Author: Nusi P Seurungkeng

Digugat, Ganti Rugi Tanah Perluasan Bandara Rembele Ditunda

Digugat, Ganti Rugi Tanah Perluasan Bandara Rembele Ditunda

REDELONG – Asisten I Kabupaten Bener Meriah, Muhammad Jafar, mengatakan pembayaran ganti rugi lahan warga untuk pengerjaan proyek Bandara Rembele saat ini mendapat gugatan adat yang menamakan diri dari wakil Setie Gunung.

Oleh sebab itu, kata Muhammad Jafar, pembayaran ganti rugi lahan warga terpaksa ditunda sebelum memiliki kekuatan hukum tetap.

“Pembebasan tanah terus berjalan. Semua pemilik tanah yang mendapat ganti rugi saat ini tinggal menunggu putusan pengadilan saja. Kalau nanti sudah mempunyai hukum tetap, maka ganti rugi segera kita lakukan,” katanya kepada wartawan di Redelong.

Proses ganti rugi nantinya, kata Muhammad Jafar, ditanggung dalam anggaran pendapatan belanja APBA 2015 dengan mekanisme pembayaran oleh Dinas Perhubungan Aceh sebagai pihak pembayar.

“Dalam proses penyelesaian hukum ini, pembangunan perluasan tetap terus berlanjut,” katanya.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bandara Rembele Yan Budianto, mengatakan pembangunan perluasan bandara dan infrastruktur lainnya saat ini telah mencapai progres 55 persen. Ia juga optimis pembangunan perluasan itu rampung akhir tahun ini.

“Insya Allah, mudah-mudahan proses gugatan yang saat ini sedang diproses dipengadilan cepat rampung. Kalau bisa Minggu ini tros. Dari Pemkab Bener Meriah harus berpacu terus menyelesaikan proses hukum itu,” harapnya.

Proyek pembangunan perluasan Bandara Rembele pada tahun ini meliputi pada perpanjangan landasan pacu, penimbunan, pengaspalan dan drainase dengan alokasi anggaran Rp200 miliar lebih.

“Kalau Air Shet memang prinsipnya wajib ada di setiap bandara itu, tapi ini kita prioritaskan pembangunannya pada tahun 2016 mendatang, sekaligus kita masukkan Pembangunan pagar. Dan 2016 kita harapkan pembangunan infrastruktur di Bandara Rembele clear, “katanya.

Pengerjaan perluasan Bandara Rembele di Bener Meriah itu juga telah dilaporkan kepada Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang berkunjung ke Bandara Rembele, Kamis siang 8 Oktober 2015 kemarin.

“Saya terima Laporannya akhir Desember ini pembangunannya selesai. Nantik saya balik lagi ne, saya cek lagi apakah sesuai laporan. Jangan asal lapor saja,” kata Menteri Jonan. [] (mal)

Foto Asisten I Kabupaten Bener Meriah, Muhammad Jafar.@Istimewa

Struktural Camat Perbatasan Bener Meriah kosong

Struktural Camat Perbatasan Bener Meriah kosong

BENER MERIAH – Pejabat struktural di jajaran kantor Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, hanya diisi oleh empat Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Jabatan yang kosong meliputi Sub Bagian Umum dan Kepegawaian. SUB Bagian Perencanaan, Subbag Keuangan, Seksi pembangunan, Seksi Ketentraman dan ketertiban umum, serta Seksi tata Pemerintahan.

Camat permata, Adli Salim yang dilantik Rabu 22 Oktober 2014 lalu, mengatakan dengan kekosongan beberapa struktural tersebut mengakibatkan keterlambatan proses pelayanan terhadap masyarakat tidak maksimal.

Dikatakan, jika dibandingkan volume beban kerja dengan tenaga kerja tak sebanding sehingga banyak tugas tak rampung tepat waktu.

Di Kecamatan Permata saat ini, kata Adli, hanya diperbantukan oleh tenaga PNS 9 orang, CPNS k-2 9 orang, dan tenaga honor 21 orang.

“Sudah saya usulkan melalui Kepala Kepegawaian Daerah Bener Meriah. Kabar dari camat sebelumnya sering juga diusulkan, tapi belum dikirim. Keterangan dari pemerintah kabupaten berjanji akan diusahakan,” kata Adli saat ditemui di ruang kerjanya.

Kondisi itu diprediksi Camat Adli, telah berlangsung sejak berdirinya kecamatan penghujung Bener Meriah-Aceh Utara itu pada tahun 2003 lalu.

Di Kecamatan Permata, kata Adli, penduduk berjumlah 20.734 jiwa yang tergabung dalam 5.749 kepala keluarga. Besaran jumlah penduduk itu menurutnya, tentu membutuhkan banyak tenaga administrasi untuk menunjang pelayanan masyarakat agar menjadi maksimal.

“SAAT ini kami bekerja masih semua rangkap tugas. Satu orang kadang harus mengerjakan empat bagian lain,” katanya. [] (mal)

Dua Unit Rumah Dilalap Si Jago Merah di Bener Meriah

Dua Unit Rumah Dilalap Si Jago Merah di Bener Meriah

REDELONG – Dua unit rumah warga Buntul Petri, Kecamatan Permata, Bener Meriah terbakar pada Kamis, 8 Oktober 2015 sekitar pukul 12:00 WIB. Rumah kopel tersebut salah satunya berkontruksi beton dan lainnya terbuat dari kayu merupakan milik Siti Rahmah dan Rabinah.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Namun kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Korban kebakaran juga mengaku kehilangan surat berharga seperti ijazah, akte kelahiran dan surat tanah serta perabotan rumah tangga dalam musibah ini.

Kejadian tersebut awalnya diketahui oleh Rabinah, salah satu pemilik rumah. Saat itu dia berada tidak jauh dari rumah. Rabinah terkejut ketika melihat lidah api mulai menjilat atap rumah orang tuanya, Siti Rahmah. Api kemudian dengan cepat menjalar ke bagian rumah Rabinah yang posisinya berdempetan.

Melihat kondisi itu dia langsung teriak minta tolong kepada warga. Dengan perlengkapan seadanya, warga berusaha memadamkan api sebelum pemadam kebakaran tiba di lokasi.

Api berhasil dipadamkan selang 30 menit kemudian setelah tiga unit mobil pemadam kebakaran dari posko Kecamatan Bandar dikerahkan.

“Pakaian (tersisa) cuma yang ada di badan. Yang lain sudah jadi abu,” kata Siti Rahmah kepada portalsatu.com saat ditemui di lokasi.

Ia mengatakan saat kejadian rumahnya sedang kosong. Siti Rahmah saat itu sedang pergi ke kebun. Sementara suami dan anaknya beraktivitas di luar rumah. Ia juga memastikan tidak ada api yang menyala sebelum rumah ditinggalkan.

“Prediksi saya karena konsleting arus listrik. Kalau dari gas tidak mungkin, saya sudah dua hari tidak masak pakai kompor gas, karena gasnya kosong,” ujar Siti Rahmah.

Camat Permata, Adli Salim, SE, mengaku sedang mendata total kerugian yang dialami korban untuk diusulkan ke Pemkab Bener Meriah guna mendapatkan bantuan.

“Bantuan masa panik sudah kita salurkan. Untuk penginapan kita usahakan tenda dulu. Sementara pembangunannya nanti kita usulkan ke pemkab,” katanya.

Camat Adli Salim juga meminta kepada pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, agar dapat memasukkan budget anggaran untuk mendirikan satu unit posko pemadam kebakaran di kecamatan perbatasan antara Bener Meriah-Aceh Utara itu. Dia berharap permintaan ini dapat segera direspon pada anggaran tahun 2016 mendatang.

Permintaan itu tentu memiliki alasan yang cukup. Saat ini, kata Adli Salim, untuk menanggulangi musibah kebakaran di Kecamatan Permata terpaksa harus meminta bantuan dari posko pemadam kebakaran dari Kecamatan Bandar. Padahal jaraknya mencapai 10 kilometer dengan waktu tempuh 30 menit.

“Itu kalau pemadamnya datang dari Kecamatan Bandar. Tapi kalau dari pusat kabupaten tentu sangat jauh,” katanya.

Ia mengaku banyak bangunan yang tidak dapat diselamatkan setiap musibah kebakaran terjadi di Kecamatan Permata. Hal ini disebabkan bantuan mobil pemadam kebakaran datang terlambat ke lokasi.

“Jumlah penduduk di Kecamatan Permata ini 20.734 jiwa yang tergabung dalam 5.749 KK. Saya rasa dengan jumlah penduduk itu sudah cukup alasan bagi Kecamatan Permata untuk memiliki satu unit posko pemadam kebakaran,” katanya.[](bna)

Menhub Ignasius Jonan Cek Kondisi Sejumlah Bandara Perintis di Aceh

Menhub Ignasius Jonan Cek Kondisi Sejumlah Bandara Perintis di Aceh

REDELONG – Menteri Perhubungan RI, Ignasius Jonan, mengecek kondisi sejumlah bandara perintis yang ada di Aceh menggunakan pesawat Kings Air 200 GP milik Balai Kalibrasi Kemenhub RI. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, Kamis, 8 Oktober 2015.

Menteri Ignasius tiba di Bandara Rembele sekitar pukul 10.00 WIB. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya ke Bandara Maimun Saleh, Sabang dan mengisi bahak bakar pesawat di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang. Usai dari Blang Bintang dia langsung kembali ke Jakarta melalui Bandara Kuala Namu International Airport, Medan, Sumatera Utara, menggunakan pesawat Garuda.

“Sebenarnya saya ingin ke Bandara T. Cut Ali Tapak Tuan di Kabupaten Aceh Selatan dan Bandara Senubung di Gayo Lues. Cuma karena gangguan asap di udara, terpaksa harus saya batalkan. Tetapi kalau cuaca sudah bagus nanti saya kembali lagi ke Aceh,” kata Ignasius kepada wartawan.

Dia mengatakan kunjungan tersebut bertujuan untuk mengecek kondisi bandara perintis yang ada di beberapa pelosok Aceh. Kepada wartawan, dia mengaku komit membenahi bandara perintis yang dinilai belum standar nasional.

Menurutnya beberapa laporan terkait bandara ini juga sudah dikirimkan ke Jakarta melalui e-mail. Laporan tersebut untuk membuat rancangan dan pengalokasian anggaran beberapa infrastruktur di bandara perintis di Aceh. Rencana serupa juga merupakan keinginan Presiden Jokowi untuk membangun bandara di daerah pedalaman.

“Pembangunan pagar, navigasi udara dan beberapa infrastruktur bandara lainnya juga perlu kita persiapkan, supaya bandara perintis di Aceh standar nasional. Rencana saya tahun ini harus sudah selesai,” katanya.

Dia mengatakan telah mendapatkan laporan dari PPK terkait Bandara Rembele yang memasuki pengerjaan proyek fisik pada Desember 2015. Proyek fisik tersebut berupa landasan pacu, penimbunan, pengaspalan dan drainase yang akan rampung dikerjakan.

“Laporannya bagus. Nanti saya cek lagi ne, jangan lapor-lapor saja,” kata Menteri Jonan.

Ikut hadir dalam rombongan tersebut seperti anggota DPR RI dari Komisi V Anthon Sihombing dan Anggota Komite Kebijakan Publik, Mirza Keumala.[](bna)

PN Takengon Gelar Sidang Lanjutan Kasus Pembunuhan Kepala Pegadaian

PN Takengon Gelar Sidang Lanjutan Kasus Pembunuhan Kepala Pegadaian

TAKENGON – Pengadilan Negeri Takengon kembali menggelar sidang lanjutan kasus pembunuhan Kepala Pegadaian Cabang Takengon dengan agenda mendengar keterangan saksi, Rabu, 7 Oktober 2015 sekitar pukul 10.15 WIB.

Jaksa Penuntut Umum menghadirkan empat saksi dalam sidang itu termasuk Said Thaha yang juga suami Siti Jamilah, korban pembunuhan. Saksi lainnya adalah pasangan suami isteri Sofyan Arif-Sudarsih (tetangga korban) dan Dodi Kurniawan selaku petugas keamanan Kantor Pegadaian Cabang Takengon. Sementara Lili Suparli, SH, MH dan Rudi Hermawan, SH, bertindak sebagai JPU.

Sidang dipimpin oleh Nasri SH, MH sebagai hakim ketua dan Rahmawan SH, serta Edo Junian sebagai hakim anggota.

Said Thaha dalam keterangannya mengaku komunikasi terakhir dengan korban dilakukan pada 19 Maret 2015 sekitar pukul 17.30 WIB. Dia mengatakan setelah maghrib dirinya sempat kembali menghubungi Siti Jamilah. Namun korban tidak mengangkat telepon masuk.

Said kemudian menghubungi Sofyan Arifin, tetangga korban, untuk mengecek keadaan Siti Jamilah. Namun pintu tertutup saat Sofyan Arifin bersama istrinya, Sudarsih, menyambangi rumah korban. Mereka kemudian pulang.

Sofyan Arifin lantas menghubungi Said Thaha untuk mengatakan korban tidak membuka pintu rumahnya sekitar pukul 21.30 WIB.

Keeseokan harinya, Sofyan Arifin bersama istrinya Sudarsih dan anaknya Desi serta Dodi Kurniawan yang bertugas sebagai Satpam Kantor Pegadaian kembali mendatangi rumah korban. Mereka ingin memastikan kondisi Siti Jamilah yang tidak menjawab salam dan membuka pintu rumah pada malam sebelumnya.

Saat itulah mereka terkejut melihat kondisi Siti Jamilah yang tergeletak bersimbah darah di ruang tamu rumahnya.

“Sesudah itu langsung kami kabari kepala dusun, dan warga langsung berkerumun di tempat kejadian perkara,” kata Sofyan.

Kabar ini kemudian sampai ke Said Thaha, suami korban, sekitar pukul 07.30 WIB.

“Saya langsung ke Takengon dan begitu melihat keadaan isteri saya saat itu yang telah berada di ruang jenazah BLUD Datu Beru, saya langsung lemas dan tak berdaya menahan sedih,” kata Said Thaha, sembari beberapa kali mengusap air matanya.

Hakim kemudian menunda sidang pembunuhan tersebut usai mendengar keterangan empat saksi. Sidang akan dilanjutkan dengan agenda mendengar saksi lanjutan pada 26 Oktober 2015 mendatang.

Ke empat terdakwa kasus pembunuhan Kepala Pegadaian Cabang Takengon turut dihadirkan dalam sidang tersebut. Mereka turut didampingi oleh pengacaranya. Usai sidang, ke empat terdakwa kembali dititipkan ke Rumah Tahanan kelas II-B Takengon.

Ditemui secara terpisah, Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Takengon, Eprin, SH, mengatakan, ke empat terdakwa bakal dijerat dengan pasal 340 KUHP, 339 KUHP, 365 KUHP (dakwaan kombinasi) tentang pembunuhan berencana. Jika terbukti bersalah, terdakwa bisa terancam hukuman mati, penjara seumur hidup, atau 20 tahun penjara.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Pegadaian Cabang Takengon, Siti Jamilah, 40 tahun, ditemukan tewas mengenaskan di rumah kontrakannya, di Desa Blang Kolak Satu, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, pada Jumat, 20 Maret 2015 lalu. Korban ditemukan warga dengan kondisi berlumuran darah dan mulut tersumpal kain serta terdapat luka sobek di bagian leher.

Dalam kasus itu, polisi telah menetapkan empat tersangka. Tiga tersangka di antaranya berasal dari Desa Blang Kolak Satu, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Mereka adalah Rizki (22 tahun), Rudi (39 tahun), dan Roni Chandra (35 tahun).

Sementara tersangka ke empat adalah Rahmat, 31 tahun, warga Kampung Cinta Damai, Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah.

Polisi juga telah menetapkan tersangka utama dalam kasus terserbut, yakni Roni Chandra, 35 tahun, yang diringkus di Sumatera Utara beberapa waktu lalu.[](bna)

Demonstran Segel Kantor DPRK Bireuen

Demonstran Segel Kantor DPRK Bireuen

BIREUEN – Massa yang menamakan diri Gerakan Bireuen Masuk Akal menyegel kantor DPRK setempat. Penyegelan ini buntut dari kekecewaan demonstran setelah anggota dewan menolak menandatangani petisi yang diajukan.

Koordinator aksi, Rahmatullah, mengatakan garis besar dalam petisi yang diajukan adalah meminta dewan agar segera membentuk panitia khusus untuk menelusuri keabsahan ijazah Bupati Bireuen Ruslan M. Daud.

Usai penyegelan, massa meninggalkan lokasi dengan melakukan pawai di seputaran Kota Bireuen.

