Author: Qahar Muzakar

Wawancara Lilianne Fan: Kita Training Pengungsi Agar Mendapatkan Income

Wawancara Lilianne Fan: Kita Training Pengungsi Agar Mendapatkan Income

NAMANYA Yayayasan Geutanyoe, sebuah lembaga kemanusiaan yang fokus pada issue kemanusian di level internasional. Selama 15 tahun terakhir, lembaga yang berpusat di Aceh ini ikut serta mengambil peran membantu pengungsi konflik dan bencana, termasuk pengungsi di Aceh dan Rohingya di negara-negara ASEAN dan level internalsional.

Menurut Lilianne Fan, Co-Founder Yayasan Geutanyoe, dengan kondisi global seperti sekarang ini, sangat tidak realistis untuk berharap proses pemindahan pengungsi ke negara ketiga dapat dilakukan dalam waktu dekat.

“Karena case load refugees di seluruh dunia sangat tinggi sekarang ini. Apalagi dengan konteks yang terjadi di Suriah, Yaman dan di beberapa negara lain. Jadi untuk penempatan refugees ini harus dilihat dari segi global,” kata Lilianne, usai mengunjungi tempat penampuan pengungsi di Gampong Blang Adoe, Suka Makmur, Aceh Utara beberapa waktu lalu. Hari itu Liliane didampingi beberapa staf lokal dari Yayasan Geutanyoe.

Karena itu, menurut Lilianne dibutuhkan perencanaan yang baik oleh Pemerintah Aceh untuk membangun kondisi yang lebih kondusif bagi pengungsi Rohingya yang telah diberi izin oleh pemerintah pusat untuk ditampung selama setahun.

Selain memberikan bantuan langsung, Yayasan Geutayoe juga ikut melobi negara-negara Asean untuk mencari solusi penyelesaian masalah pengungsi, dan memberikan training kepada warga Rohingya agar mereka memiliki skill yang kemudian dapat menghasilkan pendapatan.

Di Aceh Utara, pemerintah setempat menyambut baik dan mendukung program pendampingan yang dilakukan oleh Yayasan Geutanyoe. Sementara di Langsa, lembaga ini merekrut para nelayan yang pernah menyelematkan langsung pengungsi untuk menjadi relawan pendamping Yayasan Geutanyoe.

Di sela-sela kegiatannya di Aceh Utara, perempuan yang menetap di Thailand ini berkesempatan berbincang-bincang dengan portalsatu.com mengenai kondisi pengungsi Rohingya di Aceh khususnya, dan regional ASEAN umumnya.

Apa saja yang dilakukan Yayasan Geutanyoe terkait advokasi dan pendampingan pengungsi Rohingya?

Pertama untuk mengadvokasi supaya ada negara ketiga yang ingin menerima mereka. Itu sudah dimulai di beberapa level, internasional dan regional. Misalnya kami banyak komunikasi dengan negara-negara Asean agar dapat melobi negara ketiga, bukan hanya di barat tapi juga di negara lain, supaya mereka bisa mempertimbangkan apakah mereka bisa menerima (pengungsi) atau tidak.

Kedua, dengan konteks dunia sekarang dimana jumlah pengungsi yang tertinggi sejak perang dunia ke II, sekarang kita semua harus juga sadar bahwa untuk mendapatkan negara penerima pengungsi di negara ketiga itu sangat sulit. Mungkin tidak realistis untuk mengharapkan proses itu dipercepat dalam waktu dekat. Karena case load refugees di seluruh dunia sangat tinggi sekarang ini. Apalagi dengan konteks yang terjadi di Suriah, Yaman dan di beberapa negara lain. Jadi untuk penempatan refugees ini harus dilihat dari segi global.

Tetapi ada juga beberapa negara yang selama ini sangat membantu para refugees, misalnya Turki yang menampung lebih dari satu juta refugees dari Suriah dengan dana mereka sendiri.

Karena itu, jika misalnya mereka tidak bisa ditempatkan (ke negara ketiga) dalam waktu dekat, harus ada langkah-langkah yang diambil oleh Pemerintah Aceh dan stake holder di Aceh untuk melakukan planning supaya kita bisa membangun kondisi yang lebih kondusif bagi reugees Rohingya.

Untuk tahap darurat mereka tentu saja sangat bersyukur bisa diselamatkan oleh nelayan Aceh, masyarakat, dan pemerintah. Tetapi untuk jangka menengah, ini akan lebih rumit, ada berbagai persoalan. Pertama mereka ingin reunifikasi dengan keluarga mereka. Kebanyakan yang melarikan diri ini pasti ada saudaranya di Malaysia, paling banyak di Malaysia. Jadi itu sebenarnya tujuan utama mereka.

Jadi kita harus memikirkan caranya agar bagaimana misalnya pertama menjalin hubungan dan komunikasi yang lebih sering di antara para pengungsi yang ada di Aceh dengan saudaranya di Malaysia dan negara lain.

Tujuannya?

Supaya mereka tidak merasa bahwa mereka tidak bisa tinggal disini (tempat penampungan di Aceh) karena merasa jauh dengan saudaranya.

Dalam beberapa minggu ini kan ada beberapa kasus pengungsi yang coba melarikan diri, sebabnya mereka ingin berkumpul bersama keluarganya. Bukan karena mereka tidak senang di Aceh, tapi ingin bergabung bersama keluarga mereka yang ada di Malaysia.

Kemudian ada prioritas dari pengungsi untuk mendapatkan penghasilan, supaya mereka bisa mengirim uang ke keluarga mereka di Myanmar. Jadi kalau kita bisa tackle dua hal ini, pertama memfasilitasi hubungan dengan keluarga dan juga memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang bisa menghasil sebuah income, walapun kecil untuk bisa dikirimkan ke keluarga mereka di Myanmar. Karena di Myanmar akses mereka untuk bekerja dibatasi.

Dan itu masuk dalam program kerja Yayasan Geutanyoe?

Yes.

Program seperti apa yang akan dilakukan untuk menghasilkan income bagi para pengungsi?

Untuk program livelihood ada beberapa training yang akan kami fasilitasi. Seperti kerajinan tangan untuk perempuan dan laki-laki. Kami sudah mempunyai pemetaan skill yang dimiliki oleh setiap pengungsi. Ramai di antara mereka yang memiliki skill carpenter (tukang kayu), kemudian fisherman (nelayan), petani. Ada juga yang pernah punya bisnis kios kecil-kecilan atau pelayan restoran. Ada juga mekanik.

Untuk perempuan, rata-rata mereka tidak banyak bekerja, tetapi mereka tetap mimiliki tugas lain, memasak, menjaga anak, petani juga. Kami memberi pilihan dan akan kami berikan training yang bisa kemudian menghasilkan produk yang bisa dipasarkan. Kami juga sudah melakukan mapping (pemetaan)pasar lokal, nasional, regional dan internasional.

Kami juga melakukan linked (hubungan) dengan beberapa company (perusahaan) di Jakarta dan di level negara Asean, yang mungkin akan tertarik membeli produk yang dihasilkan pengungsi. Dan kemudian ada sistem untuk membuka sebuah rekening di mana hasil pendapatan dari produk itu bisa disimpan, dihemat dan dikirim ke keluarga mereka.

Yayasan Geutanyoe ini bukan hanya di Aceh, tapi juga di level Asean. Memang basednya di Aceh, tetapi saya tinggal di Bangkok, saya sering ke Myanmar, Malaysia, kami bergerak di level regional dan internasional, walaupun dengan nama Aceh.

Di Langsa, kita melibatkan para nelayan yang menyelematkan pengungsi, mengajak mereka menjadi relawan kami untuk memberikan training kepada para pengungsi, misalnya untuk pembuatan jaring. Ada 10 jaring yang sudah dimulai, satu sudah selesai dengan kualitas yang sangat bagus.

Sudah ada contoh yang berhasil dalam pemberdyaan pengugngsi di negara-negara lain?

Ada. untuk level Asean saya kira Malaysia. Ada sekurang-kurang 100.000 migran di sana, itu yang underestimate. Karena yang sudah didata oleh UNHCR itu ada 45 ribu orang. Tapi di Malaysia juga mereka tidak punya status refugees yang resmi, banyak dianggap sebagai pendatag illegal. Tetapi walau bagaimanapun pemerintah Malaysia juga sadar bahwa mereka punya masalah di Myanmar, butuh perlindungan. Dan itu juga dilakukan oleh pemerintah malaysia ketika Aceh Darurat Militer.

Artinya di Malaysia ada pembinaan terhadap pengungsi?

Ada, terhadap Rohingya khususnya, tetapi tidak sistematis juga. Bukan dari pemerintah tetapi lebih banyak dari yayasan, organisasi masyarakat yang ada di sana. Jadi memang ada inisiatif-inisiatif misalnya sekolah, pelayanan kesehatan. Memang tidak sistematis, tapi disana sekurang-kurangnya ada lembaga (yang menangani pengungsi) Rohingya juga.[] Laporan: Qahar Muzakar

Foto: Co Founder Yayasan Geutanyoe, Lilian Fan bersama pengungsi Rohingya di Blang Adoe, Aceh Utara. @Qahar Muzakar/portalsatu

Terganggu Illegal Fishing, Panglima Laot Mengadu ke Bupati Cek Mad

Terganggu Illegal Fishing, Panglima Laot Mengadu ke Bupati Cek Mad

LHOKSUKON – Sepuluh Panglima Laot se-Aceh Utara sore kemarin  mendatangi Bupati Aceh Utara H. Muhammad Thaib atau Cek Mad, di Pendopo Bupati Aceh Utara, Kamis, 23 Juli 2015.

Kedatangan mereka untuk mengadukan persoalan penangkapan ikan secara liar atau illegal fishing yang terjadi di wilayah perairan Aceh Utara. Para Panglima Laot itu bergantian menyampaikan keluh kesah yang dialami nelayan Aceh Utara terutama nelayan-nelayan kecil akibat illegal fishing yang sudah berlangsung lama.

“Ini yang bagi kami sangat kewalahan menghadapinya. Makanya kami sampaikan kepada bupati dan beliau bilang akan menindaklanjuti persoalan ini,” kata Ismail Inysa, Panglima Laot Aceh Utara usai pertemuan dengan bupati.

Sebelumnya, kata Ismail, pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara yang menyatakan siap mendukung tuntuntan para Panglima Laot.

Gangguan illegal fishing dengan pukat trawl atau pukat harimau kata Ismail dilakukan oleh nelayan-nelayan luar negeri seperti Thailand, dan Malaysia. Ada juga nelayan dari Belawan, Sumatera Utara dan dari kabupaten tetangga. “Yang diganggu itu wilayah Aceh Utara,” kata Ismail.

Menurut Ismail illegal fishing dengan segala jenis pukat trawl padahal jelas-jelas bertentangan dengan Peraturan Menteri Nomor 1 dan Nomor 5 Tahun 2015. “Kami meminta ini (kegiatan illegal fishing dengan pukat harimau) distop,” kata Ismail. Namun sebelum itu, ia khususnya untuk nelayan lokal, Ismail meminta kepada bupati agar dilakukan penggantian alat tangkap.

Setelah dilakukan penggantian alat tangkap, jika ada yang masih menggunakan pukat trawl, Panglima Laot akan menggenakan sanksi hukum adat laut. “Bagi yang melanggar, yang pertama boatnya kita tahan selama satu minggu, kemudian semua hasil tangkapan akan kita sita untuk lembaga,” kata Ismail.

“Dan kami bilang ke bupati, kami akan mengusulkan (penggantian alat tangkap) ke pusat, ke menteri langsung. Dan kami meminta bupati sekurang-kurangnya mengeluarkan rekom.”

Selain mengadukan masalah illegal fishing, para Panglima Laot juga meminta kepada Cek Mad agar disediakan Kantor Sekretariat Panglima Laot Aceh Utara. Permintaan itu sudah disetujui oleh bupati untuk anggaran tahun 2016.

Menanggapi aduan dari para Panglima Laot, Cek Mad mengatakan akan segera mengadakan pertemuan dengan unsur Muspida Aceh Utara. “Nanti dari dinas (Perikanan dan Kelauatan) yang akan memfasilitasi, dan saya harapkan bisa secepat mungkin. Karena para nelayan sudah sangat resah,” kata Cek Mad.

Jika dari hasil kajian nantinya dibutuhkan payung hukum untuk mengatasi masalah tersebut, tidak tertutup kemungkinan akan dikeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) terkait penanganan illegal fishing di Aceh Utara.

“Rapat itu akan segera kita adakan,” tegas Cek Mad.

Penanganan masalah illegal fishing kata Cek Mad memang memiliki tantangan yang sulit dihadapi. Karena itu dibutuhkan dukungan semua pihak, unsur Muspida, masyarakat, mahasiswa dan media massa. “Ini harus diatasi, penghasilan nelayan (kecil) akibat illegal fishing sangat menurun,” kata Cek Mad.

“Masalah ini (illegal fishing) sudah berlangsung cukup lama, dan baru kali ini para Panglima Laot datang mengadu ke kita. Kita akan mengupayakan agar masalah ini segera selesai.”[] (ihn)

Foto: Bupati Cek Mad (kemeja putih) bersama para Panglima Laot se-Aceh Utara @portalsatu.com/Qahar Muzakar

Yayasan Geutanyoe Bantu Pengungsi Rohingya Jalani Ramadan dan Lebaran

Yayasan Geutanyoe Bantu Pengungsi Rohingya Jalani Ramadan dan Lebaran

SEJAK Ramadan hingga masuk Syawal, aktivitas lembaga sosial Yayasan Geutanyoe dihabiskan bersama 1.744 pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh di camp pengungsian Blang Adoe, Aceh Utara.

Co-Founder dan Direktur Internasional Yayasan Geutanyoe Lillian Fan, kepada portalsatu.com mengatakan, pihaknya memang mengagendakan program selama Ramadan dan lebaran bersama pengungsi Rohingya. Momentum ini menurutnya sangat penting, apalagi bagi anak-anak yang jauh dari sanak keluarga.

“Momentum Ramadan dan berhari raya bagi pengungsi Rohingya sangat penting, dan kami dari Yayasan Geutanyoe berniat memang ingin menemanin mereka,” kata Lilliane Fan.

Keberadaan Yayasan Geutanyoe di pengungsian sekaligus ikut menangani menu berbuka puasa dan peringatan Hari Raya yang berkerjasama dengan Muslim Charity dan Penny Appeal di camp pengungsian.

Mulai tanggal 18, 19, 20 dan 21 Juli 2015 lalu, Yayasan Geutanyoe menggelar kegiatan Hari Raya bersama pengungsi dan warga asing Bangladesh di camp Aceh Tamiang, Kuala Langsa, Bayeun di Aceh Timur dan camp Blang Adoe di Aceh Utara.[] (ihn)

[FOTO]: Mengintip Suasana Sore di Penampungan Rohingya Blang Adoe

[FOTO]: Mengintip Suasana Sore di Penampungan Rohingya Blang Adoe

SORE hari menjadi suasana yang riuh, kebanyakan dengan rona wajah ceria, di tempat penampungan sementara pengungsi Rohingya di Gampong Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara.

Belasan pemuda yang di antaranya berbadan kekar antre menunggu jatah bermain takraw, olahraga yang menurut Syarif, salah seorang remaja di tempat ini merupakan salah satu permainan favorit warga Rohingya.

Beberapa bocah juga terlihat tanpa lelah melarikan layang-layang ke sana ke mari. Ada juga pemuda Rohingya yang diajak berfoto bersama oleh pengunjung warga setempat.

Semua aktivitas itu kemudian terhenti ketika peluit berbunyi jelang magrib. Mereka kemudian mengambil posisi jongkok membentuk barisan teratur untuk didata. Berikut beberapa foto yang memperlihatkan suasana sore di penampungan tersebut yang didokumentasikan portalsatu.com pada Rabu, 22 Juli 2015:

rohingya di blang adoe-6@qahar

rohingya di blang adoe-3@qahar

rohingya di blang adoe-1@qahar

rohingya di blang adoe-4@qahar

rohingya di blang adoe-5@qahar