Ayah dan Anak Jadi Terpidana Korupsi Dana Gampong

Ayah dan Anak Jadi Terpidana Korupsi Dana Gampong

LHOKSEUMAWE – Mantan Geuchik dan Bendahara Gampong (Desa) Keude Aceh, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, M. Nur dan Nasril menjadi terpidana korupsi Dana Alokasi Umum Gampong (DAUG) yang merugikan negara Rp121 juta. Kedua terpidana itu merupakan ayah (M. Nur) dan anak (Nasril).

“Perkara tindak pidana korupsi itu inkracht (berkekuatan hukum tetap) pada 6 April, karena keduanya tidak melakukan banding atas putusan Pengadilan Tipikor Banda Aceh pada 30 Maret. Putusan itu telah dieksekusi kemarin, 9 April,” kata Kajari Lhokseumawe Mukhlis, S.H., melalui Kasie Pidana Khusus, Yusnar Yusuf, S.H., kepada portalsatu.com, Jumat, 10 April 2015.

Yusnar menyebut terpidana M. Nur dan Nasril kini ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kajhu, Banda Aceh. “Selama ini (keduanya) sebagai tahanan sementara, kemarin dieksekusi sebagai narapidana untuk menjalani hukuman (sesuai putusan pengadilan),” ujar Yusnar yang juga salah seorang Jaksa Penuntut Umum (JPU) perkara Tipikor itu.

Perkara korupsi DAUG sumber dana APBK Lhokseumawe tahun 2012 itu disidangkan di Pengadilan Tipikor Banda Aceh sejak 19 Januari 2015. Hasil persidangan, majelis hakim diketuai Muhifuddin, S.H., M.H., didampingi hakim anggota Said Husein, S.H., dan Hamidi Djamil, S.H., menetapkan putusan terhadap M. Nur dan Nasril, 30 Maret 2015.

Keduanya dinyatakan terbukti bersalah sebagaimana dakwaan subsidair pasal 3, juncto 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, juncto pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” katanya.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menghukum M. Nur satu tahun penjara dan denda 50 juta subsidair (pengganti denda) dua bulan kurungan. Sedangkan Nasril dihukum  2,5 tahun penjara, denda 50 juta subsidair dua bulan kurungan dan uang pengganti Rp121 juta subsidair satu tahun penjara. Hakim memerintahan agar pidana penjara terhadap keduanya dikurangi masa penahanan yang telah dijalani sejak perkara tersebut masih tahap penyidikan dan penuntutan.

Sebelumnya, JPU menuntut M. Nur dipidana penjara selama 1,5 tahun dan denda 50 juta subsidair tiga bulan kurungan. Sedangkan Nasril dituntut pidana penjara 3,5 tahun, denda 50 juta subsidair tiga bulan kurungan, dan uang pengganti Rp121 juta subsidair dua tahun penjara.

Berdasarkan keterangan dilansir laman resmi Pengadilan Tipikor Banda Aceh, M. Nur ditahan penuntut umum sejak 17 Desember 2014, sedangkan Nasril ditahan penyidik sejak 20 Agustus 2014.

Menurut Yusnar, sesuai Laporan Hasil Perhitungan (LHP) Inspektorat Lhokseumawe, kerugian negara akibat penyimpangan dalam penggunaan dana DAUG tersebut senilai Rp121 juta. Sedangkan jumlah DAUG yang diterima Gampong Keude Aceh dari APBK Lhokseumawe tahun 2012 mencapai Rp357,6 juta.[] (ihn)

Leave a Reply