Author: RISMAN A RACHMAN

SAMBA dan Ipelmabar Desak Tangkap Pelaku Pemerkosa Anak

SAMBA dan Ipelmabar Desak Tangkap Pelaku Pemerkosa Anak

MEULABOH – Ketua Samba, Fuad Hadi meminta kepada Kapolres Aceh Barat, AKBP Teguh Priyambogo agar segera menangkap tersangka pelaku pemerkosaan terhadap anak SD di Aceh Barat. Kasus tersebut dinilai sungguh sangat melukai semua pihak. Oleh karena itu polisi harus benar-benar bergerak cepat agar tersangka bisa segera di seret ke pengadilan.

Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua SAMBA, Fuad Hadi kepada Kapolres di sela-sela perayaan HUT TNI ke 70 di Alun-Alun Nagan Raya.

Hal senada juga disampaikan Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Aceh Barat (Ipelmabar ) Banda Aceh. Ipelmabar mendesak pemerintah Aceh Barat agar ikut prihatin dan ikut membantu menanggani kasus pemerkosaan di bawah umur.

Seperti yang diberitakan di media, seorang bocah perempuan berusia 14 Tahun di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat melahirkan seorang bayi perempuan setelah menjadi korban pemerkosaan.

Menurut informasi LBH Banda Aceh Pos Meulaboh, Hermanto, selaku pendampingan hukum terhadap bocah korban pemerkosaan yang masih di bawah umur, sangat kecewa terhadap polisi yang terkesan tidak profesional saat menanggani kasus tersebut.

Zulkifli Andi Govi selaku ketua umum Ipelmabar Banda Aceh, dalam siaran persnya menyatakan sangat menyanyangkan dan prihatin dengan kejadian ini di Aceh Barat.

“Aceh Barat adalah zonanya pendidikan barat selatan. Seharusnya setiap pelajar harus betul-betul diperhatikan dan diberdayakan, bukan malah menjadi korban permekosaan. Kami menilai pemerintah Aceh Barat terkesan mengabaikan kasus ini, seharusnya Dinas Syariat Islam harus merasa malu dengan kejadian ini, dan mengupayakan memberikan dukungan moral kepada keluarga korban dan mendesak polres Aceh Barat agar segera menangkap pelaku,” kata Andi geram.

Lebih lanjut Andi Govi juga menghimbau penegak hukum jangan terkesan loyo. Menurutnya ini kasus moral yang sangat mengiris hati para keluarga korban.

“Kami berharap penegak hukum agar segera menangkap pelaku dan memberikan hukuman dengan seberat beratnya,” katanya. [] (mal)

Foto dari kanan, Dandim Abdya, Kapolres Abdya, Kapolres Aceh Barat dan Ketua SAMBA, Fuad Hadi.@Ist

Aku Memilih Setia

Aku Memilih Setia

Catatan Lepas Tentang Sulaiman Abda

Ini bukan judul lagu Fatin Sidqia Lubis. Tapi ini pilihan politik, untuk memilih setia bersama Bang Leman.

Mungkin, ini bukan pilihan populer. Sebab di politik, kata orang, kesetian beriring dengan keuntungan. Lalu, apa untungnya lagi setia dengan Bang Leman?

Beliau bukan lagi Ketua Golkar Aceh toh. Keberadaan Beliau tidak bisa dipakai untuk mendapatkan jaminan pada saat pengusulan caleg di musim Pileg, atau melobi politik agar bisa jadi calon kepala daerah, atau setidaknya mengusulkan rekan atau calon pesanan, kepadanya.

Untuk apa lagi setia kepada Bang Leman, toh posisinya sekarang paska dilengserkan rame-rame oleh DPR Aceh, sudah tidak strategis lagi memasukkan proposal agar bisa mendapatkan sedikit dari bagian dana aspirasinya.

Untuk apa lagi setia kepada Bang Leman, jika nanti benar-benar jatuh dan terdepak dari DPR Aceh, maka habislah yang bisa didapati darinya. Politisi jatuh biasanya juga jatuh secara finansial.

***

Aku jadi terbayang pada saat Bang Leman masih sebagai Ketua Golkar Aceh, pada musim sebelum konflik internal. Orang-orang begitu setia kepadanya. Begitu dipanggil langsung datang. Malah ada yang menitip pesan kepada Kak Ida di sekretariat agar begitu Bang Leman tiba di kantor segera sms agar bisa merapat.

Aku masih merekam kehangatan teman-teman di kantor, dan aku sangat kagum karena mereka begitu terlihat kompak, dan menunjukkan dedikasinya kepada Bang Leman, yang kerap dipanggil Ketua.

Bang Lemanpun sangat terbuka dan memberi kebebasan kepada siapa saja untuk mengungkapkan pikiran dan juga kekesalannya. Istilah populer, sangat demokratis. Jadilah kantor tempat mengalirnya kritik, termasuk mengkritik Bang Leman. Tidak ada yang takut apalagi sampai merasa tertekan. Jika rapat berlangsung, semua dengan antusias menyampaikan pandangan dan sikapnya. Duduk di dalam rapat sangat bebas dan enjoy, bukan seperti duduk anak TK yang kerap mengikuti apa arahan ketua atau pimpinan rapat.

Akupun pernah mengkitik Bang Leman, tapi lebih banyak aku lakukan di saat berduaan. Apa yang tidak sesuai langsung aku katakan dengan argumentasi. Beliau mendengar, dan sesekali juga terjadi diskusi panas. Selebihnya, hubungan baik kembali terjalin.

Bahkan, aku pernah menyampaikan surat pengunduran diri karena pada saat itu aku merasa bosan hanya datang, duduk, dan diskusi saja. Aku ingin melakukan sesuatu. Akhirnya, suratku dijawab dengan tantangan untuk mengelola pendidikan politik bagi anak-anak muda, mengelola pendataan dan membangun keterbukaan informasi.

Alhamdulillah, sejumlah anak-anak muda berhasil kami himpun, dan beberapa pelatihan pendidikan politik pernah digelar. Aku juga mengelola data yang dipakai untuk keperluan Pileg 2014. Hasilnya, perolehan suara dan kursi Golkar Aceh meningkat. Lebih dari itu, Golkar Aceh pernah mendapatkan Juara Keterbukaan Informasi yang penilaiannya dilakukan oleh Komisi Informasi Aceh.

***

Hari ini aku merekam pemandangan yang biasa secara laku politik, tapi sangat tidak baik secara etika atau sopan santun politik. Orang-orang yang dahulu mengalahkan kesetianku, justru menjauh dari Bang Leman. Ada yang sembunyi dan memilih diam padahal dahulu sangat vokal dan kritis terhadap Bang Leman. Kenapa terhadap orang lain tidak berani kritis?

Aku juga merekam keanehan yang mengiris hati. Orang-orang yang sudah dianggap adik, dan bahkan anak atau keluarga oleh Bang Leman justru dibelakang Bang Leman menjatuhkan pilihan politik Bang Leman. Sudah tidak bisa dan mau membantu Bang Leman, untuk sekedar menjaga marwah Bang Leman saja tidak bisa.

Mereka memang kerap menyatakan kasian kepada Bang Leman. Padahal, apa yang sedang terjadi dengan Bang Leman tidak perlu dikasihani. Semua kejadian politik sudah ada aturan dan jalur perlawanannya. Hanya yang dibutuhkan oleh Bang Leman adalah dukungan agar apa yang sedang dihadapinya berjalan secara aturan. Ini tidak cukup hanya dilakukan oleh Bang Leman, dan inilah kesempatan bagi teman-teman yang dahulu dekat ikut memberi dukungan dan sokongan.

Jadi, yang harusnya dikasihani adalah mereka yang hari ini lebih memilih setia dengan kalkulasi untuk sekedar mendapatkan keuntungan politik. Padahal, politik yang sedang sangat dirindui rakyat adalah politik yang tidak saling melukai, politik yang kompak di atas dasar kebenaran dan aturan, juga di atas rasa persaudaraan.

Bukankah sengketa Golkar belum selesai. Kedua kubu, baik yang sudah diakui pemerintah maupun yang sedang melakukan gugatan, keduanya masih terikat dengan logika sengketa. Dalam masa itu, sepatutnya tidak ada pihak yang saling menjatuhkan, apalagi sampai memecat kader yang sudah terbukti secara suara sangat didukung oleh rakyat, seperti Bang Leman.

Sejauh partai masih berada dalam sengketa, wakil rakyat tidak sewajarnya dipecat apalagi sampai mengkeroyok ramai-ramai dengan mengajak partai lain. Semestinya kader Golkar dan sesama wakil rakyat saling bela membela atau minimal tidak mengambil keuntungan dari situasi kekacauan.

Memang, dalam politik itu hal biasa. Kekuasaanlah yang utama dicari. Tapi Golkar bukan partai baru dan juga bukan Golkar jaman orde baru. Golkar paska orde baru adalah Golkar yang muncul dengan paradigma barunya. Golkar yang sudah berubah. Golkar yang tidak lagi ditentukan nasibnya oleh orang seorang. Golkar yang tidak lagi bergantung pada kekuasaan. Golkar hari ini adalah Golkar yang kemenangannya ditentukan oleh ide, gagasan, moral dan kedekatan dengan rakyat. Seluruh kemenangan Golkar ditentukan oleh permanent campaign yang digerakkan dengan ide, moral, dan kedekatan dengan rakyat.

***

Tapi, faktanya hanya beberapa saja yang memilih setia. Dan aku juga memilih setia. Apapun yang terjadi atas kezaliman yang sedang menimpa Bang Leman akan aku sertai dia dengan kemampuan yang aku miliki. Inilah politikku. Inilah sikapku dan ini juga etika yang aku pegang. Soal yang lain, aku maklumi sambil berdoa agar masih mungkin terbuka hati agar sosok yang sudah diberi amanah oleh rakyat terus bisa berkerja untuk rakyat.

Di suatu malam saat aku bersilahturami ke rumahnya, aku berkata dengan tegas. “Loen bantu bang, bukon agar na proyek. Tapi, lon teupu that, meuyo na bang di DPR Aceh, rame ureung yang mudah meu urosan dengan Bang.”

Di lain waktu saya juga berkata: “Mungkin bagi Bang Leman tidak ada lagi kepentingan sehingga tidak perlu sekali ngotot mempertahankan kekuasaan yang sedang ada. Tapi, ingatlah, enam belas ribu suara rakyat adalah angka kepercayaan yang tidak sedikit. Abang jangan bela diri tapi belalah suara rakyat yang sudah memberi kepercayaan kepada Abang untuk menjadi wakil rakyat. Ini jihad politik dan jika abang kalah dalam jihad ini, abang sudah mempertahankan satu kebenaran. Dan abang akan menjadi inspirasi bagi kami semua untuk tidak takut memperbaiki politik agar lebih bagus lagi di masa depan.”

Saat itu, wajah Bang Leman kembali bercahaya dan senyumnya kembali muncul sebab ia tahu masih ada orang yang setia dengannya. []

Masih Pimpinan Dewan, Sulaiman Abda Cek Pembangunan Fisik Masjid Cot Goh

Masih Pimpinan Dewan, Sulaiman Abda Cek Pembangunan Fisik Masjid Cot Goh

JANTHO – Wakil Ketua DPR Aceh, Sulaiman Abda masih melakukan tugas dan kegiatan seperti biasa. Keputusan paripurna yang melengserkan dirinya sebagai Wakil Ketua DPR Aceh tidak membuat politisi senior partai Beringin ini berhenti bertugas.

Seperti halnya hari ini, Jumat, 2 Oktober 2015. Sulaiman Abda melakukan rapat dengan panitia Masjid Cot Goh, Teubang Phui, Montasik, Aceh Besar usai salat Jumat. Sulaiman Abda kemudian mengecek pembangunan fisik pengerjaan pembangunan masjid usai rapat tersebut.

Sebelumnya pada 25 Agustus 2015, saat kunjungan Sulaiman Abda menyatakan Pemerintah Aceh melalui APBA 2015 telah menyediakan anggaran pembangunan masjid sebesar Rp 1 miliar.

“Ini dana untuk membangun MCK dan taman,” kata Sulaiman Abda yang dibenarkan oleh Ketua Pembangunan Masjid, Ansari Muhammad.

Menurut Sulaiman Abda, Masjid Cot Goh memang layak dibantu mengingat keberadaan masjid ini sudah mendunia.

“Di masjid ini, jamaah dari berbagai dunia pernah menggelar pertemuan umat Islam. Ada dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Bangladesh, Thailand, dan India,” kata Sulaiman Abda.

Imum Mukim Cot Goh berharap perhatian Pemerintah Aceh untuk Masjid Cot Goh terus ditingkatkan.

“Kami berharap Bang Leman, melalui DPR Aceh dapat terus memberi dukungannya sebagaimana dukungan yang telah diberikan selama ini,” kata Imum Mukim Cot Goh, Nirwansyah Rasyid.

Sebelumnya Ketua DPR Aceh, Tgk Muharuddin, telah menyampaikan kepada media terkait status Sulaiman Abda yang masih tetap menjadi pimpinan DPRA sampai keluarnya SK pergantian dari Kemendagri. Di sisi lain, Kemendagri sudah memberikan sinyal sulit untuk merespon jika tidak ada rekomendasi dari Golkar Kubu ARB dan Golkar Kubu Agung Laksono.[] (bna)

Tanda-Tanda Kegagalan Mualem

Tanda-Tanda Kegagalan Mualem

MALAM itu, saya punya dua ajakan. Pertama, ajakan menghadiri acara Kaukus Pembangunan Berkelanjutan Aceh (18/9). Kedua, ajakan silahturahmi dengan kandidat gubernur Aceh, Mualem.

Tadinya, saya ingin menghadiri sidang terbuka Kaukus. Di sana para anggota DPR Aceh dan aktifis lingkungan hidup bertemu. Pasti ada banyak diskusi menarik, dan sayapun ada kemungkinan bisa menyampaikan gagasan atau masukan.

Tapi, akhirnya saya memilih untuk memenuhi ajakan sahabat saya, Tengku Jamaica, bersilahturahmi dengan Mualem. Kenapa pilihan jatuh menemui Mualem, yang sudah menyatakan kesiapannya menjadi calon gubernur Aceh?

Salah satu alasan saya adalah untuk menemukan alasan penguat peluang kemenangan Mualem. Ukuran saya mungkin agak aneh. Saya tidak menggunakan indikator “surat tupe” alias dukungan para pihak kepada Mualem, melainkan menemukan potensi diri yang ada pada Mualem untuk saya lihat dari perspektif demokrasi baru yang lebih dirindui rakyat yaitu makin dialogis, makin partisipatif, makin merakyat, dan makin digital dengan menjadikan spiritualitas sebagai basis perubahan.

Mengapa indikator potensi diri yang menarik perhatian saya? Jujur, ini ada kaitannya dengan perkembangan pembangunan dan demokrasi di Bojonegoro yang oleh Otto Scharmer disebut sebagai demokrasi baru bagi dunia.

Karena itu, sebelum bertemu Mualem, saya sudah mempelajari kunci-kunci utama yang dimiliki oleh sang penggerak pembangunan dan demokrasi di sana, yaitu Bupati Bojonegoro, Suyoto, yang akrab disapa Kang Yoto.

Petuah pertama yang diberikan kepada saya oleh Mualem adalah “beu gleh nit.” Terus terang, petuah ini membuat saya sangat gembira. Soalnya, saya pernah membaca kekuatan niat baik yang oleh Kang Yoto dipresentasikan dihadapan 280 peserta dari 28 negara dalam pertemuan Global Forum, USA, Februari 2014.

Menurut Kang Yoto, dia percaya dengan kekuatan niat baik dari semua yang terlibat. Niat itulah yang membukakan berbagai kemungkinan yang lebih baik terbentang di hadapan kita masing masing dan saling mencari pasangannya untuk menghasilkan hal baik bagi kehidupan sesama.

Jadi, ajakan Mualem untuk membaguskan niat saya sambut gembira. Membangun Aceh, pada akhirnya memang harus kembali kepada basis spiritualitas orang Aceh, yang menempatkan niat baik sebagai kunci awal segala daya upaya.

Atas dasar inilah saya punya keyakinan bahwa model kepemimpinan Mualem akan diarahkan untuk lebih dekat secara langsung, nyambung, dan saling belajar dengan rakyat guna menggapai sukses yang membahagiakan semua, khususnya rakyat.

Itu artinya, sebagai calon gubernur Mualem akan lebih banyak mendengar dan menyelami serta mengetahui secara langsung apa yang dibutuhkan rakyat. Bukan rakyat yang harus memahami apa yang dibutuhkan oleh Mualem terkait Aceh.

Untuk itu, yang saya bayangkan adalah Mualem akan lebih banyak turun langsung bertemu rakyat. Mualem akan mengabaikan semua masukan mereka yang kerap mengatasnamakan rakyat, seperti partai politik. Jikapun Mualem mendengar sejumlah tokoh yang secara real memiliki basis dukungan sosial politik di masyarakat, tapi sebagai calon Mualem akan bersedia berlelah fisik dan pikiran guna menyerap semua masukan langsung rakyat guna mengetahui apa yang dibutuhkan rakyat.

Dengan kata lain, kunci kepemimpinan Mualem bukan lagi kepemimpinan partai politik, melainkan kepemimpinan rakyat yang pada akhirnya juga akan berkerja dengan dukungan penuh rakyat bila nanti dipercaya menjadi Gubernur Aceh.

Parpol dan wakil rakyat beserta birokrasi akan diajak untuk meringankan tugasnya sebagai pemimpin guna mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh rakyat sebagaimana yang telah dicernanya sejak dalam perjalanan pencalonan.

Apa keuntungan bila Mualem memperkuat akar politiknya langsung ke rakyat di akar rumput? Bukan malah mendekat ke parpol? Biaya politik yang makin murah. Inilah kuncinya. Politik yang makin mahal karena uang maupun mahar politik lainnya hanya akan membuat Mualem terperangkap dalam bayar hutang budi politik. Dan, pengeluaran politik paling beresiko adalah ketika Mualem terikat dengan politik transaksi dengan partai politik.

Sebaliknya, bila Mualem mengikat diri sepenuhnya dengan rakyat, bukan hanya dukungan politik rakyat yang akan diperoleh Mualem tapi juga dukungan politik dari parpol dan wakil rakyat beserta birokrasi yang bisa diarahkan untuk memenuhi hajat kebutuhan rakyat.

Pesan kedua Mualem adalah bersatu saja belum tentu berhasil membangun Aceh, apalagi bercerai berai. Pesan ini, lagi-lagi menjadi kunci dari model demokrasi baru yang sedang dibutuhkan dunia, khususnya mereka yang makin sadar bahwa tidak ada kebaikan sama sekali dibalik perseteruan yang menjatuhkan, mematikan, apalagi membunuh kesempatan orang untuk berkembang, minimal berkiprah bagi negeri dan rakyat.

Pesan kedua Mualem itu membangun gambaran politik bahwa Mualem akan memilih mendekat dengan orang-orang atau pihak-pihak yang sadar bahwa konflik, perseteruan, dan permusuhan adalah sumber bencana bagi pembangunan Aceh.

Salah satu kunci sukses, menurut Kang Yoto adalah kesadaran untuk berteman dengan orang-orang yang punya mental sukses, bukan mereka yang bermental gagal. Orang sukses bukan mereka yang tidak pernah gagal atau salah, melainkan mereka yang selalu mau berkerja keras, tanpa disertai sikap benci, menjatuhkan, dan mematikan orang lain. Orang salah berbeda dengan orang jahat. Orang jahatlah yang mesti dihindari karena motifnya hanya mencari keuntungan. Apapun akan dilakukan demi keuntungan, termasuk “mematikan” saudaranya. Jika saudaranya saja sikorbankan, apalagi orang lain.

Dua tanda itu saja, niat baik dan persatuan dengan rakyat sudah menjadi indikator bagi saya untuk melihat peluang kemenangan bagi Mualem. Tentu saja bila kedua sikap dasar Mualem ini bisa diterjemahkan oleh tim suksesnya. Sebaliknya, bila orang lingkar Mualem tidak cerdas menterjemahkan dan mewujudkan sikap politik Mualem, maka inilah tanda-tanda kegagalan Mualem. []

*Penulis adalah warga Ulee Kareng

 

 

 

Jamaah Haji Aceh Terlibat Ketegangan di Muzdalifah, Ini Kisah Ketua KNPI

Jamaah Haji Aceh Terlibat Ketegangan di Muzdalifah, Ini Kisah Ketua KNPI

MEKKAH – Kepada Portalsatu.com Jamaluddin Jamil mengatakan, jamaah haji asal Aceh sempat mengalami ketegangan dengan jamaah haji asal Jawa Tengah di Muzdalifah. Kok bisa? Berikut paparan Ketua KNPI Aceh itu.

Jamaah Aceh, kata Jamal, adalah yang perta masuk ke Muzdalifah. Mereka tiba di Muzdalifah sekitar pukul 20.20 waktu setempat. Saat itu tempatnya masih kosong.

“Saya turun dari bus dan seperti biasa, ikut membantu sekaligus mengarahkan supaya jamaah Aceh berkumpul pada satu titik,” kata Jamal.

Muzdalifah adalah daerah terbuka di antara Mekkah dan Mina di Arab Saudi yang merupakan tempat jamaah haji diperintahkan untuk singgah dan bermalam setelah bertolak dari Arafah usai wukuf.

“Tidak ada bangunan kecuali toilet. Supaya ada tempat duduk harus membentangkan tikar yang di bawa masing-masing,” cerita Jamal.

Kegiatan jamaah di Muzdalifah adalah mengumpulkan batu untuk lempar jumrah. Usai istirahat sejenak sampai lewat tengah malam (jam 12.00 waktu setempat), baru jamaah berangkat ke Mina dengan Bus.

“Baru satu jam kami di Muzdalifah jamaah haji sudah sesak,” lapor Jamal.

Menjelang berangkat ketika jamaah Aceh sudah bersiap, tiba tiba ada perintah dari pemimpin jamaah yang berasal dari Jawa Tengah supaya semua bergeser.

“Mereka minta duluan. Tapi kita tidak mau, sebab kita yang tiba duluan,” kata Jamal.

Akhirnya, dorong mendorong pun terjadi. Menurut Jamal, kejadian ini terjadi karena problem berkomunikasi.

“Saya akhirnya turun tangan dan melalui pengeras suara mencoba menenangkan semua jamaah. Tapi,  juga tidak berhasil,” kata Jamal.

Upaya berikutnya ditempuh lewat negosiasi. “Saya ajak ketua kloter untuk bicara dengan kloter Jawa Tengah. Setelah terjadi negosiasi yang alot barulah selesai,” kata Jamal.

Namun begitu,  desak-desakan kembali lagi terjadi di pintu keluar. Melihat keadaan sudah tidak bagus, Ketua KNPI Aceh itu berinisiatif lari ke depan, untuk menghadang jamaah lain.

“Bagi yang bukan jamaah Aceh saya haramkan keluar,” kata Jamal yang bertekad menolong jamaah Aceh agar tidak didahului jamaah asal Jawa Tengah.

Setelah proses yang melelahkan dan menegangkan selesai muncul lagi masalah baru. Ada jamaah uzur dan sakit yang masih tertinggal.

“Saya lalu berinisiatif mengangkat sendiri jamaah yang sakit kedalam bus,” kata Jamal. [] (mal)

Soal Insiden Mina, Ini Pengakuan Jamaah Haji dari Aceh

Soal Insiden Mina, Ini Pengakuan Jamaah Haji dari Aceh

MEKKAH – Jamaah haji Aceh, khususnya dari kelompok terbang (kloter) I, sampai berita ini dilansir, dilaporkan terhindar dari Insiden maut yang menimpa ratusan lebih jamaah haji di Mina.

“Saya baru selesai cukur rambut,” kata salah satu jamaah haji asal Aceh, Jamaluddin Jamil dari Mina, sekitar pukul 17.53 waktu setempat, 25 September 2015.

Ketua KNPI Aceh itu salah seorang jamaah haji asal Aceh dari 393 calhaj kloter 1-BTJ.

Menurut Jamal, Insiden Mina baru diketahui usai satu jam mereka beristirahat di pemondokan.

Sebelumnya, kisah Jamal, saat pulang dari lempar jumrah aqabah, sekitar pukul 06.00 waktu setempat, mereka memang sempat melihat jamaah yang sangat padat masuk melalui terowongan Mina.

“Seperti air bah yang mengalir, begitu cepat dan tidak ada putusnya,” kata Jamal.

Berbeda dengan jalur masuk, jalur keluar dapat bergerak bebas melewati terowongan pulang, yang panjangnya sekitar 2 km.

“Insya Allah, besok malam sekitar pukul 19.30 waktu setempat (usai magrib) akan berangkat ke Jamarat, untuk melempar jumrah,” kata Jamal. []

Dayah Mahasiswa Hadir di Pidie Jaya

Dayah Mahasiswa Hadir di Pidie Jaya

PIDIE JAYA – Kepala Badan Pendidikan dan Pengembangan Dayah (BPPD), Bustami Usman menghadiri peresmian Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) milik Yayasan Pendidikan Islam Ummul Ayman yang didirikan oleh Waled Nuruzzahri atau Waled Nu.

Dalam sambutannya, Bustami Usman mengatakan dayah Aceh telah melahirkan banyak ulama kharismatik. Alumninya menyebar ke berbagai daerah, termasuk ke luar Aceh. Model dayah Aceh juga diadopsi disejumlah tempat di luar Aceh.

Saat ini, menurut Bustami Usman, dayah sudah menjadi pilihan orangtua untuk mendidik anak-anaknya. “Kini, malah dayah yang tidak bisa menampung santri baru karena ketiadaan tempat. Maknanya, dayah sudah menjadi pilihan utama untuk pendidikan,” katanya.

Menurut Bustami Usman, pilihan itu menunjukkan rakyat Aceh siap memperkuat Aceh sebagai daerah syariat Islam. “Pemerintah Aceh terus mendukung keberadaan dayah di Aceh,” kata Bustami Usman.

Waled Nu dalam arahannya mengatakan Yayasan Pendidikan Islam Ummul Ayman siap mengatasi ragam macam darurat yang sedang dialami Aceh, melalui pendekatan agama. “Darurat narkoba, darurat aqidah, darurat baca al quran, bahkan darurat sepakbola bisa diatasi dengan pendidikan agama,” ujar Waled Nu.

Untuk itu, Waled Nu mengajak semua pihak untuk membantu dayah. Waled Nu, dalam kesempatan itu juga memuji Kepala Badan Dayah yang sangat antusias membantu dayah. “Ini dayah mahasiswa lahir di zamannya Pak Bustami Usman,” kata Waled Nu.

Menurut Januddin, Dayah Mahasiwa dan STIS sudah dirintis sejak 2012. “Ini gagasan dari Waled Nu, ” katanya.

Menurutnya, keberadaan Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III dan STIS di lahan 3,5 ha ini berkat dukungan semua pihak.

Katanya, di STIS ada dua prodi, yaitu prodi hukum keluarga dan prodi hukum ekonomi syariah. “Untuk perdana ini ada mahasiswa sekitar 106 orang yang didukung 22 orang dosen,” katanya. [] (MAL)

Sulaiman Abda Sampaikan Salam Mualem untuk Santri Dayah

Sulaiman Abda Sampaikan Salam Mualem untuk Santri Dayah

BANDA ACEH – Wakil Ketua DPR Aceh, Sulaiman Abda, menyampaikan salam Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau kerap disapa Mualem kepada santri, guru, dan keluarga yang menghadiri penutupan Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Fair IV, Sabtu, 19 September 2015.

“Kemarin, Mualem menitip salam kepada saya untuk disampaikan kepada saudara semua. Saleum ka loen peutroh. Pu ka neuteurimong? (salam sudah saya sampaikan. Apa sudah anda terima?),” kata Sulaiman Abda.

Kaaaaa (sudah),” jawab seluruh undangan.

Sebelumnya, Sulaiman Abda menyampaikan motivasi kepada para santri untuk giat belajar. Masa depan Aceh, menurut Sulaiman Abda, sangat tergantung dari generasi yang memiliki budi pekerti.

“Aceh akan hancur bila tidak ditopang oleh budi pekerti,” kata Sulaiman Abda. [](bna)

Sulaiman Abda: Pikiran Panglima Luar Biasa

Sulaiman Abda: Pikiran Panglima Luar Biasa

BANDA ACEH – Wakil DPR Aceh, Sulaiman Abda, mengaku kagum kepada Panglima TNI. Menurutnya, apa yang disampaikan oleh Jenderal Gatot Nurmantyo tentang Proxy War sangat penting untuk dipahami dan dicermati oleh semua.

“Paparan Jenderal sangat lengkap, membuka mata dan pikiran. Untuk itu, semua kita mesti berbenah,” kata Sulaiman Abda kepada portalsatu.com, Jumat, 18 September 2015.

Salah satu paparan Panglima TNI yang sangat diingat Sulaiman Abda adalah krisis dunia yang disebabkan masalah energi. Jika cadangan minyak yang hanya bertahan 45 tahun lagi itu habis, maka Indonesia sebagai negara ekuator yang subur akan menjadi incaran.

Saat ini, menurut Panglima TNI, masyarakat Indonesia harus berhati-hati dengan proxy war, yaitu perang dengan menggunakan pihak ketiga sebagai musuh. Dalam proxy war, menurut Panglima, akan sulit mengira lawan dan kawan.

Hal lain yang diingat oleh Bang Leman adalah soal incaran asing atas sumber daya alam Indonesia karena krisis energi di negeri mereka. Persoalan perut, menurut Panglima sulit untuk dikendalikan.

Untuk itu, Sulaiman Abda setuju dengan Panglima TNI yang mengajak kita semua untuk menghemat energi dan menjaga kesuburan alam Indonesia.

Menurut Bang Leman, ajakan lain dari Panglima TNI agar menjaga anak-anak muda dari serangan narkoba patut disahuti. “Hampir setiap kesempatan saya selalu mengingatkan soal narkoba ini. Jadi, sama dengan anjuran Panglima TNI. Jadi, paparan Panglima TNI hari ini sangat luar biasa penting,” ujar Sulaiman Abda.

Bersama Wagub Aceh, Muzakir Manaf dan Rektor Unsyiah, Samsul Rizal, Sulaiman Abda hari ini menjemput Panglima TNI untuk kegiatan kuliah umum di Unsyiah. Sulaiman Abda juga berkesempatan mengantar Panglima TNI yang kembali hari ini juga. Tepat pukul 14.15 WIB Panglima TNI meninggalkan Aceh kembali ke Jakarta. [](bna)

Sejenak Bersama Sulaiman Abda 

Sejenak Bersama Sulaiman Abda 

“Saya sudah menjadi nakhoda Golkar, dan kalian semua ada dalam pikiran dan hati saya. Nanti, giliran kalian yang membawa Golkar, apakah saya juga ada di hati dan pikiran kalian?” — Sulaiman Abda

+++

MALAM itu, usai salat isya saya makan malam bersama Sulaiman Abda, di rumahnya. Sebelumnya, kami baru saja kembali dari kunjungan silahturahmi ke Dayah MUDI, Samalanga, Kamis, 17 September 2015.

Di meja makan, hanya ada nasi putih dan ikan lado. Bang Leman, panggilan akrab Sulaiman Abda, hanya mengambil sedikit nasi. Lalu beliau mengajak saya untuk ikut makan. “Jak pajoh bu, Man (ayo kita makan, Man).”

Saya hanya mengangguk. Selebihnya, mata saya memperhatikan wajah Bang Leman. Kelihatan lebih segar dibanding setahun lalu, saat Bang Leman masih sebagai Ketua Golkar.

Sejenak saya jadi kepikir angka kepercayaan rakyat yang diperoleh Bang Leman di Dapil I pada Pileg 2014. Jika tidak salah, sekitar 17 ribuan. Ini bukan angka kepercayaan yang sedikit. “Man, ka pajoh laju bu,” ujar Bang Leman lagi.

Saya mencoba menepis ingatan soal Golkar. Tapi, tidak bisa. Padahal, sebelumnya saya sudah memaklumkan untuk tidak dahulu bicara Golkar, sampai badai konflik hukum di tubuh Golkar benar-benar berlalu.

Sambil mengambil nasi dan menaruhnya di piring, saya kembali melirik sosok Ketua Golkar Aceh yang dilantik 17 Januari 2010 itu. Saat itu, Bang Leman menggantikan Sayed Fuad Zakaria yang terpilih sebagai anggota DPR RI.

Sosok yang sedang berada di hadapan saya ini bukan orang baru, apalagi sekedar penumpang gelap di Golkar. Sebelumnya, selama dua periode Sulaiman Abda duduk di posisi Wakil Ketua.

Rintisan jalannya menuju pucuk pimpinan Golkar Aceh benar-benar merangkak dari bawah. Usai berkhitmad di KNPI, Bang Leman masuk Golkar. Beliau ditempatkan di Biro Pemuda Golkar Aceh tahun 1994.

Baru delapan tahun kemudian Bang Leman berhasil duduk di jajaran Wakil Ketua. “Sangat dramatis. Kalau sekarang, hanya dalam sejenak posisi strategis di Golkar bisa didapat,” bisik hati saya.

Sejenak sayapun jadi mengingat diri sendiri. Saya masuk Golkar usai Sulaiman Abda terpilih sebagai Ketua Golkar, Desember 2009. Bang Lemanlah yang berhasil “menaklukkan” saya untuk bergabung di Golkar. Oh ya, juga Bang Husein Banta.

Sungguh, awalnya saya pernah membuat surat pengunduran diri. Tapi hanya sampai di meja sekretariat. “Nanti saya bicara dulu dengan ketua,” kata Taufik kala itu.

Akhirnya saya tidak jadi keluar. Saya diberi kesempatan untuk memperbaiki tata kelola Golkar agar lebih terbuka, lebih akomodatif terhadap kader muda dan kader perempuan.

Buahnya, Golkar Aceh mendapat penghargaan keterbukaan Informasi dari Komisi Informasi Aceh, Desember 2014. Sayapun diberi kepercayaan untuk mengelola pendidikan politik bagi anak-anak muda, dan diberi kepercayaan menata Golkar agar lebih responsif gender.

Bagaimana nasib Golkar di tangan sosok kelahiran Geulumpang Payong, Pidie ini? Apakah “partai beringin” ini mati di tangan Sulaiman Abda?

Sulaiman Abda diwarisi Golkar Aceh dalam posisi kursi yang turun drastis, 59 kursi DPRK, 8 kursi DPRA, dan 2 kursi DPR-RI. Ini perolehan kursi hasil Pileg 2009.

Pada Pileg 2014, Sulaiman Abda berhasil menaikkan angka kursi Partai Golkar menjadi 80 kursi DPRK di kabupaten/kota. Kader Golkar berhasil meraih lima kursi ketua DPRK dan tujuh kursi pada posisi Wakil Ketua DPRK.

Di samping itu, juga sukses meraih 9 kursi  DPRA dan 2 kursi untuk DPR-RI. Ini hasil Pileg 2014 di bawah kepemimpinan Sulaiman Abda. Posisi Golkar nomor dua setelah Partai Aceh. Golkar Aceh berhasil bertahan dari “serbuan” parnas baru, Nasdem yang sejak kemunculannya banyak menarik perhatian publik.

Lebih dari itu, khusus untuk DPRA, 4 dari 9 kursi yang diraih Partai Golkar diisi oleh perwakilan perempuan, yaitu Fauziah, Yuniar, Nuraini Maida, dan Nurlelawati.

“Ini pengabdian terakhir saya untuk rakyat melalui DPR Aceh,” katanya suatu waktu usai dilantik sebagai anggota DPRA.

Kala itu, Bang Leman menegaskan hanya akan mengabdi sepenuhnya untuk Aceh. “Saya sudah menjadi milik Aceh, dan saya ingin pengabdian terakhir sebagai anggota DPR Aceh benar-benar bermanfaat untuk Aceh,” katanya kala itu.

Pernyataan itu, menurut Bang Leman adalah kunci kebangkitan Golkar Aceh. Golkar Aceh hanya mungkin dipercaya rakyat manakala kadernya mengabdi penuh untuk Aceh. Golkar jangan sampai dianggap parnas asing, dengan kepentingan asing. Golkar Aceh mesti bermanfaat bagi Aceh.

“Ini kunci kemenangan Golkar di Pilkada dan Pileg nanti,” kata Bang Leman saat itu.

Sayangnya, turbulensi politik di Golkar pusat akhirnya menyeret kader-kader Golkar di daerah ke dalam dua kubu hasil Munas, yang saling bertentangan.

Tragisnya, hasil “ijtihad” politik Bang Leman yang memilih bergabung dengan kubu Munas yang diakui pemerintah membuat pihak pendukung kubu Bali berang. Dan, melalui putusan DPP Golkar hasil Munas Bali nomor 27/DPP/Golkar/2015 Sulaiman Abda dipecat sebagai kader Golkar. Tragis!

Kini, buntut pemecatan mulai bercabang. Sulaiman Abda sudah diusul Pergantian Antar Waktu (PAW). Sebegitu besarkah dosa politik Bang Leman sehingga hukumannya bagai hukuman mati? Pemecatan sebagai kader sama artinya seperti hukuman mati karena sudah tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat sesuatu kepada rakyat melalui partai. Lebih dari itu, mengapa Bang Leman dipecat sebagai kader? Dan, mengapa sampai terburu-buru dan mengabaikan proses politik dan hukum yang sedang berjalan?

Mengapa untuk agenda Pilkada kedua belah kubu bisa berdamai dalam mencalonkan kadernya dari kedua belah pihak, sedangkan untuk pemecatan tidak dibangun kesepahaman sebelum diambil tindakan? Ada apa di balik percepatan pemecatan Sulaiman Abda sebagai kader Golkar?

Lagi pula, “ijtihad” politik Bang Leman berkenaan dengan tugasnya sebagai anggota DPR Aceh dan bukan semata sebagai pengurus. Mungkin ia berpikir, jika keanggotaannya sebagai wakil rakyat tidak bersandar pada badan hukum yang diakui pemerintah maka tindakan politiknya di DPR Aceh tidak memiliki kekuatan legalitas.

Mungkin ini menjadi dasar ia berpindah kubu. Itu artinya, bila kubu Bali yang diakui oleh pemerintah, tentu Sulaiman Abda akan bertahan di kubu Bali. Intinya, penghargaan atas ruang kader untuk berpikir mestinya dihormati kecuali bila ijtihad politiknya berpindah ke lain partai politik. Tapi, apa yang dilakukan oleh Bang Leman masih dalam lingkungan berwarna kuning.

Pingin rasanya bertanya kepada Bang Leman soal pemecatan dan PAW yang dilakukan oleh kubu Munas Bali. Tapi, saya urungkan. Pasti beliau akan jawab, “Saya bukan di kubu Munas Bali. Tapi di kubu Munas Ancol yang disahkan pemerintah. Bila saya dipecat oleh Kubu Ancol baru saya bisa bereaksi,” duga saya mencoba membaca pikiran Bang Leman.

Lebih dari itu, Bang Leman akhir-akhir ini memang sedang larut mengabdi kepada Aceh. Beragam peristiwa politik di Aceh yang “memanas” menuntun hati dan pikirannya untuk ambil bagian dalam usaha membawa Aceh kembali ke suasana yang diharapkan semua.

Tidak mudah memang. Karena itulah, Bang Leman terlihat sibuk melakukan silahturahmi ke berbagai pihak. Bang Leman sangat yakin bila silahturahmi dilakukan, perbedaan bisa diselesaikan dengan baik. Untuk langkah ini, dengan sangat sabar Bang Leman melakukannya.

Langkah silahturahmi yang dilakukan oleh Bang Leman juga wujud dari penghormatan Bang Leman terhadap seluruh tokoh. Semua dihormati dan ditempatkan dalam posisi terhormat. Tidak ada satupun sosok tokoh yang ingin dilihat kekurangannya. Setiap kali berbincang dengan Bang Leman maka potensi kebaikan sang tokohlah yang mengalir dari suaranya. Itulah Bang Leman, sosok yang tidak pernah lelah membangun komunikasi, dengan siapa saja. []