimat seperti “Neubôh kupi bacut”, Anda juga akan mendengar, “Neubôh kupi dua neuk” dalam pertuturan. Jika dua neuk dipakai, jangan Anda bayangkan bahwa kopi yang dituangkan dua tetes, melainkan pancông atau mungkin penuh. Yang jelas, bukan ‘dua tetes’. Uniknya lagi, kata bilangan yang dipilih untuk mendampingi neuk adalah dua, bukan satu, tiga, empat, lima, dst. Atas dasar kenyataan ini, sepengetahuan penulis, tidak ada orang Aceh yang mengatakan, “Neubôh kupi lhèe neuk” atau “Neubôh kupi limöng neuk.”[]

Leave a Reply