Bahaya dalam Sekaleng Soft Drink

KAMIS, 13 September 2012 lalu, pemerintahKota New York telah mengesahkan regulasi larangan peredaran minuman bersoda dalam ukuran besar. Bukan hanya itu, minuman manis juga dilarang dijual di restoran dan tempat penjualan makanan. Regulasi tersebut disahkan oleh delapan anggota dewan kesehatan kota.

Wali Kota New York, Michael Bloombergh, menyerukan larangan itu sebagai langkah mengurangi obesitas di kota itu. Minuman bersoda dinilai menjadi salah satu pemicu obesitas. Dengan diberlakukannya aturan itu, New York menjadi kota pertama di Amerika Serikat yang melarang peredaran minuman ringan bersoda.

Kini diperkirakan sepertiga orang Amerika obesitas. Paman Sam pun gencar menyembuhkan penyakit warganya itu. Ada sekitar 10 persen dari total biaya kesehatan di Amerika digunakan untuk menyembuhkan penyakit kegemukan itu.

Di balik sensasi nikmat nanmenyegarkan, minuman berkarbonasi atau softdrinkmenyimpan segudang ancaman kesehatan. Minuman ini mengandung PH atau tingkat keasaman tinggi sehingga bisa mengikis kandungan kalsium dalam tubuh. Pelan-pelan, organ-organ penting dalam tubuh bakal tergerogoti.

SoftdrinkmengandungPH sekitar 2,5 hingga 3,5,sedangkan PH dalam tubuh manusia di kisaran 6,9 hingga 7,4. Begitu minuman itu masuk, tubuh akan berusaha menetralisasiasam PH dengan cara mengambil cadangan kalsium dalam tubuh. Lama-lama tulang kekurangan kalsium hingga menyebabkan osteophorosis atau kerapuhan.

“Umumnya yang menjadi daya tarik pembeli softdrink adalah warnanya macam-macam,seperti merah, kuning, hijau, dan hitam. Warna ini berasal dari zat pewarna yang sangat berbahaya,” kata praktisi kesehatan di Banda Aceh, dr. Yunina Endang Sari, kepada The Atjeh Times, Rabudua pekan lalu.

Zat pewarna itu, khususnyamerah dan kuning, menurut Effiyanti, Kepala Bidang Pengujian Pangan dan Bahan Berbahaya BPPOM Banda Aceh, berasal dari methanyl yellow dan rhodamin B. Keduanya zat pewarna sintetis yang biasa dipakai untuk tekstil. Secara khusus,rhodamin B dilarang digunakan untuk makanan. Hal ini sudah ditetapkandalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 239.

Bukan hanya soal pewarna sintetis, kafein yang terkandung dalam softdrink juga tinggi. “Kadarnya bisa mencapai 40 miligram, lebih tinggi dari kadar kafein dalam kopi,” kata dr. Yunina. Kadar kafein yang tinggi itu mempercepat kerja jantung dan berpengaruh pada tekanan darah tinggi.

Serupa dengan pernyataan Bloombergh, Yunina juga menjelaskan bahwa kadar gula dalam softdrink bisa menyebabkan obesitas.Dalam sebuah literatur disebutkan berat badan pecandu minuman ringan bisa lebih dari 75 persen berat badan normal. Faktor ini disebabkan oleh kalori tinggi yang berasal dari gula.

Minuman seberat 300 mililiter, kata Yunina, paling tidak mengandung kalori setara dengan 7-9 sendok makan gula. Sementara tubuh memerlukan asupan kalori perhari hanya 2-3 sendok gula. Ironisnya, gula yang dipakai biasanya digantikan oleh pemanis buatan bernama siklamat.

Bukan hanya obesitas, pecandu softdrink juga rentan terkena diabetes tipe dua dan serangan jantung. Paling mengerikan adalah minuman ini juga dapatmenyebabkanstroke pada penderita di bawah usia 30 tahun. “Pada anak-anak usia belia bisa menimbulkan kerapuhan gigi,” ujar Yunina. “Ada dua kandungan lagi, yaitu bisphenol A dan asam sitrat.Kedua kandungan ini berefek sangat fatal jika terus dikonsumsi dengan kadar berlebihan.”

Bhispenol A atau BPA merupakan senyawa organik yang dipakai untuk membuat botol plastik. Biasanya senyawa ini mudah terkontaminasi bila berada di suhu tinggi atau panas. Effiyanti menjelaskan cara aman mengonsumsi minuman kaleng atau botol adalah dengan memperhatikan proses penyimpanannya.

“Jika terkena paparan sinar matahari, minuman kaleng akan tercampur dengan kandungan kimia yang berada dalam kemasan tersebut. Makanya, selalu tertera agar disimpan di tempat sejuk dan hindari sinar matahari,” ujar Effiyanti. Masalahnya, kata dia, konsumen tidak bisa memastikan apakah perjalanan produk tersebut sejak dari distributor aman dari kontaminasi suhu panas matahari.

U.S Environmetal Protection Agency menetapkan batas toleransi BPA dalam tubuh hanya sebesar 0.05 miligram perhari.Batas intoleransinya sangat kecil. Karena itu,perlu diperhatikan benar jenis makanan yang masuk ke tubuh.

Dampak negatif dari senyawa ini dapat memicu terjadinya kanker prostat, kanker payudara, pubertas dini, obesitas, diabetes, perubahan sistem imun, hingga menganggu pengaturan hormon tiroid.

Yunina juga mengingatkan, bukan hanya minuman kaleng yang berbahaya, melainkan juga softdrinkberbentuk serbuk dalam sachet. Biasanya minuman ini disebut juga sebagai energy drink. Dibandingkan kemasan dalam botol, minuman serbuk ini lebih berbahaya.

“Umumnya serbuk itu tidak semuanya akan larut dalam air.Serbuk tersebut akan mengendap di ginjal. Dampaknya adalah menyebabkan terjadinya gagal ginjal,” katanya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply