Author: Safriandi A Rosmanuddin

Adat bak Poteu Meureuhôm

Adat bak Poteu Meureuhôm

Adat bak Poteu Meureuhôm

Hukôm bak Syiah Kuala

Kanun bak Putroe Phang

Reusam bak Laksamana

Hadih maja di atas kini sangat populer. Hampir dalam setiap diskusi, orang mengutip nasihat indatu itu sebagai pembuka. Apa sebenarnya maksud yang terkandung dalam setiap baris hadih maja di atas?

Adat bak Poteu Meureuhôm pada baris pertama di atas dapat dipahami dengan melihat kata adat dan Poteu Meureuhôm.

Adat adalah kebiasaan, kelaziman, peraturan, dan ketentuan. Pengertian ini merupakan pengertian dasar. Namun, untuk pengertian luasnya, jika dikaitkan dengan baris pertama hadih maja tersebut, Mohd. Harun dalam bukunya Memahami Orang Aceh menyebutkan bahwa adat berarti kekuasaan.

Lalu, apa yang dimaksud dengan Poteu Meureuhôm? Masih merujuk pada buku yang sama, disebutkan bahwa Poteu Meureuhôm berarti Paduka Almarhum. Paduka Almarhum itu sendiri bermakna raja yang sudah meninggal dunia. Lebih lanjut, disebutkan bahwa dalam bahasa Aceh, Poteu identik dengan our king dalam bahasa Inggris.

Berkaitan dengan Poteu Meureuhôm ini, Mohd. Harun (2009) menyatakan bahwa istilah tersebut tidak berarti bahwa yang memegang kekuasaan itu adalah raja yang sudah almarhum. Menurutnya, maksud istilah itu ialah siapa pun raja yang sedang berkuasa, dialah yang memegang jabatan eksekutif tertinggi.

Istilah Poteu Meureuhôm itu dinisbatkan kepada Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam selama tiga puluh tahun (1607-1636). Di bawah sultan termasyhur inilah disusun sistem pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam yang lebih teratur. Ini sekaligus merupakan bukti bahwa hadih maja ini muncul setelah Iskandar Muda meninggal dunia yang antara lain ditandai oleh adanya penggunaan kata Meureuhôm ‘Almarhum’.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa adat dan Poteu Meureuhôm pada Adat bak Poteu Meureuhôm, masing-masing bermakna kekuasaan dan paduka almarhum. []

Adat Meulangga

Adat Meulangga

Adat meulangga merupakan salah satu kata yang pernah digunakan oleh masyarakat Aceh pada zaman dulu. Kini kata tersebut hampir tak terdengar lagi. Selain itu, adat meulangga juga merupakan salah satu adat masyarakat Aceh yang tak telah lekang dimakan waktu dan lapuk digerus zaman.

Ditilik dari segi bahasa, adat meulangga dibentuk dari dua kata, yaitu kata dasar ‘adat’ dan kata berimbuhan ‘meu+langga’. Berdasarkan pengertian kamus, adat diartikan se­bagai ‘suatu kelaziman, kebiasaan, atau peraturan-peraturan yang diwariskan secara turun-temurun, sedangkan meulangga adalah ‘tindakan pelanggaran terha­dap sesuatu’. Jadi, adat meulangga adalah tindakan pelanggaran terhadap adat.

Agak berbeda dengan pengertian di atas, dalam praktiknya, adat meulangga adalah pelanggaran adat yang berkaitan dengan harta dan harga diri. Adat meulangga merupakan salah satu tradisi budaya Aceh yang tidak dilaksanakan lagi dalam kehidupan masyarakat Aceh. Adat meulangga ini dilakukan karena adanya penghinaan dan penganiayaan (Kurdi, 2005). Maksudnya, jika seseorang dari kampung A menghina atau menganiaya orang lain dari kampung B, penyelesaiannya dilakukan dengan tradisi adat meulangga.

Bagaimanakah penyelesaian adat meulangga ini? Dalam buku Atjeh Rakyat dan Adat Istiadatnya (1997) karya Snouck disebutkan, penyelesaian adat meulangga dilakukan dengan cara pengerahan massa dari gampông yang dihina di bawah pimpinan geuchik untuk melakukan (simbolik) kepada gampông yang meulangga. Pihak yang bersalah sudah ’mengetahui bahwa ini memang harus dihadapi dan dalam hal ini pimpinan gampông sudah diberi tahu dan siap mengadakan perlawanan.

Pada waktu yang telah ditetapkan, orang-orang dari pihak yang di-langga tampil di lapangan mengelilingi gampông yang meulangga. Geuchik pihak yang meulangga tadi, lalu menyambut pihak yang di-langga dengan hormat dan menanyakan maksud mereka. Dialog terjadi antara kedua geuchik dan selanjutnya dilaksanakan penghapusan penghinaan secara simbolik, seperti menebang beberapa pohon yang ada di dalam pagar orang yang melanggar tersebut.

Sehari setelah penyelesaian dengan simbolik tersebut, kedua belah pihak selanjutnya bertemu sekali lagi untuk membahas lebih lanjut syarat-syarat untuk memulihkan perdamaian. Menurut kebiasaan yang berlaku, pemulihan ini dilakukan dengan cara peusijuk (Kurdi, 2005). []

Adat

Adat

Hukôm ngon adat, lagèe zat ngon sifeut

Demikian bunyi hadih maja warisan indatu. Kata adat dalam nasihat indatu di atas memiliki beberapa pengertian: (1) kebiasaan, kelaziman, peraturan, ketentuan; (2) iuran, pajak, cukai, hadiah, upah tetap; (3) tata cara penghormatan, kesopanan, sopan santun; (4) sejenis tanaman semak yang berbunga kuning dan daunnya dijadikan bahan rukok siawan (Aboe Bakar, dkk. 1985. Kamus Bahasa Aceh-Indonesia).

Selain kata adat, ada pula kata adab. Meski dilafalkan hampir sama, kedua kata itu tidak memiliki pengertian yang sama. Berbeda dengan adat, adab lebih berkaitan hanya dengan kesopanan dan budi bahasa.

Dalam tulisan ini pembahasan hanya difokuskan pada adat dalam pengertian (1) kebiasaan, kelaziman, peraturan, ketentuan; (2) iuran, pajak, cukai, hadiah, upah tetap; (3) tata cara penghormatan, kesopanan, sopan santun.

Bagi orang Aceh adat sangatlah penting, bahkan dijadikan salah satu pegangan hidup dan dianggap sebagai pusaka yang harus diwariskan pada generasi selanjutnya (Mohd. Harun. 2009. Memahami Orang Aceh). Pernyataan ini dapat dilihat dalam hadih maja seperti tutue meuneumat/adat meupusaka, atau mate aneuk meupat jeurat, mate adat pat tamita.

Adat ada empat jenis. Menurut Badruzzaman, seperti yang dikutip Mohd. Harun dalam bukunya Memahai Orang Aceh, adat ada empat jenis.

Pertama, adat tullah (adatôlah) berarti aturan atau ketentuan berdasarkan hukum syariah yang bersumberkan Alquran dan hadis;

Kedua, adat tunah berarti adat istiadat sebagai manifestasi dari kanun (undang-undang) dan reusam (kebiasaan atau tradisi di suatu tempat) yang mengatur kehidupan masyarakat;

Berikutnya, adat muhakamah berarti adat yang dimanifestasikan pada asas musyawarah dan mufakat;

Terakhir, adat jahiliyah berarti ada istiadat atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, tetapi masih dipertahankan oleh sebagian kecil masyarakat.

Umar, sebagaimana dikutip Mohd. Harun dalam bukunya Memahami Orang Aceh, menyebutkan bahwa adat tullah (adatôlah) tidak boleh diubah dan harus selalu disyiarkan dalam masyarakat.

Adat tunah yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat harus sesuai dengan adat tullah dan adat muhakamah. Jika tidak, adat tersebut tidak boleh dijadikan adat Aceh. []

Pajôh Mangat (Bagian II)

Pajôh Mangat (Bagian II)

Kenduri merupakan suatu kearifan lokal orang Aceh. Kali ini dibahas beberapa jenis kenduri lainnya yang juga merupakan bagian dari kearifan lokal itu.

Sebelum itu, pada bagian ini disebutkan kembali beberapa kenduri yang telah dibahas pada edisi sebelumnya. Adapun kenduri-kenduri yang dimaksud adalah kanduri moklet, kanduri sa sampé seureutôh setelah orang meninggal, kanduri pajôh bu tuhè, kanduri Rabu abéh, kanduri tulak bala, kanduri sikai breuh saboh boh manok.

Selain kenduri-kenduri itu, tercatat ada beberapa jenis kenduri lain yang menghiasi kehidupan sehari-hari orang Aceh. Berikut adalah jenis-jenis kenduri yang dimaksud.

Kanduri Aja Eseutiri. Ini kenduri memperingati meninggalnya istri Teungku Anjông. Kenduri ini dilaksanakan pada 18 Rajab karena istri Teungku Anjông meninggal pada 18 Rajab 1235. Menurut Snouck dalam bukunya The Achehnese, 1906, Aja Eseutiri bukan nama “Aja”, melainkan singkatan dari Raja. Masih menurut Snouck, nama asli Permaisuri Teungku Anjông adalah Fatimah binti Abdurrahman ‘Aidid.

Lalu ada kanduri apam. Apam sejenis kue yang dikukus. Apam ada yang digulung (apam balon), ada juga yang berbentuk bulan (apam buleuen). Apam-apam ini disajikan dalam kanduri apam yang dilaksanakan pada bulan Rajab.

Jika tak sempat ikut kanduri apam, Anda masih dapat ikut kanduri (beuet)bu. Kenduri ini untuk arwah-arwah yang telah meninggal, dan dilaksanakan terutama dalam beureuat bulan Sya’ban (buleun kanduri bu). Beureuat berarti pertengahan bulan Syakban.

Berikutnya ada kanduri blang atau kanduri dara padé. Sesuai dengan namanya, kanduri blang atau kanduri dara padé merupakan kenduri di sawah untuk mendapatkan hasil padi yang lebih baik dan dilaksanakan saat padi sedang ‘dara’.

Setelah kanduri dara padé, ada juga kanduri ulèe lueng atau seuneulop. Ini kenduri yang dilakukan setelah menuai padi.

Selain kenduri-kenduri itu, masih ada sejumlah kenduri lainnya, yaitu kanduri lakèe ujeun. Sesuai dengan namanya, kenduri ini untuk meminta hujan akibat kemarau panjang.

Kanduri bungong lada adalah kenduri ketika tanaman lada mulai berbunga. Kanduri boh kayèe adalah kenduri musim buah-buahan.

Kanduri jeurat merupakan kenduri yang dilaksanakan di kuburan leluhur setiap tahun setelah uroe raya Puasa. Kanduri keu ureung chik adalah kenduri untuk keselamatan leluhur.

Kanduri ladang adalah kenduri yang dilaksanakan ketika membuka ladang.  Kanduri laôt adalah kenduri laut yang dilaksanakan para nelayan.

Kanduri padé barô adalah kenduri beras baru. Kanduri peudong rumoh adalah kenduri yang dilaksanakan ketika mendirikan rumah.

Kanduri peutamat darôih adalah kenduri setelah orang menamatkan pembacaan Alquran secara bersama-sama pada bulan Puasa. Darôih berpadanan dengan kata darus (tadarus). Kanduri peutamat Kuruan, kenduri yang diadakan pada saat seorang anak pertama sekali menamatkan pelajaran membaca Alquran.[]

Bacut, tapi Saboh Umpang Raya

Bacut, tapi Saboh Umpang Raya

Bacut, tapi Saboh Umpang Raya

Hatta, suatu ketika di halaman samping rumah si Agam, berdiri kokoh sebuah pohon rambutan yang sedang berbuah lebat. Buahnya ada yang sudah masak, ada juga yang masih putik. Di bawah pohon tampak bertaburan buah rambutan.

Di luar pintu pagar rumah si Agam, tampak seorang nenek tua bersama cucunya yang berumur sekitar 12 tahun. “Assalamualaikum,” ujar si nenek pada pemilik rumah. Setelah menjawab salam, si Agam menanyakan maksud kedatangan si nenek yang sudah sangat ia kenal itu. “Lôn kalön boh rambôt that jai. Lôn pöt bacut,” kata si nenek. Agam pun mengizinkan si nenek memetik rambutan. Singkat cerita, nenek yang dibantu cucunya, memetik buah rambutan dan membawa pulang saboh umpang raya rambutan.

Ada yang unik dari cerita di atas, yaitu si nenek yang meminta bacut ‘sedikit’ buah rambutan, tetapi membawa pulang saboh umpang raya ‘satu goni berukuran besar’. Ada apa sebenarnya dengan bacut, dan mengapa si nenek yang meminta bacut rambutan, tetapi membawa pulang saboh umpang raya?

Bacut dalam bahasa Aceh identik dengan sedikit dalam bahasa Indonesia. Artinya, bacut tidaklah banyak. Ini adalah arti sebenarnya dari kata bacut. Namun, kata mudah retak. Bacut yang awalnya bermakna tidak banyak, menjadi kata bilangan yang jumlahnya tidak tentu, mungkin saboh plastik ubiet, saboh plastik rayek, dua boh plastik rayek, saboh guni, dua boh guni. Semuanya tetap bacut, bukan le alias jai that, that jai, atau jai that-that.

Makan, jangan heran ketika ada orang yang meminta bacut buah rambutan pada Anda, tetapi mengambil saboh atau dua boh plastik rayek, bukan bacut seperti dalam arti yang sebenarnya.

Penggunaan kata bacut dalam bahasa Aceh, seperti kasus di atas, bukan hanya untuk buah-buahan. Untuk air minum, kata tersebut juga acapkali digunakan. Ketika seseorang meminta temannya menuangkan kopi untuknya ke dalam gelas, kalimat yang diucapkan, “Neubôh kupi bacut”. Kecil kemungkinan orang itu akan mengatakan, “Neubôh kupi beu le”. Kalaupun dipakai beu le, kata bacut tetap mengikutinya, misalnya “Neubôh kupi beu le bacut”.

Gejala seperti ini rada-rada mirip dengan tata bahasa Inggris yang menggunakan some atau any untuk benda uncountable noun. Ini dapat dilihat dalam kalimat berikut, “Give me some coffee” atau “Do you have any coffee?”

Selain kata bacut, pada bahasa Aceh dialek tertentu ada pula kata dua neuk yang artinya juga hampir sama dengan bacut. Namun, kedua kata ini jika dilihat dari penggunaannya, ada perbedaan yang mencolok. Kalau kata bacut digunakan untuk benda, baik padat maupun cair (countable noun dan uncountable noun), tidak demikian untuk kata dua neuk. Kata ini umumnya dipakai untuk benda cair, seperti air.

Jadi, selain mendengar kalimat seperti “Neubôh kupi bacut”, Anda juga akan mendengar, “Neubôh kupi dua neuk” dalam pertuturan. Jika dua neuk dipakai, jangan Anda bayangkan bahwa kopi yang dituangkan dua tetes, melainkan pancông atau mungkin penuh. Yang jelas, bukan ‘dua tetes’. Uniknya lagi, kata bilangan yang dipilih untuk mendampingi neuk adalah dua, bukan satu, tiga, empat, lima, dst. Atas dasar kenyataan ini, sepengetahuan penulis, tidak ada orang Aceh yang mengatakan, “Neubôh kupi lhèe neuk” atau “Neubôh kupi limöng neuk.”[]

Bahasa-Bahasa Aceh

Bahasa-Bahasa Aceh

Bahasa-bahasa Aceh adalah bahasa-bahasa yang ada di Aceh (Wildan, 2010). Istilah ini berbeda dengan istilah bahasa Aceh. Bahasa Aceh adalah bahasa yang digunakan oleh suku Aceh. Jadi, bahasa Aceh bukanlah bermakna bahasa-bahasa yang ada di Aceh.

Ada banyak bahasa yang berkembang di Aceh. Hingga saat ini belum ada kesepakatan mengenai jumlah bahasa yang ada di Aceh. Wildan (2010) menyebutkan bahasa-bahasa yang berkembang di Aceh di antaranya seperti yang disebutkan berikut.

Bahasa Aceh digunakan di seluruh Aceh, terutama di Banda Aceh dan Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Utara dan Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Barat, dan Sabang. Di sebagian Aceh Selatan juga digunakan bahasa Aceh, terutama di Bakongan, Blang Pidie, Kuala Batèe, Sawang, Trumon, Manggéng, Tangan-Tangan, dan Meukék, dan sebagian kecil masyarakat di Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan sebagian Simeulu.

Berikutnya bahasa Devayan dan Sigulai. Devayan digunakan oleh masyarakat Pulau Banyak dan Simeulu Timur. Sigulai oleh masyarakat Simeulu Barat dan Salang.

Bahasa Gayo digunakan oleh masyarakat Aceh Tengah, Bener Meriah, Blang Kejeren di Gayo Luwes, sebagian masyarakat Aceh Tenggara, masyarakat Lokop di Aceh Timur, serta masyarakat Tanah Jambo Aye Aceh Utara dan Tamiang Hulu.

Bahasa Aneuk Jamèe digunakan oleh masyarakat Aceh Selatan, terutama Labuhan Haji, Sama Dua, Susoh, Tapak Tuan, Kluet Selatan, dan sebagian Singkil. Bahasa ini juga digunakan di Aceh Barat, khususnya di Kaway XVI (Penaga Rayek, Rantau Panjang, Meureubo, Pasi Meugat, dan Ranto Kléng) dan Johan Pahlawan (Padang Seurahét).

Bahasa Tamiang digunakan oleh masyarakat Tamiang, terutama di Bendahara, Kejuruan Muda, Karang Baru, Seruway, dan Tamiang Hulu

Ada juga bahasa Haloban yang digunakan di Pulau Banyak, terutama di Desa Haloban dan Desa Asan Tola di Pulau Tuanku. Di samping itu, di Pulau Tuanku ini juga digunakan bahasa Nias, khususnya di Desa Ujong Sialit.

Berikutnya ada bahasa Kluet yang digunakan oleh masyarakat Aceh Selatan, khususnya di Kluet Utara dan Kluet Selatan. Bahasa Singkil juga tak dapat dikesampingkan. Bahasa ini dipakai oleh masyarakat Singkil. Tak hanya itu, di Aceh juga ada bahasa Jawa, terutama Gunung Meriah di Singkil, Paya Bakong di Aceh Utara, Alue Ie Itam di Aceh Timur, Purwodadi di Nagan Raya. []

Bahasa Aceh-Jamee di Meureubo (Bagian II)

Bahasa Aceh-Jamee di Meureubo (Bagian II)

Pada tulisan sebelumnya telah dibahas tentang bahasa Jamee-Aceh yang digunakan oleh sebagian masyarakat Meureubo, Aceh Barat. Sekadar mengingatkan kembali, bahasa Jamee-Aceh artinya dalam bahasa Jamee digunakan sebagian kosakata bahasa Aceh. Tak jauh berbeda dengan konsep ini, masih menurut penelitian Saifullah (2011), bahasa Aceh-Jamee berarti adanya penggunaan sebagian kosakata bahasa Jamee ketika penuturnya menggunakan bahasa Aceh. Ini dapat dilihat dalam kalimat berikut.

  • Eungket nyan ka-taguen asam padeh mantöng.
  • Ka-sampôh salemo adék kah nyan.
  • Keulakuwan jih ka padusien
  • Peue han banjir, lung nyan ka sumbek bak pintô ie.

Asam padeh, salemo, padusien, dan sumbek dalam keempat kalimat itu adalah kosakata bahasa Jamee. Kata-kata itu dalam bahasa Aceh berturut-turut bermakna ‘asam keu-eung’, ‘ik idông’, ‘inöng’, dan ‘do’.

Keempat kosakata itu diambil secara utuh dari bahasa Aceh tanpa adanya perubahan bentuk ketika digunakan dalam bahasa Jamee. Begitu pula kata tengkak dan gamen dalam dua kalimat berikut. Tengkak bermakna ‘capik’, sedangkan gamen bermakna ‘graman’.

  • Si Mimi hana jak sikula, gaki jih ka tengkak.
  • Gamen lôn kalön aneuk ubit nyan.

Penggunaan kosakata bahasa Jamee dalam bahasa Aceh tidak hanya terjadi dengan cara menyerap secara utuh, tetapi juga dengan penerjemahan. Penerjemahan dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya dengan menerjemahkan ba dari bahasa Jamee menjadi meu- yang merupakan imbuhan bahasa Aceh. Contohnya adalah pada kata meulado ‘cabai giling’, meuhampeh ‘terhempas’, meulumuik ‘berlumut’, dan meutungkek ‘bertongkat’.

Penggunaan keempat kata ini dalam kalimat, misalnya:

  • Lôn galak eungket nyang meulado.
  • Usaha lôn   ka bangkret, lôn ka meuhampeh
  • Pageu nyan ka meulumuik pajan tapeugléh.
  • Ayahwa payah meutungkek watèe ék gunong.

Kata meulado, meuhampeh, meulumuik, meutungkek dalam bahasa Aceh adalah meusambai capli, meuseumpom, meusiseuk, meutungkat.

Penerjemahan seperti itu juga terjadi pada kata ulang. Proses penerjemahannya dengan menambahkan meu pada kosakata bahasa Jamee, misalnya:

  • Curang that jih. Ka meutubi-tubi ji-peungeuet lôn.
  • Peue nyang golom sép kah, meurengek-rengek

Dalam bahasa Aceh kata meutubi-tubi dan meurengek-rengek disebut meutai-tai dan meuh’èk-h’èk. []

Bahasa Jamee-Aceh di Meureubo (Bagian I)

Bahasa Jamee-Aceh di Meureubo (Bagian I)

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa ini tampaknya sangat cocok merepresentasikan variasi bahasa yang ada di daerah Meureubo, Kabupaten Aceh Barat. Di daerah ini, selain ada masyarakat menggunakan bahasa Aceh, ada pula yang menggunakan bahasa Jamee.

Uniknya, bahasa Jamee di Meureubo, menurut hasil penelitian Saifullah (2011), adalah perpaduan antara bahasa Jamee dan bahasa Aceh. Artinya, dalam bahasa Jamee yang digunakan oleh masyarakat Meureubo terdapat kosakata bahasa Aceh. Perpaduan ini dalam kajian ilmu bahasa disebut interferensi.

Agar lebih jelas, Anda dapat mengecek beberapa kali­mat berikut: (1) Indak ang peu-ék geulayang hari ko?; (2) Sia lhat kunci ambo di bintéh; (3) Ambiak cinue sabanta!; (4) Apo  kiruah bana di balakang tu?; (5) Ambo trom baiko, keudéh teugageung; (6) Lôp ju ka siko! (Hasil penelitian Saifullah, 2011).

Keenam kali­mat di atas tidak semuanya mengguna­kan bahasa Jamee dan tidak pula bahasa Aceh. Kata-kata dari bahasa Jamee adalah yang bercetak miring tanpa ditebalkan. Adapun yang ditebalkan adalah kata dari bahasa Aceh.

Ada beberapa cara masyarakat pengguna bahasa Jamee di Meureubo memadukan kosakata bahasa Jamee dengan bahasa Aceh.

Cara pertama adalah mengguna­kan secara utuh kosakata bahasa Aceh ke dalam bahasa Jamee, misalnya dalam kali­mat Bandum ambo undang isuek pagi atau Agiah ambo   saboh. Kata bandum dan saboh pada kedua kalimat itu adalah kata dari bahasa Aceh, sisanya adalah bahasa Jamee. Perpaduan seperti itu juga tampak dalam kalimat Jamu   sabanta kain ko dakek pageu tu atau Meubhok-bhok kaluwa darah dari kapalo. Pageu dan meubhok-bhok adalah kata dari bahasa Aceh.

Cara kedua adalah dengan menyesuaikan bunyi, misalnya dalam kalimat Ka siko   meusapet tarui ka dalom atau Manga bangieh bana Buyuang? Kata meusapet dan bangieh, jika dibaca, tampaknya adalah bahasa Jamee. Padahal, kedua kata itu dari bahasa Aceh yang disesuaikan bunyinya, yaitu meusapat dan beungèh. Hal yang sama juga terlihat dalam kali­mat Apo kiruah bana di balakang tu? atau Ambo balun tantu payi, langik raduak bana. Kata kiruah dan raduak dalam kedua kali­mat itu bukan kata asli bahasa Jamee, melainkan bahasa Aceh, yaitu dari kata kirôh dan reudôk. []

Honda, Akua

Honda, Akua

Honda, Aqua. Kedua kata ini saban hari terdengar dan sudah menjadi bagian kosakata bahasa Indonesia. Honda,salah satunya merujuk pada kendaraan roda dua produksi Jepang. Aqua adalah merek air minum dalam kemasan produksi PT Aqua Golden Mississippi, Indonesia (Wikipedia).

Dalam bahasa Aceh kedua kata itu dibaca Honda, Akua.Meskipun dilafalkan hampir sama seperti bahasa Indonesia dan memang diserap dari bahasa Indonesia, bukan berarti keduanyakata ini memiliki makna yang sama dengan versi Indonesianya.

Kalau dalam bahasa Indonesia hondamerujuk pada kendaraan roda dua produksi Jepang, dalam bahasa Aceh honda lebih identik dengan sepeda motor. Tak peduli sepeda motor itu bermerek Yamaha, Suzuki, atau Bajaj, sebagian penutur bahasa Aceh tetap menyebutnya honda, misalnya honda Yamaha, honda Suzuki, honda Bajaj, padahal honda, dalam bahasa Indonesia, berbeda dengan Yamaha, Suzuki, atau Bajaj.

Sangat sedikit kita temui penutur bahasa Aceh menggunakan kata Yamaha, Suzuki, atau Bajaj saja ketika mereka berbicara tentang sepeda motor. Oleh karena itu, kita akan akan sering mendengar,“Lôn meu jak mita honda Suzuki saboh,” tinimbang “Lôn meu jak mita Suzuki saboh. Begitu pula saat ada seseorang yang ingin meminjamkan sepeda motornya yang bermerek Suzuki atau Yamaha kepada temannya. Ia akan mengatakan, “Kacok mantöng hondalôn.”

Gejala yang sama juga terjadi pada kata akua. Dalam bahasa Aceh, akua bukan hanya merujuk pada merek air minum dalam kemasan produksi PT Aqua Golden Mississippi. Semua air minum, tak peduli apa pun mereknya, tetap akan disebut akua oleh sebagian masyarakat penutur bahasa Aceh.

Anda boleh mencoba membeli air minum kemasan di beberapa kedai. Gunakanlah bahasa Aceh ketika membelinya, “Na akua, Bang?” Sebagian penjual akan menunjukkan air minum kemasan, tetapi bukan bermerek Aqua, melainkan merek yang lain. Bukan hanya itu. Terkadang, penyebutan akua juga disertai dengan nama merek air minum kemasan lain, misalnya, “Bloe akua Rencong saboh”. Padahal, Aqua dan Rencong adalah dua produk air minum yang diproduksi oleh pabrik berbeda.

Jika dilihat lebih detail lagi,kata akua dalam bahasa Aceh tidak hanya disertakan bersama nama produk air minum kemasan lain. Kata ini juga dilekatkan pada air minum isi ulang. Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar, “Lôn jak paso ie akua galon ilèe. Hana meuhai, yum cit khong 5 ribèe.”[]

Bahasa Aceh Dialek Aceh Besar

Bahasa Aceh Dialek Aceh Besar

Barotö hane lônjak jadèh u rumoh jih. Gare-gare nyan, jih pakèk beungèh keu lôn.

Bagi sebagian masyarakat Aceh Besar, kata-kata dan urutannya yang digunakan dalam kalimat tersebut sudah sangat familiar. Ini karena sehari-hari mereka berkomunikasi menggunakan kata-kata itu.

Namun, tidak demikian dengan selain masyarakat Aceh Besar. Kata-kata yang digunakan dalam kalimat itu mungkin saja terkesan aneh. Beragam pertanyaan barangkali akan muncul dalam benak Anda.

Kalimat pertama di atas adalah kalimat bahasa Aceh dialek Aceh dialek Aceh Besar atau disebut juga variasi bahasa Aceh. Dikatakan variasi karena memang bahasa Aceh yang digunakan oleh sebagian masyarakat Aceh Besar tersebut berbeda dengan bahasa Aceh umumnya. Dalam bahasa Aceh umumnya, kalimat di atas dapat menjadi seperti ini.

Barosa hana jadèh lônjak u rumoh jih. Gara-gara nyan, jih beungèh keu lôn.

Perhatikan bahwa ada perbedaan mencolok antara kalimat ini dengan kalimat pertama di atas. Perbedaan itu ada pada kata barotö, hane, jak jadèh, gare-gare,dan  pakèk beungèh.

Barotö dalam bahasa Aceh umum adalah barosa. Dalam dialek Aceh Besar, hampir semua kata yang diakhiri oleh sa menjadi tö, misalnya meuratö, bahatö, limöng plôh tö. Kata-kata ini dalam bahasa Aceh umum adalah meurasa, bahasa, limöng plôh sa.

Perbedaan yang lain dapat pula dilihat pada kata hane dan gare-gare.Kata ini dalam bahasa Aceh umum adalah hana, gara-gara. Hal yang sama juga dapat dilihat pada kata lain, seperti bole, sake, sire, brite. Keempat kata ini dalam bahasa Aceh umum adalah bola, saka, sira, brita. Tampaknya, jika dirumuskan, kata-kata yang diakhiri bunyi /a/ menjadi /e/ dalam dialek Aceh Besar.

Perhatikan pula penggunaan urutan kata jak jadéh. Dalam bahasa Aceh umum, urutan kata itu adalah jadéh jak. Gejala seperti itu juga ditemukan pada kata lain, misalnya hane bö jadéh, hane cok jadéh, hane wo jadéh. Jika dipolakan, berarti kata kerja digunakan terlebih dahulu daripada jadèh. Dalam bahasa Aceh umum, hane jadéh ba, hane jadéh cok, hane jadéh wo.

Anda juga dapat melihat kekhasan penggunaan dialek Aceh Besar ini pada penggunaan kata pakèk yang disertai kata kerja, misalnya pada pakèk beungèh, pakèk poh, pakèk dhet. Ini berbeda dengan bahasa Aceh umum yang menggunakan kata benda setelah kata pakèk, misalnya pakèk sipatu, pakèk bajèe, pakèk sileuweu.[]