Author: Iskandar Norman

Penyerangan Klewang di Meurandeh Paya

Penyerangan Klewang di Meurandeh Paya

SULTHAN Muhammad Daud Syah bersama Panglima Polem menghentikan perlawanan terhadap Belanda setelah keluarganya ditawan pada pertengahan tahun 1903. Hal itu juga dilakukan oleh Teuku Chik Di Tunong dan Cut Nyak Meutia. Mereka turun dari tempat gerilya dengan berpura-pura menyerah kepada Belanda pada 5 Oktober 1503.

Menurut catatan sejarawan Belanda, HC Zentgraaff, dalam masa tahun 1903 sampai 1905, Teuku Chik Di Tunong melakukan konsolidasi terhadap para pengikutnya Dia tetap merencanakan perlawanan kepada Belanda. Di awal tahun 1905, terjadi lagi suatu penyerangan yang amat dahsyat dan memilukan bagi Belanda. Pada 26 Januari 1905, sebuah pasukan patroli Belanda dengan kekuatan 16 orang pasukan di bawah pimpinan Sersan Vollaers berpatroli untuk memburu gerilyawan Aceh.

Vollaers sudah sangat berpengalaman dalam patroli di wilayah Aceh, karena itu ia tidak melakukannya di malam hari. Setelah melakukan patroli sehari penuh, Vollaers dan pasukannya mencari tempat yang dianggap aman untuk beristirahat. Mereka beristirahat di Meunasah (surau) Gampong Meurandeh Paya yang halamannya cukup luas, sehingga dapat digunakan untuk mendirikan bivak. Pasukan Belanda itu istirahat di dalam bivak, sementara Vollaers istirahat di dalam meunasah sambil membaca buku.

Karena merasa aman beristirahat di situ, mereka membiarkan orang-orang Aceh keluar masuk dalam perkarangan bivak. Pedagang buah-buahan, telur ayam, dan sejumlah pedagang makanan hilir mudik di meunasah tersebut dan menawarkan dagangannya kepada pasukan Belanda. Akan tetapi di balik semua itu, masing-masing “pedagang” itu dibekali dengan kelewang dan rencong.

Setelah mereka masuk dan situasi memungkinkan, salah satu di antara mereka memberikan komando untuk menyerang. Dari 17 tentara Belanda hanya satu yang selamat setelah melarikan diri, 16 lainnya tewas dicincang dengan pedang. Tentang penyerangan di bivak itu, Zentgraaff menulis: “Dengan suatu gerakan yang sangat cepat, semua orang Aceh yang ada di tempat itu memainkan kelewang dan rencongnya, menusuk dan menebas leher serdadu Belanda. Sasaran pertama adalah Vollaers sendiri yang sedang tidur-tiduran di dalam meunasah sambil membaca buku. Dari 17 orang pasukan Belanda itu, 16 orang tewas dan satu orang dapat melarikan diri melalui kampung menuju Lhokseumawe. Begitu mengetahui peristiwa itu, dengan satu pasukan militernya dan tergesa-gesa Kapten Swart segera menuju ke Meurandeh Paya. Tapi di sana yang mereka temukan tinggal 16 jenazah yang tercincang secara mengerikan. Mayat sersan Vollaers itu terdapat di atas meunasah dengan buku bacaan tergeletak di sampingnya.

Belanda kemudian menyelidiki kasus ini. Hasilnya diketahui bahwa penyerangan itu tidak dilakukan secara tiba-tiba, tapi sudah direncanakan jauh-jauh hari. Sementara otak di balik serangan itu diyakini oleh Belanda adalah Teuku Chik Di Tunong. Belanda kemudian menangkap Teuku Chik Di Tunong ketika menuju ke Lhokseumawe pada 5 Maret 1905. Ia ditangkap oleh Letnan Van Vuuren dan dijebloskan ke dalam penjara.

Hasil penyelidikan Belanda terhadap keterlibatan Teuku Chik Di Tunong dalam penyerangan tersebut kemudian terbukti. Pemerintah Belanda kemudian menjatuhkan hukuman gantung kepada Teuku Chik Di Tunong. Tapi karena sepanjang pemerintahan Belanda di Aceh belum pernah memberlakukan hukuman gantung, Gubernur Militer Van Daalen yang menggantikan Van Heutsz mengubahnya menjadi hukuman tembak mati. Perubahan hukuman ini sebagai penghargaan terhadap Teuku Chik Di Tunong selaku pejuang yang berhak mati secara terhormat.

Selain Zentgraaff, peristiwa itu juga ditulis H M Zainuddin dalam buku “Srikandi Aceh” terbitan Pustaka Iskandar Muda, 1966. Dalam buku itu dia mengungkapkan, sebelum menjalani hukuman tersebut, Teuku Chik Di Tunong meminta kepada Belanda agar dapat bertemu untuk terakhir kalinya dengan istrinya, Cut Meutia, serta Teuku Raja Sabi, anaknya yang masih berusia lima tahun. Selain untuk melepas rindu dan salam perpisahan pada istri dan anaknya, pertemuan itu digunakan Teuku Chik Di Tunong untuk memberikan wasiat pada  Cut Meutia.

Ada tiga permintaan yang disampaikan Teuku Chik Di Tunong pada Cut  Meutia waktu itu, yaitu meminta Cut Meutia untuk melanjutkan perjuangan melawan Belanda, mendidik anaknya menjadi seorang pejuang yang akan meneruskan perjuangannya melawan Belanda, serta meminta Cut Meutia untuk bersedia menikah dengan Pang Nanggroe, panglima perang yang selama ini mendampinginya dalam berbagai peperangan melawan Belanda.[] (bna) 

Iskandar Norman adalah peminat sejarah dan jurnalis lokal di Aceh.

Hari Raya Dalam Sarakata Sultan Iskandar Muda

Hari Raya Dalam Sarakata Sultan Iskandar Muda

HARI raya di Aceh zaman dahulu adalah hari bagi-bagi para pembesar memberi karunia kepada rakyatnya. Tingkat pemberian sesuai dengan pangkat dan jabatan. Yang besar memberi untuk yang kecil sebagai wujud ucapan selamat berhari raya.

Raja Aceh yang paling kesohor, Sultan Iskandar Muda malah membuat peraturan (sarakata) khusus tentang perayaan hari raya. Peraturan tersebut dinamai Sarakata Poteumeureuhom Meukuta Alam Iskandar Muda.

Prof. Dr H Aboebakar Atjeh dalam makalah Wajah Rakyat Aceh Dalam Lintasan Sejarah pada Seminar Pekan Kebudayaan Aceh kedua di Banda Aceh, 20 Agustus – 2 September 1972 menyertakan lampiran sarakata tersebut. Ia menjelaskan bahwa salinan Sarakata Sulthan Iskandar Muda diambil dari buku “De Inrichting Van Het Atjeshe Staatbestuur onder het Sultanaan” karangan KFH Van Langen.

Pada pendahuluan buku itu Van Langen menjelaskan baik sarakata Adat Meukuta Alam didapatnya pada waktu menyerang Masjid Indrapuri tahun 1879 dalam kitab-kitab yang telah ditinggalkan orang Aceh. Dokumen-dokumen aslinya tertulis dalam akasara Arab.

Khusus terkait dengan perayaan hari raya, ada sarakata khusus yang berjudul Peraturan Hari Besar Sulthan Aceh Memberi Karunia dan Kehormatan Kepada Uleebalang dan Rakyatnya. Ada 12 pasal dalam peraturan ini. Pada pasal 5 dijelaskan,  jikalau hari raya pitrah (idulfitri-red) dipasang meriam 21 kali pada pukul lima pagi-pagi awal dari satu hari bulan syawal.

Pada pagi-pagi hari raya pertama, baik idul fitri maupun idul adha, raja berangkat ke Mesjid Raya untuk sembahyang hari raya bersama dengan uleebalang yang ada dan rakyat sekalian dalam negerinya. (pasal 12).

Kemudian dalam pasal 7 dilanjutkan bahwa pada hari raya pertama usai shalat ied, panglima sagi dan uleebalang dalam sagi berkumpul meusapat di Masjid Raya mesjoearat (musyawarah-red) menentukan hari menghadap raja.

Dalam pasal 8 diterangkat bahwa hari menghadap raya itu adalah hari raya ketiga. Karena pada hari raya pertama dan kedua para uleebalang dan panglima sagi harus melayani rakyat di daerah pemerintahan masing-masing yang berkunjung ke rumahnya (open house).

Pada pagi-pagi hari ketiga bulan syawal, panglima sagi dan uleebalang menghadap raja di atas balai Baiturrahman. Saat itulah raja memberi karunia (hadiah) kepada mereka. Dalam pasal 9 ditulis, “Maka panglima sagi dan ulebalang dalam sagi yang menghadap raja itu mendapat salinan pada satu orang iaitu satu lembar kain dikaruniai oleh raja tanda selamat hari raja.”

Hadiah yang diberikan raja tersebut menurut kesukaan raja dan sesuai dengan pangkat orang yang menghadapkan. Pemberian kepada uleebalang dan panglima sagi berbeda dengan pemberian kepada rakyat biasa. Aturan pemberian hadiah ini sama baik pada hari raya idul fitri maupun hari raya idul adha.[]

Syeh Lah Geunta, Perginya Sang Maestro

Syeh Lah Geunta, Perginya Sang Maestro

Tak ada syeh seudati yang mampu mengalahkan rekor penonton konser raja dang dut Rhoma Irama di Aceh, selain duel dua maestro seudati Syeh Lah Geunta dan Syeh Lah Banguna pada 1980-an di Stadion Kuta Asan, Sigli.

Itu lah sepenggal kenangan yang masih tersisa di benak masyarakat Aceh tentang Syeh Lah Geunta. Namanya sejajar dengan pendahulunya Syeh Nek Rasyid dan Syeh Rih Krueng Raya.

Hentakan kaki dan tepukan dada dan gemulai ketip jari Syeh Lah Geunta tidak hanya membahana di Aceh, tapi menembus batas benua. Pada tahun 1990-an, para penari seudati ternama di Aceh dikumpulkan dalam satu group, mereka adalah Syeh Lah Geunta, abang adik Syeh Lah Banguna dan Syeh Rih Muda Meureudu, T Abu Bakar, Syeh Jafar, Syeh Muktar, Alamsyah, Marzuki dan Nurdin Daud.

Dua nama terakhir merupakan dosen dan koreografer tari seudati di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Marzuki merupakan pengajar seudati dan kesenian Aceh lainnya di IKJ, sementara Nurdin Daud, koreografer tarian massal saat Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Aceh tahun 1980.

Dalam kelompok seudati itu Syeh Lah Geunta bertindak sebagai syeh, sementara Syeh Lah Bangunan dan Marzuki bertindak sebagai aneuk syahi (vokal-red) yang membawakan syair-syair seudati yang menghentak, yang lainnya bertindak sebagai penari.

Di Amerika mereka main seudati di sepuluh negara bagian. Mulai dari San Fransico, Atlanta, Iowa, sampai acara puncak di New York. Di setiap negara bagian mereka melakukan pertunjukan tiga malam, kecuali pada acara puncak di New York sepuluh malam.

Setelah pertunjukan usai, penonton tidak berhenti bertepuk tangan, layar yang sudah diturunkan, dinaikkan kembali sampai tiga kali. Mereka terkesima, melihat irama rap dalam syair seudati. Mereka geleng geleng kepala, tak habis pikir ketika ketip jari, tepuk dada dan hentak kaki, jadi irama syair seudati yang begitu cepat nada dan hentakannya.

Tahun 1992, mereka juga melakukan pertunjukan di Spanyol selama 20 hari pada acara Expo dunia di Kota Sevilla. Tahun 1994 melakukan pertunjukan di Belanda selama 22 hari. Pulang dari sana berulang kali melakukan pertunjukan di negara-negara ASEAN.

Kini sang maestro itu telah pergi dengan secercah rasa di benak pecinta seudati. Bagaimana pun Syeh Lah Geunta telah berbuat untuk mengharumkan nama Aceh melalui seudati. Ia telah menyusul Syeh Lah Banguna dan Syeh Rih Muda Meureudu yang juga telah pergi sebelumnya. Selamat jalan maestro. []

Foto: Syeh Lah Geunta.@ serambi

Khanduri Beureu’at

Khanduri Beureu’at

Pada pertengahan bulan Syakban, masyarakat Aceh melaksanakan khanduri beureu’at dan shalat tasbih di meunasah-meunasah. Di ujung bulan ini juga akan diadakan meugang, tradisi makan daging sehari menjelang Ramadhan.

Khanduri Beureu’at dilaksanakan pada 15 Syakban disebut juga sebagai nisfu Syakban. Pada malam itu, masyarakat gampong mengadakan kenduri dan mengundang seorang teungku untuk menyampaikan ceramah. Kenduri ini dilaksanakan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, setelah selesai ceramah dan shalat tasbih, para hadirin akan makan kenduri bersama-sama yang dibawakan oleh masyarakat desa setempat.

Khanduri beureu’at selain disebut sebagai nisfu Syakban juga dikenal sebagai laylatul Bara’ah. Diyakini dari kata Bara’ah dalam bahasa Arab ini menjadi asal usul kata beureuát dalam masyarakat Aceh.

Hajatan khanduri beureu’at ini diadakan sebagai wujud untuk mendapatkan keberkatan umur dari Allah SWT, karena diyakini pada malam tersebut Allah SWT akan menentukan umur hamba untuk tahun berikutnya. Pada malam itu masyarakat akan membawa kenduri ke meunasah, kenduri itu akan dimakan setelah selesai shalat tasbih dan berdoa bersama.

Pada malam 15 Syakban para teungku di desa-desa usai kenduri di meunasah tidak akan tidur. Mereka akan kembali ke rumah untuk melanjutkan berdoa kepada Allah SWT, agar umurnya diberkati untuk tahun depan dan segala musibah yang akan dihadapinya tahun depan dihapuskan dalam buku qada dan qadar yang akan ditulis oleh Allah SWT atas namanya.

Seumeusie Meugang

Pada tiga hari terakhir bulan Syakban, masyarakat Aceh disibukkan dengan persiapan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Setiap rumah akan melakukan seumeusi meugang (menyembelih hewan) untuk bekal makanan selama puasa.

Perayaan meugang di Aceh selain unik dan religius juga mengandung nilai kebersamaan. Tradisi meugang tidak hanya memiliki makna lahiriah sebagai perayaan menikmati daging sapi, melainkan juga memiliki beberapa dimensi nilai yang berpulang pada ajaran Islam dan adat istiadat masyarakat Aceh.

Pelaksanaan tradisi meugang memang bermula dari upaya masyarakat Aceh untuk merayakan datangnya bulan puasa dan dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Bagi masyarakat muslim pada umumnya, datangnya bulan Ramadhan disambut dengan gegap gempita. Tak terkecuali bagi masyarakat Aceh.

Meugang yang dilaksanakan sebelum puasa merupakan upaya untuk mensyukuri datangnya bulan yang penuh berkah. Meugang pada Hari Raya Idul Fitri adalah sebentuk perayaan setelah sebulan penuh menyucikan diri pada bulan Ramadhan. Sementara meugang menjelang Idul Adha adalah bentuk terima kasih karena masyarakat Aceh dapat melaksanakan Hari Raya Qurban.

Sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, perayaan meugang telah menjadi salah satu momen berharga bagi para dermawan dan petinggi istana untuk membagikan sedekah kepada masyarakat fakir miskin. Kebiasaan berbagi daging meugang ini hingga kini tetap dilakukan oleh para dermawan di Aceh. Tak hanya para dermawan, momen datangnya hari meugang juga telah dimanfaatkan sebagai ajang kampanye oleh calon-calon wakil rakyat, calon pemimpin daerah, maupun partai-partai di kala menjelang Pemilu.

Selain dimanfaatkan oleh para dermawan untuk berbagi rejeki, perayaan meugang juga menjadi hari yang tepat bagi para pengemis untuk meminta-minta di pasar maupun pusat penjualan daging sapi. Para pengemis ini meminta sepotong atau beberapa potong daging kepada para pedagang. Ini berkaitan dengan terbangunnya nilai sosial atau kebersamaan.

Tradisi meugang yang melibatkan sektor pasar, keluarga inti maupun luas, dan sosial menjadikan suasana kantor-kantor pemerintahan, perusahaan-perusahaan swasta, serta lembaga pendidikan biasanya akan sepi sebab para karyawannya lebih memilih berkumpul di rumah. Orang-orang yang merantau pun bakal pulang untuk berkumpul menyantap daging sapi bersama keluarga. Perayaan meugang menjadi penting karena pada hari itu akan berlangsung pertemuan silaturrahmi di antara saudara yang ada di rumah dan yang baru pulang dari perantauan.

Pentingnya tradisi meugang, menjadikan perayaan ini seolah telah menjadi kewajiban budaya bagi masyarakat Aceh. Betapa pun mahal harga daging yang harus dibayar, namun masyarakat Aceh tetap akan mengupayakannya, sebab dengan cara ini masyarakat Aceh dapat merayakan kebersamaan dalam keluarga. Dengan kata lain, melalui tradisi meugang masyarakat Aceh selalu memupuk rasa persaudaraan di antara keluarga mereka.

Tradisi meugang juga menjadi ajang bagi para menantu untuk menaruh hormat kepada mertuanya. Seorang pria, terutama yang baru menikah, secara moril akan dituntut untuk menyediakan beberapa kilogram daging untuk keluarga dan mertuanya. Hal ini sebagai simbol bahwa pria tersebut telah mampu memberi nafkah keluarga serta menghormati mertuanya.[]

Kelicikan Teuku Umar di Nicero

Teuku Oemar de meest   intellegente en zeer baschaafde Atjeher (Teuku Umar merupakan orang Aceh yang paling cerdas dan Sopan) — LWA Kassier, Mayor Belanda.

LWA Kessier juga mengakui hal itu. Ia menyebut Teuku Umar sebagai yakni orang Aceh yang paling cerdas dan sopan.

Prang ngon taki, khanduri ngon doa, pameo dalam masyarakat Aceh ini yang dikenal sebagai hadihmaja menjadi filosofi perang di Aceh, beberapa peristiwa besar pernah terjadi. Ya, perang itu dengan tipu muslihat, yang akhirnya kesuksesan akan selalu diakhiri dengan kenduri dan doa.

Adalah peristiwa penyerangan kapal Nicero dan Hoc Canton sebagai dua dari sekian banyak peristiwa suksesnya tipu muslihat perang yang dimainkan pejuang Aceh. Bermula ketika Nicero, sebuah kapal berbendera Inggris terdampar di Teunom.

Raja Teunom yang sedang gencarnya berperang dengan Belanda merampas kapal tersebut, awak kapalnya juga disandera. Sebuah tuntutan diajukan kepada Inggris, kapal dan sanera akan dibebaskan jika Inggris membayar tebusan 10.000 dolar.

Teuku Umar yang saat itu sudah memihak kepada Belanda melalui taktik perang tipu Aceh, ditugaskan untuk melakukan pembebasan kapal dan sandera. Teuku Umar meyakinkan Belanda bahwa Raja Teunom memiliki pasukan yang kuat, karena itu Inggris tidak berani menghadapi pasukan Raja Teunom, maka meminta bantuan Belanda.

Dalam uapayanya meyakinkan Belanda, sebenarnya Teuku Umar sedang membuat skenario besar. Ia menyatakan untuk merebut kembali kapal dan membebaskan sandera diperlukan pasukan pilihan dan persenjatan lengkap hingga mampu berperang dalam waktu lama. Belanda mengiyakannya.

Teuku Umar bersama 32 tentara Belanda dan beberapa orang panglima, berangkat dari Kutaraja ke Aceh Barat dengan kapal Bengkulen. Di tengah pelayaran, semua tentara Belanda yang menyertainya dibunuh di atas kapal. Seluruh senjata dan amunisi dirampas. Dengan senjata rampasannya itu Teuku Umar dan pengikutnya memperkuat dan bergabung kembali dengan pejuang Aceh. Ia juga meminta kepada Raja Tunom untuk tidak menurunkan nilai tuntutannya kepada Inggris dan Belanda.

Sejarawan Aceh H M Zainuddin (1972 : 5) mengungkapkan, Belanda sangat tercuncang dengan peristiwa itu. Pemerintah Kolonial Belanda di Kutaraja mengumumkan akan memberi hadiah 25.000 dolar bagi siapa saja yang sanggup menangkap Teuku Umar hidup atau mati.

Sejarawan lainnya Moehammad Said (1985 : 228) menulis bahwa tidak ada efek apapun dari pengumuman Belanda tersebut. Tidak ada di kalangan rakyat Aceh yang berani menghadapi Teuku Umar dan pasukannya, sebaliknya rakyat Aceh menyambut Teuku Umar sebagai pahlawan yang telah berhasil mengelabui Belanda dengan taktik tipu Aceh yang diterapkannya.

Akhirnya, Belanda terpaksa membayar tuntutan Raja Teunom. Pada 10 September 1884, kapal Nicero dan 18 orang awak kapal dibebaskan dengan uang tebusan 10.000 dolar. Raja Teunom berbesar hati atas peristiwa itu, karena kasus Nicero telah menggegerkan negara-negara Eropa.

Dua tahun setelah peristiwa Nicero, peristiwa serupa kembali terjadi. Kali ini menerpa kapal Hoc Canton, kapal dengan kapten Hansen, warga negara Denmark yang mendapat izin berlayar di perairan Aceh dari pemerintah Kolonial Belanda.

Muhammad Said menyebut Hansen sebagai pisau bermata dua. Ia memanfaatkan izin pelayaran untuk menyeludupkan sejata kepada pejuang Aceh di samping bisnis membeli rempah-rempah. Ia sangat lihai berlayar, bahkan untuk mengelabui patroli Belanda, ia mampu berlayar dalam gelap tanpa menghidupkan satu pun lampu di kapalnya.

Namun, pada sisi lain Hansen juga tertarik dengan tawaran imbalan dari Belanda yang masih berlaku, yakni 25.000 dolar untuk menangkap Teuku Umar hidup atau mati. Pada 12 Juni 1886, Hansen bersama Roaura berangkat ke Reugaih dengan kapal Hoc Canton. Alasannya, mereka ingin mengambil kapal The Eagle yang berlabuh di Reugaih, tapi sebenarnya Hasen dan Roaura ingin menjebak Teuku Umar.

Setelah berlayar selama tiga hari, pada 15 Juni 1886, Hoc Canton melepar jangkar di perairan Reugaih. Mula-mula mereka membeli lada dari kelompok Teuku Umar. Setelah semua lada dimuat ke kapal, Hansen memberi syarat bahwa pembayaran akan dilakukan di atas kapal.

E Roaura yang sudah sangat dikenal di kalangan pejuang Aceh sebagai penyeludup senjata menjumpai Teuku Umar di darat. Ia mengatakan Hansen meminta Teuku Umar harus naik ke kapal Hoc Canton untuk menyelesaikan transaksi dagang tersebut. Syarat itu ditolak Teuku Umar, tapi Hansen tetap bersikeras, tiga kali utusan Teuku Umar datang ke kapal ditolak Hansen.

Kesabaran Teuku Umar habis, sebuah tak-tik dirancang, bagaimana pun harga lada yang sudah dimuat ke kapal Hoc Canton harus dibayar. Teuku Umar sendiri akan naik ke kapal itu untuk mengambil uang dengan segala resiko. Baginya uang itu sangat penting untuk kebutuhan logistik perang.

Teuku Umar meminjam kapal The Eagle pada Raoura, kapal yang sudah lama berlabuh di Reugaih untuk merapat dan naik ke Hoc Canton. Tapi ketika Teuku Umar naik, Hansen memerintahkan anak buahnya untuk menangkapnya. Suami Cut Nyak Dhien itu akan dibawa ke Kutaraja untuk diserahkan kepada Belanda. Imbalan 25.000 dolar sudah terbayang di matanya.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya, semua anak buah kapal sudah lebih dulu disergap oleh 40 pejuang Aceh. Sebelum Teuku Umar naik ke kapal, ia telah menyusun skenario penyergapan kapal Hoc Canton, 40 pejuang Aceh sudah menyelinap ke sana pada malam hari. Hansen yang mencoba melarikan diri akhirnya ditembak. Kepala juru mudi Lanbker yang berkebangsaan Jerman juga tewas bersama masinis kepala Robert Mc Gulloch.

Sementara istri Hansen bersama masinis kedua John Fay dan enam awak kapal Hoc Canton disandera. Keenam awal kapal itu merupakan pria Melayu dan Tionghoa. Teuku Umar kemudian memerintahkan beberapa orang untuk menjaga kapal itu. Semua isi kapal disita, diantaranya: dua meriam, enam bedil model snider, lima pistol, serta uang tunai 5.000 dolar.

Peristiwa Nicero dan Hoc Canton selain membuat pukulan telak bagi Belanda, juga menjadikan pemerintah kolonial itu di Aceh hilang wibawa di mata internasional. Apa lagi ketika dua peristiwa itu dimuat di koran Penang Gazatte. Asosiasi dagang Penang Association mengadakan rapat khusus dan mengeluarkan dua resolusi bagi Belanda di Aceh, yakni mengambil langkah cepat untuk membebaskan Jhon Fay, dan mendesak pemerintah Inggris untuk menyelesaikan kasus Kapten Hansen. Keputusan itu diambil setelah rapat asosiasi tersebut berkesimpilan bahwa Belanda tidak mampu menguasai keadaan di Aceh.

Belanda makin berang. Gubernur Militer Hindia Belanda di Kutaraja Jenderal Van Teijn memimpin langsung beberapa kapal dan ratusan pasukan menuju Aceh Barat. Reugaih akan dibumihanguskan. Namun Teuku Umar tidak gentar. Ia balik mengultimatum Belanda, bila Reugaih diserang maka para tawanan akan dihukum mati.

Jenderal Van Teinj benar-benar gentar dengan ancaman itu. Ia memerintahkan semua kapal perang kembali ke Uleelheu. Belanda akan mengupayakan jalan diplomasi untuk menyelesaikan persoalan Hoc Canton.

Rakyat Reugaih bersorak ketika militer Belanda dan kapal-kapal perang itu kembali ke Kutaraja. Sementara Teuku Umar membawa tawanannya ke pedalaman. Nyonya Hansen diminta untuk menulis surat kepada Belanda, bahwa mereka akan dibebaskan jika Belanda bersedia membayar uang tebusan 40.000 dolar.

Sampai dua bulan lebih kemudian persoalan itu belum juga selesai. Belanda yang mulanya akan menghadiahi 25.000 dolar bagi siapa saja yang mampu menangkap Teuku Umar hidup atau mati, kini dipaksa untuk membayar 40.000 dolar kepada Teuku Umar. Namun Belanda hanya menyanggupi 25.000 dolar saja. Teuku Umar benar-benar mendapat “hadiah” atas kepalanya sendiri.

Uang tebusan itu diserahkan kepada Teuku Umar pada September 1886 dan para sandera dibebaskan. Teuku Umar mempercayakan Nyak Priang tokoh yang masyarakat setempat sebagai perantara dengan Belanda untuk menjumpai Nyonya Hansen yang ditawan dalam rumah Teungku H Darwis Reugaih. Di rumah itu para tawanan diawasi dengan ketat. Nyoya Hansen mengakui dia diperlukan dengan sangat baik selama dalam tawanan, ia hanya mengalami luka kecil saat insiden di atas kapal Hoc Canton. Meski demikian ia mengaku sangat pilu dengan kematian suaminya.

Nyoya Hansen dan Fay bersama anak buah kapal Hoc Canton tiba di Kutaraja pada 6 Oktober 1886. Kepada Belanda Nyonya Hansen yang sudah lancar berbahasa Aceh mengakui bahwa ia diperlakukan dengan sangat baik oleh Teuku Umar.

Nyonya Hansen mengungkapkan semuanya kepada temannya sesama orang Denmark, Chirstiaansen. Ia menulis panjang lebar tentang sifat dan pribadi Teuku Umar beserta Cut Nyak Dhien yang dianggapnya sebagai ksatria. Seorang Mayor Belanda LWA Kessier juga mengakui hal itu. Ia menyebut Teuku Umar sebagai intellegente en zeer baschaafde Atjeher yakni orang Aceh yang paling cerdas dan sopan. [Iskandar Norman]

 

 

Ajimat Aceh

Ajimat Aceh

Dalam sejarah perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda. Ada kisah-kisah mistik. Salah satunya, ajimat rante bui yang dipakai oleh ulama-ulama pengerak perlawanan. Salah satu rante bui itu adalah milik Teungku Chik Di Tiro.

Ajimat itu ditemukan Belanda ditubuh Tgk Di Cot Plieng. Sampai kini masih tersimpan di Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda dalam etnografia Aceh.

Setelah Snouckh Horgronje, mungkin Schimist lah orang Belanda yang sangat paham soal Aceh. Dengan pengetahuannya bahasa dan adat istiadat Aceh, ia menjadi perwira Belanda yang bisa bergaul secara bebas dengan masyarakat Aceh. Apalagi ditopang dengan pembawaannya yang tenang dan sikapnya yang terkendali.

Namun sebagai tentara Belanda, ia tetap tidak sepenuhnya diterima masyarakat Aceh. Apalagi dalam kecamuk perang. Dalam tahun 1906, Schmist bertugas sebagai seorang letnan di Jeuram dan Seunagan yang kacau balau. Di dua daerah itu, saban hari peristiwa jebakan dan sergapan dengan kelewang terjadi.

Tak mau kejadian itu terus menerus menimpa pasukannya, Schmist pun mencari seorang mata-mata handal. Baginya, tidaklah sulit mencari mata-mata itu. Yang sulit baginya adalah merahasiakan hubungannya dengan mata-mata tersebut. Apalagi, di daerah itu ia berhadapan dengan kelompok Teungku Puteh, yang juga punya banyak mata-mata handal untuk mengecoh dan menyusup ke bivak-bivak Belanda.

Maka “perang” antar spionase pun terjadi. Antara Schmist dan Teungku Puteh saling mengirim mata-mata ke lapangan. Sebagaimana Schmist mempunyai banyak mata-mata di sekitar Teungku Puteh, maka sebanyak itu pula ada mata-mata Teungku Puteh disekitar Schmist.

Terhadap peristiwa saling mengintai lawan tersebut, H C Zentgraaff dalam bukunya “Atjeh” mengungkapkan. “Ini adalah permainan licin melawan licin, yang setiap saat dapat menetas menjadi salah satu serangan kelewang yang amat terkenal dan sangat fanatik serta serba mendadak. Sehingga penduduk Seunagan terkenal sangat buruk pada pasukan kita (Belanda-red). Kita tidak pernah merasa yakin akan hari esok,” tulis mantan serdadu belanda yang dimasa pensiunnya beralih menjadi wartawan tersebut.

Selanjutnya, mantan redaktur Java Bode itu mengisahkan, diantara sekian banyak mata-mata Teungku Puteh, terdapat seorang pedagang yang membuka sebuah toko kecil di Keude Seunagan. Zentgraaff menyebutnya seorang badut yang sangat lihai, yang sekali-kali juga datang kepada Schmist untuk sekedar ngomong-ngomong sebagai basa-basi. “Padahal ia ingin menggali informasi sekitar Schmist untuk kemudian disampaikannya pada Teungku Puteh,” jelas Zentgraaff.

Pada suatu hari, Schmidt menerima berita baik dari salah seorang mata-matanya. Ia segera menelaah informasi yang diberikan oleh mata-mata tersebut. Pada saat yang bersamaan, datang pula pedagang dari Keude Seunagan itu ke sana, yang tak lain merupakan mata-mata dari Teugku Puteh.

Keduanya pun dibawa masuk kedalam sebuah ruangan oleh Schmist. Si mata-mata tadi segera menceritakan informasi yang dibawanya. Sementara si pedangang mendengarnya dengan seksama. Namun keberadaan mata-mata Teungku Puteh tersebut akhirnya diketahui Schmist, setelah ia membongkar rencana Schmist dan pasukannya yang akan menyeran gerilayawan Aceh. Esokya sipedagang itu pun disuruh tangkap.

Antara Schmist dan Teungku Puteh, selain juga sama-sama punya kekuatan mistik. Konon menurut Zentgraaff, Schmist merupakan putra Aceh yang sejak kecil diasuk dan disekolahkan oleh Belanda sampai ke Nezerland, sehingga anak Aceh tersebut menjadi orang Belanda tulen yang sangat mengerti tentang Aceh.

Soal kekuatan mistik yang dimiliki Schmist, Zentgraaff mengaku pernah mendengar hal itu dari Cut Fatimah, janda dari Teungku Keumangan, yang selama hayatnya memberikan perlawanan yang gigih terhadap pasukan-pasukan Belanda di Jeuram. “Ia telah bercerita pada saya, bahwa Schmist adalah salah seorang dari orang-orang yang tidak banyak jumlahnya. Ia memiliki rante bui, yang membuatnya menjadi kebal. Ia juga megetahui hal-hal yang mistik,” ungkap Zentgraaff.

Namun Zentgraaff tidak yakin Schmist memiliki rante bui tersebut. Menurutnya, yang memiliki benda yang bisa menjadi ajimat tersebut hanyalah Teungku Brahim di Njong, Teungki Chik Samalangan dan Teungku Cot Plieng. Mereka adalah pemimpin-pemimpin spiritual di Aceh (ulama) yang mengobarkan semangat jihat untuk melawan Belanda.

“Teungku Cot Plieng merupakan yang paling utama diantara mereka itu. Komandan-komandan patroli kita (Belanda-red) yang paling ulung sekali pun, tak punya harapan menghadapi dia. Tak ada seorang Aceh pun yang berani memberitahukan dimana tempat persembunyian segerombolan dari ulama yang sangat keramat itu,” tulis Zentgraaff.

Pun demikian, pasukan Belanda terus memburunya, sampai kemudian pada Juni 1904, pasukan Belanda pimpinan Kapten Stoop berhasil menemukan jejaknya diantara dua aliran sungai Gle Keulabeu. Ia pun disergap, tapi Teungku Cot Plieng berhasil lolos dari “lubang jarum” dengan meninggalkan Al Qur’an dan jimat stempelnya.

Jimat stempel yang ditemukan dari Teungku Cot Plieng itu, disebut-sebut merupakan warisan dari Teungku Syeh Saman Di Tiro, yang dikenal dengan Teungku Chik Di Tiro. Karena tak lagi memiliki jimat stempel tersebut Teungku Cot Plieng pun akhirnya berhasil disergap oleh sebuah pasukan patroli pimpinan Letnan Terwogt. Dalam penyergapan tersebut, ulama karismatik itu pun tewas tertembak.

Mayatnya kemudian diusungkan ke salah satu bivak, untuk keperluan identifikasi. Belanda heran, karena mayat tersebut tidak membusuk. Untuk memastikan kalau itu adalah Teungku Cot Plieng, Belanda akhirnya memanggil Panglima Polem.

Sampai di sana, Panglima Polem memberi hormat pada mayat itu dengan melakukan sujud di tengah orang-orang Aceh yang terdiam karena rasa hormatnya. “Ketika kami berjumpa, Panglima Polem bilang hal itu merupakan rahasia Tuhan,” jelas Zentrgaaff.

Panglima Polem pun kemudian melepaskan rante bui dari mayat Teungku Cot Plieng dan memberikannya kepada Van Daalen, seorang perwira Belanda. Tapi Van Daalen menolaknya, karena tak suka terhadap hal-hal yang berbau mistik.

Setelah operasi pembersihan besar-besar dilakukan pasukan Belanda di Pidie, ajimat itu kemudian dihadiahkan kepada Veltman perwira Belanda lainnya yang kerap dipanggil sebagai “Tuan Pedoman”. Ia tidak juga memakai ajimat itu. Ia lebih percaya kepada sebilah besi baja tajam dan sepucuk revolver, ketimbang ajimat tersebut.

Akhirnya rante bui itu dihadiahkan kepada Kolonial Museum di Amsterdam, Belanda, yang hingga kini masih disimpan dalam etnografia Aceh. “Saya berhasil memperoleh sebuah gambar potretnya berkat bantuan seorang bekas opsir marsose kawakan bernama Lamster,” jelas Zentgraaff.[]

Tanbeh 17 Kitab Klasik Penyuci Jiwa

Tanbeh 17 Kitab Klasik Penyuci Jiwa

TANBEH 17 merupakan nama lain dari kitab Munirul Qulub, ditulis dengan bahasa Aceh bersajak. Berisi 17 anjuran bagi pencari surga dan penghapus dosa. Tuntunan bagi umat dalam hakikat hidupnya.

Kitab aslinya bertulis tangan dengan aksara Arab Jawi berbahasa Aceh. Ditulis di atas kertas ukuran 22 x 16 cm setebal 138 halaman. Setiap halaman berisi 19 baris yang ditulis dalam dua lajur. Kitab ini pernah dialih aksarakan oleh tim dari Museum Provinsi Daerah Istimewa Aceh pada tahun 1993.

Dalam pengantar alih akasara dijelaskan, isi Tanbeh 17 berupa 17 pokok bahasan tentang anjuran bagi siapa saja yang hendak mencari surga, serta tuntunan bagi penebus dosa. Penulisnya membuka kitab dengan keterangan, ulon teusurat bahsa droe, Arab Jawoe kupeu bahsa, lon boh lagu ban hikayat, makna kitab simeumata, nama kitab Munirul Qulub, Dawauz Zunub ubat desya.

Penulisan kitab ini disandarkan pada ayat-ayat Alquran, hadis Nabi dan ijmak para ulama. Penjelasan dan argumentasi yang disampaikan selalu begitu mengalir. Dalil dan perumpamaan atas kajian yang disampaikan sangat mengena. Dalil-dalil yang dikemukakan selalu sertakan dengan penjelasan yang begitu dekat dengan realita kehidupan.

Menariknya lagi, penjelasan dalam setiap tanbeh disertai dengan ulasan-ulasan sejarah pada masa nabi. Ini membuat kitab Tanbeh 17 menjadi lebih enak dibaca dan lebih membekas dalam ingatan.

17 tanbeh yang dijelaskan dalam kitab ini berupa: kepercayaan, taqwa, makna penting kewajiban agama, martabat ulama dalam masyarakat Islam, kewajiban terhadap orang tua, sopan santun kepada guru, kewajiban istri terhadap suami. Pada bagian kewajiban istri terhadap suami memuat tentang kisah ajaran Nabi Muhammad kepada putrinya Fatimah.

Tanbeh lainnya adalah: kewajiban mandi junub, kewajiban terhadap tetangga, kemuliaan berderma, kejahatan riba, kerugian meninggalkan sembahyang, kepuraan dalam beribadah dan kerugiaannya, bahaya sakaratul maut.

Pada bagian bahaya sekaratul maut ini memuat kisah Jadid bin Ata yang karena kesamaan namanya dicomot oleh malaikat maut sebagai orang kafir bernama Jaded bin Farek. Kemudian ia dihidupkan kembali sehingga dapat menceritakan pengalamannya tetang kesengsaraan kaum kafir setelah mati.

Dua tanbeh terakhir berupa azab yang dilaksanakan dalam kubur dan kerugian meninggalkan shalat Jumat. Pada bagian ini dipaparkan kejadian-kejadian nyata di beberapa tempat pada masa itu yang kerap dilanda kekeringan dan gagal panen akibat masyarakatnya tidak melaksanakan kewajiban shalat Jumat.

Penulis kitab ini juga menyinggung tentang tradisi “Jumat bersih” dalam masyarakat Aceh, yakni bergotong royong bersama setiap pagi Jumat hingga jelang dhuhur. Usai gotong royong para pria akan melakukan shalat Jumat bersama di mesjid. Kerifan lokal ini kini sudah jarang terlihat dalam masyarakat Aceh.

Membaca kitab ini kita diajarkan untuk menjalani hidup seutuhnya sebagai hamba Allah dalam bermasyarakat yang berpedoman pada konsep hablun minallah wa hablun minannas.

Kitab ini tamat ditulis pada tahun 1254 Hijriah bertepatan dengan 1875 masehi. Penulis menyebut namanya sebagai Teuku Muda. Pada bagian akhir kitab Tanbeh 17 ini, ia menjelaskan bahwa Aceh sering dilanda malapetaka karena masyarakatnya banyak melanggar hukum agama.

Teuku Muda menutupnya dengan: bak nanggroe nyoe hana beureukat, le nyang bangsat taat kureung, Aceh pih kayem keunong bala, hana reuda lam teuka khueng, La ila haillallah habeh kisah, han peun bileueng wallahu aklam, tamat surat malam Jumat, khamis watee Insya. Nyang empunya Teuku Muda.

Menarik untuk mengkaji kembali Tambeh 17 ini, semoga kita bisa terhindar dari segara mara bahaya, dan memperoleh ampunan dosa, karena kitab ini merupakan ajaran untuk penyci jiwa dan obat segala dosa.[]

Teungku Fakinah, Srikandi Empat Benteng

Teungku Fakinah, Srikandi Empat Benteng

TEUNGKU Fakinah merupakan seorang ulama perempuan Aceh. Masa mudanya ia habiskan dalam peperangan melawan penjajah Belanda. Ia memimpin empat benteng pertahanan (kuta). Sementara masa tuanya dihabiskan untuk mengajar dan membangun pendidikan.

H M Zainuddin dalam buku Srikandi Aceh menjelaskan, Tgk Fakinah berasal dari keluarga ulama dan bangsawan. Ia lahir pada tahun 1856 M di Gampong Lamkrak. Ayahnya bernama Datu Muhammad seorang pejabat pemerintahan di Kerjaan Aceh pada masa pemerintahan Sulthan Alaiddin Iskandar Syah. Sementara ibunya bernama Cut Fatimah putri dari ulama besar Tgk Muhammad Saad yang dikenal sebagai Tgk Chik Lam Pucok pendiri Dayah Lam Pucok.

Saat perang dengan Belanda berkecamuk di Aceh, Tgk Fakinah dipercayakan memimpin satu resimen pasukan yang prajuritnya terdiri dari pria dan wanita. Ia memiliki beberapa panglima yang menjadi komando pasukan, diantaranya, suaminya sendiri Tgk Nyak Badai, Habib Lhong (Habib Kabul), Tgk Ahmad (Tgk Leupueng), Tgk Saleh dan Tgk Daud.

Bersama para panglimanya itu, Tgk Fakinah memimpin empat benteng pertahanan (Kuta) yakni, Kuta Lam Sayun dipimpin oleh Tgk Saleh, Kuta Cot Bak Garot dipimpin oleh Tgk Pang Amat, Kuta Bak Balee dipimpin oleh Habib Lhong, dan Kuta Cot Weue yang dipimpin langsung olehnya. Komando pertahanan empat benteng itu dipusatkan di Lam Diran yang setelah perang reda dibangun menjadi Dayah Lam Diran di Lamkrak.

Dalam berperang dan membangun pendidikan di Lamkrak, Tgk Fakinah dibantu oleh suaminya. Suami pertamanya Tgk Abdullah syahid dalam perang, ia kemudian menikah dengan Tgk Nyak Badai salah seorang panglima pasukannya, tapi suami keduanya itu juga syahid dalam perang melawan Belanda. Ia kemudian menikah dengan Tgk Haji Ibrahim. Dari ketiga suaminya itu, Tgk Fakinah tidak memiliki anak.

Menurut Ali Hasjmy dalam buku Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, usai perang, pada bulan Juli tahun 1915 M, Tgk Fakinah bersama suami (Tgk Haji Ibrahim) berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana selama beberapa tahun untuk memperdalam ilmu agama.

Ketika kembali ke Aceh, Tgk Fakinah bersama suaminya membangun Dayah Lam Diran yang dibantu oleh beberapa ulama di sana. Pada tahun 1925 M, Tgk Fakinah kembali k Mekkah dan bermukim di sana selama satu tahun. Ketika kembali lagi ke Aceh ia melakukan reformasi di Dayah Lam Diran yang dipimpinnya, ia membolehkan pria dan wanita sama-sama menuntut ilmu di dayah itu tapi dengan asrama yang terpisah.

Tgk Fakinah juga membolehkan pria dan wanita bergaul dalam dayah dalam batas-batas yang wajar, hal yang tidak lazim dilakukan di dayah waktu itu. Di dayah yang dipimpimnya juga diajarkan ilmu umum dan kerajinan tangan, tidak hanya fokus pada pendidikan agama saja. Karena itu ia bisa disebut sebagai peletak dasar pendidikan dayah terpadu di Aceh.

Selain itu Tgk Fakinah dikenal sebagai pemimpin yang sanggup memimpin pria dan wanita secara bersamaan, seperti saat ia menggelar gotong royong massal membangun jalan Ateung Seunabat. Tgk Fakinah wafat pada 3 Oktober 1893 bertepatan dengan 8 Ramadhan 1359 H dan dimakamkan di komplek dayah yang dipimpinnya.

Diantara murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama perempuan terkenal di adalah Tgk Fatimah Batee Linteueng, Tgk Saidah Lamjamee, Tgk Fatimah Ulee Tutue, dan Tgk Hawa Lam Dilip.[]

Cerita Gila Marsose di Aceh

Cerita Gila Marsose di Aceh

MARSOSE, korps pasukan khusus bentukan Belanda untuk menumpas gerilyawan Aceh. Banyak cerita konyol seputar tentara pilihan tersebut, mulai dari kisah cinta, nafsu, perselingkuhan, hingga bunuh diri dan menembak komandan karena gila. Moril pasukan elit itu benar-benar jatuh menghadapi gerilyawan Aceh.

HC Zentrgraaff dalam buku “Atjeh” mengisahkan, suatu ketika, untuk membangkitkan semangat marsose yang sudah labil, istri marsose dikirim dari Kuala Simpang ke Blangkejeren. Namun di tengah perjalanan yang berat, istri marsose yang muda-muda kembali ke Langsa.

Barisan istri marsoese yang tersisa, terus bergerak menuju Blangkejeren, di bawah pengawasan patroli Belanda, untuk mencegah adanya penyergapan dari gerilyawan Aceh. Para wanita itu ada yang mengenangan topi bambu kepunyaan suaminya, ada juga yang membawa tempat makanan dengan gambar bungan bertuliskan “selamat makan”. Barang-barang itu digendong dengan kain dipunggungnya.

Karena lelahnya pekerjaan menuju ke Blangkejeren yang dilalui dengan menaiki gunung dan menyebrang sungai, seorang istri marsose bernama Hethuela, sering emosi dan naik darah. Namun sampai di Blangkejeren persoalannya stres para marsoese tidak juga hilang, karena wanita-wanita yang tiba ke sana sangat sedikit. Mereka berada di tengah ratusan laki-laki (marsoese-red).

Hal inilah yang kemudian melahirkan sengketa baru antara para marsose, karena banyak marsose yang istrinya tidak sampai ke Blangkejeren, karena di tengah perjalanan yang melelahkan itu, wanita-wanita yang masih muda itu memeilih kembali ke Langsa. Sementara yang sampai ke Blangkejeren hanya yang tua-tua saja. Yang oleh Zentgraaff disebut wanita-wanita kasar dari Ambon yang tidak lagi berselera bagi laki-laki.

Soal sengekta itu, Zentgraaff menulis, para marsoase tidak bisa menahan nafsu. Tatkala Mosselman dengan pasukannya di Trangon, membuyarkan gerombolan perempuan Gayo, kemudian memburu mereka dengan sengitnya, telah jatuh ke tangan mereka seorang wanita cantik istri salah seorang dari gerombolan itu.

Mosselman memerintahkan pasukannnya membawa wanita itu sebagai tawanan, dan orang itu telah diperlakukan dengan sopan oleh setiap serdadu pasukan tersebut. Dia telah dibantu untuk menyebrang sungai, waktu memanjat air terjun. Dan di setiap bivak setiap serdadu sangat siap sedia membantunya. “

Masih menurut Zentgraaff, dalam menjalankan tugas, mereka mengekang diri, namun setelah kembali ke bivak, meledaklah ketegangan yang tertahan itu dengan nafsu yang membara. Bermula dengan seorang marsose Ambon yang masih muda, bernama Nannink. Dalam bivak itu diadakan permainan judi, terkenal dengan nama “puter dadu” yang betu-betul mencengkam pemikiran setiap pemainnya.

Perempuan yang sudah berjanji akan kencan bersamanya, sudah tidak sabar menunggunya. Perempuan itu adalah istri dari seorang marsose lainnya. Karena kesetanan bermain, sang marsose lawannya berkencan ini kalap, lalu mengambil kelewangnya dan membunuhnya sebelum sempat dileraikan orang.

Para opsir bawahan yang berada dalam mess mereka bercengkerama, tatkala mereka mendengar suara jerian seorag wanita. Dikira bahwa hal itu merupakan ganjaran hukuman biasa diberikan oleh suami terhadap istri yang dianggap nakal, seperti yang sering kali terjadi. “Selbach, seorang yang lucu, melompat ke atas meja dengan cambuk kudanya dijepit antara kedua lututnya sambil berkata: Ha, itu sudah dapat persen satu orang, saya mau pergi tengok sebentar apa perempuan itu sudah kapok atau belum,” tulis Zentgraaff.

Sementara, si marsose Nannink, setelah membunuh perempuan itu pergi keruang barak, mengenakan setelan kulit dengan peluru-peluru dalam tasnya dan lima buah peluru berada dalam karabennya. Empat dalam tempat pelor dan satu dalam laras bedil. Seluruhnya berjumlah 16 tempat pelor masing-masing berisi lima peluru dan didalam dua buah tas peluru.

“Kaedaan sangatlah kritisnya, dan Letnan Van Eck, bukannya menembak orang itu, atau memerintahkan untuk menembaknya, melainkan justru berusaha untuk menenangkan dia, namun, tatkala Selbach datang mendekat, si Nannink menembak sersan tadi menembus kepalanya,” lanjut Zentgraaff.

Timbullah kepanikan dalam bivak. Nannink menembak membabi buta ke sekelilingnya sehingga seorang skelewak bernama Schild Wacht, mendapat serempetan peluru yang nyasar pada rahangnya. Jiwa marsose yang kalut itu, rupanya masih menyimpan cukup banyak kesadaran, sehingga pelurunya yang penghabisan diperuntukkannya bagi dirinya sendiri. Ia bunuh diri. “Dapat kita rasakan betapa merosotnya moril pasukan dengan kejadian trsebut. Dan betapa besar pengaruhnya permainan serba bunuh itu terhadap kawan-kawan lain yang berwatak lemah,” tulis Zentgraaff.

Karena itu pula Zentgraaff menilai para marsoese yang tersisa tak ubahnya orang yang menderita sakit jiwa. Disiplin pasukan elit Belanda itu luntur dengan semangatnya. Mereka juga mengalamai frustasi berat dan hilang kepercayaan terhadap diri sendiri.

Tidak hanya di Blangkejeren, hal yang sama juga terjadi di Takengon. Seorang marsose muda menembak mati dua kawannya, opsir bawahan bengsa Eropa. Karena salah seorang opsir itu telah bermain gila (selingkuh) dengan kekasihnya. Setelah itu, marsoese muda itu pun bunuh diri.[]

Gemulai Kartini Tak Setangkas Cut Nyak Dhien Kami

Gemulai Kartini Tak Setangkas Cut Nyak Dhien Kami

JEPARA, Jawa Tengah, 21 April 1879. Rumah Bupati Raden Mas Adipati Sastrodininggrat melengking tangisan. R A Kartini dilahirkan. Ia kelak disanjung karena dianggap sebagai pembawa emansipasi wanita.

Lampadang, Aceh Besar, 1848, Cut Nyak Dhien dilahirkan. Ia ditakdirkan untuk membawa pesan ketangguhan perempuan di medan perang. Bila Kartini dengan tangan gemulai merangkai kata untuk perubahan, Cut Nyak Dhien lebih memilih pedang untuk mempertahankan jati diri ke-Aceh-annya.

Gemulainya Kartini dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang” membuat hari kelahirannya diperingati sampai sekarang. Tangkasnya Dhien mengayun pedang, menebas Belanda hanya terabadikan dalam sebuah film. Selebihnya hanya pajangan di sekolah-sekolah, sebagai petanda kabar bahwa tokoh yang sampai tuanya tak pernah kompromi dengan penjajah Belanda itu masih dianggap sebagai pahlawan.

Tamat sekolah Europese Lagere School (ELS) setingkat sekolah dasar sekarang, Kartini duduk manis dengan kebangsawanannya menunggu pingitan. Sementara Dhien, yang dididik di balai pengajian, lebih memilih jadi janda tinimbang tunduk pada Belanda.

Tahun 1903, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyoninggrat. Di sana Kartini mendirikan Sekolah Kepandaian Putri. Beragam kegiatan pemberdayaan perempuan dilakukan.

29 Juni 1878, Dhien menyandang status janda, setelah Teugku Ibrahim Lamnga, suaminya tewas dalam perang melawan Belanda di Gle Tarum. Dhien maju ke garda depan, menyemangati pasukan mengorbankan perlawanan.

Di Rembang, Kartini masih berkutat di bawah teduh mengajari kaum perempuan untuk tak terjebak pada segi tiga lingkaran, sumur, dapur, dan kasur. Di Lamnga, Dhien menarik perempuan dari pelukan suaminya ke medan perang.

Pada usia 25 tahun, 17 September 1904, Kartini meninggal di ranjangnya, setelah berjuang melahirkan putra pertama. Di belantara Aceh, Dhien berjuang dengan penyakit encok dan rabun, setelah suami keduanya, Teuku Umar tewas ditembak Belanda dalam sebuah pertempuran di Meulaboh, Aceh Barat.

Belanda menangkapnya setelah pengkhianatan Pang Laot yang tak tega melihat wanita kekar itu renta dengan penyakitnya. 6 November 1908, Dhien tewas di Sumedang, Jawa Barat dan dimakamkan di Gunung Puyuh setelah Belanda membuangnya ke sana.

Di rimba Aceh, gaung semangatnya masih menggema. Dhien pernah berkoar, setelah Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda. Ia berteriak di hadapan rakyatnya, “Lihatlah wahai orang Aceh. Tempat ibadah kita dirusak. Mereka telah mencoreng nama Allah. Sampai kapan kita akan begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda.”

Keprihatinan Kartini pada dunia pendidikan dan emansipasi wanita, membuatnya dikenang sebagai tokoh sampai sekarang, dalam berbagai ulasan lembar-lembar buku sejarah.

Perjuangan Dhien dan Kartini pun sama-sama difilmkan. Namun, Tjoet Nja’ Dhien yang disutradarai Eros Djarot (1988) lebih mendapat tempat dengan memenangi piala Cita sebagai film terbaik, serta film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes (1989).

Hanya dalam film Dhien lebih dihargai ketimbang Kartini. Selebihnya nama Dhien hanya tertabal pada sebuah kapal perang TNI AL, mata uang rupiah senilai Rp10 ribu keluaran tahun 1998. Dhien dan Kartini dua sosok yang patut ditimbang-timbang kadar kepahlawanannya. [] dari berbagai sumber