Author: Safriandi A Rosmanuddin

Bagaimana Mengatasi Kepunahan Bahasa

Bagaimana Mengatasi Kepunahan Bahasa

Ada banyak sebab bahasa punah, seperti lunturnya bahasa daerah adalah fenomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa daerah. Mereka juga enggan menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi keseharian.

Asim mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kepunahan bahasa daerah. Pertama, vitalisasi etnolinguistik. Ia mencontohkan bahasa Ibrani yang dulu hampir punah. Namun, karena adanya vitalitas yang tinggi untuk menghidupkan kembali bahasa Ibrani, bahasa tersebut kini menjadi bahasa nasional. Kedua, kata Asim, adalah faktor biaya dan keuntungan. Selama ini kecenderungan orang belajar bahasa adalah karena faktor berapa biaya yang dikeluarkan dan seberapa besar keuntungan yang diperoleh kelak. Ia menyebutkan bahwa orang rela belajar bahasa Inggris dengan biaya mahal karena ada keuntungan yang diperoleh kelak.

Bagaimanakah menghambat kepunahan ini? bila merujuk pada pendapat Asim tersebut, usaha menghambat kepunahan bahasa dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, vitalisasi etnolinguistik. Vitalisasi etnolinguistik ini pernah diterapkan pada bahasa Ibrani yang dipakai oleh masyarakat Yahudi. Bahasa ini pernah berada di ambang kepunahan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya orang Yahudi yang dibasmi oleh Hitler dalam sebuah peristiwa yang dikenal dengan nama holocaust. Diperkirakan sebanyak 3 juta orang Yahudi dibunuh oleh Hitler. Jumlah ini belum termasuk orang Slav, orang Polandia non-Yahudi, orang Roma dan Sinti, kaum Freemason, kaum Komunis, pria homoseksual, dan saksi Yehowa. Jika dikelompokkan, jumlah pembasmian mencapai 60 juta jiwa (Widada, 2007:39).

Akibat pembunuhan terhadap 3 juta orang Yahudi tersebut, penutur bahasa Ibrani dengan sendirinya berkurang. Oleh karena itu, untuk menghambat kepunahan bahasanya, dilakukanlah vitalisasi etnolinguistik terhadap bahasa Ibrani sehingga bahasa tersebut sekarang menjadi bahasa nasional. Kedua, yang dapat dilakukan adalah dengan menggiatkan penerbitan majalah berbahasa daerah bagi media cetak dan menyediakan program khusus berbahasa Aceh bagi media elektronik. Ketiga, memasukkan sebagian kosakata bahasa daerah ke dalam bahasa nasional. Berkaitan dengan hal ini, sebut saja misalnya bahasa Aceh. Kosakata bahasa Aceh juga berpotensi menjadi kosakata bahasa Indonesia layaknya bahasa Jawa, bahasa Sunda, atau bahasa-bahasa daerah lainnya.

Salah satu contohnya adalah timplak. Kata ini mempunyai arti mencela atau celaan (Aboe Bakar, dkk. 1985:985). Kata ini sangat cocok menjadi kosakata bahasa Indonesia. Secara kaidah bahasa, yaitu konsep peluluhan, bunyi awal kata ini memenuhi syarat peluluhan. Jika bunyi awal diluluhkan, kata timplak akan menjadi menimplak jika diimbuhkan imbuhan meN– dan dapat pula menjadi penimplakan jika diimbuhkan konfiks peN-an. Dari segi pelafalan pun, kosakata ini tidak sulit dilafalkan oleh penutur nonbahasa Aceh. Kasus yang sama juga dapat diterapkan pada kata padubawa. Dari segi pelafalan, kata ini sangat mudah dilafalkan oleh penutur nonbahasa Aceh. Selain itu, konsep pelafalan juga memenuhi kata ini. Jika dilekatkan imbuhan meN-, kata ini menjadi memadubawa, atau jika dilekatkan afiks peN-, kata tersebut akan menjadi pemadubawa(-an).

Keempat, menjadikan bahasa daerah sebagai mata pelajaran wajib di berbagai jenjang pendidikan, bukan semata-semata hanya mata pelajaran muatan lokal dan juga dimasukkan ke uji UKBD. Jika bahasa Aceh, berarti uji UKBA, yaitu uji kemahiran bahasa Aceh.

Kelima, membentuk jurusan atau jika memungkinkan fakultas di perguruan tinggi yang khusus membidangi bahasa daerah. Lulusan-lulusan dari jurusan ini akan diterjunkan ke sekolah, media massa baik cetak maupun elektronik yang memiliki program atau jam tayang yang menggunakan bahasa daerah sebagai perantara dan tentunya diimbangi dengan insentif yang layak.[]

Ketika Bahasa Punah

Ketika Bahasa Punah

Bahasa mengalami pergeseran jika pemakaian antara bahasa pertama dan bahasa kedua tidak seimbang. Ketika keseimbangan ini tidak ada lagi, dua kemungkinan yang akan muncul. Kemungkinan yang pertama adalah bahasa pertama tetap bertahan, dan kedua adalah bahasa pertama tersingkirkan oleh bahasa kedua. Dari kedua kemungkinan ini, yang mengarah kepada kepunahan adalah kemungkinan kedua.

Bagaimanakah sebuah bahasa dikatakan punah? Apakah ketika sebuah bahasa yang tidak dipakai lagi di seluruh dunia disebut sebagai bahasa yang telah punah ataukah sebuah bahasa yang tidak dipakai lagi dalam sebuah guyup tutur, tetapi masih dipakai oleh sebagian guyup tutur juga disebut dengan bahasa yang punah.

Berkaitan dengan hal ini, Dorian (Sumarsono dan Partana, 2002:284) mengemukakan bahwa kepunahan bahasa hanya dapat dipakai bagi pergeseran total di dalam satu guyup saja dan pergeseran itu terjadi dari satu bahasa ke bahasa yang lain, bukan dari ragam bahasa yang satu ke ragam bahasa yang lain dalam satu bahasa. Artinya, bahasa yang punah tidak tahan terhadap persaingan bahasa yang lain, bukan karena persaingan prestise antarragam bahasa dalam satu bahasa. Berdasarkan penjelasan Dorian ini, dapat disimpulkan bahwa kepunahan bermakna terjadinya pergeseran total dari satu bahasa ke bahasa yang lain dalam satu guyup tutur.

Selanjutnya, Kloss (Sumarsono dan Partana, 2002:286) menyebutkan bahwa ada tiga tipe utama kepunahan bahasa, yaitu (1) kepunahan bahasa tanpa terjadinya pergeseran bahasa, (2) kepunahan bahasa karena pergeseran bahasa, dan (3) kepunahan bahasa nominal melalui metamorfosis.

Tipe pertama yang disebutkan oleh Kloss terjadi karena lenyapnya guyup tutur pemakai suatu bahasa yang disebabkan oleh bencana alam. Dalam sebuah tradisi lisan yang hidup di Vanuata, misalnya, diceritakan bahwa sebuah pulau besar bernama Kuwee terhancurkan oleh letusan gunung berapi Pulau Tonga dan Pulau Sheperd. Sejumlah kecil penduduknya yang tersisa kemudian kembali dari pengungsian menuju ke pulau yang lebih besar, yaitu Pulau Efate. Mereka membawa pula salah satu dialek Efate dan berinteraksi dengan menggunakan dialek tersebut (Kushartanti, dkk. (eds), 2005:186).

Tipe kedua terjadi karena bergesernya pemakaian bahasa pertama. Kasus ini termasuk kasus yang paling banyak terjadi dan tentu saja kepunahan karena pergeseran bahasa ini disebabkan oleh berbagai faktor. Sebut saja misalnya masyarakat Aborijin Australia. Akibat datangnya penduduk baru dari Eropa, beberapa bahasa Aborijin Australia punah. Selain itu, banyak bahasa masyarakat Aborijin punah secara paksa, yaitu dengan adanya tekanan dari pihak pendatang Eropa. Generasi tuanya ditekan untuk memaksa anak-anak mereka menggunakan bahasa Inggris. Dengan kata lain, punahnya beberapa bahasa masyarakat Aborijin disebabkan oleh tidak seimbangnya kontak bahasa, yaitu dominasi kelompok berkuasa yang memberikan tekanan yang sangat kuat terhadap bahasa penduduk yang dikuasainya. Sebagian penduduk Maori, misalnya, karena dijajah oleh orang Eropa, mengganti bahasa ibunya dengan bahasa Inggris, sementara yang masih mempertahankan bahasa Mauri pun fasih berbahasa Inggris (Kushartanti, dkk (eds), 2005:186).

Pakar budaya dan bahasa Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Zainuddin Taha, mengatakan bahwa pada abad ini diperkirakan 50 persen dari 5.000 bahasa di dunia terancam punah, atau setiap dua pekan hilang satu bahasa. Selanjutnya, dikatakan olehnya bahwa kepunahan tersebut bukan karena bahasa itu hilang atau lenyap dari lingkungan peradaban, melainkan para penuturnya meninggalkannya dan bergeser ke penggunaan bahasa lain yang dianggap lebih menguntungkan dari segi ekonomi, sosial, politik, atau psikologis.

Di Indonesia sendiri, katanya, keadaan pergeseran bahasa yang mengarah kepada kepunahan ini semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan keluarga yang tinggal di perkotaan. Pergeseran ini tidak hanya dialami bahasa-bahasa daerah yang jumlah penuturnya sudah sangat kurang (bahasa minor), tetapi juga oleh bahasa yang jumlah penuturnya tergolong besar (bahasa mayor) seperti bahasa Jawa, Bali, Banjar, dan Lampung, termasuk bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan, seperti Bugis, Makassar, Toraja, dan Massenrempulu (http://www.gatra.com/2007-06-01/artikel).

Sumber lain, yaitu Tempo menyebutkan bahwa sebanyak 10 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah, sedangkan puluhan hingga ratusan bahasa daerah lainnya saat ini dalam keadaan terancam punah. Temuan ini didapat dari hasil penelitian para pakar bahasa dari sejumlah perguruan tinggi.

Menurut Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Dendy Sugono, sepuluh bahasa daerah yang telah punah itu berada di Indonesia bagian timur, yakni di Papua sebanyak sembilan bahasa dan di Maluku Utara satu bahasa. Salah satu penyebab lunturnya bahasa daerah adalah fenomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa daerah. Mereka juga enggan menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi keseharian. Asim mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kepunahan bahasa daerah. Pertama, vitalisasi etnolinguistik. Ia mencontohkan bahasa Ibrani yang dulu hampir punah. Namun, karena adanya vitalitas yang tinggi untuk menghidupkan kembali bahasa Ibrani, bahasa tersebut kini menjadi bahasa nasional. Kedua, kata Asim, adalah faktor biaya dan keuntungan. Selama ini kecenderungan orang belajar bahasa adalah karena faktor berapa biaya yang dikeluarkan dan seberapa besar keuntungan yang diperoleh kelak. Ia menyebutkan bahwa orang rela belajar bahasa Inggris dengan biaya mahal karena ada keuntungan yang diperoleh kelak.

Tipe ketiga disebabkan oleh turunnya derajat suatu bahasa menjadi dialek ketika guyup tuturnya tidak lagi menulis dalam bahasa itu dan mulai memakai bahasa lain.[]

Pemertahanan Bahasa

Pemertahanan Bahasa

Pergeseran bahasa terjadi karena perpindahan penduduk, ekonomi, dan sekolah. Akan tetapi, terdapat pula masyarakat yang tetap mempertahankan bahasa pertamanya dalam berinteraksi dengan sesama meskipun mereka adalah masyarakat minoritas.

Berkaitan dengan hal ini, pemertahanan bahasa Cina di Peunayong, Banda Aceh, dapat sama-sama dicermati. Etnis yang sudah ada di Sumatera sejak abad ke-6 ini telah membuktikan bahwa meskipun berposisi sebagai masyarakat minoritas, mereka tetap mampu mempertahankan keberadaan bahasa mereka, yaitu bahasa Cina. Anak-anak mereka mampu berbahasa Cina, padahal peralihan generasi masyarakat ini sudah cukup lama.

Yang perlu digarisbawahi adalah bahasa Cina yang dikuasai oleh masyarakat Cina di Peunayong ini adalah bahasa Haak (barangkali dapat dikatakan dialek). Memang belum ada penelitian lebih lanjut tentang pemertahanan bahasa Cina dialek Haak di Peunayong. Akan tetapi, penulis sempat beberapa kali mengobservasi. Dalam observasi itu penulis sangat sering mendengar anak-anak etnis Tionghoa ini berinteraksi dengan menggunakan bahasa Cina dialek Haak ini. Komunikasi seperti itu juga saya temukan dalam ranah keluarga. Antara ayah dan ibu, orang tua dan anak-anak, mereka sama-sama berinteraksi dengan menggunakan bahasa Cina dialek Haak meskipun tak dapat dipungkiri bahwa banyak masyarakat Cina di Peunayong tidak mampu berbahasa Mandarin.

Yang menarik adalah masyarakat minoritas, sebagian masyarakat etnis Tionghoa ini mampu menguasai bahasa Aceh dengan baik, bahkan dapat dikatakan kefasihan mereka berbahasa Aceh mampu menandingi penutur asli bahasa Aceh sendiri walaupun tak dapat dipungkiri bahwa terdapat pula sebagian masyarakat etnis Tionghoa itu hanya memahami bahasa Aceh, tetapi tidak mampu melafalkannya. Apakah bahasa Cina etnis Tionghoa ini telah mengalami pergeseran? Sejauh ini setahu penulis belum ada yang meneliti. Akan tetapi, dari gejala-gejala yang teramati sekarang, tampaknya bahasa ini belum mengalami pergeseran karena masih digunakan sesuai dengan fungsinya.

Ketika berinteraksi dengan masyarakat etnis Aceh, masyarakat etnis Tionghoa menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Aceh sebagai perantara. Namun, bahasa yang dipakai akan berbeda ketika masyarakat etnis Tionghoa ini berinteraksi dengan sesama mereka. Dalam konteks ini bahasa yang mereka pakai tetap bahasa Cina.

Pemertahanan bahasa Aceh sebagai bahasa pertama juga dapat dikatakan masih baik. Namun, berkaitan dengan pemertahanan bahasa Aceh ini kiranya perlu diberikan batasan antara pemertahan bahasa Aceh di kota dan pemertahanan bahasa Aceh di desa.

Jka dibandingkan dengan di kota, pemertahanan bahasa Aceh di desa jauh lebih baik. Sangat sedikit didapati anak-anak desa yang tidak mampu berbahasa Aceh. Hal ini tentu saja terjadi karena orang tua dalam lingkungan keluarga berinteraksi dengan sang anak menggunakan  bahasa Aceh. Dengan demikian, bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua bagi si anak dan umumnya bahasa ini diperolehnya ketika telah berada di bangku sekolah. Kasus ini akan sangat berbeda dengan kasus yang terjadi di kota. Di kota pemertahanan bahasa Aceh cenderung lebih memudar. Banyak didapati anak-anak di kota tidak mampu berbahasa Aceh, padahal orang tua mereka penutur bahasa Aceh. Faktor penyebabnya seperti tuntutan sekolah. Banyak guru di sekolah perkotaan menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam proses pembelajaran. Hal ini menimbulkan anggapan bagi orang tua bahwa sang anak harus diajarkan bahasa Indonesia. Jika tidak diajarkan, anak dianggap akan terhambat memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Kasus pemertahanan bahasa juga terjadi pada masyarakat Loloan di Bali. Kasus pemertahanan bahasa Melayu Loloan ini disampaikan oleh Sumarsono (Chaer, 2004:147). Menurut Sumarsono, penduduk Desa Loloan yang berjumlah sekitar tiga ribu orang itu tidak menggunakan bahasa Bali, tetapi menggunakan sejenis bahasa Melayu yang disebut bahasa Melayu Loloan sejak abad ke-18 ketika leluhur mereka yang berasal dari Bugis dan Pontianak tiba di tempat itu.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka tetap mempertahankan bahasa Melayu Loloan. Pertama, wilayah pemukiman mereka terkonsentrasi pada satu tempat yang secara geografis agak terpisah dari wilayah pemukiman masyarakat Bali. Kedua, adanya toleransi dari masyarakat mayoritas Bali untuk menggunakan bahasa Melayu Loloan dalam berinteraksi dengan golongan minoritas Loloan meskipun dalam interaksi itu kadang-kadang digunakan juga bahasa Bali. Ketiga, anggota masyarakat Loloan mempunyai sikap keislaman yang tidak akomodatif terhadap masyarakat, budaya, dan bahasa Bali. Pandangan seperti ini dan ditambah dengan terkonsentrasinya masyarakat Loloan ini menyebabkan minimnya interaksi fisik antara masyarakat Loloan minoritas dan masyarakat Bali mayoritas. Akibatnya pula menjadi tidak digunakannya bahasa Bali dalam berinteraksi intrakelompok dalam masyarakat Loloan. Keempat, adanya loyalitas yang tinggi dari masyarakat Melayu Loloan sebagai konsekuensi kedudukan atau status bahasa ini yang menjadi lambang identitas diri masyarakat Loloan yang beragama Islam. Adapun bahasa Bali dianggap sebagai lambang identitas masyarakat Bali yang beragama Hindu. Oleh karena itu, penggunaan bahasa Bali ditolak untuk kegiatan-kegiatan intrakelompok, terutama dalam ranah agama. Kelima, adanya kesinambungan pengalihan bahasa Melayu Loloan dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya.

 

Masyarakat Melayu Loloan ini, selain menggunakan bahasa Melayu Loloan dan bahasa Bali, juga menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia diperlakukan secara berbeda oleh mereka. Dalam anggapan mereka bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada bahasa Bali. Bahasa Indonesia tidak dianggap memiliki konotasi keagamaan tertentu. Ia  bahkan dianggap sebagai milik sendiri dalam kedudukan mereka sebagai rakyat Indonesia. Oleh karena itu, mereka tidak keberatan menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

Pergeseran Bahasa

Pergeseran Bahasa

Saat dilahirkan ke dunia ini, manusia mulai belajar bahasa. Sedikit demi sedikit, bahasa yang dipelajarinya sejak kecil semakin dikuasai sehingga jadilah bahasa pertamanya. Dengan bahasa itu, ia berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya.

Beranjak remaja, ia sudah menguasai dua bahasa atau lebih. Semua itu ia peroleh ketika berinteraksi dengan masyarakat atau ketika di bangku sekolah. Hal ini menyebabkan ia menjadi dwibahasawan atau multibahasawan. Ketika menjadi dwibahasawan atau multibahasawan,  ia dihadapkan pada pertanyaan, yaitu manakah di antara bahasa yang ia kuasai merupakan bahasa yang paling penting? Di saat-saat seperti inilah terjadinya proses pergeseran bahasa, yaitu menempatkan sebuah bahasa menjadi lebih penting di antara bahasa-bahasa yang ia kuasai.

Contohnya, bahasa pertama seorang anak adalah bahasa A. Lalu, di sekolah dia menguasai bahasa B. Lambat laun ia menyadari bahwa bahasa B lebih penting atau membawa manfaat yang sangat besar baginya. Hal ini membuat dia lebih memilih bahasa B daripada bahasa A dalam berinteraksi. Dengan demikian, posisi bahasa A sebagai bahasa yang utama bagi si anak menjadi bergeser sebagai bahasa yang ‘termarginalkan’ atau dinomorduakan. Kasus seperti ini disebut dengan kasus pergeseran bahasa.

Akan tetapi, faktor kedwibahasaan bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya pergeseran bahasa. Faktor lainnya seperti perpindahan penduduk. Hal ini sesuai dengan pernyataan Chaer (2004:142), pergeseran bahasa (language shift) menyangkut masalah penggunaan bahasa oleh seorang penutur atau sekelompok penutur yang bisa terjadi sebagai akibat perpindahan dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur yang lain.

Pergeseran bahasa juga dapat terjadi karena masyarakat yang didatangi jumlahnya sangat kecil dan terpecah-pecah. Dengan kata lain, pergeseran bahasa bukan disebabkan oleh masyarakat yang menempati sebuah wilayah, melainkan oleh pendatang yang mendatangi sebuah wilayah. Kasus seperti ini pernah terjadi di beberapa wilayah kecil di Inggris ketika industri mereka berkembang. Beberapa bahasa kecil yang merupakan bahasa penduduk setempat tergeser oleh bahasa Inggris yang dibawa oleh para buruh industri ke tempat kecil itu.

Kedua, pergeseran bahasa juga disebabkan oleh faktor ekonomi. Salah satu faktor ekonomi itu adalah industrialisasi. Kemajuan ekonomi kadang-kadang mengangkat posisi sebuah bahasa menjadi bahasa yang memiliki nilai ekonomi tinggi (Sumarsono dan Partana, 2002:237). Kasus ini dapat dicermati pada bahasa Inggris. Jauh sebelum bahasa Inggris muncul, bahasa yang pertama sekali dipakai di tingkat internasional adalah bahasa Latin. Bahasa ini menjadi bahasa yang dipilih oleh masyarakat, terutama masyarakat pelajar. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, bahasa Latin kemudian ditinggalkan. Konon katanya bahasa ini ditinggalkan karena terlalu rumitnya struktur bahasa Latin ini. lambat laun orang beralih kepada bahasa Prancis. Bahasa ini memiliki kedudukan layaknya bahasa Latin dulu. Akan tetapi, sebagaimana bahasa Latin, bahasa ini kemudian ditinggalkan orang. Karena semakin maju perekonomian di Inggris yang ditandai oleh adanya revolusi industri, orang kemudian beralih ke bahasa Inggris. Bahasa ini akhirnya menjadi bahasa internasional, mengalahkan bahasa Latin dan bahasa Prancis.

Sekarang orang berbondong-bondong belajar bahasa Inggris. Bahkan demi bahasa Inggris, orang rela meninggalkan bahasa pertamanya. Kedudukan bahasa Inggris ini semakin diperkuat oleh adanya perusahaan-perusahaan, baik swasta maupun negeri yang menjadikan bahasa Inggris sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh para pelamar kerja. Bukan hanya itu. Di tingkat perguruan tinggi saja lulus TOEFL merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti sidang sarjana. Alasannya tentu saja karena Eropa merupakan penguasa ekonomi di dunia ini.

Pergeseran bahasa, menurut Sumarsono dan Partana (2002:237), juga disebabkan oleh sekolah. Sekolah sering juga dituding sebagai faktor penyebab bergesernya bahasa pertama murid karena sekolah biasanya mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak. Hal ini pula yang kadangkala menjadi penyebab bergesernya posisi bahasa daerah. Para orang tua enggan mengajari anaknya bahasa daerah karena mereka berpikir bahwa anaknya akan susah memahami mata pelajaran yang disampaikan oleh gurunya dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, anak tidak mampu berbahasa daerah atau paling tidak anak hanya dapat memahami bahasa daerah tanpa mampu berinteraksi.[]

Berbahasa Jangan Boros

Berbahasa Jangan Boros

Berbahasa, baik secara lisan maupun tulisan, seharusnya mengutamakan kehematan. Tujuannya agar komunikasi lebih efektif. Bila itu dilakukan, tentu saja tidak ada kata yang sia-sia dan terkesan bertele-tele. Begitu pula dari segi pendengar atau penerima pesan, semua yang dia dengar atau baca merupakan kata yang benar-benar diperlukan. Faktanya tak demikian. Sebagian kita banyak memboroskan kata ketika berkomunikasi. Akibatnya, banyak waktu terbuang, begitu pula biaya.

Pemborosan dalam berbahasa sebenarnya juga banyak ragamnya. Namun, dalam tulisan kali ini, saya menspesifikkan pembahasan pada dua hal, yaitu penggunaan kata yang maknanya sama dan kata yang sebenarnya tidak diperlukan. Kata yang bermakna sama maksudnya penggunaan dua kata atau lebih yang memiliki kesamaan arti atau masih memiliki relasi arti yang sama meski bentuknya yang berbeda. Adapun kata yang sebenarnya tidak diperlukan maksudnya adalah kata itu tidak mengganggu kegramatikalan kalimat, tetapi tidak dibutuhkan karena tanpanya kalimat itu masih berterima.

Anda barangkali pernah menggunakan atau mendengar orang memakai kata adalah yang disertai dengan merupakan dalam kalimat, misalnya “Tujuan diutusnya Nabi Muhammad ke dunia adalah merupakan untuk memperbaiki akhlak manusia.” Karena sama-sama dapat dipakai untuk mendefinisikan sesuatu, pemakaian adalah dan merupakan secara berdampingan dapat digolongkan sebagai pemborosan. Seharusnya salah satu kata itu yang harus dipakai, bukan kedua-duanya. Jadi, pada kalimat di atas, kata yang digunakan hanya adalah atau merupakan.

Begitu pula ekskombatan, misalnya. Eks pada kombatan berarti ‘mantan’. Dengan demikian, karena telah bermakna ‘mantan’, tidak tepat alias pemborosan jika kata mantan digunakan lagi mendampingi kata eks, yaitu mantan ekskombatan.

Dalam kasus yang lain, misalnya, pada pemakaian kata bermakna ‘jamak’, misalnya banyak dan para. Pemborosan semakin diperparah dengan pengombinasian kedua kata itu dengan kata ulang yang juga bermakna ‘jamak’. Sebagai contoh, “Banyak para pegawai-pegawai tidak masuk kerja hari ini karena meliburkan diri.” Pada kalimat itu, selain banyak dan para, pegawai-pegawai juga bermakna ‘jamak’ (lebih sari satu). Seharusnya, di antara ketiga kata itu, cukup salah satu saja yang dipilih, boleh banyak, para, atau pegawai-pegawai sehingga menjadi banyak pegawai, para pegawai, atau pegawai-pegawai.

Kata ulang yang bermakna ‘saling’ juga sering disertakan penggunaannya dengan kata ‘saling’, misalnya pada saling pukul-memukul. Bentuk seperti ini sebenarnya masih dapat dihemat lagi dengan menggunakan kata saling atau kata ulangnya saja, pukul-memukul sehingga menjadi saling memukul atau pukul-memukul tanpa menggunakan kata saling. Ini dilakukan karena pukul-memukul memang bermakna ‘saling’ sehingga tak perlu dieksplisitkan kembali kata saling.

Adalah dan merupakan, selain digunakan secara berdampingan, juga sering dipakai dalam kalimat yang sebenarnya tidak membutuhkan kata itu. Bila adalah tidak pakai, keutuhan kalimat masih tetap terjaga. Kata adalah dalam kalimat “Dia adalah orang tua saya”, misalnya, tidak perlu digunakan atau dihilangkan saja karena tanpanya kalimat itu masih tetap benar secara kaidah. Begitu pula dengan kalimat, “Komputer merupakan alat tercanggih di zaman sekarang.” Ini dapat diperhemat dengan menghilangkan kata merupakan.

Kesalahan yang mirip dengan itu dapat pula dilihat dalam kalimat seperti ini, “Guru harus mampu membuat jadi pintar peserta didiknya.” Kalimat ini sebenarnya masih dapat diperhemat lagi dengan menghilangkan kata membuat jadi, lalu melekatkan imbuhan me- pada kata pintar dan menempatkan akhiran –kan setelahnya. Setelah pengubahan seperti yang saya jelaskan itu, kalimat menjadi “Guru harus mampu memintarkan peserta didiknya”.

Ada banyak jenis pemborosan kata lain yang dapat ditemukan dalam berbagai tulisan. Sejatinya, pemborosan itu tidak perlu terjadi agar komunikasi benar-benar efektif. Cermatlah dalam menulis agar kita dapat menghemat kata. Ingat, jangan boros dalam berbahasa![]

Bagaimana Menulis Kata Ambulance dan Photocopy?

Bagaimana Menulis Kata Ambulance dan Photocopy?

Tak ada satu pun bahasa di dunia ini yang memiliki kosakata lengkap untuk menyebutkan sesuatu. Bahasa Inggris, yang katanya merupakan bahasa untuk komunikasi internasional, juga tak luput dari hal itu. Sebut saja kata soldier, misalnya. Jangan anggap kata ini asli dari bahasa Inggris. Sebenarnya kata tersebut diserap dari bahasa Prancis.

Karena alasan tidak memiliki kosakata yang lengkap itulah setiap bahasa di dunia ini menyerap kosakata dari bahasa lain. Ketika penyerapan terjadi, kata yang diserap itu haruslah disesuaikan penulisannya dengan bahasa yang menyerap kosakata itu. Penyerapan itu salah satunya disebabkan oleh penyesuaian pelafalan bahasa sumber dengan bahasa asal.

Umumnya penyesuaian pelafalan itu telah ditetapkan dalam suatu aturan, tak terkecuali bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia aturan itu disebut Pedoman Penulisan Unsur Serapan.

Bahasa Indonesia menyerap cukup banyak kosakata dari bahasa asing, salah satunya bahasa Inggris. Cukup banyak kata bahasa Inggris diserap oleh bahasa Indonesia, seperti ambulance dan photocopy. Kedua kata ini ketika digunakan dalam bahasa Indonesia harus disesuaikan pelafalannya. Penyesuaian ini harus berpedoman pada Pedoman Penulisan Unsur Serapan.

Berdasarkan pedoman itu, ambulance harus ditulis ambulans. Jadi, bukan ambulan seperti yang ditulis oleh sebagian orang selama ini. Kasus yang hampir sama juga terjadi pada kata response. Kata yang juga dari bahasa Inggris ini ketika ditulis dalam bahasa Indonesia haruslah respons, bukan respon.

Photocopy juga harus disesuaikan penulisannya. Kata itu haruslah ditulis fotokopi, bukan photo kopi, photokopy, atau fotocopy. Aturan pengubahannya adalah sebagai berikut. Bila ph di depan vokal o, ph menjadi f, c menjadi k, dan y menjadi i. Ini juga berlaku pada kata-kata bahasa Inggris lainnya seperti phase menjadi fase dan comodity menjadi komoditas. Fotokopi juga tidak ditulis terpisah (foto kopi) karena dari bahasa sumbernya pun tidak mengalami perubahan.

Mari menulis sesuai dengan ejaan yang benar. []

XL Antilelet dan Mahal

XL Antilelet dan Mahal

Judul di atas adalah redaksi kalimat dalam iklan baliho milik operator seluler XL yang saya temui di beberapa jalan di Banda Aceh. Selengkapnya baliho itu berbunyi “XL HANYA DI SINI. RP35.000. ANTI LELET DAN MAHAL”.

Benarkah XL menjual kartu internet yang antilelet dan mahal atau menjual kartu internet yang antilelet dan tidak mahal. Saya sendiri tak tahu maksudnya apa. Yang jelas, pertanyaan seperti itu muncul dari benak saya karena bingung memahami maksudnya.

Perhatikan kembali dengan saksama kalimat di atas. Apa makna antilelet dan mahal? Tak diragukan lagi, kalimat itu memiliki makna seperti lahiriahnya, yaitu kartu yang dijual antilelet dan mahal, bukan antilelet dan tidak mahal.

Lantas, benarkah XL menjual kartu internet yang antilelet dan mahal? Hanya operator seluler itu sendiri yang tahu. Namun, menurut saya di tengah persaingan ketat operator seluler dalam menarik minat masyarakat, tidak mungkin XL menjual kartu internet dengan harga yang mahal di saat banyak operator lain menjual kartunya dengan harga yang murah alias terjangkau.

Begitu pula bila dilihat dari segi nilainya, harga kartu XL yang hanya Rp35 ribu boleh dikatakan sebagai harga yang cukup terjangkau. Ini karena saya melihat ada operator yang menjual kartu internetnya dengan harga yang lebih tinggi dari harga yang ditawarkan XL, padahal kuotanya sama. Lagi pula, bila XL menjual kartunya dengan harga yang mahal, tentu XL tak akan menggunakan kata ‘mahal’. Operator itu mungkin saja akan menggunakan kata lain untuk menarik minat pembeli.

Bila dugaan saya itu benar, berarti kalimat baliho seperti yang tersebut pada judul di atas seharusnya ditulis “XL Antilelet dan AntiMahal”. Kalimat seperti ini sudah pasti bermakna XL yang antilelet dan tidak mahal”. Maksud ini tentu saja berbeda dengan judul di atas yang bermakna “XL antilelet sekaligus mahal”.

Pada perbaikan seperti yang saya sebutkan itu, kata anti ditambahkan sebelum kata mahal. Penambahan ini dilakukan karena tanpa pemakaian anti, kalimat itu bukan bermakna tidak mahal, tetapi justru memang bermakna mahal. Akan tetapi, jika memang benar maksud operator XL mengatakan kartunya mahal, kalimat dalam spanduk itu sudah benar.

Pemakaian kata anti ini sama kasusnya dengan pemakaian kata tidak, misalnya dalam kalimat Mereka tidak paham dan mengerti keadaan politik dewasa ini. Kalimat seperti ini salah secara kaidah bahasa. Kesalahan itu terdapat pada tidak digunakannya kata tidak setelah kata mengerti. Tidak mungkin dan aneh jika ada seseorang yang tidak paham politik dewasa ini tetapi ia mengerti politik dewasa ini. Kita pun tidak mungkin mengatakan Saya tidak senang dan rela pacar diambil orang, bukan? (baca: Bahasa dan Penalaran: Makan Daging Ayam daripada Kambing)[]

Adat Mè Bu

Adat Mè Bu

Adat mè bu hingga kini masih lestari di Aceh. Mè bu, yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘membawa nasi’. Ada banyak jenis mè bu, seperti mè bu bak ureung meuninggai (membawa nasi ke tempat orang meninggal) dan bak ureung meumè.

Adat mè bu bak ureung meumè dikenal dengan istilah keumaw’euh atau meulineun. Keumaw’euh biasanya berlangsung pada bulan keenam hingga ketujuh. Ini dilakukan oleh keluarga lintô kepada istrinya/keluarga istri. Besar kecilnya idang, tergantung pada kemampuan masing-masing. Sebelumnya, yaitu pada bulan ketiga atau keempat kehamilan, pihak keluarga lintô mengantarkan boh kayèe kepada dara barô.

Keumaw’euh merupakan adat Aceh yang sejak dulu hingga kini sangat menonjol, bermakna, dan penting. Di Aceh Besar, misalnya, mè bu adalah seperangkat upacara adat dalam bentuk nasi beserta lauk-pauknya yang dimasukkan dalam reubieng dan talam hidangan dari keluarga suami untuk diantar pada bulan-bulan tertentu kepada istri karena kehamilan.

Di daerah ini biasanya mè bu berlangsung pada saat seorang istri hamil usia 4 s.d. 6 bulan. Puncaknya adalah pada usia kehamilan mencapai bulan ke-7. Apabila kehamilan telah memasuki bulan kedelapan, apalagi bulan ke-9, mè bu itu sulit dilakukan lagi. Kedua keluarga, baik keluarga suami maupun keluarga istri akan menanggung malu aib. Dalam pandangan masyarakat, bila adat mè bu tidak dilakukan, yang bersangkutan akan terkena sanksi adat.

Yang dibawa saat mè bu adalah nasi dan lauk pauk yang pada umumnya terdiri dari nasi biasa, ayam panggang/gulai ayam, daging, gulai ikan, kuah lapik, dan lain-lain. Orang kaya biasanya membawa sampai tujuh hidangan, kadang-kadang lebih. Namun, hal itu berlaku bagi semua keluarga walaupun hidangan sederhana.

Salah satu peralatan yang dipakai dalam tradisi mè bu adalah rubieng, suatu tempat seperti baku nasi yang luasnya dapat menampung antara 5-10 bambu beras yang telah dimasak menjadi nasi. Rubieng ini semacam glông yang dipakai pada/atas talam atau dapeusi.

Rubieng biasanya dibuat dari kulit bambu atau dari batang lidi yang sering digunakan untuk alat peunyeukat, terutama padi atau nasi sebagaimana di Kampung Daroy Jeumpet, Kecamatan Darul Imarah. Talam dan dapeusi adalah alat semacam baki, tetapi bentuknya bundar , ada yang terbuat dari tembaga, ada yang dari seng plat. Talam lebih besar, sedangkan dapeusi lebih kecil.

Salah satu gulai yang dibawa dalam kegiatan mè bu, seperti yang disebut di atas, adalah kuah lapik. Kuah lapik merupakan jenis kuah dari ikan tongkol yang di dalamnya juga ada lapisan buah-buahan yang sudah dipotong-potong seperti terdapat di Kampung Pande, Banda Aceh. Ada juga kuah lapik yang dimasak dari ikan tongkol bercampur nangka muda, nenas muda, dan biasanya bumbunya tanpa kunyit seperti terdapat di Kampung Daroy Jeumpet, Kecamatan Darul Imarah.

