Bosku, Teman Baikku

Apa jadinya jika sahabat menjadi atasan kita di kantor?

“Gila-gilaan” bareng sahabat tentu sangatlah menyenangkan. Bahkan kadang, demi bisa jalan bersama mereka, kita rela meninggalkan pekerjaan kantor sejenak. Namun, bagaimana jika sahabat kita adalah atasan di kantor?

Linawaty Mustopoh , dari Experd Consultant , menegaskan, sebagai karyawan yang baik, Anda harus mampu menjaga profesionalisme kerja, meskipun atasan Anda itu sahabat Anda ataupun bukan. "Memenuhi target yang diminta perusahaan dan tetap memiliki totalitas kerja. Jangan mentang-mentang atasan adalah sahabat kita, kita jadi mengulur-ulur waktu atau meminta atasan mengurangi target kita," jelas Lina.

Memanfaatkan Sahabat

Mentang-mentang bos sahabat Anda, Anda jadi suka bertindak seenaknya di kantor. Misalnya, minta jatah cuti di luar ketentuan kantor, masuk dan pulang kantor sesuka hati, sering ke luar kantor di saat jam kantor, menunda-nunda pekerjaan, dan minta kenaikan pangkat. Wah, seharusnya itu tidak Anda lakukan. Setiap tingkah laku Anda di kantor, haruslah sesuai dengan etika dan nilai-nilai kerja.

Anda harus mengerti, kalau di perusahaan itu, sahabat Anda bukanlah pemimpin tertinggi di perusahaan. Yang artinya, segala hasil dan cara kerja karyawan, pasti menjadi tanggung jawabnya terhadap pemimpin tertinggi (direktur perusahaan, CEO, atau owner ). Lagipula, dengan tidak bekerja secara maksimal, Anda hanya akan memperberat keadaannya dan memungkinkan menimbulkan kecemburuan sosial kepada karyawan yang lain.

Nah, ketika perusahaan merekomendasikan kenaikan pangkat kepada Anda, sebaiknya lakukan ini:

1. Bicarakan situasinya kepada atasan. Tanyakan kepadanya alasan perusahaan memberikan kenaikan pangkat itu. Jika alasannya tepat, yaitu prestasi kerja Anda selama ini gemilang, terima saja.

2. Pasti ada saja yang cemburu dengan prestasi Anda. Oleh karena itu, tunjukan kepada mereka kalau Anda layak memperoleh kenaikan pangkat. Yaitu dengan cara, bekerja lebih keras, makin giat menyumbangkan ide pada saat rapat, tepat waktu dalam penugasan, dan lain-lain. Tunjukkan, kalau kecemburuan mereka sama sekali tidak berdasar.

Dimanfaatkan Sahabat

Atau, bisa jadi bukan Anda yang memanfaatkan posisinya sebagai atasan, tapi justru sahabat Anda yang memanfaatkan posisi Anda untuk kepentingannya. Misalnya, "Anterin  aku ke mal, yuk", "Udah , nanti aja  kamu kerjain  laporannya. Toh, aku juga enggak ada di kantor hari ini, jadi mending  kamu ikut aku aja", dan lain-lain.

Semua perintah Bos, harus ada korelasinya dengan pekerjaan kita, lho. Jika perintah itu masih ada hubungannya dan relevan dengan jobdesk , sih, tidak jadi masalah. Misalnya, ketika dia mengajak Anda keluar bertemu klien, tujuannya untuk memperluas jaringan dan wawasan Anda.

Jika tujuannya sudah di luar kepentingan perusahaan, sebisa mungkin tolak saja. Bagaimana caranya? Berkomunikasilah dengan baik dan benar. Atasan dan sahabat yang baik, tentunya senang menanamkan nilai-nilai yang baik dan sehat pula kepada teman dan karyawannya. Jika teman Anda seorang atasan yang baik, tentunya ia mengerti tentang integritas dan etos kerja ini.

Kadang, memang ada orang-orang yang rela mempertaruhkan integritas demi kesetiakawanan sehingga melampaui batasan kebenaran. Ingat, sahabat yang baik tidak akan menjerumuskan sahabatnya sendiri. Jika itu sampai terjadi, Anda perlu mempertanyakan kualitas persahabatan itu.

Berlagak Layaknya Asisten

Kadang, karena sudah saking dekatnya dengan sahabat yang juga atasan, Anda suka berlagak layaknya asisten Si Bos (padahal Si Bos sudah punya asisten sendiri). Segala sesuatu yang berhubungan dengan kebijakan kantor, Anda selalu turut andil merumuskannya. Jika ada klien minta janji bertemu Bos, Anda yang sibuk menyusun jadwalnya. Belum lagi pas makan siang, Anda selalu mengusahakan diri makan siang bareng Bos.

Atau, dengan kedekatan yang kalian miliki, jangan juga Anda merasa “sepadan” dengannya. Selain itu, seorang bawahan yang mulai dekat dengan atasan biasanya menjadi sulit untuk menerima koreksi atau teguran dari pimpinan.
Cobalah konsisten dengan mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawab Anda terlebih dulu. Ketika pekerjaan Anda sudah selesai, hal-hal di atas bisa saja dilakukan asal tidak menggangu sistem kerja perusahaan.

Etika Bersapa

Saat berada di kantor, usahakan tidak menjaga jarak dengan sahabat Anda itu. Ya, ikuti saja aturan, standar, dan target yang ada di kantor. Tapi, jangan mentang-mentang sahabat, Anda menyapanya dengan sebutan tidak formal, seperti ‘elu ' dan ‘gue '. Jika memang kondisi perusahaan formal, ada baiknya saat berada di antara karyawan yang lain, menggunakan bahasa yang formal.

Sekali-sekali bersikap santai, sih, tidak masalah, asal jangan keseringan. Dengan berlaku sopan, kita turut menjaga wibawanya di hadapan karyawan yang lain.

Pribadi Vs Perusahaan

Anda harus mampu memisahkan mana urusan kantor, mana urusan pribadi. Meski keduanya terpisah dalam ranah yang berbeda, masih banyak orang yang sulit memisahkannya. Usahakan tidak membawa urusan pribadi kalian di kantor. Terlebih untuk urusan yang membuat kalian saling mengkritik, memarahi, atau mengeluh. Bijaklah dalam memilah sikap saat berada di kantor.

Lakukan Kegiatan Bersama

Jika atasan sering mengajak Anda makan siang bersama, di lain kesempatan, sarankan atasan untuk mengajak rekan kerja yang lainnya. Selain agar tidak terkesan hubungan Anda dan atasan eksklusif, ini bisa juga menyeimbangkan hubungan Anda, rekan kerja, dan atasan di kantor.

Oh iya, jangan pernah membicarakan keburukan rekan sekerja Anda kepada Bos, ya. Jika memang Anda memiliki masalah dengan teman sekerja Anda, coba bicarakan dan selesaikan berdua saja dengan partner Anda. [tabloidnova.com]

  • Uncategorized

Leave a Reply