Author: ZULKIFLI ANWAR

Mantan Ketua Harian KONI Aceh Utara Ditahan

Mantan Ketua Harian KONI Aceh Utara Ditahan

LHOKSUKON – Mantan Ketua Harian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh Utara, A. Junaidi, S.H., ditahan di Rumah Tahanan Lhoksukon, sejak Kamis, 8 Oktober 2015.  Ia menjadi narapidana setelah Mahkamah Agung (MA) mengeluarkan putusan kasasi perkara korupsi dana Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Aceh XI/2010 di Bireuen Rp5 miliar bersumber dari APBK Aceh Utara.

Eksekusi terhadap putusan MA itu dilakukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Lhoksukon. Berdasarkan putusan MA, Junaidi dihukum pidana penjara empat tahun, denda Rp200 juta, dan uang pengganti Rp495 juta.

Kepala Kejaksaan Negeri Lhoksukon, T. Rahmatsyah, S.H., M.H., melalui Kepala Seksie Pidana Khusus, Oktalian Darmawan, S.H., kepada portalsatu.com, Jumat, 9 Oktober 2015, menyebutkan, pihaknya langsung memanggil terpidana Junaidi setelah menerima salinan putusan MA.

“Dia memenuhi panggilan dan menandatangani berita acara. Setelah itu, dia langsung kami eksekusi ke Rutan Lhoksukon (kemarin),” ujar Oktalian.

Oktalian menambahkan, terpidana harus membayar denda Rp200 juta dengan batas waktu sebulan sejak putusan itu inkracht (berkekuatan hukum tetap). Jika tidak dibayar denda, kata dia, terpidana harus menjalani hukuman tambahan enam bulan penjara.

Selain itu, kata Oktalian, terpidana harus membayar uang pengganti Rp495 juta. Jika terpidana tidak membayar uang pengganti dalam waktu sebulan, maka harta bendanya akan disita dan dilelang pihak kejaksaan.

“Hal itu untuk menutupi uang pengganti yang dimaksud. Namun jika harta bendanya tidak mencukupi, maka terpidana harus menjalani hukuman tambahan satu tahun enam bulan (18 bulan) kurungan penjara,” kata Oktalian.

Menurut Oktalian, penyelidikan kasus korupsi dana Porprov Aceh sumber dana APBK Aceh Utara 2010 itu dilakukan pada 2011. Hasil penyidikan, jaksa menjerat empat tersangka, yaitu  A. Junaidi, M. Saleh Mahmud, Abdullah dan Hafnalisa. Setelah disidangkan di Pengadilan Tipikor Banda Aceh, perkara Junaidi berlanjut ke Pengadilan Tinggi Banda Aceh (tahap banding) hingga MA (kasasi) dan kini telah inkracht.

Informasi diperoleh portalsatu.com, selain pernah menjadi Ketua Harian KONI Aceh Utara yang membuatnya terjerat kasus korupsi itu, Junaidi juga merupakan mantan anggota DPR Kabupaten Aceh Utara.[]

Foto ilustrasi

PNS Kantor Kecamatan Lhoksukon Ikut Pengajian Rutin

PNS Kantor Kecamatan Lhoksukon Ikut Pengajian Rutin

LHOKSUKON – Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan tenaga honorer Kantor Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara mengikuti pengajian di aula setempat, Jumat 10 Oktober 2015 pagi. Kegiatan yang telah berjalan sekitar tiga tahun itu rutin digelar sekali dalam sebulan.

“Sekali dalam sebulan di hari Jumat kami memang menggelar pengajian, berupa tausiah untuk pegawai kantor. Kali ini saya tidak ikut serta karena sedang ada kegiatan di Banda Aceh,” kata Camat Lhoksukon, Saifuddin kepada portalsatu.com via telfon seluler.

Salah seorang PNS Kantor Kecamatan Lhoksukon secara terpisah mengatakan, tausiah hari ini (Jumat-red) diisi oleh Tgk Irwansyah, Pimpinan Dayah Rahmatul Huda di Desa Pante, Lhoksukon dengan tema ‘makna 10 Muharam’.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Selain dapat menambah pengetahuan tentang Islam, kegiatan ini seolah semakin mempererat tali persaudaraan dan silaturahmi antara sesama pegawai. Pengetahuan yang diperoleh dari mendengarkan tausiah juga dapat kami ajarkan kepada anak-anak di rumah,” ujar salah seorang PNS.

Foto : Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan honorer Kantor Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara ikuti pengajian rutin.@Zulkifli Anwar/portalsatu.com

Kejari Lhoksukon dan BPJS Kesehatan Gelar Forum Koordinasi

Kejari Lhoksukon dan BPJS Kesehatan Gelar Forum Koordinasi

LHOKSUKON – Kejaksaan Negeri Lhoksukon menggelar forum rapat koordinasi pengawasan dan pemeriksaan kepatuhan tingkat Kabupaten Aceh Utara di aula kantor setempat, Kamis, 8 Oktober 2015. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Lhokseumawe.

Hadir di lokasi di antaranya Kepala Kejaksaan Negeri Lhoksukon Teuku Rahmatsyah, SH, MH, Kepala BPJS Kesehatan Lhokseumawe dr. Yasmine Ramadhana, Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Aceh Utara Nazaruddin, SE, dan Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh Utara Jailani Abdullah, MM.

“Rapat ini guna menindaklanjuti nota kesepahaman bersama (MoU) antara BPJS Kesehatan Lhokseumawe dengan Kejaksaan Negeri Lhoksukon pada 05 Mei 2015 lalu,” kata Kepala Kejaksaan Negeri Lhoksukon, Teuku Rahmatsyah, SH, MH, melalui Kasi Datun Feryando, SH, kepada portalsatu.com.

Ia mengatakan hal itu sesuai dengan Keputusan Kepala Divisi Regional Sumatra bagian Utara, BPJS Kesehatan Nomor 85 Tahun 2015 tanggal 16 Juni 2015, tentang Forum Koordinasi Pengawasan dan Pemeriksaan Kepatuhan Tingkat Kabupaten/Kota Tahun 2015.

“Ini juga sebagai upaya mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara jaminan kesehatan,” ujarnya.

Dengan adanya kegiatan ini, kata Feryando, diharapkan dapat tercapainya komunikasi yang baik dengan para pihak pemangku kepentingan dalam pelaksanaan pengawasan, pemeriksaan dan penegakan hukum yang terkait pelaksaan program BPJS Kesehatan. Hal itu meliputi penyampaian saran dan gagasan, pemecahan masalah serta perumusan rencana kerjasama yang strategis.

“Kami harap sosialisasi program jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan dapat berjalan baik. Demi tercapainya universal coverage,” kata Feryando.[](bna)

Pemkab Aceh Utara Enam Tahun Tidak Laksanakan Hukum Cambuk

Pemkab Aceh Utara Enam Tahun Tidak Laksanakan Hukum Cambuk

LHOKSUKON – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara diharapkan segera mengeksekusi pelaku pelanggar Qanun Syari’at Islam yang kasusnya telah P21 di pihak kepolisian. Apalagi mengingat sudah lebih dari enam tahun di Aceh Utara tidak ada pelaksanaan hukum cambuk.

“Pelaksanaan hukum cambuk itu penting untuk memberi efek jera bagi pelaku dan pelajaran bagi masyarakat lain. Itu juga sesuai dengan Qanun No 13 tahun 2003 tentang maisir. Tidak melaksanakan hukum cambuk sama saja tidak melaksanakan perintah qanun dengan maksimal,” kata Kapolres Aceh Utara, AKBP Achmadi, saat ditemui portalsatu.com, Rabu 7 Oktober 2015.

Menurutnya, selama ini pihak kepolisian telah melaksanakan tugas dengan baik, khususnya terkait kasus maisir. Itu terbukti dengan P21-nya sejumlah kasus. Namun masyarakat tidak tahu itu, mengingat pelaksanaan hukum cambuknya belum dilakukan.

Dia menambahkan beberapa waktu lalu pihaknya telah menggelar rapat bersama pihak Pemkab Aceh Utara, Mahkamah Syari’ah, dan kejaksaan guna membahas persoalan hukum cambuk.

“Hasil rapat, hukum cambuk itu akan dilaksanakan akhir bulan ini atau maksimal awal bulan depan. Saat ini kami sedang menunggu Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib pulang dari tanah suci. Kami harap Pemkab Aceh Utara segera menindak lanjuti apa yang sudah kami lakukan,” ujar AKBP Achmadi.[](bna)

Pelajar Bolos Kembali Terjaring Razia di Aceh Utara

Pelajar Bolos Kembali Terjaring Razia di Aceh Utara

LHOKSUKON – Puluhan pelajar yang bolos terjaring razia di enam kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara, Rabu, 7 Oktober 2015 pagi. Razia itu digelar oleh Satuan Binmas Polres Aceh Utara bekerjasama dengan Sat Pol PP dan WH, serta Dinas Syariat Islam Aceh Utara.

“Penertiban terhadap pelajar yang bolos ini merupakan sosialisasi Perbup No 33 tahun 2014. Untuk hari ini terjaring sekitar 20 pelajar dari tingkat SMA dan SMP sederajat. Ada juga yang mengaku dari dayah,” kata Kapolres Aceh Utara AKBP Ahmadi, melalui Kasat Binmas AKP H Yusuf Hariadi kepada portalsatu.com.

Terkait penertiban pelajar bolos, pihaknya meminta pemilik warung internet untuk selektif dalam menerima pelanggan. Kasat Binmas juga meminta warnet untuk tidak menerima anak-anak atau remaja usia sekolahan di jam belajar, baik itu berseragam atau memakai pakaian bebas.

“Sejauh ini para pemilik warung internet (warnet) hanya diberi imbauan. Untuk ke depannya akan dilakukan penindakan dan itu wewenang Sat Pol PP,” ujarnya.

Dalam hal ini, pihaknya juga meminta orang tua turut andil memantau dan mengawasi anak-anaknya. Tidak hanya dalam hal pendidikan, tapi juga penampilan sewajarnya pelajar.

“Hampir 90 persen pelajar yang terjaring razia hari ini dan sebelumnya memiliki potongan rambut amburadul. Rata-rata di bagian samping sangat tipis dan di bagian atas panjang melebihi 3 centimeter. Ada juga di bagian samping yang sengaja digaris dan belakang panjang. Itu sama sekali tidak mencerminkan seorang pelajar. Seharusnya orang tua dapat memperhatikan penampilan anaknya agar terlihat rapi,” kata AKP Yusuf.[](bna)

Polres Aceh Utara Mutasi Sejumlah Perwira

Polres Aceh Utara Mutasi Sejumlah Perwira

LHOKSUKON – Polres Aceh Utara melakukan serah terima jabatan (sertijab) sejumlah perwira di Aula Tribrata setempat, Rabu 7 Oktober 2015 pukul 09.30 WIB. Beberapa di antaranya mendapat promosi, namun ada pula yang dimutasi ke Polda Aceh.

Kapolres Aceh Utara AKBP Achmadi, melalui Kasubbag Humas AKP M Jafaruddin kepada portalsatu.com menyebutkan, pergantian jabatan itu terjadi di tingkat kabag, kasat, kapolsek dan kasubbag.

Ia mengatakan, Kabag Perencanaan (ren) Polres Aceh Utara Kompol Aiyub dimutasi menjadi Kasubbag Sisjemen Bagstrajemen Rorena Polda Aceh. Posisi lamanya digantikan oleh AKP Eliadi yang sebelumnya menjabat sebagai Kasat Binmas Polres Langsa.

“Kasat Sabhara Polres Aceh Utara AKP Junaidi dimutasi menjadi Panit 1 Unit 2 Subdit 1 Ditreskrim Polda Aceh. Posisi lamanya digantikan Iptu Zulfitri yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Baktiya. Posisi Kapolsek Baktiya diisi Ipda Suparyo yang sebelumnya Kasat Tahti Polres Aceh Utara,” ujarnya.

Ditambahkan, Kapolsek Paya Bakong Iptu M Jafar G Pase menjadi Kasubbag Pers Bagsumba Polres Aceh Utara. Posisi lamanya digantikan Ipda Ibrahim yang sebelumnya Kaur Binops Satreskrim Polres Aceh Utara.

Kapolsek Tanah Luas AKP Idris menjadi Kasubbag Dalgar Bagren Polres Aceh Utara. Posisi lamanya digantikan Ipda Yussyah Riandi yang sebelumnya Kasi Propam Polres Aceh Utara.

Selain itu, lanjutnya, Kapolsek Baktiya Barat Iptu Nawawi Rambe menjadi Kasubbag Binops Bagops Polres Aceh Utara. Posisi lamanya digantikan Ipda Musa yang sebelumnya Waka Polsek Tanah Jambo Aye.

“Kapolsek Nibong Iptu Abdullah menjadi Kasubbagkum Bagsumda Polres Aceh Utara. Posisi lamanya digantikan Ipda Faisal Saputra yang sebelumnya Kurbinops Satuan Intelkam Polres Aceh Utara,” jelasnya.

Kemudian, Kapolsek Cot Girek Ipda Asriadi Iswanto menjadi Pama Polres Aceh Utara. Posisi lamanya digantikan Ipda Amiruddin yang sebelumnya Pamin 1 Subbagrenmin RO SDM Polda Aceh.

Foto : Ipda Yussyah Riandi, Kasi Propam Polres Aceh Utara mendapat promosi jabatan menjadi Kapolsek Tanah Luas.@ Zulkifli Anwar/portalsatu.com

Pembunuh Mantan Istri Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup di Aceh Utara

Pembunuh Mantan Istri Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup di Aceh Utara

LHOKSUKON – Muhammad Ali, 27 tahun, terdakwa pembunuh mantan istri dijatuhi hukuman seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara, Senin, 5 Oktober 2015 pukul 15.00 WIB. Hukuman itu sama persis dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sidang dipimpin majelis hakim yang diketuai Zainal Hasan SH, Teuku Almadian SH, Abdul Wahab SH dengan panitera Fauziah. Dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) hadir M Alfiandi Hakim SH. Sementara terdakwa didampingi penasehat hukum Taufik SH.

Usai mendengar putusan dari majelis hakim, JPU dan penasehat hukum menyatakan pikir-pikir dulu. Untuk itu majelis hakim memberi tenggang waktu sepekan untuk hal tersebut.

Dalam persidangan terdakwa terbukti melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Pasalnya, saat menemui korban, terdakwa sengaja membawa pisau yang diselipkan di kantong sebelah kiri miliknya.

Untuk diketahui, terdakwa Muhammad Ali, 27 tahun, merupakan warga Desa Panigah, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Sementara korban (mantan istrinya), Nuti Sara, 25 tahun adalah warga Desa Tanjong Kemala, Kecamatan Sawang, Aceh Utara.

Pembunuhan itu terjadi pada Minggu, 1 Maret 2015 pukul 01.00 WIB. Lokasi pembunuhan berjarak 6 meter dari rumah korban. Sebelum membunuh korban, keduanya sempat cek-cok mulut karena korban menolak diajak rujuk oleh terdakwa.

Terdakwa berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian di kawasan Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Senin, 2 Maret 2015 sekitar pukul 03.00 WIB. Persidangan perdana digelar di Pengadilan Negeri Lhoksukon pada Senin, 8 Juni 2015 lalu.

Terdakwa dituntut hukuman seumur hidup oleh JPU pada persidangan sebelumnya yang digelar Rabu, 26 Agustus 2015.[](bna)

Tak Ada Irigasi, Petani Enam Desa di Aceh Utara Terpaksa Beli Air Mengairi Sawah

Tak Ada Irigasi, Petani Enam Desa di Aceh Utara Terpaksa Beli Air Mengairi Sawah

LHOKSUKON – Petani dari enam desa di Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, harus membeli air untuk mengairi sawahnya akibat tidak ada irigasi.

Enam desa itu meliputi Desa Hueng, Paya Beurandang, Deng, Alue Pangkat, Pulo U, dan Alue Kejruen.

Muhammad Amin, 46 tahun, petani Desa Alue Pangkat kepada portalsatu.com, Senin, 5 Oktober 2015 menyebutkan, kendala terbesar petani di desanya adalah ketiadaan irigasi sehingga petani harus membeli air untuk mengairi sawah.

“Sejak zaman jajahan Belanda hingga 70 tahun lamanya Republik Indonesia merdeka, irigasi tidak pernah ada di desa kami dan lima desa lainnya. Saat turun ke sawah, kami harus membayar Rp50 ribu per 1.200 meter lahan untuk sekali pengairan. Untuk satu kali masa tanam, bisa dihitung sendiri berapa biaya yang harus kami keluarkan,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini petani juga sering mengandalkan sistem sawah tadah hujan. Hanya saja terkadang musibah banjir membuat petani gagal panen sehingga merugi.

“Jika musim kemarau dan banjir, kami gagal panen, kecuali hujan seperti saat ini. Itu pun jika beruntung hingga panen nanti. Hasil panen tidak pernah maksimal, malah sering menurun,” kata Muhammad Amin.

“Di sini memang tidak ada irigasi. Selama ini petani mengairi sawah dengan menggunakan pompa air. Untuk memperoleh air, petani harus membayar ongkos pada pemilik pompa air. Kondisi ini semakin diperparah dengan hama bana yang saat ini menyerang padi. Hama bana membuat padi memerah dan mengancam kualitas padi yang dihasilkan,” katanya.[] (bna/*sar)

Wanita Tani Aceh Utara Terima Bantuan Benih Sayur dan Alat Kebun

Wanita Tani Aceh Utara Terima Bantuan Benih Sayur dan Alat Kebun

LHOKSUKON – Tiga Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Alue Pangkat, Kecamatan Tanah Luas menerima bantuan benih sayuran dan alat kebun dari Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BPKLUH) Aceh Utara, Senin, 5 Oktober 2015.

Bantuan yang diberikan berupa benih gambas, kangkung, sawi, tomat, kacang panjang, jagung, bawang merah, cabe rawit, terong, pepaya, dan mentimun. Sementara itu, alat kebun antara lain, handsprayer, cangkul, jaring, pagar, polibet, insektisida, pupuk MPK, dan pupuk organik.

“Pemanfaatan pekarangan ini kami tujukan kepada wanita tani untuk peningkatan gizi keluarga. Jadi, wanita tidak semata-mata hanya menunggu dari suami, tapi juga bisa mencari dari lahan di sekitar dengan menanam aneka jenis sayuran,” kata Ir. Faridah, M.T., Kabid Kewaspadaan, Penganekaragaman, dan konsumsi pangan dari Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BPKLUH) Aceh Utara kepada portalsatu.com di lokasi.

Ia menyebutkan program itu merupakan jangka pendek menuju jangka panjang. Bagi KWT yang berhasil akan ditingkatkan lagi, sedangkan bagi yang gagal akan diberi penyuluhan kembali. Bantuan itu diberikan secara bertahap dengan melakukan evaluasi dan melihat hasilnya.

BPKLUH Aceh Utara memiliki beberapa program dengan pembagian berbeda-beda di setiap desa, mulai dari desa mandiri pangan, pemanfaatan pekarangan, dan beberapa lainnya.

“Dengan tersedianya sayur di pekarangan rumah, kami harap masyarakat dapat menuai manfaatnya, mulai dari hidup sehat hingga pemberdayaan ekonomi. Saat sayuran mulai di panen, kaum ibu tidak perlu lagi membeli sayuran di pasar sehingga menghemat pengeluaran,” ujarnya.

Selain itu, sayuran yang ditanam ini lebih sehat daripada yang dibeli di pasar karena menggunakan pupuk organik dan sedikit pupuk kimia.

“Kami berikan bibit untuk penanaman perdana, sedangkan selanjutnya dapat dibuat sendiri oleh masing-masing petani dengan dibantu oleh bagian penyuluh. Untuk menanam sayuran ini tidak perlu waktu khusus, dapat memanfaatkan waktu senggang dengan lahan halaman rumah. Dari total enam titik, kami salurkan di empat titik,” ucap Ir. Faridah.

Sementara itu, Geuchik Desa/Gampong Alue Pangkat, Tgk. Zainuddin mengatakan, di desanya terdapat tiga KWT dengan total 60 petani. Untuk program tersebut, pihaknya menyediakan lahan seluas 3 hektare area (Ha) yang terbagi di tiga dusun.

“Kami sangat mendukung program ini. Kami harap kaum ibu dapat mandiri dan maju tanpa harus bergantung pada suami, khususnya dalam hal sayuran untuk dikonsumsi keluarga. Semoga program ini dapat berhasil dan melahirkan ibu-ibu yang mandiri dan membanggakan,” ucap Tgk. Zainuddin.[] (*sar)

Foto: Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BPKLUH) Aceh Utara serahkan bantuan benih sayuran dan alat kebun untuk wanita tani Desa Alue Pangkat, Kecamatan Tanah Luas.@Zulkifli Anwar/portalsatu.com

Mau Ikan Segar? Datanglah ke Kuala Pase

Mau Ikan Segar? Datanglah ke Kuala Pase

LHOKSUKON –   Jika Anda ingin ikan segar yang baru ditangkap di laut, datanglah ke Kuala Pase di Gampong/Desa Meucat, Kemukiman Blang Mee, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Selain terdapat aneka jenis ikan besar dan kecil, ada juga kepiting laut dan beberapa jenis udang.

Jarak tempuh ke lokasi itu tidaklah sulit, karena jalan telah diaspal. Kuala Pase berjarak sekitar 21 kilometer dari arah timur Kota Lhokseumawe. Hanya beberapa kilometer dari kompleks makam tinggalan Kerajaan Samudera Pasai di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera.

Kuala Pase berada persis di sisi kiri bawah jembatan. Di sana terdapat sekitar delapan tempat penampung ikan dengan 150 unit boat yang ke luar masuk. “Ikannya dijamin segar dan belum diawetkan, baik secara alami (es batu) ataupun formalin. Dari segi rasa pastinya sangat lezat dan gurih setelah diolah menjadi lauk nasi,” begitu keterangan nelayan setempat.

Jika ingin membeli ikan segar, sebaiknya datanglah pukul 09.00–13.00 atau 16.00 WIB. Boat yang masuk silih berganti. Di sini, Anda dapat membeli  ikan segar dari nelayan. Jika enggan menunggu, cukup membeli pada agen penampung di lokasi itu.

Tak hanya untuk membeli ikan, banyak juga masyarakat dari Kota Lhokseumawe, Lhoksukon hingga Tanah Jambo Aye yang datang mencari kepiting laut atau dikenal dengan rajungan (purtunus pelagicus).

“Satu kilogram rajungan ukuran besar (empat atau lima buah/Kg) kita jual Rp45ribu. Untuk ukuran sedang dan kecil harganya sekitar Rp35ribu,” kata M. Yusuf, 43 tahun, salah seorang nelayan Kuala Pase, ditemui portalsatu.com, Sabtu, 3 Oktober 2015.

Di Kuala Pase, kata Yusuf, terdapat aneka jenis ikan besar dan kecil. Soal harga ikan, kata dia, tergantung pasaran dan kondisi angin dan ombak (cuaca) di laut.

“Hari ini hasil tangkapan terbilang sedikit dengan beragam jenis ikan. Ada ikan rambe, ikan kembung, ikan merah, ikan biji nangka, kakap merah, udang kipas dan sedikit rajungan. Boat kami hanya mendapat 48 kilogram saja. Biasanya jika sedang melimpah, satu boat mencapai 200 kilogram,” ujar salah seorang nelayan lainnya.

Zakaria, 38 tahun, salah seorang agen penampung di Kuala Pase merincikan, ikan rambe dijual Rp45ribu, ikan kakap merah Rp50ribu, ikan kembung dan ikan merah Rp30ribu, ikan kerapu Rp45ribu–Rp50ribu, udang kipas Rp65ribu dan rajungan besar Rp45ribu/kilogramnya.

“Pembeli yang datang rata-rata meminati ikan rambe, kakap, kerapu dan rajungan. Ada untuk dikonsumsi pribadi, namun ada pula untuk dijual kembali (warung/rumah makan),” ujarnya.

Menurut Zakaria, ikan yang mereka terima dari nelayan nantinya akan diambil  agen untuk dijual kembali ke pasar.

“Biasanya sore hari ikan sudah kosong dalam fiber (bak penampung ikan). Harga jual ikan di sini untuk pembeli perorangan terbilang sama dengan harga di pasar. Hanya saja terdapat perbedaan dalam kualitas. Di sini ikan sama sekali belum tersentuh pengawet. Makanya meski harga nyaris sama, banyak pembeli yang datang kemari,” kataya.

Anda mau?[] (idg)

Foto: Boat nelayan bersandar di Kuala Pase. @Zulkifli Anwar/portalsatu.com