Author: Safriandi A Rosmanuddin

Ku’èh

Ku’èh

Setiap Ramadan, Bang Don selalu berjualan boh rôm-rôm di pinggir jalan. Tak jauh dari Bang Don, seorang perempuan yang sering disapa Kak Munah juga menjual kue yang sama. Setiap sore, tempat Kak Munah berjualan ramai pembeli. Namun, tak demikian dengan Bang Don.

Ia tentu saja iri. Berbagai langkah ditempuhnya, mulai dari memprovokasi, memanggil dukun dan membayarnya untuk mengguna-gunai Kak Munah. Pokoknya berbagai cara ditempuh Bang Don agar tak ada yang membeli di tempat Kak Munah. Bang Don sangat berharap Kak Munah tidak berjualan lagi.

Perilaku Bang Don itu dalam bahasa Aceh disebut ku’èh. Kata ini boleh dikatakan sudah tak asing lagi bagi masyarakat Aceh di gampông-gampông. Dalam pertuturan sehari-hari, sering terdengar ureung-ureung di gampông mengucapkan “ku’èh that lagoe kah” atau “alah hai si nyan ka dipeukuèh droe.”

Dalam bahasa Indonesia kata-kata yang maknanya hampir mendekati dengan ku’èh adalah dengki, khianat, cemooh, dendam, menggerogoti, dan menghina. Dikatakan maknanya hampir mendekati karena tidak ada satu pun kata dari bahasa Indonesia itu yang maknanya selaras dengan ku’èh.

Hasanuddin Yusuf Adan (Ketua Umum Dewan Dakwah Islam Indonesia), dalam tulisannya di salah satu media lokal di Aceh, menyebutkan bahwa ku’èh adalah sikap atau perilaku seseorang terhadap orang lain yang dapat menghancurkan atau merugikan orang lain dan juga orang ku‘èh itu sendiri.

Lebih lanjut, Hasanuddin Yusuf Adan menyebutkan, orang ku‘èh selalu dan setiap waktu memikirkan bagaimana agar orang lain selalu susah. Kalau orang yang di-ku‘èh-kan itu sudah tampak hidup susah, ia sudah senang dalam kehidupannya. Sebaliknya kalau orang yang di-ku‘èh-kan itu terus senang, ia pula yang terus menerus hidup susah.

Ku’èh meru­pakan kata dasar. Dalam penggunaannya, kata ini juga dapat dilekati imbuhan peu- sehingga menjadi peuku’èh, dan bila diikuti kata droe terbentuklah kata peuku’èh droe. Bentuk terakhir ini lebih bermakna refleksif, yaitu untuk diri sendiri. Selain itu, ku’èh juga dapat dilekati imbuhan meu- sehingga menjadi meukeu’èh.

Di Aceh, ku’èh sudah ada sejak dulu. Bahkan, sifat ini dideskripsikan oleh Snouck Hurgronje dalam bukunya The Atjehnese, tahun 1906. Meminjam istilah yang dikemukakan Hasanuddin Yusuf Adan, di Aceh, ku‘èh sudah ‘mendarah gapah’ dalam kehidupan masyarakatnya, mulai dari kalangan abra’u, kalangan geuleugong, kalangan apa ta’a, apa kapluk, kalangan meungab, sampai kepada kalangan politikus, intelektual, ulama, teungku, rakyat jelata, dan para penguasa.

Di bulan penuh berkah ini, mari kita hentikan ku’èh karena selain merugikan diri sendiri, juga menjadi malapetaka untuk orang lain.[]

Gampông lam Klèk-Klok

Gampông lam Klèk-Klok

Terpencil, kata yang cukup familiar. Mengetahui makna kata tersebut pun juga tak sulit. Mendengar katanya saja, yang terbayang dalam benak kita, terpencil adalah tersendiri, terasing, jauh dari yang lain. Jadi, desa terpencil misalnya, berarti desa yang terasing, jauh dari yang lain, tak ada lampu penerang selain teplok. Perlu berpeluh-peluh untuk mencapai desa itu. Pokoknya susah dijangkau.

Kalau bahasa Indonesia punya kata terpencil, bahasa Aceh juga punya padanannya. Namun, padanan dalam bahasa Aceh jauh lebih kompleks daripada terpencil-nya bahasa Indonesia.

Tak seperti bahasa Indonesia, versi terpencil dalam bahasa Aceh bertingkat-tingkat atau disebut bergradasi dalam istilah kebahasaan. Setidaknya, ada tiga gradasi terpencil bagi orang Aceh, yaitu klèk, klèk-klok, dan lungkik (dalam dialek tertentu disebut ungkik).

Klèk, klèk-klok, dan lungkik dalam penggunaannya sering diikuti kata lam sebagai penanda keterangan tempat sehingga menjadi lam klèk, lam klèk-klok, dan lam lungkik.

Untuk menyebut terpencil, umumnya orang Aceh hanya menggunakan kata lam klèk. Jadi, gampông lam klèk adalah gampông terasing, jauh dari yang lain. Sulit menjangkau gampông lam klèk ini. Penggunaan kata ini dalam kali­mat, misalnya “Kamoe hana meuphôm masalah komputer. Maklumlah, tinggai lam klèk.

Tak cukup menyebut lam klèk, jika gampông itu ‘sangat terpencil’, umumnya orang Aceh menyebutnya lam klèk-klôk. Tingkatan lam klèk-klok lebih tinggi daripada lam klèk. Jadi, gampông lam klèk-klok jauh lebih sulit dijangkau tinimbang gampông lam klèk.

Bukan hanya itu, untuk mendeskripsikan betapa klèk-klok-nya gampông, kata tersebut diikuti oleh kata keudéh sehingga menjadi keudéh lam klèk-klok. Dalam kali­mat, kata itu digunakan seperti berikut ini: “Jiôh that tinggai ayahwa kah. Keudèh lam klèk-klok hana tatuho saho.”

Setelah lam klèk dan lam klèk-klok (terpencil dan sangat terpencil), ada pula kata lam lungkik. Ini tingkatan teratas untuk terpencil atau ‘amat sangat terpencil sekali’. Jadi, menjangkau gampông lam lungkik ‘amat sangat sulit sekali’ tinimbang gampông lam klèk, apalagi lam klèk-klok. Apabila Anda mendengar orang bertutur, “Kamoe tinggai lam lungkik jéh,” itu artinya kamoe tinggai di gampông yang amat sangat sulit sekali dijangkau.

Selain lam lungkik, ada pula kata lam lungkèk (ungkèk). Namun, itu hanya perbedaan variasi bunyi. Tak ada perbedaan arti yang mencolok antara kedua kata itu.

Kecuali lungkik, kata klèk dan klèk-klok dapat pula digunakan untuk jalan atau lorong yang berliku-liku. Untuk ini acapkali klèk dan klèk-klok dilekatkan imbuhan meu- sehingga menjadi meuklèk, meuklèk-klok.

Khusus untuk meuklèk, kata ini sering disebut dalam bentuk pengulangan sehingga menjadi meuklèk-klèk. Penggunaan kata tersebut dalam kali­mat, misalnya “Jih jiôh that tinggai lam lorong nyan, meuklèk-klok that jalan.” Dalam kali­mat lain, “Cukôp payah tajak u rumoh kah. Jalan that meuklèk-klèk.”[]

Singöh

Singöh

Bagi siapa pun waktu sangat berarti. Itulah sebabnya muncul ungkapan time is money atau waktu adalah pedang. Karena pentingnya waktu, hampir semua bahasa di dunia ini memiliki kosakata untuk menyatakan waktu.

Bahasa Indonesia, misalnya, mempunyai perbendaharaan kosakata tentang waktu yang tidak sedikit. Hari ini, besok, kemarin, lusa, dsb. meru­pakan kata-kata bahasa Indonesia yang saban hari kita dengar. Kata-kata tersebut sudah pasti memiliki arti, dan jika dikaitkan dengan budaya masyarakat penggunanya akan memiliki arti yang ‘khas’. Yang saya maksud ‘khas’ dalam tulisan ini berkaitan dengan perbedaan artinya jika dikaitkan antara satu bahasa dan bahasa lainnya.

Sebut saja dalam budaya masyarakat Jawa, misalnya. Bagi orang Jawa, besok bukan berarti hari sesudah hari ini, melainkan kapan-kapan atau untuk waktu yang tidak jelas.

Bahasa Aceh juga memiliki kekhasan yang seperti itu. Besok dalam bahasa Austronesia ini berarti singöh. Namun, singöh bagian sebagian dialek bahasa Aceh bukan berarti ‘besok’, melainkan ‘kapan-kapan’ atau ‘tidak jelas waktunya’. Jadi, jika Anda bertanya, “Pajan kajak u rumoh lôn?”, lalu dijawab “Singöh tajak”, sebaiknya Anda jangan menunggu besok karena belum tentu dia akan datang.

Singöh baru bermakna ‘benar-benar besok (hari sesudah hari ini)’ apabila disertai kata meungöh atau beungöh sehingga menjadi singöh meungöh atau singöh beungöh. Kata ini jika diartikan per kata adalah singöh ‘besok’ dan meungöh, beungöh ‘pagi’. Bila dirangkaikan, bermakna besok pagi.

Namun makna dalam bahasa Indonesia seperti itu, jelas-jelas tidak sama dengan maknanya ‘sebenarnya’ dalam bahasa Aceh.

Dalam konteks kata singöh meungöh (beungöh), beungöh atau meungöh belum tentu pagi, bisa saja dari pagi sampai sore. Artinya, meskipun singöh meungöh sudah jelas besok, bukan berarti besok yang dimaksud adalah besok pagi. Bisa saja maksudnya pagi, siang, sore.

Berdasarkan kenyataan itu, jika ada orang mengatakan, “Singöh meungöh (beungöh) lôn kujak u rumah kah, jangan buru-buru menafsirkan yang bersangkutan akan datang besok pagi, bukan siang atau sore. Ini karena kata tersebut bermakna ‘batas waktu mulai dari pagi sampai dengan sore’. Bisa jadi orang itu akan datang besok pagi, besok siang, besok sore, yang jelas dia akan datang, tetapi singöh meungöh.

Lalu, apa kata yang digunakan untuk mengungkapkan waktu besok pagi dalam bahasa Aceh? Dalam hal ini ada beberapa alternatif yang sering digunakan oleh penutur bahasa Aceh. Pertama, singöh meungöh disertai oleh angka yang menyatakan waktu, misalnya singöh meungöh poh 8, singöh meungöh poh 10, singöh meungöh poh 11.

Alternatif kedua adalah dengan mengulang kata beungöh sehingga menjadi singöh beungöh-beungöh. Namun, kata ini khusus untuk besok pagi-pagi sekali. Kalau untuk pagi-pagi buta, kata yang digunakan singöh beungöh-beungöh that.

Terakhir, cara yang digunakan adalah dengan menempatkan kata beungöh di awalnya sehingga menjadi beungöh singöh. Kata ini sudah jelas bermakna besok pagi, bukan besok siang atau besok sore.[]

Geureuda

Geureuda

Gelojoh alias rakus disebut geureuda dalam bahasa Aceh. Orang geureuda meru­pakan orang yang tamak terhadap segala hal. Jika makan, ia suka makan berlebihan dan ingin memperoleh lebih banyak dari yang diperlukan.

Berkaitan dengan harta, orang geureuda mengharapkan harta yang banyak dengan menghalalkan berbagai cara. Baginya, apa pun akan ia lakukan, tak peduli saudara atau teman, yang penting harta itu menjadi miliknya.

Dalam pandangan orang Aceh, orang yang punya sifat geureuda bermacam ragam. Beragamnya sifat geureuda itu dapat digradasikan sesuai dengan kadar kronisnya geureuda seseorang.

Ada orang yang disebut geureuda tampo. Jenis geureuda ini ditujukan untuk orang-orang yang rakus dalam hal makanan. Semua dilahap ‘selahap-lahapnya’. Orang geureuda tampo masih menyisakan sedikit makanan untuk orang lain.

Lain halnya dengan geureuda tampo, geureuda sampôh diderita oleh orang-orang yang rakusnya setingkat lebih tinggi daripada geureuda tampo. Meski sama-sama dipakai untuk orang yang rakus dalam hal makanan, penderita geureuda sampôh melahap makanan tanpa sisa. Orang lain pun tak dipikirkannya. Yang penting perutnya kenyang sekenyang-kenyangnya.

Geureuda sampôh memang sudah tergolong kronis. Namun di atas itu, masih ada jenis geureuda yang lain, yaitu geureuda ta’eun. Geureuda ta’eun ini ada dua golongan, yaitu geureuda ta’eun top dan geureuda ta’eun budôk.

Dua golongan geureuda ta’eun itu dikatakan tergolong kronis karena orang yang punya sifat itu rakus dalam segala hal, tak hanya dalam hal makanan.

Bukan hanya itu, geureuda ta’eun top dan geureuda ta’eun budôk menjadi kata makian untuk orang-orang yang punya sifat geureuda. Biasanya memaki dengan kedua golongan jenis makian itu disertai oleh penggunaan kata paléh sehingga menjadi geureuda ta’eun top paléh dan geureuda ta’eun budôk paléh.

Penyertaan kata paléh pada kedua jenis geureuda itu meru­pakan luapan emosional si pengucap kepada orang lain. []

Bangai ‘Alaihissalam

Bangai ‘Alaihissalam

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu atau sulit memahami sesuatu dengan cepat disebut bangai dalam bahasa Aceh. Dalam pandangan orang Aceh, bangai banyak ragamnya. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa kemam­puan seseorang dalam memahami sesuatu atau pengetahuan seseorang terhadap sesuatu amatlah berbeda. Jadi, jika seseorang diketahui se­bagai orang yang bodoh, sangat bodoh, atau amat sangat bodoh sekali, orang Aceh tidak puas hanya dengan menyebut bangai saja.

Bagi orang Aceh, orang yang “agak” lama memahami sesuatu dengan cepat disebut se­bagai orang yang bangai trôk u gu. Bangai jenis ini dapat dikatakan se­bagai bangai yang tidak terlalu parah. Hal ini karena si bangai masih dapat memahami sesuatu walau membutuhkan waktu yang “agak” lama.

Karena bangai trôk u gu meru­pakan bangai yang tidak terlalu parah, ada jenis bangai lain yang lebih parah, yaitu bangai trôk u pucôk. Jenis bangai yang kedua ini setingkat lebih tinggi daripada jenis bangai  sebelumnya. Artinya, jika seseorang disebut bangai trôk u pucôk, orang itu lebih bangai daripada  si bangai trôk u gu. Dikatakan demikian karena pucôk lebih tinggi daripada gu dan dibutuhkan tenaga ekstra untuk mendapatkan si pucôk. Analoginya, orang yang bangai trôk u gu hanya membutuhkan waktu yang “agak” lama untuk memahami sesuatu, sedangkan orang yang bangai trôk u pucôk membutuhkan waktu yang “agak lebih” lama memahami sesuatu.

Namun demikian, bangai trôk u pucôk bukanlah akhir dari tingkatan parahnya bangai seseorang. Masih ada jenis bangai yang lebih parah daripada bangai trôk u pucôk. Sebagian orang Aceh menyebut bangai ini dengan nama bangai ‘alaihissalam. Menurut penuturan masyarakat, bangai jenis ini meru­pakan bangai yang menempati posisi paling puncak. Tidak ada lagi jenis bangai setelah bangai ini. Orang dengan jenis bangai ini disebut se­bagai orang yang paling bangai. Jenis bangai ini tidak ada tandingannya. Bangai-nya laksana bangai kloe priet. Jika sesuatu disampaikan pada orang yang memiliki jenis bangai ini, ia membutuhkan waktu yang “teramat, tersangat, terpaling” lama untuk memahaminya.[]

Kriet

Kriet

ANDA barangkali sering menemukan orang yang sering membatasi pengeluarannya terhadap segala sesuatu yang tidak perlu alias mubazir. Ini hemat namanya. Mungkin pula Anda sering menemukan orang yang membatasi pengeluaran untuk orang lain, sedangkan untuk diri sendiri banyak membuat pengeluaran yang tidak perlu. Sudah pasti ini namanya pelit, kikir, atau too cheap kata orang Inggris.

Bukan hanya seperti bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, bahasa Aceh pun memiliki kosakata khusus untuk pelit atau kikir,yaitu kriet. Namun, cara orang Aceh mengungkapkan kriet tidak hanya sebatas menyebutkan si Polan kriet. Ada banyak cara orang Aceh mengungkapkan kriet seseorang.

Cara pertama menggunakan that sebelum atau setelah kata kriet sehingga menjadi that kriet atau kriet that. Penggunaan that di awal atau di akhir kriet bukan tanpa alasan. That di awal digunakan jika seseorang sangatlah kriet. Biasanya penggunaan that di awal disertai oleh intonasi panjang “6 harkat” di akhir –riet sehingga menjadi that kriiiiiiet. Sering pula, that kriet disertai oleh kata göt sehingga menjadi göt that kriiiiiiet.

Begitu pula, penggunaan that setelah kriet karena orang yang menjadi sasaran penggunaan kata kriet tidak terlalu kriet.

Cara kedua adalah dengan mengulang that sehingga menjadi kriet that-that. Pengulangan that merupakan indikasi “teramat sangat” pelitnya seseorang. Biasanya, di akhir kata that, bentuk pengulangan ini juga disertai intonasi panjang “6 harkat”, kriet that-thaaaaaat.

Cara ketiga adalah dengan menggunakan ungkapan, kriet putôh bulèe idông, kriet tulo, kriet maté. Makna ketiga ungkapan itu jelas-jelas sangat berbeda dengan that kriet, kriet that, atau kriet that-that. Orang yang kriet putôh bulèe idông, kriet tulo, atau kriet maté dianggap kriet pada tingkat kronis atau kriet “stadium” 4. Tak ada kemungkinan sembuh bagi penderita kriet “stadium 4” ini. Meskipun bulèe idông putôh, tulo, atau maté karena kriet, “pasien” penderita kriet tak pernah sembuh dari kriet-nya.

Termasuk kategori kriet yang manakah Anda?[]

Bahasa Aceh Akan Punah?

Bahasa Aceh Akan Punah?

Pembaca portalsatu.com, pernahkah terlintas di benak Anda mengenai masa depan bahasa Aceh ke depan, tetap eksis dengan jumlah penutur yang banyak atau punah? Pertanyaan ini terjawab bila kita kemudian melihat fakta terkini.

Di masyarakat banyak orang tua berkomunikasi dengan anaknya dengan bahasa Indonesia meski pada kenyataannya tak begitu fasih dengan bahasa itu. Mengapa? Alasannya cukup sederhana, “Kalau tidak berbicara dengan bahasa Indonesia, anak-anak susah memahami mata pelajaran ketika sekolah nanti.”

Agak lebih jauh, mari cermati fakta pemakaian bahasa Aceh di sekolah. Saya sempat ke beberapa sekolah menengah, di gampông tempat saya tinggal, untuk mengamati bahasa yang dipakai oleh siswa saat berinteraksi dengan guru dan sesama teman.

Kenyataan yang saya temukan cukup mencengangkan. Hampir semua siswa yang saya amati menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi utama, padahal kedua orang tua mereka berbahasa pertama bahasa Aceh. Hanya sedikit siswa menggunakan bahasa Aceh untuk berinteraksi. Kasus seperti ini juga saya temukan di beberapa perguruan tinggi di Aceh.

Alasan mereka, bahasa Indonesia jauh lebih sederhana dan mudah dipakai tinimbang bahasa Aceh. Bukan hanya itu, sebagian mereka juga merasa malu memakai bahasa Aceh karena menganggap “buruknya” dialek bahasa Aceh mereka itu.

Masih banyak fakta lain yang saya temukan tentang minimnya pemakaian bahasa Aceh, terutama di kalangan remaja. Banyak pula alasan lain yang mereka utarakan tentang mengapa lebih memilih bahasa Indonesia daripada bahasa Aceh ketika berkomunikasi.

Beberapa kenyataan yang saya sebutkan di atas agaknya mirip dengan sebab punahnya beberapa bahasa daerah, misalnya beberapa bahasa di Indonesia bagian timur, yaitu sembilan bahasa daerah di Papua, dan satu bahasa daerah di Maluku Utara.

Punahnya bahasa tersebut di antaranya karena para orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa tersebut kepada anaknya dan tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah komunikasi (baca Grimes, 2000:17).

Ada pula para ahli bahasa menyebutkan, punahnya bahasa daerah akibat fenomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa daerah. Sebagian mereka juga enggan menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi sehari-hari.

Sulitnya tata bahasa dan vitalisasi politik juga menjadi penyebab punahnya bahasa. Sebut saja bahasa Latin, misalnya. Bahasa ini dinyatakan punah karena sulitnya tata bahasa dan lahirnya dominasi bahasa Inggris, terutama dalam hal industri (baca Cahyono, 1999). Selain bahasa Latin, bahasa di dunia yang dinyatakan punah di antaranya bahasa Eskimo (hanya memiliki 2 penutur), bahasa Mandan (6 penutur), dan bahasa Eyak (2 penutur).

Lantas patutkah kita khawatir dengan eksistensi bahasa Aceh? Apakah fakta-fakta yang saya kemukakan di atas menjadi alasan yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa kepunahan bahasa Aceh berada pada status “awas”? Memang menurut teori, punahnya suatu bahasa jika sudah berusia sekitar 70 hingga 100 tahun. Lalu, sudah berapakah usia bahasa Aceh? Apa peran strategis bahasa Aceh dalam globalisasi ini? Semua itu perlu diteliti lebih lanjut.[]

Brimob Gugur Tersengat Listrik, Benarkah?

Brimob Gugur Tersengat Listrik, Benarkah?

Dalam sebuah koran lokal di Aceh yang terbit hari Jumat, 28 Desember 2009 terdapat sebuah penggalan berita yang berbunyi Enam brimob di markasnya tersengat listrik. Seorang brimob gugur dan lima lainnya luka-luka.

Dari penggalan berita ini, ada beberapa hal yang patut dipertanyakan. Pertama, benarkah seorang brimob yang kehilangan nyawanya karena tersengat listrik disebut gugur? Kedua, apakah yang menjadi standar sehingga seseorang yang kehilangan nyawa disebut sebagai gugur, meninggal, mati, wafat, atau mampus? Ketiga, seandainya enam warga tersengat listrik dan dari keenam warga itu satu orang meninggal, apakah kepada mereka juga pantas disebut gugur?

Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah ketika seorang prajurit berjuang mempertahankan negaranya, lalu kehilangan nyawanya, tentu orang ini disebut gugur. Anggapan ini tentu saja terlepas dari niat si prajurit. Apakah ia berjuang untuk membela bangsanya atau untuk disebut sebagai pahlawan, kita tidak tahu. Yang pasti, seseorang yang kehilangan nyawa karena membela negara dikatakan gugur, bukan mati, meninggal, wafat, apalagi mampus.

Lantas, apakah prajurit yang kehilangan nyawa hanya karena tersengat listrik di markasnya dikatakan gugur? Untuk menjawab pertanyaan ini, cermatilah pengertian gugur yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa gugur berarti 1) jatuh sebelum masak (tentang buah-buahan); lahir sebelum waktunya (tentang bayi); runtuh (tentang tanah); 2) batal; tidak jadi; tidak berlaku lagi; 3) mati di pertempuran; 4) kalah; rontok.

Mari kita kaitkan pengertian gugur ini dalam konteks kalimat. Cermatilah kedua kalimat berikut ini!

  1. Dalam peristiwa tembak menembak antara brimob dan komplotan penjahat itu, seorang brimob kehilangan nyawanya.
  2. Enam brimob di markasnya tersengat listrik. Seorang brimob kehilangan nyawanya dan lima lainnya luka-luka.
  3. Seorang brimob kehilangan nyawanya karena ditabrak mobil saat menyeberang jalan.

Apakah untuk ketiga kasus ini brimob yang kehilangan nyawanya pantas disebut gugur? Secara semantik dan secara kontekstual hal ini tidak dapat diterima. Pantaskah seorang brimob yang kehilangan nyawanya hanya karena menyeberang jalan disebut gugur? Pantaskah seorang brimob yang tersengat listrik di markasnya disebut gugur?

Dalam ketiga kasus di atas, yang lebih pantas disebut gugur adalah kasus (a). Kasus (b) lebih pantas disebut meninggal, dan kasus (c) juga lebih pantas disebut meninggal. Mengapa demikian? Hal ini tentu saja berkaitan dengan nuansa makna yang dikandung oleh kata gugur, meninggal, dan mampus.

Sebagian Anda tentu beranggapan bahwa orang dapat menggunakan kata apa pun sesuka hatinya. Pemilihan kata tak perlu mengikuti aturan tertentu. Anggapan seperti ini tentu saja keliru. Ini karena bahasa bukan milik pribadi, melainkan milik masyarakat. Artinya, pemakaian bahasa dikontrol oleh masyarakat. Kita tak dapat menggunakan kata dengan “semena-mena”.

Jika tak percaya, silakan umumkan melalui loudspeaker masjid, “Nabi Muhammad sudah lama mampus”. Anda akan melihat reaksi umat Islam yang berang dengan pernyataan itu.

Akhirnya, berhatilah-hatilah dalam berbahasa.[]

Asal Kata Aceh

Asal Kata Aceh

BANDA ACEH – Aceh menyimpan banyak misteri. Selain belum jelasnya kepastian asal mula bahasa Aceh, misteri yang tampaknya juga belum terpecahkan hingga sekarang adalah tentang nama Aceh. Bila diselisik lebih jauh tentang penulisan kata Aceh dalam buku-buku sejarah, ditemukan kata Achei, Achin, Atchin, Atjeh, Aceh.

Konon katanya, nama ‘Aceh’ merupakan singkatan dari Arab, China, Endia (India), Hindia Belanda. Hal ini menurut sebagian orang didasarkan pada dua hal. Pertama, orang Aceh terdiri dari Arab, China, Endia (India), Hindia Belanda. Kedua, orang Aceh merupakan keturunan dari bangsa-bangsa itu. Akan tetapi, hal itu tampaknya tidak memiliki sumber yang jelas dan hanya merupakan spekulasi belaka. Dikatakan demikian karena berdasarkan catatan sejarah, yang pernah mendatangi Aceh dan menetap di Aceh bukan hanya Arab, China, Endia (India), Hindia Belanda. Bangsa-bangsa seperti Portugis, Vietnam, dan Afrika juga pernah mendatangi Aceh.

Sebenarnya berkaitan dengan nama Aceh ini, banyak ahli yang telah melakukan penelitian. Salah satunya adalah Denis Lombard.

Berkaitan dengan nama ‘Aceh’, Lombard menyebutkan, nama Aceh baru disebut dengan pasti sekali dalam Suma Oriental yang dikarang di Malaka sekitar 1950 oleh Tomé Pires yang berkebangsaan Portugis. Lombard selanjutnya mengatakan, dalam buku itu kata ‘Aceh’ dieja ‘Achei’.

Beberapa tahun kemudian, dalam buku yang ditulis oleh Barros yang berjudul Da Asia disebutkan, pengejaan kata ‘Aceh’ dengan ‘Achei’ telah mengalami perubahan yang berbentuk adanya penyengauan bunyi pada akhir kata, yaitu ‘Achem’. Penyengauan bunyi ini juga terdapat dalam naskah-naskah Eropa abad ke-16, 17, dan 18. Di dalam naskah-naskah tersebut, kata ‘Aceh’ dieja ‘Achin’ dan ‘Atchin’.

Dalam sistem transkripsi ilmiah yang dikemukakan oleh L.C. Damais, kata ‘Aceh’ ditulis ‘Acih’. Lombard mengungkapkan, penulisan kata ‘Aceh’ dengan ‘Acih’ adalah penulisan yang sangat tepat jika ditinjau secara ilmiah. Dalam hal ini, Lombard memberikan alasan sebagai berikut.

“Sesuai dengan sistem tranksripsi ilmiah yang dikemukakan oleh L.C. Damais, penulisan kata Aceh lebih tepat ditulis Acih. Tulisan ini memang yang paling baik mengungkapkan ucapannya dewasa ini. Setiap fonem dicatat dengan satu huruf saja, dan huruf i lebih baik daripada huruf e untuk mencatat huruf hidup kedua yang ucapannya sangat mendekati /i/….”

Selanjutnya, sekitar akhir abad ke-19, menjelang peperangan yang menumpahkan darah di seluruh bagian utara Sumatera, nama Aceh dipakai untuk menunjukkan seluruh daerah yag membentang dari ujung utara pulau itu sampai dengan suatu garis khayal yang menghubungkan Tamiang di pantai timur dengan Barus di pantai barat. Menurut Snouck Hurgronje, penduduknya membandingkan bentuk wilayah mereka yang kira-kira menyerupai segitiga itu dengan bentuk jeu-èe (tampah tradisional).

Dalam perkembangan penulisan selanjutnya, ‘Aceh’ sering pula ditulis ‘Atjeh’. Jika dikaitkan dengan sejarah perkembangan ejaan, penulisan seperti itu tentu saja merujuk pada ejaan lama, tepatnya ejaan van Ophuysen (1901-1947). Dalam ejaan ini, yang mewakili huruf /c/ seperti yang digunakan sekarang adalah /tj/. Jadi, untuk menyebutkan ‘cara’, misalnya, dalam ejaan lama ditulis /tjara/.

Sebenarnya, adanya perbedaan penulisan untuk nama Aceh sejak dulu semata-mata karena pengaruh bahasa orang yang mengucapkan nama Aceh. Pengaruh itu sangat kentara terdengar di segi pelafalan. Orang Portugis akan menuliskan kata Aceh sesuai dengan pelafalan bahasa Portugisnya, begitu pula dengan orang China, Jepang, dan orang-orang asing lainnya. Untuk contoh lain, sebut saja misalnya bunyi kokokan ayam. Orang Aceh memiliki kosakata untuk kokokan ayam, yaitu ‘uk ‘uk, ‘uk, ‘uk. Dalam bahasa Bali, bunyi kokokan ayam adalah kongkorongok, sedangkan bahasa Indonesia adalah kukuruyuk.[]

Bahasa Aceh dari Mana?

Bahasa Aceh dari Mana?

Berbicara tentang asal mula bahasa Aceh, tentu saja berhubungan dengan genetis bahasa dan latar belakang historis bahasa itu.

Genetis bahasa berkaitan dengan asal suatu bahasa atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua, sedangkan historis bahasa berhubungan dengan sejarah bahasa itu yang dibawa oleh penggunanya ke daerah lain.

Genetis bahasa melahirkan istilah klasifikasi genetis, yaitu pengklasifikasian bahasa berdasarkan garis-garis keturunan bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Klasifikasi jenis ini dalam ilmu bahasa termasuk ke dalam kajian linguistik historis komparatif.

Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa pro (bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih. Lalu, bahasa pecahan ini akan menurunkan pula bahasa- bahasa lain. Kemudian bahasa-bahasa lain itu akan menurunkan lagi bahasa-bahasa pecahan berikutnya.

Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti, yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Bahasa- bahasa yang memiliki sejumlah kesamaan seperti itu dianggap berasal dari bahasa asal atau bahasa proto yang sama.

Merujuk pada teori klasifikasi tersebut, muncullah simpulan bahwa bahasa Aceh mestilah berasal dari bahasa lain yang lebih tua. Hasil penelitian selanjutnya memperlihatkan bahwa bahasa Aceh diduga berasal dari bahasa-bahasa Campa yang sampai sekarang masih digunakan di Vietnam, Kamboja, dan Hainan di Cina. Teguh Susanto, dalam tulisannya “Asal-Usul Bahasa Aceh” menjelaskan bahwa ada dugaan, dulu terjadi proses migrasi penduduk dari kerajaan Campa yang akhirnya mereka sampai di semenanjung Sumatera, yaitu di Aceh saat ini.

Dugaan senada juga dikemukakan oleh Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Ia menyebutkan bahwa bahasa Aceh bermula dari datangnya seorang pangeran dari Campa, yaitu Šah Pu Liaŋ (liŋ). Ia diusir dari ibu kotanya oleh bangsa Vietnam, lalu mencari perlindungan di Aceh dan membentuk bangsa baru. Tentu saja pembentukan bangsa baru ini sangat berpengaruh terhadap pemakaian bahasa Aceh sebagai alat komunikasi mereka.

Dugaan yang paling kuat memang bahasa-bahasa Aceh berasal dari bahasa-bahasa Campa. Ini berdasarkan perbandingan bunyi antara bahasa Aceh dan bahasa Campa tersebut.

Berkaitan dengan adanya kesamaan bunyi antara bahasa Aceh dan bahasa Campa, saya dapat mengemukakan beberapa contoh berikut. Kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘cagee’, dalam bahasa Campa ada kata ‘cagau’ yang artinya ‘beruang’, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘cicem’, dalam bahasa Campa ada kata ‘cim, ciin’ yang artinya burung, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘glee’, dalam bahasa Campa ada kata ‘glai’ yang artinya ‘hutan’, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘hu’ dalam bahasa Campa juga ada kata ‘hu’ yang sama-sama artinya nyala, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘bèe khing’, dalam bahasa Campa juga ada kata ‘kheng’ yang artinya bau tidak sedap, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘piyôh’ dalam bahasa Campa juga ada kata piyôh yang artinya ‘singgah’, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘klep mata’, dalam bahasa Campa juga ada ‘klek mota’ yang berarti kedip mata’ kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘rimung’ dalam bahasa Campa ada kata ‘rimong’ yang artinya harimau.

Meski ada kesamaan bunyi antara bahasa Aceh dan bahasa Campa tersebut, ada pula pihak yang menduga bahwa bahasa Aceh bukan hanya dari bahasa Campa, melainkan juga dari sejumlah bahasa nusantara dan bahasa internasional seperti bahasa Inggris.

Namun, untuk membuktikan hal ini, tentu saja diperlukan penelitian lanjutan agar misteri asal mula bahasa Aceh terungkap dengan jelas. []