“Kelanjutannya sedang kita musyawarah. Yang jelas kami tetap mengawal proses pengusutan dugaan ijazah palsu bupati itu hingga tuntas. Jika benar, maka ini sadis dan sangat kita sayangkan karena ini mencoreng wajah pendidikan di Aceh,” katanya.[](bna)

Anggota DPRK Bireuen Tolak Tandatangani Petisi Pembentukan Pansus Ijazah Ruslan

Anggota DPRK Bireuen Tolak Tandatangani Petisi Pembentukan Pansus Ijazah Ruslan

BIREUEN – Jajaran DPRK Bireuen menolak untuk menandatangani petisi yang diajukan oleh Gerakan Bireuen Masuk Akal, Selasa, 6 Oktober 2015. Gerakan ini diikuti oleh perwakilan Mahasiswa Universitas Almuslim, Mahasiswa IAI Almuslim, STAI Al- Ziziyah Samalanga, AKBID Munawarah, Koalisi NGO HAM, KP3A, SERAK dan GASAK, LBH-Pos Lhokseumawe, HMI Cabang Bireuen.

Dalam petisi tersebut, massa meminta DPRK Bireuen membentuk panitia khusus guna menelusuri kebenaran informasi terkait dugaan ijazah palsu Bupati Ruslan M Daud.

Koordinator aksi, Hidayatullah, kepada portalsatu.com mengaku kecewa terhadap sikap dewan Bireuen. Dia menilai para legislatif tidak mendukung langkah positif mahasiswa dalam mewujudkan mutu pendidikan yang murni dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme di daerah tersebut.

“Kami sangat kecewa dengan sikap dewan. Dengan menolak menandatangani petisi yang kami ajukan, berarti dewan secara terang-terangan menolak membentuk tim panitia khusus dan tidak mendukung upaya pengusutan dugaan ijazah palsu Bupati Bireun, Ruslan,” katanya.

Dia juga mengatakan hanya Wakil Ketua DPRK Bireuen dan beberapa anggota yang mau menemui para demonstran. Sementara Ketua DPRK Bireuen tidak terlihat menjumpai massa.

“Kami tidak tahu apakah sang ketua ada di tempat atau di luar daerah,” ujarnya lagi.[](bna)

25 Oktober Jamaah Haji Aceh Tengah Kembali ke Tanah Air

25 Oktober Jamaah Haji Aceh Tengah Kembali ke Tanah Air

TAKENGON – Jamaah haji asal Aceh Tengah yang tergabung dalam kelompok terbang 8 dijadwalkan kembali ke tanah air pada 25 Oktober 2015 mendatang.

Kepala Kantor Kemenag Aceh Tengah, Amrun Saleh, mengatakan, pendamping jamaah di Mekkah melaporkan, 110 jamaah asal Aceh Tengah dalam kondisi sehat. Mereka terdiri dari 39 pria dan 71 wanita. Kloter 8 merupakan gabungan dari Kabupaten Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Jaya dan Bener Meriah.

“Usai tragedi Mina para jamaah haji sedikit trauma dan mengalami demam dan batuk ringan karena perubahan cuaca saja,” kata Amrun Saleh kepada portalsatu.com, Selasa, 6 Oktober 2015 di Takengon.

Para jamaah kata Amrun, juga telah menyelesaikan rukun haji dan umrah. Saat ini para jamaah juga sedang melakukan ibadah biasa mengisi waktu luang sembari menunggu jadwal keberangkatan pulang ke tanah air.

“Para jamaah saat ini hanya melakukan ibadah biasa saja di Mekkah. Karena dalam agama dijelaskan jika beribadah di Masjidil Haram, maka pahalanya akan dilipatgandakan,” katanya.

Pada 25 Oktober nanti jamaah haji akan pulang melalui bandara King Abdul Aziz di Jeddah, Arab Saudi. Rombongan diperkirakan tiba di Asrama Haji Banda Aceh pada pukul 21:00 WIB. Esoknya pada 26 Oktober diperkirakan mereka sudah tiba di Takengon.

“Para jamaah akan kita jemput dengan bus,” ujarnya.[] (ihn)

Foto: Jamaah haji saat sedang wukuf di Arafah

Drama Kolosal “Jenderal Sudirman” di Aceh Tengah dan Lhokseumawe

Drama Kolosal “Jenderal Sudirman” di Aceh Tengah dan Lhokseumawe

TAKENGON – Pertunjukan drama kolosal “Komando di Atas Tandu” ditampilkan Sanggar Titah SMAN 8 Unggul, meriahkan HUT ke-70 TNI di Lapangan Makodim 0106 Aceh Tengah, Senin, 5 Oktober 2015. Drama kolosal “Jenderal Sudirman” itu juga menyemarakkan HUT TNI di Lhokseumawe.

Pantauan portalsatu.com di Aceh Tengah, drama itu menceritakan kisah Panglima Besar Jenderal Sudirman melawan penjajah Belanda dalam kondisi apapun. Dikisahkan, suatu hari saat sang jenderal tengah berbaring dalam kondisi lemah di kediamannya Jalan Bintara Timur 8 Yogyakarta, tiba-tiba penjajah Belanda membombardir kawasan itu.

Jenderal Sudirman bersama pasukannya langsung melawan dengan membalas tembakan sembari menghindar ke gunung Wilis di pedalaman Yogyakarta. Pertempuran dengan pasukan penjajah pun terus terjadi.

Belanda akhirnya memilih mundur dan mengajak berunding dengan Pemerintah RI yang dikenal dengan “Perundingan Roem-Royen”. Akan tetapi, Jenderal Sudirman yang dalam kondisi sakit-sakitan memilih bergerilya di hutan guna mempertahankan keutuhan negara.

Akhirnya Sri Sultan Hemengkubuwono IX meminta Kolonel Gatot Subroto menulis surat kepada Jenderal Sudirman agar bersedia kembali ke ibukota dan menyatakan Belanda tidak akan mengingkari hasil perundingan itu.

Berdasarkan surat tersebut, Jenderal Sudriman dan pengikutnya turun gunung ke Ibukota Yogyakarta. Disana, jenderal dan pasukannya telah ditunggu ribuan masyarakat dengan teriakan “merdeka”.

Beberapa hari kemudian, kondisi kesehatan Sudirman semakin memburuk dan akhirnya sang jenderal meninggal dunia.

Sementara itu, puluhan remaja dari Komunitas Sastra Lhokseumawe dibantu para pelajar lainnya menampilkan drama kolosal “Jenderal Sudirman” di Lapangan Sudirman, Lhokseumawe. Penampilan para remaja itu berhasil memukau pengunjung usai upacara HUT TNI.

Yanti, 35 tahun, salah seorang pengunjung asal Lhokseumawe merasa terharu menyaksikan teater atau pertunjukan drama kolosal “Jenderal Sudirman” itu. “Pertunjukan itu seakan membawa kita kembali ke masa saat merebut kemerdekaan puluhan tahun silam,” katanya.[] Laporan Datuk Haris Molana

Foto: Pertunjukan drama kolosal “Jenderal Sudirman” di Lapangan Makodim Aceh Tengah. @Nusi/portalsatu.com

HUT TNI di Aceh Tengah Meriah

HUT TNI di Aceh Tengah Meriah

TAKENGON – Dandim 0106 Aceh Tengah Letkol Arm. Fery Ismail bertindak sebagai inspektur upacara HUT ke-70 TNI  di lapangan Makodim setempat, Senin, 5 Oktober 2015.

Peringatan HUT TNI berlangsung meriah. Upacara diikuti jajaran TNI, Polri, Satpol PP, pemadam kebakaran, Pramuka dan jajaran SKPK Aceh Tengah.

Presiden Joko Widodo dalam amanatannya dibacakan inspektur upacara, melarang keras bagi TNI untuk berbisnis dan terjun sebagai aktor politik. Larangan itu berlandas pada profesi TNI telah persenjatai dan harus menjalankan tugas pokok untuk menjaga keutuhan negara.

Jokowi juga menyampaikan apresiasi terhadap tugas TNI yang setia menjaga keutuhan dan keamanan negara. Selain itu, Jokowi mengapresiasi tugas TNI  turut membantu memadamkan kebakaran hutan di wilayah Provinsi Riau yang telah meresahkan negara dengan asap yang ditimbulkan.

Presiden menegaskan bahwa jati diri TNI sebagai tenaga merakyat. Oleh karenanya, TNI diminta melindungi dan menjaga ketertiban masyarakat. TNI  juga diminta jangan menyakiti hati rakyat dan dilarang menjauhi rakyat.

“Hubungan TNI dan rakyat bagaikan ikan dan air yang tidak boleh dipisahkan” kata Jokowi sebagaimana dibacakan inspektur upacara HUT TNI di Aceh Tengah.

TNI juga diminta harus mampu menjaga wilayah perbatasan dan pulau terdepan serta hasil laut yang kerap dicuri oleh negara luar.

Upacara HUT TNI berakhir dengan pawai anggota serta juga diikuti organisasi becak di Aceh Tengah.[]