Bang Leman: Mualem Itu Panglima Seluruh Pemuda Aceh

KETUA DPD Golkar Aceh, Sulaiman Abda, mengapresiasi pertemuan Muzakir Manaf dengan Irwandi Yusuf. “Politik tanpa permusuhan. Mualem (Muzakir Manaf) telah menunjukkan jati diri yang sesungguhnya. Ia orang yang baik hatinya. Mualem (Muzakir Manaf) adalah Panglimanya Anak Muda Aceh,” kata Sulaiman Abda yang akrab disapa Bang Leman kepada The Atjeh Post di Banda Aceh, Kamis 22 Januari 2015.

Bang Leman juga mengacungkan jempolnya untuk Irwandi Yusuf. “Ia sosok yang dewasa dan mampu menunjukkan kerendahan hatinya. Dan itu sekaligus menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu tokoh Aceh,” kata Bang Leman.

Ketika berdiskusi tentang pertemuan Mualem dengan Irwandi, Bang Leman ditemani sejumlah anak-anak muda dari Partai golkar. Di antaranya adalah Khaled (Wakil Ketua Partai Golkar Aceh), Risman A. Rahman (Wakil Sekretaris Partai Golkar Aceh), Hendra Budian (Wakil Sekretaris Partai Golkar Aceh), Ahmad Mirza Safwandy (Komisi Penggalangan Lembaga Pengelola Kaderisasi Golkar Aceh),  dan Indra Zulfansyah (Komisi Informasi Lembaga Pengelola Kaderisasi Golkar Aceh). 

“Seperti kata Bang Leman, Mualem sekarang itu adalah milik orang Aceh. Dia adalah panglimanya anak-anak muda Aceh,” kata Khaled. "Bahwa Mualem dulunya adalah Panglima GAM itu benar, namun sekarang ia juga menjadi milik kita semua. Panglimanya seluruh anak-anak muda Aceh."

Bang Leman bersama anak-anak muda dari Partai Golkar berharap agar Mualem nantinya bergerak bebas sesuai dengan ide-ide pembangunan Aceh yang dimilikinya. “Kita jangan mengisolirnya sehingga ia tak bebas bergerak dan berimprovisasi dalam berpolitik. Saya walaupun dari Partai Golkar juga menganggap Partai Aceh itu partai saya juga. Partai Aceh itu milik orang Aceh walau kami berada di tempat-tempat berpolitik yang berbeda,” kata Bang Leman.

Kembali lagi Bang Leman memberi apresiasi kepada Mualem dan Irwandi untuk pertemuan mereka tadi malam.

Mualem yang adalah Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) juga menyatakan pertemuannya dengan Irwandi adalah wujud komitmennya untuk menggalang persatuan dan kesatuan di Aceh. “Mari kita sama-sama membangun Aceh, kita utamakan kepentingan Aceh,” kata Mualem melalui telepon selular, Kamis dini hari 22 Januari 2015.

Mualem yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh ini juga mengimbau agar seluruh komponen masyarakat Aceh bersatu. “Teman-teman seperjuangan semua, saya ingin semuanya kembali bergandengan tangan. Sebetulnya kita sehati dalam sebuah cita-cita untuk membangun Aceh yang sejahtera dan bermartabat,” kata Mualem.

“Kita utamakan kepentingan rakyat Aceh di atas semua kepentingan. Agar semua bisa terwujud, satu kata kita harus kompak, dan bersatu, juga untuk tujuan yang sama yaitu membangun Aceh yang sejahtera dan bermartabat,” kata Mualem lagi. “Malam ini saya bertemu kembali dengan sahabat lama saya, bang Wandi (Irwandi). Kami bernostalgia tentang cerita masa lalu, tentang cita-cita kita untuk membangun Aceh.”

Dua sahabat lama itu bertemu malam tadi. Berjabat tangan erat. Saling memberi senyum hangat. Di mata mereka mengguratkan kerinduan yang mendalam. Itulah yang terjadi malam ini di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta Pusat.

Muzakir Manaf yang adalah Panglima Gerakan Aceh Merdeka di masa konflik dulu, dan Irwandi Yusuf adalah elit di militer GAM di masa itu. Sekian lama mereka terpisahkan oleh politik semusim pada Pilkada 2012. Kini mereka bertemu lagu, dalam satu bahasa bersama-sama membangun Aceh.

Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem malam mini duduk semeja, bercerita tentang banyak hal. “Saya tidak pernah memusuhi bang Irwandi,” kata Mualem kepada The Atjeh Post pekan lalu. Pernyataan yang sama juga dari Irwandi. “Kami memang saling merindukan,” kata Irwandi.

Pertemuan ini memang lahir dari keinginan berbagai komponen masyarakat. Dari kalangan ulama, aktivis mahasiswa, dan juga lembaga swadaya masyarakat, menginginkan mereka duduk semeja untuk membahas pembangunan Aceh. Dan kini telah terwujud.

Kerinduan mereka kini  menjadi sebuah tatapan mata yang ingin saling membantu, dan bahu membahu membangun Aceh. Saat mereka sedang bertemu dan mengobrol berdua, tak lama berselang datang Ayah Merin (mantan elit GAM), Teuku Irsyadi, Amir Faisal, dan Munawar Liza Zainal, dan juga Syukri Ibrahim. Kemudian sejumlah tokoh Aceh ikut datang nimbrung ngobrol sama mereka. []

  • Uncategorized

Leave a Reply