Mè bu dilaksanakan oleh sejumlah kaum ibu dari keluarga suami yang dipimpin oleh istri geuchik, istri teungku, para ibu lainnya, serta para tokoh yang dianggap tepat atau patut di kampung itu. Kegiatan itu dilakukan sekitar pukul 11.00 WIB ke atas. Banyak sedikitnya para pengantar tergantung pada kemampuan dan besarnya hidangan. Hidangan me bu yang tiba di rumah menantu berupa bungkusan nasi khusus beserta lauk pauknya yang diistimewakan untuk menantu (meulintèe).

Di Kampung Lambaro Angan, Darussalam, Aceh Besar nasi bungkus itu disebut bu meulineum. Ada juga nasi khusus dengan kue-kue khas Aceh (12 macam) sebagaimana berlaku di Kampung Cot Geundreut Meulayoe, Kuta Baro, Aceh Besar. Selanjutnya, semua perangkat hidangan yang telah sampai di rumah meulintèe akan dibuka dan disajikan upacara kenduri pada waktu tertentu dengan turut mengundang seluruh keluarga beserta keuchik, teungku, serta tetangga terdekat dan tokoh-tokoh lain yang patut.

Sebelum kegiatan mè bu dilakukan, ada yang unik oleh masyarakat Kampung Lam Pakuk Gleeyeung, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, yaitu membuat bu cue dari pihak keluarga suami sebagai tanda pemberitahuan awal bahwa menantu telah hamil. Namun, sebelum bu cue diantarkan, terlebih dahulu kira-kira pada waktu anak perempuan hamil lima bulan, ibunya (ma dara barô) memandikan anaknya. Pada saat itu ibunya membuat nasi ketan sekadarnya dan mengantarkan ke rumah keluarga suami (ma lintô). Penyampaian nasi ketan ini merupakan tanda (pemberitahuan) bahwa anaknya (menantu) telah hamil.

Apabila nasi ketan ini telah diterima, pihak keluarga suami (lintô) mempersiapkan bu cue. Bu cue adalah seperangkat nasi beserta lauk-pauknya sekadar satu rantang beserta seperangkat seunicah (rujak) yang diantarkan secara diam-diam (rahasia) ke rumah menantunya yang hamil sebelum acara mè bu dilakukan.

Pada saat diantarkan bu cue oleh keluarga suami, pihak istri dan seiisi rumahnya tidak mengetahui sama sekali sehingga mengagetkan mereka. Pada saat itu, ibu si istri mengatakan pada anaknya yang hamil, “Hai, hai mak tuan ka trôk.” Setelah bu cue dilaksanakan, barulah beberapa bulan kemudian acara mè bu  dilaksanakan secara resmi. Di Kampung Daroy Jeumpet, Darul Imarah, Aceh Besar, mè bu lebih populer dengan sebutan mè bu kude. Kude ini hampir sama dengan reubing.

Di Aceh Barat Daya, terutama Blangpidie, mèe bu atau lebih dikenal dengan keumaw’euh bukan hanya dilakukan oleh pihak keluarga, tetapi juga oleh tetangga sekitar.

Tujuan utama upacara mè bu adalah sebagai pernyataan kepada umum bahwa janin yang dikandung oleh dara barô adalah benar-benar asli dan sah menurut adat dan syarak sebagai bagian dalam keluarga/kerabat. Sikap pernyataan itu merupakan kebutuhan rohani/moril sang istri dalam upaya memenuhi kegembiraan dan kebahagiaan.

Sebenarnya, bukan hanya mè bu yang dilakukan ketika istri sedang hamil. Ada pula adat jak intat boh kayèe ‘mengantar buah-buahan’, puwoe eungkӧt tirom, bieng, udeung, eungkӧt meuaweuh, dan buah-buahan untuk seunicah.

Selain itu, selama masa kehamilan, ada pula pantangan/tabu yang tidak boleh dilanggar oleh suami dan istri seperti tidak boleh pulang tengah malam dan peunangkai keu pageu tubôh (Badruzzaman Ismail, 2002:157-160).[]

*Sumber bacaan: “Budaya Aceh” oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, 2009.

Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Upacara Perkawinan

Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Upacara Perkawinan

Tak hanya dalam bentuk peusijuek, perilaku adat masyarakat Aceh juga ada dalam bentuk upacara perkawinan. Sebagaimana peusijuek, tradisi dalam upacara perkawinan telah berlangsung secara turun-temurun. Tradisi itu merupakan suatu tatanan dan mekanisme yang harus dilalui seseorang dalam proses membangun rumah tangga sejak pencarian jodoh, pernikahan, dan duduk pada acara pelaminan.

Seseorang yang hendak menikah, terlebih dahulu melakukan cah rӧt. Istilah ini identik dengan ‘merintis jalan’ dalam bahasa Indonesia. Kegiatan ini dilakukan secara rahasia oleh seseorang yang dipercaya dengan melakukan pendekatan/pembicaraan pada kedua belah pihak keluarga (pihak laki-laki dan pihak keluarga perempuan) sampai mendapat kata sepakat atau tidak.

Setelah cah rӧt, kegiatan dilanjutkan dengan meulakèe dan seulangké. Ini dilakukan bila pengurusan cah rӧt berhasil. Meulakèe dapat diartikan dengan ‘meminang’. Meulakèe dilakukan secara terbuka melalui seulangké disertai beberapa orang tua. geuchik, dan teungku meunasah/imuem meunasah. Ini ditempuh melalui suatu upacara kecil yang disebut dengan ba ranup kong haba. Seulangké adalah pembicaraan resmi tentang pertunangan dengan menyelesaikan berbagai prosedur dan ketentuan yang berlaku dan dijanjikan. Tugas seulangké kadang-kadang sekaligus merangkap sebagai pelaku cah rӧt, atau kadang-kadang terpisah.

Seulangké kadang-kadang juga sekaligus melaksanakan ba ranup. Kadang-kadang tugas ba ranup dengan tugas awal seulangké juga ada yang terpisah, dan bahkan banyak tugas seulangké sekaligus dengan ba ranup kong haba.

Pada upacara ba ranup, kedua belah pihak memutuskan secara musyawarah tentang jeunamèe (mas kawin), waktu yang baik untuk meugatip (menikah), waktu yang baik untuk peuduek sandéng (peresmian), dan hal-hal lain yang berkaitan dengan perhelatan perkawinan.

Setelah selesai meulakèe dan seulangké, dan semua keputusan dalam kegiatan seulangké telah dilaksanakan, dilaksanakanlah meugatip (menikah). Ini merupakan acara yang sangat sakral/suci sejalan dengan ketentuan sunah Rasul yang bernilai ibadah.

Kegiatan meugatip lantas dilanjutkan dengan peresmian perkawinan/walimatul ursyi. Peresmian perkawinan dilaksanakan pada hari yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Biasanya dipilih hari dan bulan yang baik menurut kebiasaan adat setempat. Bagi masyarakat umum biasanya dipilih waktu setelah panen padi. Ada pula sebagian masyarakat yang memilih hari dan bulan pernikahan setelah bulan Haji sehingga di daerah itu tidak satu pun didapati menikah di bulan Haji. Ini karena adanya keyakinan masyarakat bahwa menikah di bulan itu dapat membuat usia pernikahan tidak berlangsung lama. Itulah sebabnya, dalam penentuan bulan pernikahan, bulan Haji disebut bulan panas.

Tahap prosesi dalam peresmian pernikahan meliputi masa persiapan, hari pelaksanaan, dan selesai peresmian. Berkaitan dengan persiapan, pihak dara barô melakukan berbagai persiapan rumah tangga, acara kenduri, bôh gaca, manoe pucôk bagi dara barô. Adapun pihak lintô barô mempersiapkan peuneuwoe lintô, acara intat lintô, dan acara kenduri sekaligus dengan acara tueng dara baro. Kenduri perkawinan, baik bagi pihak lintô maupun dara barô berlangsung pada hari yang sama. Di daerah tertentu intat lintô dilakukan pada malam hari. Namun, biasanya ini dilakukan jika tempat lintô berdomisili tidak terlalu jauh dengan tempat domisili dara barô. Acara tueng dara barô dilakukan beberapa hari kemudian dan biasanya urusan kaum perempuan saja.

*Sumber bacaan: “Budaya Aceh” oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, 2009.

Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Peusijuek

Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Peusijuek

Aceh kaya akan tradisi. Kekayaan ini telah dimiliki sejak dulu dan masih dilestarikan hingga kini. Tradisi yang juga merupakan warisan indatu itu bermakna amat simbolis untuk mendukung kegairahan hidup dan silaturahmi masyarakat Aceh. Salah satu tradisi yang dimaksud adalah peusijuek.

Menurut R.A. Hoesein Djajaningrat, peusijuek bermakna ‘sejuk, menyejukkan (transit), memperkenalkan sejuk, menyegarkan (figuratif), tenang, menyenangkan, berkesan, berlibur yang semuanya dilambangkan dalam percikan air tepung tawar melalui kuas tangkai dan daunan berkhasiat daun siseujuk, manek manoe, pineung, sikeumeu, mayang, tuba, dan naleung sambo.

Peusijeuk selalu diiringi dengan bacaan doa sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah swt. tentang apa yang telah dialami dengan harapan dapat memberi dorongan dan semangat kembali untuk mencapai sesuatu yang lebih di bawah rida Ilahi.

Peusijuek memiliki tradisi yang berurutan. Pertama, peusijuek dilakukan dengan menaburkan breuh sambô (beras padi), kedua, menaburkan air tepung tawar, ketiga, menyunting bu leukat (nasi ketan) pada telinga sebelah kanan, dan keempat melakukan teumeutuk, yaitu pemberian uang alakadarnya kepada orang yang di-peusijuk (baca juga tulisan teumuntuk).

Peusijuek menggunakan berbagai kelengkapan, yaitu dalông/talam satu buah, breuh pas satu mangkok, buleukat satu dapeusi/talam kecil/piring besar, bersama dengan tumpoe/kelapa merah/daging ayam panggang, teupông taweu ngon ie (air), ôn sisijuek, ôn manèk manoe, ôn naleung sambô, glok ie tempat cuci tangan, dan sang (tudung saji) penutupan. Kadang-kadang ada tambahan perlengkapan lain, seperti puréh, gapu, ranup, sikin (pisau) pada peusijuek sunat Rasul.

Peusijuek telah membudaya dalam berbagai kegiatan yang bersifat mendorong kegairahan pembinaan kehidupan dalam masyarakat Aceh, seperti peusijuek pada acara pernikahan, upacara memasuki rumah baru, upacara hendak merantau atau pulang dari merantau, berangkat naik atau pulang haji, kurban (keureubeun), peusijuek perempuan yang diceraikan suami, peusijuek orang terkejut dari sesuatu yang luar biasa, perkelahian, permusuhan sehingga didamaikan.

Peusijuek juga banyak dilakukan oleh anggota masyarakat terhadap seseorang yang memperoleh keberuntungan, misalnya berhasil lulus sarjana, memperoleh kedudukan tinggi dalam pemerintahan dan masyarakat, memperoleh penghargaan anugerah bintang penghargaan tertinggi, dan peusijuek kendaraan baru.

Peusijuek dapat dikatakan sebagai simbol kompensasi yang bertujuan memperoleh kedamaian, memperkokoh silaturahmi antarsesama, memantapkan rasa syukur melalui doa kepada Allah swt. Tradisi ini juga dapat memberikan rasa khidmat dan kekaguman bila ditilik dari konteks pariwisata spiritual. Oleh karena itu, peusijuek perlu selalu dipelihara dan diluruskan sehingga sejalan dengan kebersihan, ketauhidan/akidah, bahwa kedamaian dan kesyukuran yang didambakan tetap bersumber dari Allah swt., tidak perlu ditafsirkan atau berorientasi pada orang lain (Badruzzaman, 2002:160-162).

Upacara peusijuek yang masih populer dalam masyarakat Aceh di antaranya adalah (1) peusijuek peutrӧn lintô dari rumahnya untuk diantarkan ke rumah dara barô, (2) terima/teurimong lintô, (3) seumanoe dara barô, (4) uroe meuandam (koh andam), (5) meusandéng lintô-dara barô, (6) sunat Rasul, (7) penyelesaian sengketa/perkelahian/permusuhan, (8) padé bijéh, (9) tempat tinggal (rumoh barô), (10) buka lampôh, (11) peuwoe seumangat/lepas dari bahaya/bencana, (12) keberuntungan, (13) jak meurantoe/woe bak rantoe, (14) keureubeuen, (15) keberhasilan/prestasi.[]

*Sumber bacaan: “Budaya Aceh” oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, 2009.