BKSDA: Perlu pengamatan khusus terhadap anak gajah temuan warga Aceh Utara

PENANGGULANGAN anak gajah yang ditemukan warga di kawasan pedalaman Aceh Utara perlu diamati untuk menentukan proses pengurusannya. Hal tersebut disampaikan Kepala Urusan Pengamanan dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Andi Aswinsah, 2 Mei 2013.

Menurutnya terdapat beberapa kemungkinan tentang anak gajah yang ditemukan warga. Bisa karena ditinggal kawanan induknya atau bisa juga tertinggal dari kawanan karena mengalami suatu kondisi tertentu. Sakit misalnya. Untuk itu, Aswin menjelaskan perlunya pengamatan lebih lanjut.

“Makanya saat mendapat berita anak gajah ditemukan warga di daerah Aceh Utara, kita mengutus petugas di Pos Cot Girek untuk mengamati kondisinya,” ujar Aswinsah.

Lebih lanjut Aswin menjelaskan setelah diamati kondisinya dan mengecek jalur kawanannya baru bisa diambil tindakan terhadap anak gajah tersebut.

Dia mengatakan jika anak gajah tersebut telah lama tertinggal dari kawanannya maka ia mesti dibawa ke Pusat Konservasi Gajah yang ada di Saree untuk dirawat dengan baik. Tapi jika anak gajah itu masih tidak jauh dengan kawanannya dan jika kondisinya memungkinkan, anak gajah itu bisa dilepas kembali ke kawanan induknya.

Aswinsah mengharapkan pengertian warga untuk menyerahkan perawatan dan pengamatan anak gajah tersebut kepada pihak terkait. Ia beralasan tentang adanya kemungkinan kawanan gajah yang turun ke kampung-kampung untuk mencari anaknya. Menurutnya kalau hal itu terjadi tentu saja akan merugikan masyarakat sendiri.

Kasus ditemukannya anak gajah tersebut, kata dia, sudah kerap terjadi di Aceh. Kasus terakhir seperti ditemukan anak gajah dalam kondisi sakit oleh warga di kawasan pedalaman Idi Aceh Timur, Desember 2012 lalu.

“Saat itu, masyarakat berkoordinasi dengan baik dengan kita dan menyerahkan penanganannya sama kita. Waktu itu setelah dicek kondisinya anak gajah tersebut mesti di bawa ke Pusat Konservasi Gajah di Saree. Sekarang gajah itu sudah besar dan dilatih,” ujar Aswinsah.

Penemuan anak gajah di Aceh Utara juga pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya. Menurut Aswinsah, saat itu ada beberapa masyarakat setempat yang bersikeras untuk merawatnya sendiri.

“Saat itu kita juga tidak diizinkan masyarakat untuk menangani anak gajah yang ditemukan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi setelah gajahnya besar masyarakat mulai kewalahan dan saling menyalahkan saat gajah itu merusak kebun mereka. Waktu itu kita turun lagi ke sana, kemudian semua sepakat gajah itu dilepas kembali,” katanya.

Pemerintah telah membentuk tim penanganan khusus untuk menanggulangi gajah yang ada di Aceh. Hingga kini, kata dia, terdapat empat pos penanggulangan konflik satwa gajah di seluruh Aceh. Pos tersebut berada di Cot Girek Aceh Utara, Trumon Aceh Jaya, dan Kabupaten Pidie.[](bna)

  • Uncategorized

Leave a Reply