Author: Joe Samalanga

Bupati Gayo Lues Buka Kejurda Arung Jeram di Puteri Betung

Bupati Gayo Lues Buka Kejurda Arung Jeram di Puteri Betung

GAYO LUES-Kejuaraan daerah Arung Jeram yang diikuti 9 Kabupaten se Aceh akan dibuka langsung oleh Bupati Gayo Lues Ibnu Hasim usai salat Jumat, 9 Oktober 2015, di Area Sungai Alas, Kecamatan Putri Betung, Gayo Lues.

Bupati Ibnu Hasim sangat antusias pada pelaksanaan Kejurda Arung Jeram yang baru pertama kali dilaksanakan di Aceh, bahkan beberapa waktu lalu sang bupati ikut turun mencoba lokasi menggunakan perahu karet milik panitia.

“Bupati sangat antusias dan akan membuka acara tersebut,” kata Pembina Lokal acara Kejurda Arung Jeram Syafruddin, Kadis Pariwisata Gayo Lues saat dihubungi di Gayo Lues, Jumat.

Disebutkan beberapa pejabat dan DPR Aceh dari provinsi juga dipastikan turut hadir, termasuk pengurus Arung Jeram dari tingkat provinsi dan pusat.

Kejurda Arung Jeram se-Aceh yang pertama direncanakan akan berlangsung mulai 9 Oktober-12 Oktober 2015. [] (mal)

Pantau Longsor, Jadi Kerja Ekstra Panitia Lokal Kejurda Arung Jeram di Gayo Lues

Pantau Longsor, Jadi Kerja Ekstra Panitia Lokal Kejurda Arung Jeram di Gayo Lues

GAYO LUES – Tampaknya Panitia Kejuaraan Daerah Arung Jeuram se-Aceh yang dibuka petang ini, harus punya tenaga tambahan, pasalnya hujan yang mengguyur Gayo Lues dan sekitarnya pada Kamis sore hingga malam, 8 Oktober 2015, menyebabkan beberapa titik longsor yang menyebabkan putusnya hubungan darat Kutacane Aceh Tenggara dengan Kecamatan Putri Betung Gayo Lues.

Pantauan media ini pada Kamis malam, panitia mendapat informasi apabila di beberapa titik di jalan negara kawasan Putri Betung telah longsor dan menyebabkan jalan putus total.

“Ada Panitia tambahan yang dikerahkan untuk memantau kondisi jalan, supaya perlombaan Arung Jeram yang dibuka besok (jum’at) tidak ada kendala. Panitia ingin memastikan kondisi jalan,” kata Ketua Panitia Kejurda Aruing Jeuram se-Aceh Rahmatsyah Putra yang biasa disapa Acil kepada Portalsatu.com di Putri Betong, Jum’at dini hari.

Disebutkan Acil, semua peserta sekarang sudah berkemah di kawasan dekat lokasi perlombaan, dan tidak ada keluhan. Soal hubungan transportasi pihaknya untuk memastikan kondisi jalan untuk para undangan dari berbagai daerah.

Sementara Kadis Pariwisata Gayo Lues Syafaruddin yang bertindak sebagai pembina acara tersebut ketika dihubungi sedang berada di lokasi longsor. Dijelaskannya apabila hujan  yang terjadi sejak sore telah menyebabkan beberapa titik mengalami longsor kecil dan masih bisa dilewati kendaraan roda empat. Hanya air akibat hujan cukup menganggu badan jalan.

“Di daerah Gempang Pekan, Puteri Betong, sekarang kondisinya tertutup longsor dan tidak bisa dilalui baik oleh roda dua,” kata Syafaruddin.

Dijelaskan, daerah Gempang  Pekan ada dua titik longsor parah yang menutupi jalan, sedangkan air yang melintasi jalan itu banyak ditemui di kawasan Gempang Leumpuh.

“Tapi sudah dikoordinasikan dengan pihak BPBD, insya Allah sudah bisa dilalui kendaraan,” ujar Pak Syaf, sapaan akrab Syafruddin ketika dihubungi kembali Jum’at pagi, 9 Oktober 2015. Begitu juga kondisi jalan yang menghubungkan Aceh Tengah-Gayo Lues, dapat dilalui, namun disarankan untuk menggunakan jalan melalui Desa Bintang.

Kejurda Arung Jeram akan dilaksanakan mulai Jum’at 9 Oktober hingga 12 Oktober 2015 di Sungai Alas, Kecamatan Putri Beutong, Gayo Lues. [] (mal)

Area Arung Jeram Sangat menantang, Ketua Panitia: Persiapan Sudah Maksimal

Area Arung Jeram Sangat menantang, Ketua Panitia: Persiapan Sudah Maksimal

GAYO LUES – Ketua Panitia Arung Jeram, Rahmatsyah Putra, SE atau biasa disapa Acil mengatakan, seluruh panitia Kejurda Arung Jeram, baik dari pusat dan Provinsi sudah melakukan persiapan secara matang untuk kebutuhan selama pelaksanaan perlombaan, mulai dari pembukaan hari ini Jumat 9 Oktober 2015 hingga penutupan pada Selasa 12 Oktober 2015 mendatang.

“Panitia sudah maksimal, bahkan untuk keperluan atlit sudah disiapkan,” kata Ketua Panitia Rahmatsyah Putra kepada Portalsatu.com, Jum’at 9 Oktober 2015 di Kecamatan Puteri Betung, Gayo Lues.

Diakuinya sejak Rabu panitia terus melakukan rapat mengingat cuaca hujan, yang pengaruhnya langsung pada intensitas sungainya, apalagi kondisi Sungai Alas, Kecamatan Puteri Betung, Gayo Lues baru pertama kali digunakan, perlu perhatian khusus.

“Peserta juga sebagian memberi komentar apabila area perlombaan sangat menantang, apalagi semua area bergelombang,” ujar Rahmatsyah.

Untuk itu, katanya, ahli perlombaan dari pusat juga langsung memantau sendiri lokasi kegiatan seraya mencari lokasi yang tepat untuk peluncuran pertama, karena lokasi yang ditunjuk panitia lokal sangat menantang dan harus dari peserta yang sangat profesional.

“Tapi bisa jadi lokasi yang awal menjadi lokasi start pembukaan, namun kemungkinan bisa dipindah ketempat yang tingkat tantangannya lebih rendah,” jelas Acil. [] (mal)

Besok, Kejurda Arung Jeram Se-Aceh Dimulai

Besok, Kejurda Arung Jeram Se-Aceh Dimulai

BLANGKEJEREN – Kecamatan Puteri Betung, Kabupaten Gayo Lues, terpilih menjadi tuan rumah pelaksanaan kejuaraan daerah arung jeram se-Aceh yang dimulai Jumat, 9 Oktober 2015. Kejuaraan ini dilaksanakan di sungai ekstrem Kampung Ramung Musara, Kecamatan Putri Betong, Gayo Lues.

Kepala Dinas Pariwisata Gayo Lues, Syafruddin, kepada portalsatu.com mengatakan, kejuaraan daerah arung jeram akan diikuti oleh 15 kabupaten/kota se-Aceh.

“Sementara peserta belum memberi komentar terkait lokasi yang juga baru pertama kali dipakai untuk arung jeram walau sebenarnya daerah itu sudah dipetakan menjadi objek wisata rafting,” kata Syafruddin.

Dia mengatakan, panitia sudah menilai Sungai Kampung Ramung Musara sangat baik untuk olahraga arung jeram dengan tingkat ektrem arus yang menantang.

“Kita harapkan mulai besok kegiatan arung jeram berjalan lancar, dan Bupati Gayo Lues Ibnu Hasyim akan hadir pada acara pembukaan bersama beberapa pejabat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota,” ujar Syafruddin.

Sebagai catatan, Kecamatan Putri Betung terletak lebih kurang 30 kilometer dari Kota Blangkejeren atau berada di perbatasan Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. Kawasan tersebut merupakan daerah wisata alam yang mempesona dengan latar Gunung Leuser.[](bna/*sar)

Niat Serius Khairul Membumikan “Ija Kroeng” Made in Aceh

Niat Serius Khairul Membumikan “Ija Kroeng” Made in Aceh

KAIN sarung bagi orang Aceh adalah kebutuhan. Tidak ada orang Aceh yang tidak memilikinya, bahkan dalam seserahan asoe talam pengantin selalu menyertakan kain sarung di dalamnya. Kebiasaan-kebiasaan orang Aceh inilah yang kemudian menginspirasi Khairul Fahri Yahya, atau biasa disapa Cek Loe, membuat usaha kain sarung merk “Ija Kroeng.”

Selain itu, kain sarung menjadi pakaian yang paling disukai Cek Loe sejak kecil. Menurutnya kain sarung memiliki multi fungsi sejak masa perang dulu. Jika di hutan kain sarung selain sebagai pakaian juga bisa dipergunakan untuk beribadah, dan fungsi itu tidak berubah walau dunia kian moderen.

Prinsip mendirikan usaha Ijakroeng bagi Cek Loe cukup simple, yakni melengkapi penampilan sehari-hari. Berkain sarung juga bagian penting dari fashion, sekalian fahion dalam beribadah. Tentu bukan hanya itu, “Ija Kroeng” karya Cek Loe pun dikemas menggunakan bahan katon asli 100 persen. Tujuannya supaya pengguna kain sarung merasa nyaman, baik untuk fashion maupun busana ibadah.

Tidak hanya sampai di situ, Ija Kroeng juga mengeluarkan produk dalam standar dunia, baik dari kerapian maupun warna yang dipilih. Hitam dan putih adalah warna khas Ija Kroeng. Namum juga terdapat warna spesial tergantung selera.

Cek Loe mengatakan pihaknya menyiapkan edisi khusus bagi pencinta kain sarung dalam cetakan terbatas untuk hari-hari besar Islam.

“Seperti lebaran Idul Fitri lalu kami memproduksi warna-warna polos dan bagus, seperti marun, hijau, dan abu-abu, itu hanya diperuntukan untuk hari-hari besar saja dengan warna khusus pula,” kata Khairul Fahri Yahya, pemilik usaha Ija Kroeng ketika ditemui di tempat usahanya di Residen Danu Broto No. 13, Geuce Kaye Jato, Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

Produksi Ija Kroeng sebenarnya juga punya kekhususan luar biasa, bahan katon 100% didatangkan dari luar Aceh dan diproduksi di Aceh. Ukuran disiapkan untuk dewasa dan anak-anak. Cukup bagus bila menjadi fashion sarung keluarga.

Tidak sampai di situ, berbahan sama, Ija Kroeng terus mengkreasikan produk fashion lainnya. Salah satunya adalah Godi Bag (tas kain), Balum Chut (Tas Ikat), syal putih polos, dan T-Shirt (belum rilis).

Ija KroengCek Loe mengatakan Ija Kroeng akan terus bergerak memperkenalkan ornamen yang dimiliki suku-suku di Aceh. Pada tahun pertama pihaknya sedang mempersiapkan ornamen dari Gayo, mulai Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, hingga Alas, Aceh Tenggara. Ornamen itu akan ditemui di setiap produk Ija Kroeng selama setahun penuh. Setelah itu, kata dia, tahun berikutnya akan berubah dengan ornamen lainnya dari suku yang ada di Aceh.

“Kita ingin menduniakan kekakyaan ornamen di Aceh lewat kain sarung,” ujar Cek Loe.

Namun ayah satu orang anak ini mengaku masih harus terus berjuang mempersiapkan kebutuhan produksi Ija Kroeng. Terutama soal sumber daya manusia yang sulit, bahkan sakin sulitnya Cek Loe harus turun ke kampung-kampung untuk mencari tenaga penjahit. Pasalnya di balai pelatihan tidak tersedia tenaga tersebut.

“Beberapa penjahit yang sempat bergabung mengaku tidak sanggup dengan standar mutu yang diminta,” kata Cek Loe.

Walau agak sulit membangun usaha di Aceh, CV Berlindo, perusahaan milik Cek Loe yang memproduksi “Ija Kroeng” tidak menyerah. Memulai usaha di Aceh pada awal 2015, Cek Loe optimis jika “Ija Kroeng” made in Aceh dapat menembus pasar dunia. Alasannya, hasil penelusuran yang dilakukan Cek Loe membuktikan, belum ada produksi kain sarung di Indonesia yang mengutamakan kualitas, terutama kualitas bahan untuk membuat kain sarung.

“Ija Kroeng diproduksi dengan kualitas kain berdaya tahan kuat, selain itu dibuat dengan “handmade” (buatan tangan-red) yakni bukan menggunakan mesin, termasuk dalam memberi motif yang dilukis langsung dengan cat kain berkualitas dan tidak luntur,” ujar pria kelahiran 1980 silam di Geuce Kaye Jato Banda Aceh ini.

Sebagai lulusan mahasiswa Politeknik Lhokseumawe dan menyandang gelar sarjana teknik di Unsyiah tidak membuat Cek Loe takut membangun usaha “Ija Kroeng” di Aceh.

Ija Kroeng fb
@Dok Ija Kroeng

Sebelumnya Cek Loe bekerja di International Federation Redcross (IFR) di Banda Aceh pada 2007. Melalui lembaga ini dia kemudian dikirim mewakili Aceh ke Jerman di bidang mechanical engineering. Namun tidak lama Cek Loe mengundurkan diri dari IFR dan memilih magang di Bloomberg, sebuah perusahaan pengolahan limbah secara bio. Dia kemudian meneruskan pelatihan di Aqua Nostra, sebuah perusahaan yang mengelola pengolahan limbah.

Dia kemudian kembali ke Aceh tidak beberapa lama mengikuti pelatihan di Aqua Nostra. Sesampainya di Aceh, IFR meminta Cek Loe kembali bekerja. Namun kali ini Cek Loe diminta memilih bekerja di Aceh atau Jogjakarta.

Suami Rakhila Atien ini kemudian memilih bekerja di Jogjakarta meskipun tidak lama kemudian mengundurkan diri. Dia lantas kembali ke Jerman untuk beberapa lama guna melanjutkan studi.

Cek Loe mengaku sudah menekuni pembuatan kain sarung sejak 2006. Namun saat itu produksi kain sarung miliknya hanya untuk kebutuhan pribadi. Hasil olahan tangannya ini diminati oleh beberapa rekannya, termasuk Senator Aceh, Rafly Kande. Musisi ini termasuk orang pertama yang menggunakan karya Cek Loe dan menjadikannya sebagai fashion favorit hingga sekarang. Rafly turut membantu Cek Loe mempromosikan Ija Kroeng hingga ke Inggris dalam pementasan Kande Band beberapa waktu lalu.

Kini Cek Loe disibukkan mencari formula baru agar produknya dapat diterima masyarakat. Dia juga mengaku kondisi pemasaran di Aceh masih terbilang lemah lantaran Cek Loe sadar betul apabila mencari tenaga profesional untuk itu masih sangat terbatas. Dia berharap Pemerintah Aceh mau mempromosikan Ija Kroeng made in Aceh tersebut agar bisa mendunia.

Di sisi lain, Cek Loe mengaku produksi Ija Kroeng tersebut masih terbatas pada 15 helai per harinya. Jumlah produksi tersebut diakuinya masih kurang maksimal.

Sementara untuk promosi, Cek Loe turut menggunakan fasilitas gratis yang diberikan sosial media seperti Facebook, Twiteer, dan Instagram. Selain itu, dia juga memanfaatkan even-even yang digelar di Banda Aceh seperti pameran dan sebagainya. Sedangkan promosi terbuka belum dilakukan.[](bna)

Demokrat Aceh Bahas Calon Kepala Daerah Setelah Musda

Demokrat Aceh Bahas Calon Kepala Daerah Setelah Musda

BANDA ACEH – Partai Demokrat Aceh tidak ingin pengalaman pemilihan kepala daerah lalu terulang kembali pada Pilkada 2017 mendatang. Setelah mengusung calon menjadi bupati lantas memutuskan komunikasi dengan partai pengusungnya.

“Salah satu penyebab bupati  gagal, karena memutuskan hubungan dengan partai pengusungnya. Seharusnya dijaga supaya program pembangunan dari partai pengusung dapat dijalankan bersama,” kata Plt. Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Ir. Nova Iriansyah, M.T., kepada media selepas kegiatan donor darah di Sekretariat DPD PD Aceh, Lueng Bata, Banda Aceh, Senin, 5 Oktober 2015.

Nova juga menyebutkan beberapa bupati di Aceh yang diusung Partai Demokrat seperti Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Selatan, Siemeulue, dan Banda Aceh.

“Pada Pilkada lalu orientasinya adalah menang, ternyata itu salah. Banyak bupati setelah diusung dan menang, lalu memutuskan komunikasi,” ujar Nova Iriansyah.

Namun begitu, jelas Nova, menyangkut calon pada Pilkada mendatang Demokrat Aceh akan mengkajinya setelah melaksanakan Musyawarah Daerah (Musda) di penghujung Oktober 2015 nanti, karena tugas Plt. Ketua adalah menjalankan Musda sampai ada ketua terpilih.

“Nanti setelah Musda Demokrat baru membahas calon-calon kepala daerah baik tingkat kabupaten maupun provinsi,” ujarnya. [] (mal)

Donor Darah Pimpinan Demokrat Aceh Kumpulkan 37 Kantong Darah

Donor Darah Pimpinan Demokrat Aceh Kumpulkan 37 Kantong Darah

BANDA ACEH – Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Banda Aceh Kamaruzaman mengatakan, hasil donor darah yang dilakukan untuk pimpinan dan pengurus Partai Demokrat Aceh mencapai 37 kantong darah untuk kemanusiaan.

“37 kantong darah dilakukan terhadap pengurus partai Demokrat Aceh,” Kata Kamaruzaman Haqni kepada Portalsatu.com di Lhueng Bata, Banda Aceh, Senin 5 Oktober 2015.

Untuk itu, ketua PMI menyampaikan ucapan terima kasih atas kerjasama sosial Partai Demokrat, dan diharapkan kegiatan ini bisa dilaksanakan rutin.

“Dan pada donor darah tadi, banyak pengurus dan kader demokrat tidak dapat melakukan donor, karena belum 3 bulan dari donor sebelumnya,” kata Kamaruzaman.

Menurut Kamaruzaman, dengan jumlah 37 kantong darah itu jumlah yang luar biasa dari kegiatan internal, dan diharapkan dapat menjadi motivasi masyarakat untuk mendonorkan darahnya.

Hadir pada acara donor darah ketua DPD PD Nova Iriansyah, Ketua Fraksi DPR Aceh HT Ibrahim, anggota DPRA Iskandar Daood, Jamiddin, Alaidin Abu Abas, Ketua DPRK Banda Aceh Arif Fadilla, Ketua DPC Banda Aceh Yudhi Kurnia, dan Ibnu Rusdi.

Ketua Panitia Iqbal Farabi ketika dihubungi mengatakan, pihaknya berharap pengumpulan darah kemanusiaan juga dilakukan di daerah, karena kegiatan kemanusiaan sangat penting.

“Kami panitia menyampaikan terima kasih kepada pimpinan dan kader yang telah melakukan donor darah. kedepan diharapkan dapat terus meningkat,” Kata Iqbal Farabi. [] (MAL)

Demokrat Aceh dan Mualem Bahas Sembilan Poin Penting, Apa Itu?

Demokrat Aceh dan Mualem Bahas Sembilan Poin Penting, Apa Itu?

BANDA ACEH – Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Aceh bersilaturahmi dengan pimpinan Koalisi Aceh Bermartabat yang juga Ketua Umum DPA Partai Aceh, Muzakir Manaf, di rumah dinasnya di Banda Aceh, Sabtu, 3 Oktober 2015 sekitar pukul 10.00 WIB.

Hadir dalam silaturahmi tersebut Ir. Nova Iriansyah, MT sebagai Plt. Ketua Demokrat Aceh, Ir. Miryadi Amir sebagai Sekretaris Demokrat Aceh, dan T. Ibrahim, ST. MM yang kini menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Aceh.

Selain itu hadir pula Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Aceh Jamidin Hamdani, S.Sos, Ketua Komisi VI DPRA T. Iskandar Daod, SE. Ak. M. Si, Wakil Sekretaris PD Aceh Yusrizal Ibrahim, S. Sn, Fungsionaris Demokrat Aceh Iqbal Faraby, SH, dan Ir. Yusmaizal.

Dalam pertemuan tersebut, Mualem, sapaan akrab Muzakir Manaf, didampingi oleh Direktur Eksekutif KAB Tgk. Wien Rimba Raya.

Dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak turut prihatin dengan kondisi ekonomi nasional, termasuk Aceh saat ini. “Sehingga perlu kolaborasi atau kerjasama semua pihak agar agar bisa memperbaiki keadaan ini,” ujar Nova Iriansyah kepada portalsatu.com petang tadi.

Selain itu, kedua pihak juga membicarakan tentang perlunya peranan semua pihak mewujudkan kesejahteraan rakyat Aceh dengan pendekatan yang spesifik dan manusiawi. Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan kearifan lokal yang ada di Aceh.

Menurut Nova, Koalisi Aceh Bermartabat adalah aset rakyat Aceh yang merupakan wadah bagi perwujudan program-program Pemerintah Aceh yang konkrit, cepat, tepat sasaran dan pro rakyat. Selain itu, kata dia, KAB akan diberdayakan semata-mata untuk membantu percepatan pembangunan yang pro rakyat.

Kedua belah pihak juga membahas paradigma pembangunan/pemerintahan Aceh ke depan harus menganut asas good governance yang profesional, akuntabel, transparan dan aspiratif.

“Pemilukada Aceh tahun 2017 harus terselenggara dengan baik, sehingga menghasilkan pemerintah yang mampu membawa perubahan untuk kesejahteraan rakyat Aceh,” katanya.

Nova mengatakan Partai Demokrat dan segenap konstituennya turut mendukung niat baik dan percaya kepada ketulusan Mualem untuk mencalonkan diri sebagai Cagub dalam Pemilukada Aceh 2017. Mereka juga siap membantu, bermitra dan mengawal Pemerintah Aceh nantinya di bawah kepemimpinan Mualem.

Sementara dalam hal pasangan (Cawagub), PD menyambut baik konsep Mualem yang ingin bermitra dengan Parnas. Hal ini merupakan sikap yang simpatik, cerdas dan revolusioner demi menerobos komunikasi yang mungkin masih tersendat dengan Pemerintah Pusat.

“PD sangat mendukung sikap Mualem dalam memilih Balon Wagub-nya, dengan catatan bahwa pasangan tersebut adalah figur yang cakap, punya jaringan luas, berdedikasi tinggi dan yang terpenting adalah setia dan punya loyalitas penuh,” katanya.[]

Rafly Kande: Seni Aceh Jangan hanya untuk Lokal, tapi Dunia

Rafly Kande: Seni Aceh Jangan hanya untuk Lokal, tapi Dunia

JAKARTA – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) yang juga penyanyi Aceh Rafly Kande berharap pengelolaan seni-seni yang ada di Aceh bukan lagi menjadi tontonan masyarakat lokal saja, tetapj harus lebih luas dan dapat menjadi ikon Indonesia di mata dunia.

“Seni-seni yang kita miliki sekarang masih menjadi dari kita untuk kita, padahal seni-seni Aceh punya nilai jual yang besar,” kata Rafly Kande ketika dihubungi portalsatu.com di Jakarta, kamis 1 Oktober 2015.

Rafly berada di Jakarta setelah Rabu sempat mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda setelah melakukan konser musik tradisonal Aceh di Inggris selama 40 hari.

Menurut pelantun lagu-lagu khas Aceh itu, banyak seni Aceh yanb memang cukup punya gereget di luar negeri, seperti tari Saman Gayo dan Rapai. Namun selema ini pertunjukannya hanya untuk kalangan lokal.

“Sekarang sudah saatnya seni-seni yang ada di Aceh berbaur bersama seni-seni dunia lainnya. Marwah Aceh cukup kuat di luar negeri, tinggal kemasan dan pengenalannya dipikirkan bersama, termasuk Pemerintah Aceh yang merupakan representatif seni-seni yang dimiliki Aceh,” ujarnya. [] (mal)

Aktivis Himab: Pemikiran Sulaiman Abda Masih Dibutuhkan Aceh

Aktivis Himab: Pemikiran Sulaiman Abda Masih Dibutuhkan Aceh

BANDA ACEH – Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Aceh Besar (Himab), Fakhrurazi, S.Pd menilai keberadaan Sulaiman Abda masih dibutuhkan oleh DPD Golkar Aceh. Menurutnya partai berlambang pohon beringin tersebut beruntung memiliki sosok yang biasa disapa Bang Leman.

“Sangat disayangkan kalau beliau akan PAW, menurut saya di Aceh setiap membicarakan Golkar maka nama Sulaiman Abda yang terlintas,” kata Fakhrurrazi melalui pesan singkat yang dikirimnya ke Portalsatu.com, Rabu, 30 September 2015, malam.

Fakhrurazi juga menyebutkan, secara pribadi dia melihat peran dan pemikiran Sulaiman Abda juga masih dibutuhkan oleh DPR Aceh untuk menjawab dinamika politik dan pembangunan di daerah ini.

“Saya pribadi hanya melihat kondisi rill di lapangan, dan statemen ini tanpa kepentingan apapun selain kepentingan untuk Aceh ke depan,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Ketua DPR Aceh, Teungku Muharuddin, mengatakan pergantian Wakil Ketua DPR Aceh dari Sulaiman Abda ke M. Saleh tidak diartikan sebagai PAW. Hal itu dikatakan Teungku Muharuddin kepada portalsatu.com, Rabu malam 30 September 2015.

“Sulaiman Abda masih wakil ketua DPR Aceh hingga SK dikeluarkan. Ini jangan diartikan PAW. Ini pergantian posisi, reposisi ini,” ujar Teungku Muharuddin kepada wartawan.

Ia mengatakan keputusan malam ini akan diserahkan ke gubernur dan gubernur akan menyerahkan ke Kementerian Dalam Negeri.

“Yang kita bahas malam ini adalah reposisi dan bukan PAW,” ujarnya lagi.

Rapat akhirnya selesai pukul 23.33 WIB dengan keputusan Sulaiman Abda masih menjadi wakil Ketua DPR Aceh selama SK belum dikeluarkan menteri.[](bna)