Bertemu Dirut RRI, Bupati Aceh Tengah Bicarakan Jangkauan RRI di Takengon

JAKARTA – Radio merupakan salah satu media yang efektif dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, terlebih lagi di wilayah yang topografi berbukit-bukit seperti halnya kondisi wilayah Kabupaten Aceh Tengah, yang diakui selama ini masih memiliki beberapa lokasi blank spot area .

Situasi masih terdapatnya beberapa titik kemukiman warga yang belum terjangkau informasi menjadi salah satu bahan pembicaraan ketika Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM menemui Direktur Utama LPP RRI (Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia), Rosarita Niken Widyastuti, Jumat  (2/2/13) Sore di Jakarta

Pada pertemuan itu, Nasaruddin mengatakan perlu ditempuh upaya peningkatan daya jangkau siaran RRI Takengon yang selama ini dipancarkan dengan kekuatan 2,5 Kilo Watt (KW) dan dirasakan belum optimal menjangkau seluruh wilayah di daerah tersebut.

“Jika ditambah daya pancarnya, akan memperluas akses informasi bagi masyarakat,” ungkap Nasaruddin.

Usulan penambahan daya jangkau siaran sebenarnya bukanlah hal yang baru, bahkan usulan tersebut pernah diajukan bersamaan dengan upaya peningkatan status RRI Takengon ketika Bupati bertemu Dirut LPP RRI di Jakarta pada 22 September 2011 lalu dan ketika direktur LPP RRI berkunjung ke Takengon Aceh Tengah pada 10 Desember 2011 silam.

Nasaruddin mengatakan upaya penambahan daya tersebut merupakan suatu kebutuhan, serta wujud keseriusan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk menghadirkan informasi bagi masyarakat dengan cepat dan akurat, selain itu, juga relatif dapat membuka informasi lebih luas bagi warga.

“Melalui peningkatan daya jangkau siaran RRI Takengon diharapkan masyarakat akan mudah mendapatkan Informasi yang cepat dan akurat, serta nantinya tidak terdapat lagi blank spot area di Aceh Tengah, karena semua wilayah telah dijangkau oleh informasi, terutama melalui siaran radio,” jelasnya.

Pemkab Aceh Tengah, menurut Nasaruddin sejak awal memprakarsai lahirnya Studio Produksi RRI Takengon, dan telah melakukan berbagai upaya agar RRI Takengon dapat efektif melaksanakan fungsinya, dimulai dengan peresmian pada awal Mei tahun 2010 lalu oleh Direktur Utama RRI ketika itu, Parni Hadi, RRI Takengon hanya menumpang pada salah satu ruangan di Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Tengah, namun sebulan kemudian Pemerintah Daerah menghibahkan sebuah rumah dinas yang sebelumnya difungsikan sebagai kediaman dinas Camat Bebesen.

Selanjutnya pada tahun anggaran 2011 Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah juga telah membangun tower pemancar RRI dengan kekuatan 2,5 KW di kawasan Pantan Terong Kecamatan Bebesen ditambah dengan fasilitas pendamping seperti pemasangan jaringan listrik 3 Phasa, dan pembangunan Gedung Pemancar sekaligus ruang penjaga peralatan.

Dalam suanasana santai  dan bersahaja, Dirut LPP RRI Niken Widieastuti, yang  mengagumi indahnya Panorama Alam Datran Tinggi Gayo Takengon- Aceh Tengah, dua tahun lalu,  sangat mengapresiasi perhatian Bupati Aceh Tengah, yang snagat resfek dan peduli untuk meningkatkan daya jangkau siaran  LPP RRI Takengon, sehingga diharapkan dapat lebih memotivasi kinerja jajarannya, karena menurut Niken sangat jarang seorang Kepala Daerah yang begitu intens memperhatikan dan mendukung eksistensi LPP RRI di daerah.

”Kami menyambut baik perhatian Bupati Aceh Tengah untuk peningkatan daya siar RRI Takengon, apalagi hal ini telah menjadi kebutuhan dan telah diajukan sejak lama,” katanya.

Menanggapi permintaan penambahan daya siaran RRI Takengon, Niken menyatakan akan menindaklanjutinya segera, bahkan ia menuturkan peralatan yang dibutuhkan telah dianggarkan pada tahun 2013, namun berkaitan dengan proses administrasi tender, sehingga peralatan baru efektif dapat digunakan memasuki pertengahan tahun ini.

“Untuk Aceh Tengah mesin berdaya 5 KW telah dianggarkan tahun ini, tinggal menunggu realisasinya saja,’ tutur Niken.

Daya pancar sebesar 5 KW, menurut, Ka.Sie Teknologi Media Baru  Stasiun LPP RRI  Takengon, Riswandi ,ST pada kesempatan terpisah mengatakan sangat ideal untuk wilayah Aceh Tengah, dengan kekuatan tersebut, ia perkirakan daya pancar siaran sudah mampu menjangkau seluruh wilayah di Kabupaten tersebut, bahkan dapat pula menembus ke wilayah pesisir utara dan wilayah tengah Provinsi Aceh,sebutnya,. Riswandi menambahkan, perhatian Pemkab setempat yang sangat besar untuk mengakselerasi proses penyiaran publik yang dilakukan RRI Takengon, semakin mempercepat upaya LPP RRI Pusat untuk melengkapi sarana dan prasarana pendukung siaran.

”Selain mesin 5 KW, tahun ini kita juga mendapatkan mesin berdaya 3 KW, bahkan mesin genset berkekuatan 20 KVA sudah kita terima,” ujarnya.   

Menyangkut dengan program siaran dan sumber daya pendukung operasional LPP RRI di Kota dingin ini,  Gurniandi, S.Sos, Ka.sie Siaran dan Pemberitaan Stasiun LPP RRI Takengon, mengatakan, seiring dengan keluarnya SK Menpan RB terhitung maret 2012 tahun lalu  peningkatan status RRI Takengon,  dari sebekumnya studio  Produksi menjadi Stasiun Penyiaran, dengan Tife-C. Keberadaan LPP RRI Takengon hingga saat ini tetap  eksis melayani pendengar dan memberikan informasi, pendidikan dan Hiburan kepada khalayak selama 19 jam sehari, ujarnya.   Sementara untuk menunjang operasional penyiaran, Gurniandi Menyebutkan saat ini LPP RRI Takengon, diperkuat 16 Personil.  2 orang  pejabat Teknik,  Siaran dan Pemberitaan,  4 personil  membidangi Teknik, 4 personil membidangi Pemberitaan (Reporter). 2 personil Pembawa Acara Siaran, dan 4 personil sebagai tenaga Adminstrasi Penunjang Operasional, katanya. Sedangkan   Pucuk  Pimpinana LPP RRI Takengon, hingga saat ini, masih dijabat kepala Stasiun LPP RRI Lhoukseumawe.ujar Gurniamerincikan.

“Kedepan, kami akan terus berupaya mengkatkan kwalitas siaran, dengan mengedapan aspek budaya dan keraifan lokal yang berlaku di tanah Gayo,” ujarnya.

Menyahuti  upaya meningatakn kwalitas siaran,  salah seorang pemerhati  dunia penyiaran tanah air, di Kota Dingin Takengon  Rahamat Damai Riyandi,  aman Wiwit (44). Menurutnya Tidak dapat dipungkiri, keberadaan RRI sebagai Radio siaran berplat merah, semakin hari ditantang  untuk bisa terus mengudara dengan sajian  program informasi dan hiburan yang lebih bernas dan menggigit, apalagi di tengah kompetisi program Radio siaran Swasta dengan kwalitas suara yang jernih dan jangkauan siaran melalui jaringan Satelit,  mengharuskan RRI  melakukan langkah -langkah inovasi dan  daya kreasi  yang tinggi. Meskipun diakui RDR Aman Wiwit, sekerang RRI Juga telah melakukan inovasi, meski terbatas pada acara uggulan  yang dapat didengar melalui jaringan internet, atau HP walaupun, tetap delay atau tertinggal 30 sampai dengan 40 detik dari yang sebenarnya. Tapi ini sesuatu langkah bijak dari manajemen LPP RRI, ujar Rahmat aman Wiwit.

Jika tidak maka RRI hanya didengar oleh para angkasawan-angkasawannya saja. Karena itu  menyajikan program yang terbaik, bahkan melakakuan survey  pendengar  adalah merupakan keharusan. Rahmat Aman Wiwit, setuju jika LPP RRI Takengon, bisa menggali seni budaya serta kearifan lokal yang berlaku digayo, tapi tetap dilakukan dengan dinamis serta  dikemas sedemkian rupa, sehingga tidak monoton dan apa adanya,katanya. 

“Adalah langkah bijak jika angkasawan –angkasawan  LPP RRI Takengon, memahami psikologi dan sebuah sajian yang benar-benar bisa menjadi magnet perekat, hingga pendengar tidak merubah chanel siaran lainnya. Untuk  bisa terus eksis semakin berat ditengah-tengah arus perubahan sosial, teknologi, politik, dan ekonomi sekarang. Namun inilah tantangan, yang hendaknya dapat disikapi oleh kawan-kawan di RRI Takengon, sebagai peluang,” kata  Aman Wiwit,  yang juga pernah berkarya dan menggeluti dunia audiovisual tanah air.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply