Bersatunya Mantan Kombatan GAM, Bisakah?

Bersatunya Mantan Kombatan GAM, Bisakah?

SOFYAN Dawood dan Mualem kembali bertatap muka di Warung Musleni Tomyan, Peuniti, Kota Banda Aceh, Kamis malam, 1 Oktober 2015. Keduanya mengisyaratkan sinyal bakal kembali rujuk setelah sempat berseteru pada pilkada 2012 dan Pileg 2014.

Sikap politik yang ditunjukan oleh mantan petinggi GAM ini patut diapresiasi. Pasalnya, kedewasaan politiklah yang dianggap mampu menyatukan kedua sosok yang cukup disegani saat Aceh masih berkonflik ini.

Kita tahu bahwa Aceh hari ini mendapat banyak tantangan dalam hal pembangunan. Salah satunya, belum tuntasnya semua keistimewaan Aceh sebagaimana yang diatur dalam MoU Helsinki.

Keadaan ini kemudian diperparah dengan ‘rusaknya’ Aceh dari dalam. Antar sesama mantan ekskombatan bertikai sehingga posisi Aceh tak lagi mendapat tempat istimewa di mata pemerintahan pusat.

Aceh sudah dianggap sama seperti provinsi lainnya sehingga beragam keistimewaan yang harus dimiliki tersendat hingga kini.

Pembangunan Aceh juga terganggu dengan tingginya angka kriminalitas. Akhirnya, pemerintah Aceh yang saat ini dikendalikan oleh mantan kombatan tidak bisa berbuat apapun.

Ibarat gunung es, sorotan negative yang ditunjukan oleh masyarakat terhadap pemimpin Aceh hari ini, sebenarnya berawal dari akal masalah yang sama. Persoalan tersebut adalah ekskombatan GAM selaku pihak yang terlibat dalam MoU Helsinki tak lagi kompak dan menuntut haknya ke Pemerintah Pusat.

Makanya, isyarat rujuk yang ditunjukan oleh Sofyan Dawood dan Mualem, memberi angin segar bagi seluruh rakyat Aceh. Momen ini telah lama dinanti-nantikan.

Kita berharap rekonsiliasi bisa berlangsung di Aceh, dan tak hanya sebatas antara Sofyan Dawood dengan Mualem. Rekonsiliasi harus juga terjadi di seluruh kabupaten kota, serta Sofyan Dawood dan Mualem menjadi penggerak utama.

Leave a Reply