Begini cara warga Matang Bayu Aceh Utara atasi ternak berkeliaran

Di Desa Matang Bayu, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara sejak Maret 2010 lalu diberlakukan hukum adat tentang peraturan ternak liar yang berkeliaran. Untuk lembu dikenakan denda Rp100 ribu, sedangkan untuk kambing Rp50 ribu. Alhasil desa tersebut bebas ternak.

Geuchik Matang Bayu, Syafruddin kepada ATJEHPOSTcom pada Selasa 4 Juni 2013 mengatakan setiap ternak yang berkeliaran akan ditangkap oleh aparatur desa. Si pemilik harus menebus untuk mengambil ternaknya kembali, tentunya dengan membayar denda yang ditentukan.

Sejak diberlakukan aturan tersebut, kata Syarifuddin, desa mulai bebas dari ternak. Tak hanya itu angka kecelakaan lalu-lintas juga menurun. Warga pun bebas menanam bunga atau tanaman lainnya tanpa harus memagari kebunnya.

Pada tahun 2006 hingga 2009, kata dia, terdapat 67 kasus laka-lantas akibat ternak yang berseliweran. Namun sejak 2010 angka itu mencapai titik nol.

“Desa Matang Bayu berada di pinggiran jalan Medan-Banda Aceh. Ide itu muncul setelah melihat banyaknya kecelakaan lalu-lintas akibat ternak warga yang berkeliaran hingga jalan raya. Saya rasa desa lainnya patut mencontoh pemberlakuan aturan tersebut, karena memang efektif,” ujarnya.

Sebanyak 75 persen uang denda yang ditentukan, kata dia, diberikan kepada warga yang menangkap ternak berkeliaran.

“Hasilnya mengagumkan karena warga takut melepas ternaknya mengingat harus membayar denda. Kita bangga dengan desa yang bebas ternak. Saat ini bahkan tidak ada lagi kotoran ternak yang menumpuk di jalanan. Desa benar-benar bersih,” kata Syafruddin.[](bna)

  • Uncategorized

Leave a Reply