Bayi Sehat Berkat ASI Eksklusif

Susu formula tidak lagi dijadikan pengganti air susu ibu untuk bayi karena rentan masuk bakteri.

___________________________________________

Di ruang tunggu pasien Rumah Sakit Ibu dan Anak, Banda Aceh, Nurhayati, 31 tahun, sedang menanti giliran berkonsultasi dengan dokter. Ia datang ditemani suami untuk memeriksakan kandungan. Meski usia kandungan sudah memasuki 10 bulan, ibu hamil ini belum merasakan tanda-tanda bakal melahirkan anak keduanya itu.

“Saya rutin memeriksa kandungan, minimal sebulan sekali,” kata Nurhayati kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu. Rumah Sakit Ibu dan Anak, yang terletak di kawasan Blang Padang itu, menjadi tempat langganan Nurhayati memeriksakan kandungannya. 

Selama hamil, ia mengaku proses produksi ASI atau air susu ibu lancar dan selalu menjaga pola makan agar bayinya sehat. Selain itu, untuk menjaga kebugaran tubuh, Nurhayati juga sangat menjaga pasokan air mineral ke dalam tubuhnya.

Sama seperti anak pertamanya dulu, Nurhayati berencana kembali memberikan ASI bagi anak keduanya itu. Namun, berbicara pengalaman pertama menyusui, Nurhayati punya kenangan pahit. Saat itu, ia membuang ASI pertama yang keluar usai melahirkan. Ia menganggap itu kotoran yang berasal dari dalam tubuh.

ASI pertama kerap disebut colostrums. Warnanya kuning, cenderung kental, berbeda dengan ASI normal yang lebih putih dan agak encer. Colostrums biasanya keluar sesaat setelah melahirkan dan bertahan hingga tiga hari atau sepekan kemudian. “Saya memang memberikan ASI secara eksklusif kepada bayi, tapi saya tidak tahu apa fungsi colostrums itu,” ujar Nurhayati. Sepengetahuannya, ASI yang keluar pada hari pertama harus dikeluarkan dan dibuang.

Tentu saja diduga tak hanya Nurhayati, banyak ibu lain yang tidak paham mengenai colostrums itu sehingga sengaja membuangnya. Padahal, ASI colostrums memiliki banyak manfaat. Konselor ASI sekaligus Wakil Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Wilayah Sumatera Utara, Hery Firdaus, kepada The Atjeh Times Kamis pekan lalu mengatakan, colostrums kaya nutrisi dan bermanfaat untuk sistem kekebalan tubuh bayi.

Pemberian colostrums juga dapat mencegah bayi dari penyakit kuning. Setelah colostrums, kata Hery, baru dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan berikutnya. Air susu ini diberikan secara rutin tanpa didampingi makanan tambahan. “Makanan penunjang lainnya baru bisa diberikan setelah masa enam bulan ini,” kata Hery.

Jika bayi terlalu cepat diberikan makanan pendamping, seperti bubur atau pisang, hal itu justru bisa merusak lambung. Bayi yang baru lahir hanya memiliki lambung berdiameter dua sentimeter. “Untuk asupan makanannya 2 cc ASI saja sudah mencukupi sehingga tidak perlu diberikan tambahan lain seperti susu formula,” ujar Hery.

Efek lain, jika terlalu cepat diberikan makanan tambahan, bayi akan selalu merasa lapar. Inilah pemicu bayi terserang obesitas di usia dini.

Susu formula, kata Hery, tidak dapat memenuhi kebutuhan protein bayi. Selain itu, juga bisa menyebabkan gangguan pencernaan, terutama susu sapi karena rentan terkontaminasi bakteri.

Beberapa komposisi dalam susu formula juga belum tentu dapat dicerna bayi. Contohnya kandungan gula atau laktosa. “Sedangkan gula yang terdapat dalam ASI disebut oligosakarida dan mudah dicerna enzim alami dalam rongga mulut dan lidah bayi,” ujar Hery.

Mestinya, kata dia, ASI tidak digantikan dengan susu formula. “Karena bayi yang tidak diberikan ASI rentan terserang penyakit, seperti menurunnya daya tahan tubuh, mudah terserang flu, alergi, dan lainnya.”

Namun, kasus itu bakal berbeda untuk perempuan yang tidak memiliki produksi ASI cukup. Hery mengatakan peran suami sangat besar dalam proses pembentukan ASI. Ibu yang mudah tertekan dan stres, kata dia, bisa mengakibatkan produksi ASI terhenti. Bahkan, terjadi penyumbatan pada puting payudara sehingga mengakibatkan infeksi.

Fungsi suami, kata Hery, memberi kenyamanan secara psikologis bagi istri. Jika ASI belum mau keluar, diperlukan stimulasi khusus dari suami. Karena itu, suami juga harus memiliki pengetahuan tentang manajemen ASI.

“Ada teknik-teknik pemijatan khusus yang bisa dilakukan suami untuk merangsang keluarnya ASI. Selain itu, juga bisa distimulasi dengan hisapan langsung oleh mulut bayi,” katanya.

Rini Handayani, Dosen Farmakologi di Politeknik Kesehatan Aceh, mengatakan agar bisa memproduksi ASI berkualitas, tubuh memang harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Caranya dengan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Sayur, buah, susu, madu, dan makanan yang mengandung asam folat serta zat besi bisa mencegah terjadinya cacat janin.

“Hindari makanan yang mengandung penyedap rasa dan perbanyak minum air mineral. Yang pasti zat-zat dalam ASI tidak bisa digantikan oleh susu formula,” kata Rini.

Ia menyarankan ibu yang sedang menyusui sebaiknya mengurangi konsumsi obat jika sedang sakit. Semua kandungan obat dikatakan Rini justru bakal masuk ke dalam tubuh bayi melalui ASI. “Agar tubuh tetap sehat, selama menyusui boleh mengonsumsi seperti vitamin E. Tapi tiga jam setelah itu tidak dibenarkan memberi ASI.”[]

  • Uncategorized

Leave a Reply