Bambang, Kambing, dan ATJEH Livestock

DILAHIRKAN di Medan, tidak membuat lelaki ini asing dengan Aceh. Usai menyelesaikan Sarjana Peternakan pada Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, sejumlah usaha di bidang peternakan pun ia dirikan di Aceh.

Namanya, Bambang Mulya Utama. Saat ini tercatat dua usaha penting di bidang peternakan yang ia fasilitasi bersama sejumlah peternah di Aceh Besar. Untuk para peternak sapi perah, telah berdiri kelompok sapi perah jantho atau dikenal dengan Saperjan. Kecuali itu, sejak September 2009, Bambang telah mendirikan kelompok usaha ternak kambing perah.

Kelompok tersebut diberi nama ATJEH Livestock. Bambang bersama rekan-rekannya di Aceh Besar mendirikan kelompok ini untuk menunjang penghasilan para peternak kambing. "Kelompok usaha untuk meningkatkan penghasilan susu kambing murni," kata Bambang.

Menurut amatan Bambang, susu murni dari kambing perah sangat terbatas di Aceh. Bibit-bibit kambing, baik kambing perah maupun kambing poting, merupakan jenis kambing peternakan ettawa (PE). Ia dirikan usaha ini atas dasar menimbang permintaan pasar terhadap susu segar murni.

ATJEH Livestock sekarang berlokasi di Kawasan Bantaran Kreung Aceh (pinggiran sungai Aceh) Kabupaten Aceh Besar. Visi dan misi kelompok yang digagas oleh sarjana Unsyiah ini demi terwujudnnya swasembada susu kambing segar dan swasembada daging merah di provinsi Aceh.

Kata Bambang, ATJEH Livestock bukan hanya untuk meningkatkan penghasilan susu kambing perah, tetapi juga untuk menjaga pembibitan kambing. "Secara umum, usaha ini demi menciptakan iklim usaha agribisnis yang kundusif dan juga meningkatkan pendapatan masyarakat peternakan dengan sistem inti plasma," ujarnya.

Saat ini, populasi ternak dalam ATJEH Livestock meliputi kambing ettawa kaligesing perah (25 ekor), kambing potong (36 ekor), domba bibit (20 ekor), kambing penjantan (12 ekor), serta domba penjantan (5 ekor). Jumlah itu belum termasuk anak-anak kambing dan anak-anak domba.

Adapun hasil penjualan susu perah dari kambing-kambing itu per hari berkisar 5-8 liter. "Susu-susu ini nantinya akan diproses lebih lanjut kemudia dikemas denga botolan 250 ml dengan harga Rp15.000/botol," kata lelaki yang sempat mengelola laboratorium peternakan Unsyiah itu.

Mekanisme kerja peternakan di ATJEH Livestock, kata Bambang, meliputi pemberian pakan ternak, comboran ampas tahu, ampas tempe, dan dedaunan hijau yang diberikan setiap harinya. Perawatan kandang juga menjadi prioritas Bambang dalam menjaga usaha mereka lebih higenis dan sehat.

Harapan terbesar dari lelaki asal Medan yang sudah menikah dengan seorang perempuan Aceh Besar ini bagaimana usaha kambing perah tersebut bisa membuka lapangan kerja di Aceh. Ia juga berharap agar para peternak kambing jangan risau dengan usaha kambing mereka. Tak sungkan-sungkan Bambang mengajak para peternak kambing mengajak mengembangkan ternak kambing mereka dalam ATJEH Livestock.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply