Aceh Perlu Kamus Bahasa Bersama

BANDA ACEH – Aktivis perdamaian Aceh, Risman A Rachman, mengatakan Kongres Peradaban Aceh yang direncanakan digelar pada Oktober mendatang harus menghasilkan sesuatu yang nyata, seperti kamus bersama untuk seluruh bahasa-bahasa lokal yang ada di Provinsi Aceh.
“Cukup dengan mengumpulkan seluruh ahli bahasa yang ada untuk membicarakan kamus tersebut,” kata Risman pada portalsatu.com pada Selasa malam, 30 Juni 2015.
Jika dikaji secara mendetil kata Risman, persoalan bahasa ini perlu dipikirkan peluang pendidikan kepada putra-putri Aceh agar disekolahkan untuk mendalami bahasa daerah, selanjutnya diteruskan ke sekolah-sekolah sebagai muatan lokal.
“Mendalami bahasa secara akademis diperlukan untuk menguatkan bahasa yang ada di Aceh,” kata Risman.
Risman juga mengingatkan pentingnya ensiklopedi Aceh secara lengkap, supaya tidak ada pengulangan dalam menalami adat, budaya, dan bahasa di Aceh.
Sebelumnya pada Jumat, 26 Juni 2015 lalu puluhan tokoh Aceh menggelar diskusi terarah di Jakarta untuk membahas berbagai problem bahasa lokal di Aceh. Diskusi terarah tersebut sebagai persiapan Kongres Peradaban Aceh pada Oktober mendatang yang mengangkat tema Penguatan Bahasa-bahasa Lokal di Aceh.
Tema bahasa di kongres pertama ini dinilai sangat penting, karena bahasa merupakan inti dari sebuah peradaban. Aceh memiliki 13 bahasa lokal di antaranya bahasa Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Jamee dan Devayan.
peradaban Aceh pernah megah di masa lalu, namun belakangan mengalami kemunduran oleh sebab peperangan berkepanjangan melawan penjajahan Eropa seperti Spanyol, Belanda dan Portugis dan juga perang melawan Jepang. Kondisi itu diperparah oleh konflik dalam rentang waktu 1945-2005.[] (ihn)
Foto: ilustrasi @negeridalamaksara.blogspot.com