Author: RISMAN A RACHMAN

Dari Aceh Munir Tetap Ada

Dari Aceh Munir Tetap Ada

BANDA ACEH – Baliho berukuran 3 x 3,5 meter itu dibentang di bundaran Simpang lima Banda Aceh, Senin, 7 September 2015. Beberapa orang memegangnya agar tidak rubuh dihempas angin. Baliho itu berisi foto wajah hitam putih Munir Said Thalib. Di dalamnya tertera pesan “Dari Aceh Munir Tetap Ada dan Berlipat Ganda.”

Para aktivis yang setia mengingat Munir ini dengan dengan susah payah menyiapkan alat peraga kampanye. Jumlahnya tidak banyak. Beberapa wartawan mengabadikan kerja penyiapan baliho yang dibuat meninggi, bukan panjang melebar.

Saat baliho diarak ke tugu Simpang Lima juga terlihat tidak mudah. Agar tidak jatuh, beberapa kayu penyangga dibuat dan dipaku.

7 September 2004. Itulah tanggal Munir “dibungkam untuk selamanya.” Satu tahun sebelum Aceh mengakhiri periode konflik panjang. Atau, hanya beberapa bulan sebelum Aceh dilanda gempa yang disusul tsunami.

Seorang penulis, Jodhy Yudono, menulis, “Di atas langit Rumania, atau dua jam sebelum mendarat di Bandara Schipol Amsterdam, Munir menghembuskan nafas terakhir, setelah berjam-jam lamanya dalam penerbangan tersebut dia buang-buang air. Hanya beralaskan selimut di lantai pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam, Munir menemui takdirnya, meninggal di negeri jauh, tanpa didampingi keluarga dan orang-orang terdekatnya.”

Munir Said Thalib adalah sosok yang paling vokal dalam menyingkap kasus-kasus pelanggaran HAM di periode konflik Aceh. Munir juga yang menjadi tumpuan bagi banyak kalangan aktivis di Aceh untuk menyuarakan pelanggaran HAM di Aceh di tingkat nasional. Munir menjadi teman akrab bagi banyak aktivis Aceh kala berada di Jakarta usai status Darurat Militer ditetapkan. Bahkan, berkat dukungan Munir itulah berbagai lembaga advokasi di Jakarta melirik dan akhirnya bersolidaritas kuat untuk ragam isu di Aceh, hingga Aceh mendekap damai, 15 Agustus 2005.

Melalui TOA yang kerap macet, tiga tuntutan dibaca dan disampaikan oleh beberapa aktivis di Aceh ini. Pertama, mendesak Jokowi-Jk segera menuntaskan kasus pembunuhan Munir dan mengungkap aktor intelektualnya.

Kedua, mereka mendesak Jokowi-Jk mencabut surat klarifikasi terkait Qanun No. 17/2013 tentang KKR serta memerintahkan Pemerintah Aceh agar segera menjalankan Qanun KKR. Ketiga, meminta pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu di Indonesia dengan membentuk UU KKR.

Orasi yang disampaikan Taufiqurrahman dari LBH Banda Aceh itu kemudian diikuti oleh beberapa orang. Ada Bardan Saidi dan Kautsar dari parlemen Aceh. Ada Asiah dari aktivis politik, Hendra Saputra dari KontraS Aceh, dan lainnya. Di akhir orasi, merekapun berdiri berfoto untuk mengabarkan kepada dunia, bahwa di Aceh masih ada “Munir-Munir” yang tidak lelah dan tidak menyerah menyuarakan pelanggaran HAM. Dan bila belum tuntas kasus Munir maka itu maknanya pembungkaman atas rakyat oleh aparatur negara, masih sangat mungkin terus terjadi. [](bna)

Abang Becak Ini Jadikan Tidak Merokok Sebagai Syarat Menikahi Putrinya

Abang Becak Ini Jadikan Tidak Merokok Sebagai Syarat Menikahi Putrinya

NAMANYA Saiful dan umurnya 51 tahun. Ayah lima anak ini saya sambangi ketika sedang duduk di becaknya di depan Masjid Jamik Al Ittihadiyah,  Seulimum, Kabupaten Aceh Besar.

“Hana narek, bang?”

“Hana, preh magreb mantong. Pane na lom peunumpang.”

Lalu, saya ambil sebatang rokok dan membakarnya. “Merokok bang?”

Dengan halus si abang becak asal Aceh Selatan itu menolak dengan sopan. “Saya tidak merokok,” katanya dengan suara santun.

Sebagai rasa hormat, saya lalu membuang rokok yang baru saya bakar. Saya minta permisi untuk duduk di becaknya.

Kamipun mengobrol seputar rokok dengan akrab. Dan, diapun dengan lancar berkisah bahwa ia memang tidak merokok sejak kecil.

“Di rumah saya bebas asap rokok. Anak lelaki saya juga tidak merokok,” katanya.

Sambil makan rambutan yang dibeli rekan saya, kamipun mengobrol lagi. Juga tentang rokok. Ayah lima anak inipun kembali berkisah.

“Anak perempuan saya saat dilamar dulu juga saya tanya dua hal kepada calon lintonya. Na meurukok, na seumbahyang? Kalau hana meurukok dan na seumbahyang, jeut keu lako aneuk dara loen.”

Bagi ayah yang memiliki becak mesin sendiri ini tidak terlalu penting apakah calon linto anak daranya sudah punya kerja atau belum.

Yang penteng jih ie tem keureuja. Kon karena beuoe,” katanya lagi.

Ia pun berkisah bahwa rezeki itu kuncinya mau berusaha atau dalam bahasanya, tem keumireuh. “Aneuk manok mantong diteume reuzeuki asai ditem keumireuh.”

Menurutnya, hanya orang malas alias beuoe saja yang tidak mendapat rezeki. “Keu rukok na, masak keu pu laen hana ek dipeuna.”

Suara azan magreb pun tiba, dan kami pun berpisah dengan Abang Becak Saiful yang tinggal di Seuneubok, Seulimum, Aceh Besar.

Ternyata, Aceh tidak cuma menyimpan kisah heroik konflik. Aceh juga menyimpan kisah inspirasi. Dan inspirasi tidak harus identik dengan orang kaya, dan orang kaya tidak selalu bermakna mereka yang kaya harta, kaya jiwa adalah juga kaya. Dan itu terlihat pada Abang Becak di Seulimum, Bang Saiful. []

Abu Tu Min: Demonstrasi Tak Selesaikan Perkara Ibadah

Abu Tu Min: Demonstrasi Tak Selesaikan Perkara Ibadah

BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Zaini Abdullah dan ulama Karismatik Aceh, Tgk H. Muhammad Amin Mahmud, atau yang kerap disapa Tu Min Blang Bladeh, berpendapat, pengerahan massa tidak menyelesaikan perbedaan pendapat dalam Islam.

Abu Tu Min meminta Umat Islam, khusus rakyat Aceh, agar tidak meniru politik orientalis yang memanfaatkan kekuatan massa dalam penyelesaian persoalannya.

Menurutnya, perbedaan bagi ummat Islam menjadi ibadah kepada Allah jika diselesaikan melalui musyawarah para alim-ulama.

“Gerakan massa atau demonstrasi tidak sejalan dengan misi damai dan agama,” kata Abu Tu Min yang didampingi Staf Khususnya, Waled Marhaban Bakongan.

Hal tersebut dikemukaan Abu Tu Min Blang Bladeh dalam diskusi bersama Gubernur Aceh Zaini Abdullah di Meuligoe Aceh, Banda Aceh, Sabtu 5 September 2015. Hadir antara lain Wakil Ketua DPR Aceh Sulaiman Abda, Kadis Syariat Islam Prof Syahrizal Abbas, Kepala BPPD Aceh Dr H Bustami Usman dan sejumlah SKPA terkait.

Pada kesempatan itu, Abu Tu Min memberikan apresiasi kepada Gubernur Aceh, yang telah membangun jalan tembus,  dan membebaskan Buloh Seuma dari isolasi. Abu Tu Min juga meminta agar daerah yang masih terisolir juga dibuka jalan tembusnya.

“Jalan yang sudah ada ditingkatkan kualitasnya, seperti jalan Geumpang-Meulaboh,” pintanya lebih lanjut.

Dalam pertemuan tersebut, Doto Zaini membahas sejumlah hal penting terkait perkembangan kehidupan masyarakat Aceh, termasuk pembangunan infrastruktur, pembangunan daerah terisolir dan upaya peningkatan ekonomi rakyat Aceh masa kini dan masa mendatang.

Di antara hal yang mendapat perhatian serius Abu Tu Min dan Gubernur adalah terkait isu akan ada demonstrasi dan pengerahan massa/santri dayah Aceh, tentang tata laksana ibadah di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Terhadap isu tersebut, Abu Tu Min mengatakan, pengerahan massa seperti itu bertentangan dengan politik, mengganggu kedamaian dan keamanan yang telah dirasakan masyarakat Aceh “Dan  ini jelas-jelas tidak sejalan dengan agama. Dalam sejarah, demo seperti ini tidak pernah berhasil dan membawa dampak tidak baik bagi kehidupan umat Islam,” terangnya.

“Apa yang telah dipraktekan selama ini di Masjid Raya telah sesuai dengan kesepakatan yang ada,” tegas Tgk H Muhammad Amin lagi.

Lebih lanjut Abu Tu Min meminta masyarakat untuk bersabar dan menciptakan kedamaian, tidak mengganggu stabilitas sosial kemasyarakatan, dan diminta  menunggu Muzakarah Ulama Aceh, yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Muzakarah tersebut akan melibatkan seluruh Ulama Aceh, cendekiawan, tokoh masyarakat dan tokoh ormas Islam.

Abu Tu Min juga berharap pada Gubernur untuk tidak memberikan peluang dan kesempatan kepada siapa pun untuk “Plah  Aceh” (Pemekaran provinsi). Menurut Abu Tu Min, tindakan tersebut akan memecah belah masyarakat Aceh.

Abu Tu Min mengharapkan semua rakyat Aceh untuk berlaku santun, tidak memaksakan kehendak, dan tidak bertindak anarkhis, dalam menyikapi suatu ide atau pendapat yang bereda. Demikian rilis dari Biro Humas Setda Aceh. []

“Jika Dayah Kuat, Maka Aceh Akan Kuat”

“Jika Dayah Kuat, Maka Aceh Akan Kuat”

“Hormattttt, grak!”

Langkah-langkah teratur, tegap, rapi, dengan sudut hormat yang terukur melewati podium utama Apel Tahunan 2015 Pesantren Oemar Diyan, Indrapuri, Aceh Besar, Minggu 6 September 2015.

Di podium utama tampak Gubernur Aceh, Zaini Abdullah yang didampingi Wakil Ketua DPR Aceh, Sulaiman Abda, Kepala BPPD Bustami Usman dan Kepala Kantor Kementerian Agama. Tentu saja ada Pimpinan Pesantren Oemar Diyan, ustad Fakhruddin Lahmuddin.

Usai memberi hormat, para santri yang dibagi dalam puluhan barisan mengambil tempat. Mereka semua membentuk barisan berbentuk U, menghadap podium.

Selain santri yang tampil dengan pakaian putih dipadu biru, pakaian putih-putih bagi penggerek bendera, dan pakaian adat, juga tampak keluarga atau wali santri.

Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, sambutannya mengatakan pesantren atau dayah tidak bisa dipisahkan dalam sistem pendidikan Aceh. Pesantren atau dayah sendiri, di Aceh adalah simbol pengembangan Islam.

Saat ini, menurut gubernur, ada seribuan dayah atau pesantren di Aceh, dengan jumlah santri puluhan ribu. Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan merupakan salah satu pesantren yang sudah menghasilkan santri-santri berkualitas.

Alumni Oemar Diyan telah banyak melanjutkan pendidikan S1, S2 dan S3 di berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah, Eropa, Amerika, juga di Australia.

Hal itu, menurut Gubernur Aceh, membuktikan pendidikan pesantren memiliki keunggulan dalam ilmi pengetahuan umum sekaligus unggul dalam bidang agama.

“Pemerintah Aceh tetap dan akan membantu khususnya melalui Badan Pembinaan dan Pendidikan Dayah,” kata Gubernur Aceh.

Gubernur juga menyampaikan bentuk dukungan lain yaitu melalui bantuan beasiswa luar negeri yang dikelola LPSDM.

“Peluang ini terbuka bagi alumni pesantren,” kata Gubernur Aceh.

Pesantren modern Tgk. Chirk Oemar Diyan merupakan pesantren terpadu, bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Islam Tgk. Chiek Oemar Diyan. Pesantren ini  diresmikan 27 Oktober 1990.

Saat ini, ada 981 santri yang diasuh oleh 102 guru dari alumni pesantren, UIN Ar Raniry dan juga alumni Al Azhar Mesir dan Universitas Malaysia.

Sulaiman Abda mengajak semua pihak untuk terus membantu keberadaan dayah atau pesantren. Menurutnya, masa depan Aceh akan sangat ditentukan oleh kemajuan dayah atau pesantren.

“Jika dayah atau pesantren kuat maka Aceh akan kuat, dan sebaliknya,” tegas Sulaiman Abda.

Kepala BPPD Aceh, Bustami Usman berjanji akan terus memaksimalkan dukungan Pemerintah Aceh terhadap dayah atau pesantren.

“Saya juga mengajak semua kalangan juga memberi perhatian dan dukungan kepada dayah atau pesantren,” ajak Bustami Usman. [] (MAL)

 

Syech Prang: Anak Muda Aceh Bek Peuhabeh Batre Ngon Politik

Syech Prang: Anak Muda Aceh Bek Peuhabeh Batre Ngon Politik

PERDAMAIAN Aceh sudah sepuluh tahun. Usia reformasi bahkan lebih lama lagi. Mestinya, politik menjadi sesuatu yang menarik. Bukan hanya diperbincangan. Tapi juga di aksi. Bukankah politik adalah kunci bagi meraih perubahan yang dicita-citakan?!
Sayangnya, sepak terjang politik selama ini belum menjadi magnit bagi kaum muda. Setidaknya, itu dialami oleh Kamaruzzaman Abdullah, kolektor buku yang dipanggil Syech Prang yang berdomisili di Lhokseumawe.
Bagi lelaki yang aktif mengumpulkan dan kini telah memiliki lebih kurang seribu koleksi buku lawas ini pengalaman politik di belakang yang dipenuhi janji karet penguasalah yang menjadikan Pilkada 2017 kurang menarik untuk dipikirkan.
Peuhabeh batree mantong diskusi politik saat ini,” kata lelaki yang terinspirasi dengan tokoh Ali Hasymi.
Ali Hasjmy menghibahkan lima belas ribu jilid buku, sejumlah besar dokumen-dokumen, naskah- naskah kuno, benda-benda bersejarah, album- album foto dan berbagai koleksi pribadi lainnya yang bernilai sejarah. Dan pada tanggal 15 Januari 1991, rumah itu diresmikan oleh Prof. Dr. Emil Salim, Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, pada 1991, meresmikan rumah tempat tinggal Ali Hasymi di Jalan Jenderal Sudirman 20 Banda Aceh, sebagai Perpustakaan dan Museum Yayasan Ali Hasjmy.
Bagi Syech Prang, ia lebih tertarik untuk menekuti bisnis buku lawas ketimbang larut dalam aksi politik kekinian. Selain karena alasan menyalurkan hobi membaca, ternyata buku lawas juga menjadi ladang bisnis yang memberi penghasilan lumayan. Menurutnya, harga buku lawas, semakin mundur tahun terbitnya bukan semakin murah, tapi semakin mahal. Meski makin mahal tetap aja ada yang beli.
“Ini jalur kerja alternatif yang memberi penghasilan lumayan ketimbang menjadi PNS dan karyawan. Kendali ada di tangan kita,” kata peminat buku sejarah dan sastra ini.
Kendali yang dimaksudnya adalah keseriusan dalam menjalankan usaha, termasuk serius dalam menggunakan media-media sosial agar orang-orang selalu mendapati informasi.
“Awal-awalnya memang tidak mudah. Sekarang alhamdulillah, setiap hari ada saja yang memesan buku. Bahkan sudah ada pelanggan tetap. Mereka umumnya para kolektor buku juga. Tapi, sedikit sekali dari mahasiswa,” kata ayah dua anak yang dulu punya hasrat untuk kuliah di bagian sejarah.
Bagi Syech Prang, Aceh sangat butuh perubahan. Tapi, tidak mesti yang muluk-muluk. Misalnya Aceh harus menjadi seperti Brunai Darussalam atau seperti Hongkong. Meski begitu, menurutnya Pemerintah Aceh perlu  memberdayakan anak-anak muda untuk mandiri, dan menjalankan usaha secara kreatif.
Menurutnya, di Aceh juga ada sosok-sosok muda yang aktif dan kreatif yang bisa dijadikan contoh. Termasuk dari kalangan kombatan.
“Salah satunya Tgk. Jamaika. Dia ini kalau di Jepang, Masanobu Fukuoka yang terkenal dengan “Revolusi Sebatang Jerami,” kata penyuka kopi dan sie kameng ini.
Masanobu Fukuoka adalah petani Jepang yang meninggal Agustus 2008, usianya mencapai 95 tahun.  Tahun 1988 dia mendapatkan dua anugerah sekaligus, Magsaysay dari Filipina dan Deshikottam dari India. Tahun 1997 Fukuoka mendapat “Penghargaan Dewan Bumi” (Earth Council Award), kehormatan yang biasanya diberikan pada politisi, pebisnis, sarjana, pegiat NGO karena jasa-jasanya pada pembangunan berkelanjutan.
Syech Prang menambahkan, orang seperti Tgk. Jamaica bisa menjadi pendorong. Di saat mantan kombatan lainnya memilih bersandar di bahu penguasa, tapi Tgk. Jamaica atau yang lainnya memilih melakukan gebrakan yang bagus, menjadi petani modern.
“Tgk. Jamaica itu Masanobu Fukuoka-nya Aceh, tentu dengan metode berbeda,” kata lelaki kelahiran Pidie itu.
Meski begitu, sama seperti negara-negara lain yang berhasil memajukan dirinya, Aceh juga perlu memiliki bahkan menerapkan tata nilai kejujuran, bertanggungjawab, tepat waktu, senang pada kebersihan, dan menyukai alam yang asri serta betolak pada kerangka kemanusiaan.
“Aceh kan daerah Islam. Tata nilai itu semua sudah ada dan harusnya diterapkan,” kata penyuka buku Hamka, Natsir dan Iqbal menutup perbincangan jarak jauh.[]
“Aceh is Dead”

“Aceh is Dead”

BANDA ACEH – Mungkin, belum ada orang Aceh yang seberani tokoh yang banyak dirujuk Hasan Tiro, Friedrich Nietzsche, untuk mengatakan “Aceh is Dead.” Tapi, ragam ungkapan kekecewaan atas fakta 10 tahun perjalanan Aceh pascadamai cukup sudah menjadi bukti betapa kekecewaan rakyat sudah berada di ubun-ubun.

Hanya saja daya khitmad orang-orang terhadap perdamaian membuat bola mata orang-orang untuk terus melek pada setiap cahaya terang.

“Kita tidak mau kembali lagi ke zaman konflik. Tidak!” tegas Muhammad Amin di warung kopi Sada.

Menurut penjual tiket pesawat itu kita juga mesti memiliki solusi yang tepat untuk keluar dari kenyataan saat ini. Muhammad Amin, yang kini aktif di Partai Aceh ini turut mengajak semua pihak, baik pusat dan pemerintah, juga rakyat untuk bangkit meramu solusi yang tepat, murah, cepat dan terbuka.

“Kita di Aceh butuh orang-orang berani di jalur kerja mandiri, wiraswasta. Orang-orang yang berani menggarap lahan sawah, ternak, laut dan dagang,” kata ayah dari satu putri ini.

Amin juga mengajak semua untuk berani melakukan revolusi mental yang berbasis pada kekuatan akhlak. Menurutnya tantangan Aceh sekarang bukan pada mereka yang kerap salah.

“Salah itu manusiawi. Masih bisa diperbaiki. Orang jahatlah yang menjadi duri bagi meraih masa depan Aceh,” kata Amin.

Untuk itu, Amin mengajak untuk terus memperbaiki sistem tata kelola Aceh. Pada saat yang sama, dia juga menjaga para pihak agar antara sistem dan sosok saling melengkapi guna membawa Aceh mendekat ke pintu gerbang kesejahteraan.

Ketika ditanya apa yang bisa dilakukan segera, Muhammad Amin menyarankan adanya gerakan penyadaran dari sosok-sosok kreatif yang membuka mata semua pihak untuk bangun dari “tidur.”

“Beudoh, bangkitlah agar Aceh bisa hidup dan menghidupkan lagi. Mari kita lakukan mikro revolusi, dimulai dari diri sendiri. Pejabat, wakil rakyat dan masyarakat harus memperbaiki diri demi Aceh,” kata Amin. []

Ulang Tahun ke-54, Bagaimana Gambaran Unsyiah saat Ini?

Ulang Tahun ke-54, Bagaimana Gambaran Unsyiah saat Ini?

BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala yang didirikan 2 September 1961 kini sudah berusia 54 tahun. Bagaimana gambaran “Jantong Hatee Rakyat Aceh” itu saat ini?
Dalam paparannya di Rapat Senat Terbuka dalam rangka hari jadi ke-54 Unsyiah, Rektor Unsyiah, Samsul Rizal, memaparkan gambaran Unsyiah saat ini.
Unsyiah kini memiliki 32.834 mahasiswa, termasuk 28 mahasiswa asing. Sebanyak 22.839 di antara mereka adalah mahasiswa S1, 7.038 mahasiswa S2, dan 2.817 mahasiswa D3.
Tahun ini, ada 4.770 mahasiswa baru program S1. 1.870 orang adalah mahasiswa yang diterima melalui SNMPTN, 2.085 orang masuk melalui SBMPTN, dan 722 orang lulus melalui UMB. Ada juga mahasiswa yang masuk dengan skema alih program (67 orang), melanjutkan (2 orang), afiliasi (8 orang), dan pendidikan profesi (16 orang).
Jumlah mahasiswa baru program D3 sebanyak 811 orang yang masuk melalui jalur UMB dan jalur mandiri. Mahasiswa baru yang mendaftar di program pascasarjana sebanyak 941 orang yang masuk melalui jalur mandiri.
Setiap tahun Unsyiah melepaskan rata-rata 6 ribu-7 ribu lulusan yang diwisuda dalam empat kali upacara rapat senat terbuka.
“Sejak wisuda pertama tahun 1965 hingga wisuda Agustus 2015, jumlah alumni Unsyiah telah mencapai 102.804 orang,” kata Samsul Rizal.
Jumlah ini, menurut Rektor Unsyiah, merupakan akumulasi dari 77.921 orang lulusan profesi, spesialis, pascasarjana, atau sarjana, serta 24.892 orang lulusan D3.
Dalam bidang prestasi, mahasiswa Unsyiah juara umum 2 MTQ Mahasiswa Tingkat Nasional, dan juara umum debat bahasa Inggris tingkat wilayah tahun 2015.
Sebanyak 40 mahasiswa tercatat sebagai penerima modal usaha program mahasiswa wirausaha 2015. Sebanyak 47 judul Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dari Unsyiah berhasil lolos dan memperoleh pendanaan dari Dikti.
“Sebanyak 10 judul dianggap unggul dan diundang ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) bulan depan di Universitas Haluoleo, Kendari, Sulteng,” kata Rektor.
Masih menurut Rektor, tahun depan, Unsyiah akan mencanangkan pembuatan 1.000 proposal PKM dari para mahasiswa Unsyiah.
“Mahasiswa Unsyiah juga sangat aktif. Selama setahun terakhir, tercatat paling kurang 445 kegiatan kemahasiswaan digelar,” kata Samsul Rizal.
Samsul Rizal juga mengatakan bahwa pada November 2015 ini Unsyiah akan menggelar Pekan Olah Raga Mahasiswa Nasional (POMNAS).
“Kami mohon dukungan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Pemerintah Aceh, dan semua pihak,” pinta Samsul Rizal.[] (ihn)
Berusia Setengah Abad, Ini Dia Capaian Unsyiah

