Author: Safriandi A Rosmanuddin

Bagaimana Menulis Inter-, Non-, dan Eks- dalam Bahasa Indonesia?

Bagaimana Menulis Inter-, Non-, dan Eks- dalam Bahasa Indonesia?

Bukan hanya pasca yang merupakan bentuk terikat dalam bahasa Indonesia dan tidak dapat berdiri sendiri sebagai suatu kata. Bentuk-bentuk seperti inter-, non-, dan eks- juga berstatus sama seperti pasca. Ini berarti kedua bentuk ini harus digabung dengan kata lain yang mengikutinya. Maka, penulisan yang benar adalah interaksi, nonaktif, dan ekskombatan, bukan inter aksi, non aktif, dan eks kombatan.

Sebenarnya, cukup banyak bentuk terikat dalam bahasa Indonesia yang harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti a pada amoral, adi, pada adikuasa, antar pada antarkota, anti pada antibodi, audio pada audiovisual, ekstra pada ekstrakurikuler, pro pada propemerintah, dan nara pada narasumber.

Sayangnya, bentuk-bentuk terikat yang cukup banyak itu dalam praktiknya tidak ditulis dengan benar. Banyak orang menulis seperti ini: a moral, adi kuasa, antar kota, anti bodi, audio visual, ekstra kurikuler, pro pemerintah, nara sumber. Padahal, penulis cukup membuka pedoman EYD yang banyak tersedia, baik dalam bentuk cetak maupun di internet untuk mencari penulisan yang benar.

Hal yang perlu diketahui dalam penulisan bentuk terikat ini adalah dalam pemakaian tanda hubung. Bila kata yang akan dilekati oleh bentuk terikat itu diawali oleh huruf kapital, di antara bentuk terikat dan huruf kapital itu harus ditulis tanda hubung, misalnya non-Islam, non-Asia, eks-GAM. Aturan seperti ini juga berlaku untuk bentuk terikat lainnya seperti imbuhan, misalnya se-Aceh, ber-KTP. Maka, tidak benar bila bentuk-bentuk itu ditulis nonIslam, nonAsia, eksGAM, seAceh, berKTP.

Meski demikian, bila semua bentuk itu ditulis dengan huruf kapital, tanda hubung justru tidak boleh digunakan karena fungsi tanda hubung pada kasus yang saya sebutkan di atas untuk memisahkan huruf kapital dan huruf kecil. Jadi, tidak benar jika ada orang menulis seperti ini, NON-ISLAM, NON-ASIA, EKS-GAM, SE-ACEH, SE-ASIA, BER-KTP. Penulisan yang tepat adalah tanpa tanda hubung dan ditulis serangkai: NONISLAM, NONASIA, EKSGAM, SEACEH, SEASIA, BERKTP.[]

Pasca, Ditulis Gabung atau Terpisah?

Pasca, Ditulis Gabung atau Terpisah?

Pada tulisan sebelumnya, Bagaimana Menuliskan Huruf C pada Pasca dan Civitas Academica? saya telah menjelaskan perihal cara yang benar menuliskan huruf c pada pasca dan civitas academica. Lantas, apakah pasca harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya atau tidak?

Tidak seperti kata pergi, jalan, dan makan, bentuk pasca merupakan unsur yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kata. Oleh karena itu, dalam penulisannya, pasca harus dirangkaikan dengan kata yang mengikutinya. Jadi, bila di depannya terdapat kata panen, berarti yang harus ditulis adalah pascapanen, begitu pula untuk kata-kata seperti perang, revolusi, rembang harus ditulis pascaperang, pascarevolusi, pascarembang. Salah kalau kata-kata itu ditulis terpisah, pasca perang, pasca revolusi, pasca rembang.

Meski demikian, pasca tak selamanya dapat dirangkaikan dengan kata di depannya. Ada aturan sendiri tentang pemakaian bentuk ini. Bentuk yang bermakna sesudah atau setelah itu tidak boleh digabung penulisannya bila di depan bentuk pasca itu adalah kata berimbuhan. Artinya, pasca hanya boleh digabung penulisan dengan kata di depannya apabila kata itu kata dasar.

Maka, secara ejaan, penulisan seperti ini salah: pascakejadian, pascapembunuhan, pascapenembakan. Kesalahan ini karena kejadian, pembunuhan, dan penembakan bukanlah kata dasar, melainkan kata berimbuhan. Solusinya, pasca harus diganti penulisannya dengan kata setelah atau sesudah sehingga menjadi setelah kejadian, setelah pembunuhan, dan setelah penembakan.[]

Bagaimana Menuliskan Huruf C pada Pasca dan Civitas Academica?

Bagaimana Menuliskan Huruf C pada Pasca dan Civitas Academica?

Dalam penulisannya, pasca dan civitas academica sering ditulis paska dan civitas akademika, atau langsung ditulis secara utuh civitas academica. Secara ejaan, penulisan seperti itu sebenarnya salah. Munculnya kesalahan itu karena ketidaktahuan penulis terhadap bentuk yang benar atau sikap tak acuhnya terhadap “kebenaran”.

Ditilik dari segi ejaan, dua kata bercetak miring pada judul di atas harus ditulis pasca dan sivitas akademika, bukan paska dan civitas akademika, atau civitas academica.

Dua kata itu mulanya bukanlah kosakata asli bahasa Indonesia. Pasca merupakan kata yang diserap dari bahasa Sanskerta, sedangkan civitas academica dari bahasa Latin. Karena asalnya yang berbeda, cara menulisnya pun berbeda, termasuk cara melafalkannya.

Huruf c pada kata pasca, sesuai dengan bahasa asalnya, dilafalkan dengan [c], bukan [k] sehingga dalam penulisannya pun haruslah ditulis dengan huruf c. Sejalan dengan itu, kata pasca pun dalam bahasa kita dilafalkan dengan pasca, bukan paska, misalnya pascapanen dan pascasarjana. Maka, salah jika kita menulis paskapanen dan paskasarjana. Bandingkan pelafalan pasca dengan panca yang juga merupakan unsur serapan dari bahasa yang sama, yaitu bahasa Sanskerta. Dalam hal ini, panca pun dilafalkan dengan panca, bukan panka, misalnya Pancasila dan pancakrida.

Huruf c dari bahasa Latin, seperti halnya dari bahasa Inggris, tidak dilafalkan dengan c, tetapi di satu pihak huruf itu dapat dilafalkan dengan s, dan di pihak lain dapat pula dilafalkan dengan k. Huruf c asing, sesuai dengan penyerapannya, dilafalkan dengan s jika terdapat di depan huruf e, i, oe, dan y. Sebut saja misalnya, cent menjadi sen, central menjadi sentral, circulation menjadi sirkulasi, coelom menjadi selom, dan cylinder menjadi silinder.

Lalu, c asing dilafalkan dengan k jika huruf itu terletak di depan a, u, o, dan konsonan, seperti pada kata corelation menjadi korelasi, calculation menjadi kalkulasi, cubic menjadi kubik, construction menjadi konstruksi, classification menjadi klasifikasi.

Berdasarkan aturan itu, huruf c pada civitas pun dilafalkan dengan s karena terletak di depan i, tetapi pada academica dilafalkan dengan sivitas akademika, bukan civitas academica, bukan pula civitas akademika. Maka, penulisan yang benar adalah sivitas akademika dan pasca.[]

Yang Membawa HP Harap Dimatikan

Yang Membawa HP Harap Dimatikan

Di hari Jumat, menjelang khatib menaiki mimbar, panitia masjid terlebih dahulu mengumumkan keadaan keuangan masjid. Pengumuman lantas dilanjutkan dengan penyampaian tata laksana salat Jumat. Biasanya pengumuman ditutup dengan kalimat berikut, “Untuk menjaga kesempurnaan salat Jumat kita, kami minta yang membawa HP harap dimatikan.”

Yang menarik bagi saya adalah pada bagian kalimat, Yang membawa HP harap dimatikan. Pada bagian ini tampak logika berpikir yang kacau dan salah kaprah.

Apa sebenarnya yang dimatikan? Yang membawa HP atau HP-nya yang dimatikan. Bila dilihat dari segi maksudnya, panitia menginginkan HP jamaah Jumat dimatikan. Namun, maksud ini tidak tersampaikan jika kalimatnya seperti yang diutarakan panitia.

Kalau dikatakan yang membawa HP harap dimatikan, itu berarti yang dimatikan adalah yang membawa HP, bukan HP-nya. Ini muncul dari pertanyaan, apa yang harap dimatikan? Jawabannya tentu saja yang membawa HP. Seharusnya, bila yang dimaksud adalah HP yang harus dimatikan, redaksi kalimat yang benar adalah yang membawa HP harap mematikan HP-nya. Bila redaksi kalimat seperti ini, jelas bahwa yang harus dimatikan adalah HP, bukan yang membawa HP.

Tak jauh berbeda dengan kasus itu, di beberapa tempat parkiran juga acapkali ditulis pemberitahuan seperti ini, “Yang membawa motor harap dikunci.” Bila demikian kalimatnya, makna kalimat itu adalah yang dikunci merupakan yang membawa motor, bukan motor si pembawa. Ini muncul dari pertanyaan, apa yang harap dikunci? Jawabannya tentu saja yang membawa motor. Untuk menghindari kalimat seperti itu, seharusnya kalimat yang benar adalah Yang membawa motor harap mengunci motornya.

Bersediakah Anda dimatikan menjelang khatib menaiki mimbar?[]

Apa Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Itu?

Apa Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Itu?

Di sebuah warung kopi, seorang mahasiswa tampak sedang meng-update status Facebook-nya menggunakan laptop. Kawan di sampingnya sambil tersenyum berkata, “Kalau mau update status, gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar atau bahasa baku.” Permintaannya ini tak serta-merta dipatuhi oleh kawannya yang sedang meng-update status itu. Katanya, “Ah, bahasanya terlalu kaku.”

Ada yang menarik dari percakapan antara kedua mahasiswa ini yang saya duga berlatar belakang Jurusan Bahasa Indonesia di salah satu perguruan tinggi di Aceh. Dugaan ini muncul setelah saya melihat stiker Jurusan Bahasa Indonesia yang tertempel di laptopnya. Namun, ini tak penting. Fokus penjelasan saya adalah pada pernyataan salah satu dari mereka tadi yang mengatakan gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar atau bahasa baku.

Pernyataan seperti itu sudah sering saya dengar di kalangan kaum terpelajar. Dalam pikiran mereka terpatri pemahaman bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar identik atau sama maknanya dengan bahasa baku. Pemahaman seperti ini sebenarnya pemahaman yang salah.

Sebenarnya, bahasa yang baik dan benar adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi yang dimaksud di sini di antaranya meliputi tempat, lawan bicara, dan media.

Bahasa Indonesia banyak ragamnya. Di antara ragam-ragam itu misalnya bahasa Indonesia ragam jurnalistik, ilmiah, sastra, resmi, tak resmi, baku, dan tak baku. Semua ragam bahasa ini ada tempat pemakaiannya.

Bahasa Indonesia ragam jurnalistik, misalnya, digunakan di bidang jurnalistik, ragam sastra digunakan di bidang sastra, ragam ilmiah digunakan di bidang ilmiah. Artinya, ragam tersebut memiliki tempat pemakaiannya masing-masing dan tidak tepat apabila saling dipertukarkan.

Begitu pula bila dilihat dari segi tempat. Bila berada tidak dalam situasi resmi, sudah sepatutnyalah bahasa Indonesia yang digunakan adalah yang tidak resmi, begitu pula bila dalam situasi resmi, bahasa yang digunakan haruslah bahasa resmi. Akan sangat aneh bila di suatu tempat yang tak resmi digunakan bahasa Indonesia yang resmi. Sebut saja misalnya di pasar. Sangat tidak benar bila di pasar kita menggunakan bahasa baku seperti ini, “Berapakah harga sayur ini sekilo, Bapak?” Apakah sangat mahal? Jika mahal, saya tidak membelinya dan saya akan membeli di tempat lain yang menurut saya murah harganya.” Terlalu panjang dan tidak praktis.

Nah, bila ragam bahasa Indonesia yang saya sebutkan di atas digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi, bahasa Indonesia itu disebut sebagai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadi, bahasa Indonesia yang tidak baku jika digunakan di pasar, bahasa itu disebut bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebaliknya, jika di pasar digunakan bahasa Indonesia baku, bahasa itu disebut sebagai bahasa yang benar, tetapi tidak baik karena bukan pada tempatnya.

Lantas, bagaimana dengan status Facebook di awal tulisan saya tadi? Apakah perlu ditulis dengan bahasa Indonesia baku? Jawabannya tergantung pada bagaimana substansi status Facebook itu sendiri. Bila substansi status itu sifatnya resmi, bahasa yang digunakan tentu haruslah bahasa Indonesia yang baku. Namun, bila isi status itu hanya curahan hati atau hal-hal yang tidak resmi, terserah Anda hendak menggunakan bahasa Indonesia ragam apa.[]

Seperti Ejaan Bahasa Perancis

Seperti Ejaan Bahasa Perancis

Tak dapat dipungkiri, bahasa Aceh menyimpan banyak keunikan, salah satunya ihwal tata penulisan atau lazim disebut ejaan.

Tidak seperti bahasa-bahasa daerah lainnya yang ada di Indonesia, bahasa Aceh dalam sistem penulisannya menggunakan tanda aksen. Tanda ini rada-rada mirip dengan bahasa Perancis yang meru­pakan bahasa dunia peringkat kedua pemakaiannya setelah bahasa Inggris.

Dalam bahasa Perancis tanda aksen ada 6, yaitu aksen aigu, grave, makron, sedil, dan diftong. Tidak seperti bahasa Perancis, bahasa Aceh hanya memiliki 5 tanda aksen, yaitu  aigu /é/, grave /è/, makron /ô/, trema /ö/, dan apostrof /’/.

Aigu (é) digunakan pada huruf [e] seperti malém (alim), padé (padi), bacé (ikan gabus), até (hati), kéh (kantong baju/celana), kréh (keris), dan maté (mati). Huruf [e] ini bunyinya persis seperti dalam bahasa Indonesia, misalnya pada kata adek. Jadi, jika dalam bahasa Aceh bunyi huruf e seperti pada kata adek dalam bahasa Indonesia, penulisan huruf e itu menggunakan aksen aigu.

Berbeda dengan aigu, grave (è) dibubuhkan pada huruf [e] yang bunyinya seperti pada kata bebek dalam bahasa Indonesia, misalnya kèh (korek api), bèk (jangan), malèe (malu), kayèe (kayu), bijèh (bibit).

Lalu ada makron (ô). Aksen ini dipakai jika ada huruf [o] dalam bahasa Aceh bunyinya seperti kata bobok dalam bahasa Indonesia. Kata-kata itu misalnya bôh (tuangkan, isi), crôh (goreng), lhôh (sorot), peunajôh (makanan).

Setelah makron, ada juga trema (ö). Trema digunakan pada huruf-huruf, seperti böh (buang), nyang töh (yang mana), lhöh (bongkar), meudhöh-dhöt (lambat). Bunyi huruf dengan aksen trema ini adalah khas dalam bahasa Aceh. Dikatakan demikian karena tidak ada bunyi yang sedemikian rupa dalam bahasa Indonesia.

Terakhir, apostrof. Tanda ini digunakan pada huruf-huruf berbunyi sengau dalam bahasa Aceh (su ch’o), misalnya h’iem, pa’ak, meu’a-a’, ma’op, meu’ie-‘ie. Huruf dengan bunyi sengau ini sangat produktif dalam bahasa Aceh.

Pertanyaannya adalah dari mana asal mula penggunaan tanda-tanda aksen itu? Menurut catatan sejarah, tanda itu pertama sekali digunakan Snouck Hurgronje (orientalis Belanda) ketika menuliskan kata-kata dalam bahasa Aceh. Atas dasar itu, ejaan bahasa Aceh yang menggunakan aksen-aksen seperti yang telah disebutkan di atas selanjutnya disebut ejaan Snouck. Hingga hari ini ejaan ini masih digunakan oleh kalangan akademisi ketika menulis dalam bahasa Aceh.

Sangat dianjurkan pada pengguna untuk jeli menggunakan aksen-aksen itu saat menulis. Kesalahan penggunaannya menyebabkan perbedaan arti, misalnya pada kata kreh. Kata ini jika menggunakan aigu bermakna keris (kréh), tetapi bermakna kemaluan laki-laki (krèh) jika menggunakan grave.[]

Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Upacara Perkawinan

Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Upacara Perkawinan

Tak hanya dalam bentuk peusijuek, perilaku adat masyarakat Aceh juga ada dalam bentuk upacara perkawinan. Sebagaimana peusijuek, tradisi dalam upacara perkawinan telah berlangsung secara turun-temurun. Tradisi itu merupakan suatu tatanan dan mekanisme yang harus dilalui seseorang dalam proses membangun rumah tangga sejak pencarian jodoh, pernikahan, dan duduk pada acara pelaminan.

Seseorang yang hendak menikah, terlebih dahulu melakukan cah rӧt. Istilah ini identik dengan ‘merintis jalan’ dalam bahasa Indonesia. Kegiatan ini dilakukan secara rahasia oleh seseorang yang dipercaya dengan melakukan pendekatan/pembicaraan pada kedua belah pihak keluarga (pihak laki-laki dan pihak keluarga perempuan) sampai mendapat kata sepakat atau tidak.

Setelah cah rӧt, kegiatan dilanjutkan dengan meulakèe dan seulangké. Ini dilakukan bila pengurusan cah rӧt berhasil. Meulakèe dapat diartikan dengan ‘meminang’. Meulakèe dilakukan secara terbuka melalui seulangké disertai beberapa orang tua. geuchik, dan teungku meunasah/imuem meunasah. Ini ditempuh melalui suatu upacara kecil yang disebut dengan ba ranup kong haba. Seulangké adalah pembicaraan resmi tentang pertunangan dengan menyelesaikan berbagai prosedur dan ketentuan yang berlaku dan dijanjikan. Tugas seulangké kadang-kadang sekaligus merangkap sebagai pelaku cah rӧt, atau kadang-kadang terpisah.

Seulangké kadang-kadang juga sekaligus melaksanakan ba ranup. Kadang-kadang tugas ba ranup dengan tugas awal seulangké juga ada yang terpisah, dan bahkan banyak tugas seulangké sekaligus dengan ba ranup kong haba.

Pada upacara ba ranup, kedua belah pihak memutuskan secara musyawarah tentang jeunamèe (mas kawin), waktu yang baik untuk meugatip (menikah), waktu yang baik untuk peuduek sandéng (peresmian), dan hal-hal lain yang berkaitan dengan perhelatan perkawinan.

Setelah selesai meulakèe dan seulangké, dan semua keputusan dalam kegiatan seulangké telah dilaksanakan, dilaksanakanlah meugatip (menikah). Ini merupakan acara yang sangat sakral/suci sejalan dengan ketentuan sunah Rasul yang bernilai ibadah.

Kegiatan meugatip lantas dilanjutkan dengan peresmian perkawinan/walimatul ursyi. Peresmian perkawinan dilaksanakan pada hari yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Biasanya dipilih hari dan bulan yang baik menurut kebiasaan adat setempat. Bagi masyarakat umum biasanya dipilih waktu setelah panen padi. Ada pula sebagian masyarakat yang memilih hari dan bulan pernikahan setelah bulan Haji sehingga di daerah itu tidak satu pun didapati menikah di bulan Haji. Ini karena adanya keyakinan masyarakat bahwa menikah di bulan itu dapat membuat usia pernikahan tidak berlangsung lama. Itulah sebabnya, dalam penentuan bulan pernikahan, bulan Haji disebut bulan panas.

Tahap prosesi dalam peresmian pernikahan meliputi masa persiapan, hari pelaksanaan, dan selesai peresmian. Berkaitan dengan persiapan, pihak dara barô melakukan berbagai persiapan rumah tangga, acara kenduri, bôh gaca, manoe pucôk bagi dara barô. Adapun pihak lintô barô mempersiapkan peuneuwoe lintô, acara intat lintô, dan acara kenduri sekaligus dengan acara tueng dara baro. Kenduri perkawinan, baik bagi pihak lintô maupun dara barô berlangsung pada hari yang sama. Di daerah tertentu intat lintô dilakukan pada malam hari. Namun, biasanya ini dilakukan jika tempat lintô berdomisili tidak terlalu jauh dengan tempat domisili dara barô. Acara tueng dara barô dilakukan beberapa hari kemudian dan biasanya urusan kaum perempuan saja.

*Sumber bacaan: “Budaya Aceh” oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, 2009.

Jangan Abaikan Kesalahan Pengetikan

Jangan Abaikan Kesalahan Pengetikan

Menulis boleh dikatakan sebagai suatu proses yang kompleks. Kegiatan ini menuntut kemampuan memikirkan gagasan-gagasan, lalu menuangkannya ke dalam tulisan. Bukan sekadar menuangkan saja, penulis harus menata gagasan-gagasan itu secara padu, apik, dan sistematis. Perlunya dilakukan penataan karena gagasan-gagasan yang keluar dari dalam pikiran si penulis sifatnya “liar’ sehingga tugasnyalah untuk “menjinakkan”.

Setelah proses penataan, pekerjaan menulis belum dapat dikatakan selesai. Si penulis harus meluangkan waktu untuk membaca ulang tulisannya, lalu memperbaiki jika terdapat kesalahan atau kekeliruan, baik dari segi bahasa maupun dari segi substansi. Bila perlu, penulis membaca tulisannya berkali-kali agar benar-benar dihasilkan tulisan yang bermutu dan minus kesalahan. Dalam menulis, tradisi ini dikenal dengan istilah mengedit.

Sayangnya, tradisi yang sebenarnya wajib dilakukan ini terabaikan oleh sebagian penulis. Bisa jadi ia telah membaca kembali, tetapi tanpa disertai konsentrasi penuh sehingga dalam tulisannya pun masih banyak “noda” yang merusak keindahan tulisannya itu. Akibatnya, muncul beragam keluhan dari pembaca, seperti salah memahami atau terganggunya pemahaman terhadap bacaan. Imbasnya, pembaca “buru-buru” meninggalkan tulisan itu karena banyaknya kesalahan bahasa, baik secara teknis maupun substansi.

Sejatinya, sebagai penulis profesional (jika Anda ingin dikatakan demikian), kegiatan mengedit tulisan harus menjadi prioritas utama agar diperoleh produk intelektual yang berdaya baca tinggi.

Mengapa kegiatan mengedit diperlukan?

Ketika menulis, otak berpikir keras. Saat sedang berpikir itulah, kita hanya terfokus pada ide-ide yang dituliskan dan sangat sedikit mengontrol kebenaran penulisan ide-ide itu. Akibatnya, “noda-noda” bahasa dalam tulisan bermunculan. Sebut saja misalnya kesalahan pengetikan, kesalahan tata bahasa yang berimbas pada kesalahan orang lain memahami yang kita sampaikan. Itulah sebabnya, penulis perlu menyediakan waktu khusus untuk memperbaiki tulisannya. Perbaikan terhadap tulisan sebaiknya juga tidak dilakukan saat proses menulis karena dapat menghambat proses “pemunculan” ide.

Apa yang perlu diperhatikan dalam mengedit tulisan?

Sebenarnya, ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam mengedit tulisan. Namun, dalam tulisan ini saya memfokuskannya pada satu hal, yaitu mengedit kata-kata yang salah ketik. Kegiatan yang satu ini sering disepelekan oleh sebagian penulis, padahal hal ini tidak boleh terjadi.

Periksalah kata-kata yang salah ketik dalam tulisan Anda. Gunakan bantuan spelling and grammar bahasa Indonesia untuk mempermudah kerja Anda. Jangan sepelekan kesalahan pengetikan karena hal ini terkadang mampu “menyulap” tulisan Anda menjadi tulisan yang berkesalahan fatal.

Sebut saja contohnya kata kontrol. Apa jadinya bila pada kata itu Anda lupa menulis huruf r sehingga jadilah kontol. Maka, dapat dibayangkan bila kata itu ada dalam kalimat seperti ini, Ayah yang baik harus selalu mengontol anak perempuannya. Maksud hati hendak menulis mengontrol, tetapi tertulis mengontol sehingga bermakna negatiflah kalimat itu. Mengapa demikian? Karena secara makna, kontol dan kontrol memiliki perbedaan makna yang signifikan.

Begitu pula kesalahan pemahaman juga dapat muncul dalam kalimat seperti ini, Tips menghadapi suami yang suka mengontol, padahal maksud penulis sebenarnya adalah Tips menghadapi suami yang suka mengontrol.

Selebihnya, kesalahan pengetikan dapat menyebabkan terganggunya konsentrasi pembaca, misalnya dalam kalimat ini, Panitia MTQ ke-32 se-Provinsi Ach resmi mengumumkan nama-nama pemenang di berbagai cabag lomba malam tad, Rabu, 26 Agustus 2015. Bila kata yang salah ketik hanya terdiri dari satu atau dua kata, hal itu dapat dimaklumi. Namun, pembaca tak dapat menoleransi kesalahan pengetikan yang terjadi hampir pada setiap kata.

Berkaitan dengan kesalahan pengetikan ini, Anda mungkin pernah melihatnya di salah satu televisi swasta nasional seperti yang dibahas http://tigablaseptember.blogspot.com/ dalam tulisannya yang berjudul Kesalahan Konyol TV One. Dalam tulisannya itu, ia menulis sejumlah kesalahan pengetikan yang dilakukan oleh televisi tersebut yang sebagiannya sebenarnya tergolong dalam kesalahan yang fatal.

Kesalahan-kesalahan itu di antara, radiasi nuklir ditulis radiasia nuklir, SBY perintahkan penjemputan Nazaruddin ditulis SBY perintahkan penjembutan Nazaruddin, Presiden Bicara ditulis Pesinden Bicara, Kasus Penembakan ditulis Kaskus Penembakan, Catatan Akhir Tahun ditulis Catatatan Akhir Tahun, Ketinggian Tsunami 10 cm, Empat Pesawat Tewas di Dalam Pesawat, Palembang Sumatera Utara.

Anda tentu urut dada membaca kesalahan pengetikan itu bukan? Itulah kesalahan kecil, tetapi berakibat fatal.

Maka, jangan sepelekan kesalahan pengetikan jika Anda tak ingin ditertawakan orang atau tulisan Anda diabaikan pembaca hanya karena masalah teknis seperti itu.[]

 

‘Menyontek’ Itu Kata Baku

‘Menyontek’ Itu Kata Baku

Sejak SD saya punya pemahaman yang sudah mengakar dan mendarah daging mengenai ketidakbakuan kata menyontek. Ini karena seingat saya ketika belajar Bahasa Indonesia dulu, guru Bahasa Indonesia saya mengajarkan, menyontek bukan kata baku. Pemahaman itu kian kentara manakala saya membaca tulisan-tulisan teraktual yang memvonis bahwa kata menyontek memang bukan kata baku. Konon lagi vonis itu dilontarkan oleh para akademisi yang bergelut di bidang Bahasa Indonesia.

Alasan vonis pun sama sekali tak didukung referensi kuat. Paling-paling sebatas mengatakan bahwa dalam bahasa Indonesia tidak ada kata menyontek, yang ada hanya contoh, bukan contek. Alasan ini pun membingungkan dan tentu saja menyesatkan saya dalam konsep yang salah. Ini karena saya menilai sama sekali tak ada hubungan sebab-akibat antara menyontek dan contek, atau dalam istilah kebahasaannya tak ada relasi morfofonemik.

Suatu ketika saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi III, 2005, Pusat Bahasa, Depdiknas. Kamus ini memang sudah menjadi ‘santapan’ sehari-hari karena profesi saya sebagai redaktur bahasa di salah satu media lokal di Aceh. Kala itu saya penasaran, apa benar kata menyontek dalam bahasa Indonesia tidak baku? Berbekal penasaran, saya lalu membuka lembaran KBBI itu, terutama lembaran dengan abjad C dan S.

Lembaran dengan abjad C pun saya buka. Setiap entri, lema, dan sublema di situ saya selisik untuk mencari kata contek. Hasilnya, saya menemukan kata contek di halaman 219. Namun sayang, kata ini tak punya arti. Di halaman itu, contek merujuk (—–>) ke sontek. Ini indikasi bahwa contek tidak ada dalam bahasa Indonesia. Maka, saya membuhul, contek memang tak baku.

Saya kemudian menyelisik kata sontek dalam lembaran S di halaman 1084. Sama halnya dengan abjad C, saya mencermati dengan saksama setiap entri, lema, dan sublema. Di sini ada sontek. Di lembaran itu sontek punya dua arti (dalam istilah bahasa disebut homonim). Pertama, sontek berarti menggocoh (dengan sentuhan ringan); mencungkil (bola dsb.) dengan ujung kaki. Dari sini, ada kata menyontek dan sontekan. Sontekan artinya hasil menyontek. Kedua, sontek berarti mengutip (tulisan dsb.) sebagaimana aslinya; menjiplak. Di sini juga ada kata menyontek dan sontekan. Sontekan berarti hasil menyontek; bahan (tulisan) yang disontek.

Seolah tak percaya, saya menyelisik dan mencermati ulang dengan penuh saksama kata sontek yang ada dalam KBBI Pusat Bahasa ini. Hasilnya, tentu saja ada kata sontek dalam bahasa Indonesia. Temuan ini membuat saya sedikit goyah dengan pemahaman selama ini tentang ketidakbakuan kata menyontek.

Saya lalu membuka KBBI online milik Pusat Bahasa di laman http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php. Pangkalan data KBBI online ini daringnya diambil dari KBBI edisi III. Baik di KBBI versi cetak maupun online, ada kata sontek dengan sublema menyontek dan sontekan.

Di KBBI Pusat Bahasa online ini juga ada contek, tetapi diikuti tanda tanya (?).Tanda tanya yang dipakai dalam kamus pada sebuah kata tujuannya untuk menjelaskan kata itu tidak baku.

Berdasarkan penelusuran saya terhadap KBBI edisi III Pusat Bahasa dan KBBI Pusat Bahasa online, menyontek kata baku dengan bentuk dasar sontek, bukan contek. Menyontek artinya mengutip (tulisan dsb.) sebagaimana aslinya. Ini juga berarti, salah besar jika ada yang mengatakan tidak ada kata ‘menyontek’ dalam bahasa Indonesia, dan keliru pula jika ada yang mengatakan menyontek tidak baku.

Analisisnya adalah sebagai berikut. Ada kata menyontek dengan kata dasar sontek. Mengapa sontek menjadi menyontek? Ini tentu saja karena kaidah pembentukan katanya: meN- menjadi meny- apabila dilekatkan pada kata yang diawali bunyi /s/. Nah, dari analisis ini, dapat dikatakan, tidak ada contek dalam bahasa Indonesia baku.

Lantas mengapa ada yang mengatakan menyontek tidak baku? Dugaan saya karena ia menyamakan ketidakbakuan menyontek dengan menyontoh, padahal kata dasar keduanya berbeda. Menyontek kata dasarnya sontek (dan ini baku), *menyontoh (dan ini tidak baku) kata dasarnya sebenarnya contoh, bukan *sontoh sehingga yang baku adalah mencontoh.

 

Bukan Punggung

Bukan Punggung

Apa jadinya jika kata punggông dalam bahasa Aceh diterjemahkan menjadi punggung dalam bahasa Indonesia? Hal itu tentu saja dapat memunculkan kesalahpahaman dalam mempersepsi gagasan yang disampaikan melalui kata punggung itu sendiri.

Dikatakan demikian karena punggông dalam bahasa Aceh tidaklah sama maknanya dengan punggung dalam bahasa Indonesia. Ada perbedaan acuan dari kedua kata itu jika ditilik dari segi referennya.

Punggông dalam bahasa Aceh identik dengan bokong alias pantat dalam bahasa Indonesia, yaitu bagian pangkal paha di sebelah belakang (yang mengapit dubur). Punggông tidak boleh diterjemahkan menjadi punggung dalam bahasa Indonesia karena kata punggung itu sendiri berarti bagian belakang tubuh (manusia atau hewan) dari leher sampai ke tulang ekor.

Karena ketidaktahuannya, penulis yang berlatar belakang bahasa daerah pertama adalah bahasa Aceh menggunakan kata punggung dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan dari kata punggông. Penerjemahan dilakukan dengan cara mengubah bunyi akhir kata, dari gông menjadi gung. Dengan kata lain, penerjemahan punggông menjadi punggung dilakukan atas dasar adanya kesamaan bunyi dan hal itu diyakini tidak mengubah arti kata.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa kata dalam bahasa Aceh yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan sedikit perubahan bunyi tanpa terjadi perubahan arti. Sebut saja misalnya, kayèe, batèe, palèe, bajèe yang berturut-turut dapat diterjemahkan kayu, batu, palu, baju. Namun, fenomena seperti itu tidak berlaku untuk semua kata seperti kata punggông itu sendiri.

Uraian di atas mengantarkan kita pada suatu simpulan bahwa punggông bukanlah punggung dalam bahasa Indonesia, melainkan bokong atau pantat. Maka, bila hendak mengatakan ceumut bak punggông dalam bahasa Indonesia, bukanlah bisul pada punggung, melainkan bisul pada bokong atau bisul pada pantat.[]