Agar Sejarah Samudera Pasai Tidak Menjadi Dongeng

TEUNGKU Taqiyuddin Muhammad mencoba memberikan gambaran baru perihal sejarah Samudera Pasai dan latar belakang penamaan daerah ini. Sebagai ahli epigraf Islam, Taqiyuddin banyak mempertanyakan sumber-sumber sejarah dari kaum orientalis yang selama ini meneliti sejarah Samudera Pasai. Dia juga kerap bersandar dengan sumber-sumber Timur Tengah dan aksara yang terukir di batu nisan. Konon, nisan-nisan yang mencatat sejarah seseorang di masa kerajaan dahulu tersebut banyak tersebar di Aceh.

Lulusan Timur Tengah ini memulai tulisannya dengan sejarah latarbelakang penamaan Sumatera. Dia menukilkan banyak sumber asing yang menyebut nama Sumatera dalam catatannya. Baik dari sumber penjelajah asing, Belanda, hingga sumber lokal.

Namun Teungku Taqiyuddin lebih sepakat menyebut asal kata Sumatera itu berawal dari bahasa Kurdi atau Persia, yaitu Syā-mā-t dan dā-ra[h]. Menurutnya dalam bahasa Kurdi, kata Syā-mā-t berarti tanah mengandung garam, dan dā-ra[h] dalam bahasa Persia atau Kurdi adalah berasal dari kata dark, yang berarti lembah, sungai, alur, air, tanah.

Taqiyuddin kemudian menyimpulkan Syummuthrah asal kata Sumatera mirip dengan Syā-mā-t dan dā-ra[h] yang artinya adalah lembah tanah mengandung garam. Kesimpulan penamaan tersebut, oleh Teungku Taqiyuddin kemudian dicocokkan dengan beberapa nama tempat di kawasan Aceh Utara, yaitu Syamtalira. Lira, menurut Taqiyuddin, berasal dari Layyira[h] dalam bahasa Kurdi. Artinya adalah “di sini.”

Taqiyuddin terus menyebutkan Syamtalira berarti bermakna di sini, tanah mengandung garam.

Dugaan tersebut kemudian diperkuat oleh Taqiyuddin dengan bukti otentik daerah Syamtalira yang disebutkan sebagai zona penghasil garam di Aceh Utara sejak zaman dulu.

Selain mengupas tentang asal usul makna kata Sumatera, Taqiyuddin juga mendobrak hasil penelitian para orientalis tentang Samudera Pasai. Salah satunya adalah hasil penelitian Dr. C Snouck Hougronge yang pernah meneliti tentang sejarah Samudera Pasai.

Taqiyuddin turut membantah penamaan Samudera Pasai yang bersandar pada Hikayat-hikayat Raja Pasai. Dalam hikayat tersebut dituliskan bahwa Samudera memiliki arti “semut besar” dan Pasai berasal dari kata “anjing”. Tentu saja, dengan bersandar pada hikayat ini, sejarah Samudera Pasai menjadi kabur: antara dongeng dan fakta.

Bahkan hasil penelitian Dr. C Snouck Hougronge ini pernah dijadikan sebagai sandaran ilmiah oleh penulis-penulis sejarah Samudera Pasai dalam beberapa dekade.

Selain dua hal tersebut, banyak sejarah-sejarah lain yang ditulis oleh Taqiyuddin dalam buku Daulah Shalihiyyah di Sumatera ini. Dengan begitu, penulis merekomendasi buku ini sangat layak dibaca untuk para peneliti sejarah, akademisi, mahasiswa dan pecinta sejarah jika ingin menambah referensi tentang sejarah Sumatera, khususnya tentang Samudera Pasai. []

Judul: Daulah Shalihiyyah di Sumatera

Sub Judul: Ke arah penyusunan kerangka baru historiografi Samudra Pasai

Penulis: Taqiyuddin Muhammad

Penerbit: Lhokseumawe, Center for Information of Samudera Pasai Heritage (CISAH), 2015

Tebal: xxvi + 286 halaman

Harga: Rp 70.000,- (belum termasuk ongkos kirim)

Cetakan: Kedua, Mei 2015

ISBN: 979137270-5