Boat 1000 Dolar Terdampar Setelah Terjadi Keributan di Laut

LHOKSEUMAWE- 55 warga suku Rohingya mengalami perjalanan yang sulit selama 13 hari dari Myanmar tujuan ke Malaysia hingga akhirnya terdampar ke perairan Bluka Tubai, Krueng Geukuh, Aceh Utara pada Rabu, 1 Februari 2012. Di tengah laut, mesin boat yang dibeli sekira 1.000 dolar itu tiba-tiba mati. Lalu terjadi keributan sesama penumpang dan nahkoda. Sang nahkoda sengaja membuang kompas ke laut supaya mereka terdampar.

The Atjeh Post memperoleh informasi tersebut dari hasil pemeriksaan tim Subdit IV Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh terhadap sejumlah pengungsi Myanmar yang saat ini dikarantina sementara di bekas Kantor Imigrasi Lhokseumawe. Pemeriksaan tim Polda dilakukan lewat bantuan penerjemah bahasa Rohingya yang dibawa pihak  International Organization of Migration atau IOM, Sabtu, 4 Februari 2012.

Dua di antara sejumlah pengungsi yang diperiksa adalah Anwar Husen,45 tahun, ketua rombongan 55 “manusia perahu” itu dan M Sut Lamin,23 tahun, kapten atau nahkoda boat.

“Mereka kumpul uang secara patungan untuk beli kapal motor, ada yang kasih 30 ribu kyats (mata uang Myanmar), ada yang kasih 50 ribu kyats, paling banyak kasih 100 ribu kyats per orang. Totalnya kalau didolarkan sebanyak 1.000 dolar atau sekitar Rp9 juta,” kata Kabid Humas Polda Aceh Ajun Komisaris Besar Gustav Leo sebagaimana dikutip Kasubdit IV PPA Ditreskrimum Polda Aceh Komisaris Polisi Armaini saat ditemui di lokasi penampungan pengungsi Myanmar itu, jelang malam, Sabtu.

Menurut Gustav, berkaitan dengan pengungsi ini adalah persoalan yang harus ditangani bersama baik Imigrasi, pemerintah, polisi maupun pihak terkait lainnya.

Tujuan warga suku Rohingya itu sebenarnya ke Malaysia. Sebab mereka dikucilkan oleh pemerintah di sana di segala bidang termasuk pendidikan dan kesehatan. Mereka ini memiliki banyak keluarga maupun saudara di Malaysia.

“Makanya mereka nekat mau ke sana. Ditambah lagi ada perantara yang menghubungkan mereka dengan keluarganya di Malaysia,” katanya.

Dalam perjalanan dari Myanmar ke Malaysia, kata Armaini mengutip keterangan Anwar Husen dan M Sut Lamin, di tengah laut tiba-tiba mesin boat mati akibat jim.

Lalu terjadi keributan sesama penumpang dan nahkoda sehingga sang kapten boat marah. “Kapten boat akhirnya membuang kompas ke laut, tujuannya biar terdampar,” kata Armaini. “Selama 13 hari di laut, mereka mengaku sehari makan dan sehari tidak untuk berhemat bekal yang dibawa.”

Diberitakan sebelumnya, 55 warga Myanmar yang menumpangi boat warna kusam berukuran sekira 7 x 2,5 meter ditemukan oleh sejumlah nelayan Bluka Tubai, Krueng Geukuh, Aceh Utara sekitar empat mil dari pantai, Rabu, 1 Februari 2012.

Setelah dikumpulkan ke sebuah balai dekat pantai Bluka Tubai dan dihidangkan makan siang, pihak Pemda Aceh Utara mengevakuasi mereka ke bekas Kantor Imigrasi di Peunteut, Blang Mangat, Lhokseumawe.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply