Bangunan kerajaan hilang, Pusat Arkeologi Nasional: Bencana melanda Samudra Pasai?

TIM dari Pusat Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sedang melakukan penelitian arkeologi dengan tema “Peradaban dan Bencana di Samudra Pasai Aceh Utara”.

Dari Jakarta, mereka tiba di Lhokseumawe, Rabu, 19 Juni 2013. Kemudian turun ke Desa Kuta Karang, Kecamatan Samudra, Aceh Utara, untuk melakukan penelitian arkeologi di lahan dekat kompleks makam Sidi Abdullah.  

Tim peneliti berjumlah 10 orang dikoordinir Heddy Surachman. Tujuh di antaranya arkeolog dari Pusat Arkeologi Nasional, satu ahli geografi bidang mitigasi bencana dari Solo, satu dari Unit Pelaksana Teknis Balai Arkeologi Medan dan satu arkeolog di Aceh.

“Kita fokus di Kuta Karang, karena kita lihat ini lokasi inti bekas Kerajaan Samudra Pasai. Di sini ada struktur bangunan (tertimbun dalam tanah), sudah kita gali di empat titik, tapi belum bisa kita pastikan secara gamblang, dulunya ini bangunan apa,” kata Heddy Surachman saat dihubungi ATJEHPOSTcom melalui seluler, Selasa, 2 Juli 2013, siang.

Struktur bangunan tersebut berukuran 32 x 32 meter. Tim peneliti masih sulit memastikan organisasi ruang dari bangunan kuno itu. “Yang baru kita tahu sudut-sudutnya, belum kita tahu dari arah mana pintu masuknya,” ujar Heddy Surachman.

Namun, kata Heddy, paling tidak sudah diketahui bahwa dinding bagian barat dan timur bangunan itu, ketebalannya tidak sama. Yang satu ketebalannya 90 centimeter. “Cukup tebal untuk ukuran bangunan masa lalu, bahkan bangunan masa sekarang saja tidak sampai 90 centimeter tebalnya,” kata dia.

“Saya kira ini bangunan yang cukup penting pada masa itu (Kerajaan Samudra Pasai), sayangnya kita belum bisa menyimpulkan ini bangunan apa, dulunya difungsikan untuk apa,” ujar Heddy.

Heddy menambahkan, kegiatan penelitian arkeologi kali ini lebih diarahkan pada dugaan telah terjadi bencana alam di Samudra Pasai. Sebab dibandingkan daerah lain, kata dia, bekas keraton, istana, masjid, termasuk pasar, masih ada bekas bangunannya.

“Di Samudra Pasai ini hanya tampak makam-makam. Bangunan-bangunannya dimana, kenapa hilang. Maka kami coba gali struktur bangunan ini untuk mengetahui kenapa bangunan masa Samudra Pasai bisa hilang,” katanya.

Perkiraan tim peneliti ini, sebesar apapun penyerangan dari negara luar seperti Portugis terhadap Kerajaan Samudra Pasai masa silam, tidak mungkin menghilangkan semua bangunan. “Di Banten, Cirebon masih tetap bertahan bangunannya sampai sekarang,” ujar Heddy.

Itu sebabnya, tim dari Pusat Arkeologi Nasional melakukan penelitian berangkat dari pertanyaan: bencana alam seperti apa yang melanda Samudra Pasai sehingga menghilangkan semua bangunannya. “Menghilangkan pusat kerajaan atau pusat pemerintahan (Samudra Pasai),” kata Heddy.

Hasil penelitian tersebut akan disosialisasikan kepada berbagai kalangan di gedung Hasby Ash-Shiddiqy, Mongeudong, Lhokseumawe, Kamis, besok.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply