Bocah Usus Tersumbat Ini Terlantar di RSUZA

BOCAH penderita usus tersumbat, Al–Azzam, 3 tahun, dilaporkan terlantar  selama berada di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Buruknya pelayanan di rumah sakit plat merah itu mengakibatkan kondisi pasien menurun.

Dasuki Pase, wali pasien kepada Atjehpost.Co menuturkan kejadian naas yang menimpa keluarganya tersebut berawal saat pasien dirujuk ke RSUZA Banda Aceh pada Senin dini hari, 24 November 2014, pukul 03.00 WIB. Al-Azzam merupakan pasien dengan fasilitas BPJS.

Kemudian, katanya, pasien dioperasi Senin malam, 24 November 2014, pukul 20.00 WIB.

“Saat dirujuk, Azzam divonis menderita usus tersumbat. Namun kondisinya tak separah seperti sekarang,” ujar Dasuki.

Usai operasi, kata Dasuki, pasien kemudian dipindahkan ke Kamar Jeumpa 2 nomor 3. Disanalah pasien mulai tidak mendapatkan perhatian yang baik dari RSUZA.

“Pada Kamis 27 November 2014, sekitar pukul 15.00 WIB, baru diketahui pasien bernanah di bekas operasi. Jahitan operasi juga terbuka,” ujar Dasuki.

Keluarga, katanya, sempat panik setelah mengetahui hal ini. Keluarga kemudian menanyakan persoalan ini ke dokter piket, dr. Indra.

“Menurut dokter piket, kondisi ini terjadi karena kesalahan antibiotik. Kami tanya kenapa tidak diberikan antibiotic yang tepat? Tidak dijawab. Kami kemudian minta resep luar, namun tidak diberikan,” ujar Dasuki.

Kejadian ini, kata Dasuki, berlanjut hingga Jumat. “Parahnya lagi. Pada Jumat, sprai kasus pasien tidak diganti. Demikian juga dengan perban luka yang kini sudah dipenuhi nanah pasien. Semestinya diganti 2 kali sehari,” ujarnya.

“Sedangkan resep luar baru dikasih Jumat tadi. Padahal kami sudah minta pada Kamis,” katanya lagi.

Dasuki menyesalkan pelayanan RSUZA yang dinilai sangat lamban.

“Kami atas nama keluarga sangat kecewa dengan tindakan medis yamg semena-mena terhadap pasien, sehingga bekas operasi nya bernanah dan mengeluarkan darah. Kami sudah memohon agar anak kami diperlakukan dengan baik, tapi ternyata hanya kecewa yang kami rasakan. Memang kami memakai fasilitas BPJS, akan tetapi tenaga medis disitukan sudah dibayar pemerintah. Kami rakyat kecil seharusnya janganlah diperlakukan seperti itu. Seumpama anak kami mengalami kejadian yang fatal tentu akan kami tempuh langkah hukum yg berlaku, semoga kejadian ini cukup kami yang rasakan,” ujar Dasuki.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply