Buah Karya Hingga Tahun Kedua

Dua tahun sudah Jufri Hasanuddin memimpin Kabupaten Aceh Barat Daya. Dia dilantik sebagai bupati oleh Gubernur Aceh Zaini Abdullah pada 13 Agustus 2012. Jufri bahu membahu-membangun Bumoe Breuh Sigupai bersama wakilnya, Yusrizal Razali. Namun, tepat di hari jadi ke-50, pada 27 Juni 2014, Yusrizal Razali meninggal dunia. “Kami benar-benar merasa kehilangan,” ungkap Jufri.

Banyak program yang diikhtiarkan Jufri dan Yusrizal selama dua tahun terakhir, untuk memajukan Aceh Barat Daya, antara lain komitmennya melakukan reformasi birokrasi dan menghadirkan Sistem Administrasi dan Informasi Gampông atau SAIG.

Sistem ini menghasilkan database tingkat kesejahteraan dan peta digital interaktif yang lengkap sesuai dengan kebutuhan warga dan  pemerintah. Salah satu dari banyak keunggulan SAIG, tersedianya data dan peta sosial ekonomi maupun klasifikasi tingkat kesejahteraan keluarga, sebagai basis perencanaan program penanggulangan kemiskinan di gampông.

Lewat SAIG, bantuan-bantuan yang bergulir ke masyarakat dapat lebih tepat sasaran, akuntabel, dan transparan. “Sistem administrasi gampông pun dapat ditata dengan baik melalui SAIG,” ungkap Weri, Kepala Bappeda Aceh Barat Daya.

Weri mengatakan, setelah rampung di 65 gampông dalam empat kecamatan yang didukung penuh Program Logica2-AusAid, Bupati Jufri Hasanuddin berkomitmen untuk melanjutkan SAIG di lima kecamatan lainnya. Jufri menargetkan, pada 2015 semua gampông di Aceh Barat Daya memiliki SAIG. “Kini, kami tengah membahas anggarannya melalui APBK-Perubahan 2014. Dengan SAIG, kita dapat lebih mudah menata manajemen pemerintahan gampông, sesuai amanat undang-undang desa yang baru,” ujar Weri.

Sekretaris BPM, PP & KS Aceh Barat Daya Rosita Hs menyebutkan, tahapan untuk mereplikasi SAIG di lima kecamatan lainnya, sedikit dimodifikasi dan beda dengan tahapan pelaksanaan SAIG di empat kecamatan dulu. “Para fasilitator merupakan putra-putri Aceh Barat Daya yang terlatih, memiliki keterampilan dan pengalaman untuk melaksanakan program SAIG,” tambah Rosita yang turut mendampingi Tim SAIG, sejak program ini dilaksanakan pada Oktober 2013.

Kata Rosita, rapat konsolidasi tim untuk merumuskan rencana kerja akan segera dilakukan setelah pihak legislatif menyetujui perubahan APBK 2014. “Setelah itu, kita adakan pertemuan Bupati dengan para camat dan keuchik,” ungkapnya.

Tahapan selanjutnya, berupa pelaksanaan interview apresiatif dari tokoh-tokoh kunci Aceh Barat Daya dan stakeholder terkait, identifikasi Kader Pemetaan Apresiatif Gampông, sosialisasi program di tingkat gampông, pelatihan jurnalisme warga dan mengembangkan portal webgampông, training pemetaan apresiatif, serta Training of Fasilitator untuk  Teknis Pemetaan digital (Open Street Map dan Q-GIS). “Kalau dulu kita sangat tergantung pada pihak luar, insya Allah di lima kecamatan nanti seluruh proses SAIG akan kita laksanakan dengan memakai SDM yang tersedia di sini,” tambah Rosita.

Selain SAIG, beragam program untuk kesejahteraan rakyat Aceh Barat Daya juga digagas Jufri Hasanuddin. Seratus unit rumah sederhana dan sehat telah siap ditempati warga tak berpunya di Kecamatan Babahrot, Susoh, dan Lembah Sabil. “Kami berikhtiar dan sungguh-sungguh melayani masyarakat. Namun, bila masih ada kekurangan dalam pelaksanaan program pemerintah, kami terbuka untuk sama-sama mencari solusi yang patut,” ungkap Bupati Jufri Hasanuddin.

Selain itu, pemerintah kabupaten juga memberikan santunan untuk anak yatim dan piatu, fakir miskin kriteria cacat fisik dan mental, janda tanpa anak, serta kepala keluarga yang sakit menahun. “Ini bentuk kewajiban negara kepada rakyat,” ujar Bupati Jufri saat menyerahkan buku rekening bank secara simbolik kepada penerima bantuan. Santunan itu akan diupayakan Jufri untuk tetap terlaksana hingga berakhir masa dia memimpin Aceh Barat Daya, pada 2017 mendatang.

Santunan Rp 100 ribu diberikan setiap bulan kepada penerima melalui rekening tabungan di Bank Aceh, sejak Januari 2014. “Kepada semua camat dan keuchik, saya berharap transparan dalam memberikan data yang akurat, jangan ada upaya untuk merekayasa,” tegasnya.

Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2012-2017, Bupati Jufri Hasanuddin dan Wakil Bupati Yusrizal Razali yang diusung Partai Aceh memiliki visi menjadikan “Kabupaten Aceh Barat Daya yang islami, sejahtera, dan mandiri melalui pemberdayaan potensi daerah yang berbasis kearifan lokal.”

Visi islami salah satunya diwujudkan melalui berbagai program keagamaan dan pelestarian nilai-nilai dasar Islam.  Dukungan terhadap ulama pun menjadi komitmen Jufri. Tahun ini, 72 ulama diberangkatkan umroh secara gratis oleh Pemerintah Aceh Barat Daya.

Selain itu, Muzakarah Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ke-3 juga difasilitasi dan diadakan di Blangpidie, Aceh Barat Daya. Peristiwa keagamaan berlevel internasional itu dibuka pada Jumat, 6 Juni 2014, oleh Wali Nanggroe Malik Mahmud di halaman kantor bupati. Sekitar 550 ulama yang tergabung dalam Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf dari sejumlah negara Asia Tenggara mengikuti kegiatan yang berlangsung hingga Minggu, 8 Juni 2014.

Beberapa pakar dan ulama kondang yang hadir seperti Prof. Dr. Syekh Mehmet Fadhil Al-Jailani. Pimpinan Al-Jilani Centre Istanbul Turki ini memaparkan Spektrum Tasawuf Mukasyafah dalam Tafsir Al-Jailani. Syekh Mehmet adalah keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, ahli tafsir dan pimpinan ulama sufi yang kondang di dunia.

“Muzakarah Tauhid Tasawuf Asia Tenggara ini sudah tiga kali digelar. Pertama di Meulaboh tahun 2010, kedua di Selangor Malaysia tahun 2012, dan ketiga, atas permintaan Bupati Jufri Hasanuddin dilaksanakan di Blangpidie,” ujar Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy, Pimpinan Pusat Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Asia Tenggara.

Jufri bangga dan merasa mendapat kehormatan dipercaya melayani ratusan ulama dan tokoh agama melaksanakan muzakarah tersebut. Pemerintah Aceh Barat Daya, kata dia, berkomitmen mendukung pelaksanaan syariat Islam. Bahkan, dengan komitmen dari Pemerintah Arab Saudi, sebuah pusat kajian Islam hingga kini masih terus diproses untuk dapat segera didirikan di Aceh Barat Daya.

Sebelum muzakarah itu digelar, Pemerintah Aceh Barat Daya juga dinilai sukses menggelar Seminar Ilmu Tauhid, Fiqih, Tasawuf, dan Tawajjuh se-Aceh pada Maret 2014. Saat penutupan Muzakarah, Bupati Jufri akan mengupayakan ke Pemerintah Aceh agar Tauhid-Tasawuf dapat dimasukkan ke dalam kurikulum lembaga pendidikan. “Kita tahu, Aceh telah melahirkan ulama-ulama ahli tasawuf di masa puncak kejayaan Aceh dulu,” jelasnya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply