Berkunjung ke Aceh, ini komentar wisatawan dari Brunai Darussalam

“Ini kali kedua saya ke Banda Aceh,” ungkap Rosle bin H. Jumuat, seorang wisatawan asal Brunei Darussalam kepada ATJEHPOSTcom, Selasa 26 Februari 2013, kemarin.

Menemaninya ngopi sambil ngemil kacang rebus di sebuah warung kopi Banda Aceh, pria kelahiran tahun 1964, Kp. Lumapas, Brunei Darussalam ini bicara banyak tentang Aceh.

“Aceh baik. Sekarang lebih membangun dibanding pertama kali saya melawat ke sini beberapa tahun lalu. Orang-orangnya ramah, makanannya juga pas di lidah. Pemandangannya indah dan saya suka budaya sosialnya yang islami,” komentarnya lagi sembari tangannya asik mengupas kacang rebus yang tersedia di meja.

Setelah menyelesaikan agenda utama kenapa ia berkunjung ke Banda Aceh, yaitu menjadi pembicara di seminar umum yang diadakan Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, ia menyempatkan diri untuk ‘pusing-pusing’ kota Banda Aceh.

“Sore tadi saya sudah ke Mesjid Raya, Museum Tsunami, Kapal Apung, dan Mesjid Ulee Lheue. Tempatnya bagus-bagus. Unsur sejarahnya kuat,” komentarnya lagi.

“Besok saya ingin berkunjung ke Museum Ali Hasymi. Kebetulan saya sedang menyelesaikan program master saya di UKM Malaysia,” ungkapnya lebih lanjut.

Selain terdaftar sebagai salah satu mahasiswa program Master Studi Sarjana Persuratan di Institute Alam dan Tamaddun Melayu, Universitas Kebangsaan Malaysia, di negaranya, ia aktif sebagai Pemangku Ketua Urus Setia Fatwa di Jabatan (kantor) Mufti Kerajaan Brunei Darussalam.

Menyangkut dengan pekerjaannya ia mengaku merasa ada keterkaitan dengan Aceh. Itu makanya ia beralasan kenapa mengambil penelitian tesisnya tentang hasil karya salah satu tokoh besar Aceh zaman kerajaan, yaitu Syeikh Abdurrauf As-Singkili atau yang lazim dikenal dengan Syiah Kuala.

“Untuk penelitian tesis, saya mengambil kajian tentang hasil karya Syiah Kuala. Itu tentang kajian manuskrip djawi karya Syeikh Abdurrauf As-Singkili terhadap karyanya, Kitab Daqaiqul Huruf,” jelas Rosle sambil menyeruput segelas teh hangat yang di pesannya.

Terhadap kesan lain setelah dua hari ini berada di Banda Aceh, dengan sedikit bercanda ia berujar, “Cuma susahnya, di sini tukang ojek dan becak sering memanfaatkan pendatang dari luar. Setiap saya naik becak, ongkosnya mahal. Naik taksi juga begitu. Ini saya tahu dari pemberitahuan beberapa teman di sini. Terus, transportasi ke tempat-tempat wisata juga susah,”

Sementara di pihak lain, salah seorang pemuda yang menjadi teman kunjungannya ke Banda Aceh, Mohd. Khairol Azhar bin Che Mahadi tak berkomentar banyak tentang Aceh. Dengan kalem, pemuda kelahiran 1988 asal Terengganu ini, berkomentar, “Ini first time in Aceh. Transport ke tempat anak-anak muda nongkrong di sini susah. Tapi di Aceh, makwe-nya (cewek) comel-comel,” ujarnya.[] (ihn)

  • Uncategorized

Leave a Reply