Berusia Setengah Abad, Ini Dia Capaian Unsyiah

BANDA ACEH – Hari ini, 2 September 2015 Universitas Syiah Kuala genap berusia 54 tahun. Bagaimana gambaran kinerja kampus yang dijuluki ‘Jantong Hate Rakyat Aceh’ tersebut selama setengah abad lebih?
Rektor Unsyiah Prof. Samsul Rizal, dalam Rapat Senat Terbuka dalam rangka hari jadi ke-54 Unsyiah di AAC Dayan Dawood hari ini, Selasa, 2 September 2015 memaparkan dua hal penting terkait pencapaian Unsyiah.
Pertama, terhitung sejak Juli 2015 Unsyiah berhasil meningkatkan status akreditasinya dari C menjadi akreditasi A dari BAN-PT.
Kedua, Unsyiah saat ini berada di peringkat 11 secara nasional, dan terbaik kedua di luar Pulau Jawa menurut webometrics.
“Jika merujuk pada jumlah publikasi internasional bergengsi yang disitasi oleh para ilmuwan dunia, Unsyiah berada di posisi ke 4 nasional,” katanya.
Saat ini, terdapat 113 program studi di Unsyiah. Terdiri dari 7 Program Studi Doktor (S3), 27 Program Studi Magister (S2), 3 Program Pendidikan Spesialis, 6 Program Pendidikan Profesi, 55 Program Studi Sarjana (S1), dan 15 Program Studi Diplomasi (D3) yang tersebar di 12 fakultas.
Dari seluruh program studi itu, 10 di antaranya memiliki nilai akreditasi A (S1), 58 program studi memiliki nilai akreditasi B, terdiri dari 30 program studi S1, 2 program Pendidikan Spesialis, 16 program studi S2, dan 10 program studi D3. 20 program studi lainnya di Unsyiah masih berakreditasi C.
“Meski persentase program studi berakreditasi C masih tinggi. Tapi, dibanding tahun lalu yang mencapai 53 program studi, jumlah saat ini sudah berkurang banyak,” kata Samsul Rizal.
Samsul Rizal juga melaporkan, masih ada 21 program studi yang relatif baru, sehingga belum memperoleh akreditasi. Sebanyak 4 program studi lama juga sedang menunggu hasil penilaian BAN-PT karena nilai akreditasi telah kadaluarsa.
“Kami haturkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung, sehingga Jantong Hatee Rakyat Aceh berhasil meraih nilai A,” kata Samsul Rizal.[] (ihn)
Sulaiman Abda Mau Petani Aceh Kaya

Sulaiman Abda Mau Petani Aceh Kaya

ACEH BESAR – Wakil Ketua DPR Aceh, Sulaiman Abda, berharap petani Aceh bisa kaya. Untuk itu, Sulaiman Abda mendukung semua langkah yang diperlukan untuk membuat petani Aceh dapat berjaya di lahannya.

Pernyataan itu disampaikan Sulaiman Abda menanggapi sambutan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah di acara Panen Raya, Gampong Gani, Aceh Besar 1 September 2015.

Menurut Bang Leman, di lokasi area Panen Raya saja, ada luas lahan sekitar 15 hektar. Lokasi ini, kabarnya bagian dari 110 ribu hektar lahan pertanian di Aceh yang termasuk dalam program Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) yang dicanangkan oleh Kementerian BUMN melalui PT PIM.

Selain mendukung ajakan Gubernur Aceh yang menghimbau kalangan petani, BUMN, LSM dan kalangan swasta, Bang Leman lebih utama mengajak Pemerintah dan DPR Aceh untuk kompak mendukung kebijakan dan anggaran untuk pemberdayaan lahan, sdm, dan teknologi pertanian.

“Pertanian Aceh sudah saatnya dikelola secara canggih dengan dukungan teknologi yang tepat,” kata Bang Leman.

Bang Leman juga mengingatkan daya tahan bahkan daya juang sektor pertanian Aceh dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi.

Ini pertanda bahwa Aceh bisa berjaya di sektor tani. Jadi, saya yakin petani Aceh bisa kaya dengan bertani,” kata Bang Leman. [] (mal)

Enam Imbauan Zaini Abdullah Tentang Program Ketahanan Pangan

Enam Imbauan Zaini Abdullah Tentang Program Ketahanan Pangan

JANTHO – Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, di acara panen raya padi di Desa Gani, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa, 1 September 2015 menyampaikan enam imbauan kepada seluruh kepala daerah dan pihak yang terlibat dalam program ketahanan pangan di Aceh.
Pertama, para kepala daerah dan pihak terkait lainnya diimbau untuk mendata kembali lahan terlantar agar bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian atau perkebunan.
Selanjutnya, perlu adanya optimalisasi peran penyuluh pertanian agar pemahaman petani tentang bercocok tanam meningkat. Mereka juga diimbau menangani dengan cepat dan akurat persoalan alih fungsi lahan. Bila perlu qanun dapat diterbitkan untuk membatasi soal alih fungsi lahan.
“Dewan Ketahanan Pangan bersama unsur terkait perlu memperkuat koordinasi dan pembenahan lembaga,” kata Gubernur Zaini.
Imbauan berikutnya yaitu terkait penggunaan bibit unggul kualitas terbaik dan penanaman secara serentak di berbagai daerah harus dilaksanakan dengan baik.
Terakhir, keterlibatan BUMN dan lembaga non pemerintah diharapkan bisa lebih aktif lagi dalam mendukung gerakan pertanian.[] (ihn)