Autis, Penyakit atau Bukan?

Banyak orang masih beranggapan bahwa autis adalah penyakit. Menurut pakar tumbuh kembang anak dr. T. M. Thaib M. Kes Sp. AJK, autis pada anak bukanlah penyakit. Anak-anak penyandang autis dimasukkan dalam kelompok Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

“Autis bukan penyakit. Anak-anak Berkebutuhan Khusus ini jangan dicampakkan,” katanya dalam seminar Jelajahi Dunia Autis dan Penanganannya di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Sabtu 15 Maret 2014 kemarin.

Ia juga meminta orang tua dan masyarakat untuk tidak menganggap remeh anak-anak penyandang autis. Menurutnya beberapa anak autis justru memiliki tingkat intelegensia yang tinggi.

Autis merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak, ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

Autis, kata dr. Thaib bisa terjadi secara genetik (keturunan), gangguan biokimia, gangguan psikiatri, faktor makanan atau karena faktor zat kimia. Gejalanya berupa gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal. Terlambat bicara atau tidak dapat bicara sama sekali, mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang lain. Dalam konteks bahasa sehari-hari sering disebut sebagai bahasa planet.

Selain itu, anak-anak autis biasanya berbicara namun tidak untuk berkomunikasi. Mereka juga senang meniru, beberapa anak bahkan pandai menirukan nyanyian, nada, atau kata-kata tanpa mengerti artinya.

“Kadang bicara monoton seperti robot, mimik datar, seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan beraksi dengan cepat,” tulisnya dalam makalah Autis Pada Anak.

Gejala autis pada anak juga bisa dideteksi secara dini, menurutnya yang harus diwaspadai adalah pada fase 0-6 bulan. Bayi tampak terlalu tenang seperti jarang menangis, terlalu sensitif atau cepat terganggu/terusik. Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi. Bayi dengan gejala autis juga tidak mengoceh namun perkembangan motorik kasar/halus sering tampak normal.

Pada rentang usia 6-12 bulan bayi umumnya juga tampak terlalu tenang, gerakan tangan dan kaki berlebihan, sulit bila digendong, mengigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan, tidak ditemukan senyum sosial dan tidak ada kontak mata.

Usia 1-2 tahun biasanya kaku jika digendong, tidak mau bermain permainan sederhana, tidak mengeluarkan kata-kata, dan tidak tertarik pada permainan seperti boneka. Mereka biasanya juga asyik dengan tangannya sendiri, terdapat kesalahan dan perkembangan motorik kasar atau halus. Mereka juga mungkin tidak dapat menerima makanan cair.

Usia 2-3 tahun, anak tidak tertarik bersosialisasi dengan anak lain. Mereka melihat orang sebagai benda. Sedangkan pada usia 4-5 tahun, sering didapatkan kasus ekolalia atau membeo/meniru, mengeluarkan suara yang aneh, marah bila rutinitas yang seharusnya berubah, menyakiti diri sendiri seperti membenturkan kepala dan agresif.

Memperlakukan anak autis menurutnya tidak bisa disamakan dengan anak-anak normal, selain membutuhkan kesabaran ekstra, orang tua juga bisa memberikan terapi khusus pada anak. Seperti terapi biomedik, okupasi, integrasi sensoris, bermain, perilaku, fisik, wicara, musik, perkembangan, visual, medikamentosa dan terapi makanan.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply