Author: IRMANSYAH D GUCI

Kata Pangdam Soal Kelompok Bersenjata Penembak Intel TNI

Kata Pangdam Soal Kelompok Bersenjata Penembak Intel TNI

LHOKSEUMAWE – Panglima Daerah Militer Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto belum bisa memastikan siapa pimpinan kelompok bersenjata yang membunuh dua Intel Kodim Aceh Utara.

“Saya tidak bisa memastikan (siapa) itu pimpinan mereka,” ujar Pangdam menjawab para wartawan di Mess Lilawangsa, Lhokseumawe, Kamis,
26 Maret 2015.

Ditanya apakah pengejaran sudah difokuskan kepada salah satu dari beberapa kelompok bersenjata di Aceh Utara, Pangdam mengatakan, “analisa mengarah ke situ ada, namun kita belum bisa memastikan karena kita juga harus hati-hati”.

“Karena sebenarnya antarkelompok mereka sendiri juga ada permasalahan,
antara mereka dengan pemerintah juga ada permasalahan, sehingga nanti
itu dibahas dalam Forum Pimpinan Daerah provinsi maupun kabupaten,” ujar Pangdam.

Kuat dugaan itu dilakukan kelompok yang mana? “Pastinya oleh kelompok
yang membawa senjata dan menembak,” kata Pangdam.

Ditanya lagi apakah sudah teridentifikasi kelompok yang menembak dua
Intel TNI, Pangdam mengatakan, “Itu nanti ranahnya polisi yang
menjawab”. (ihn)

Pangdam: Tak Ada Kontak Tembak

Pangdam: Tak Ada Kontak Tembak

PANGDAM Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto menegaskan sejauh ini tidak terjadi kontak tembak antara TNI dengan kelompok bersenjata api yang menculik dan membunuh dua Intel Kodim Aceh Utara.

“Tidak, mereka menghindar juga (dari pengejaran),” ujar Pangdam Agus Kriswanto menjawab para wartawan di Mess Lilawanga, Lhokseumawe, Kamis, 26 Maret 2015.

Pangdam menyampaikan itu ketika ditanya apakah pernah terjadi kontak tembak dalam pengejaran terhadap pelaku beberapa hari terakhir. Sebelumnya beredar kabar telah terjadi kontak tembak di kawasan Nisam Antara dan Kuta Makmur, Aceh Utara, malam tadi.

Ditanya apakah kini ada perluasan pengejaran terhadap pelaku, Pangdam mengatakan, “Semantara tidak ada, karena kita hanya terbatas pada kampung-kampung yang merasa terusik (oleh kelompok bersenjata) saja.”

Pangdam juga menyebut TNI belum mengerahkan peralatan tempur seperti Panser Anoa ke daerah pedalaman untuk mengejar pelaku. Akan tetapi, Panser Anoa telah disiagakan di Markas Kodim Aceh Utara di Lhokseumawe.

“Anoa itu untuk mengantisipasi saja, misalnya. kita perlu evakuasi yang harus masuk daerah tertentu, itu memang stand by di Kodim. Kita belum mengoperasionalkan alat tempur,” katanya.

Menurut Pangdam, dalam pengejaran terhadap pelaku pembunuh dua Intel Kodim Aceh Utara, TNI masih mengedepankan kerja sama dengan Polri. “Kalau personil Polri kurang, kita akan perkuat lagi dengan taktis yang kita atur,” ujar Agus Kriswanto.[] (mal)

Pembunuh Intel Belum Tertangkap, TNI Kerahkan 400 Prajurit

Pembunuh Intel Belum Tertangkap, TNI Kerahkan 400 Prajurit

LHOKSEUMAWE – Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto mengatakan sampai saat ini pembunuh dua Intel Kodim Aceh Utara belum tertangkap. TNI mengerahkan 400 prajurit untuk mengejar pelaku sekaligus mengamankan perkampungan penduduk di daerah pedalaman.

“Perkembangan sampai saat ini memang belum ditemukan (pelaku) secara fisik, namun prediksi, komunikasi, dan analisis tetap dikembangkan,” kata Pangdam Agus Kriswanto kepada portalsatu.com dan wartawan lainnya di Mess Lilawangsa, Lhokseumawe, Kamis, 26 Maret 2015.

Pangdam menjelaskan, hari ini TNI bersama Polri masih melakukan pencarian dan pengejaran terhadap kelompok bersenjata tersebut. “Kita terus bergerak di lapangan yang medannya cukup berat dan luas di Nisam Antara itu (lokasi penculikan hingga terjadinya pembunuhan),” ujarnya.

Selain memburu pelaku, kata Pangdam, saat ini TNI bersama Polri juga pada posisi menjaga kampung-kampung di daerah pedalaman guna menetralisir maupun menjaga ketenangan rakyat. “Kita melihat ada tokoh-tokoh yang merasa ketakutan, mereka terpaksa meninggalkan kampungnya. Jadi tugas TNI bersama Polri bukan hanya mencari (pelaku), tapi menjaga ketentraman rakyat di kampung-kampung yang selama ini diganggu (kelompok bersenjata),” kata jenderal bintang dua itu.

Ditanya berapa jumlah pasukan yang diturunkan, Pangdam mengatakan, “Pasukan tidak ada pengerahan dari luar, hanya dari sekitar sini, kurang lebih 400 (personil), ini sudah termasuk Kodim Aceh Tengah dan Bireuen, tapi sifatnya kegiatan imbangan karena kemungkinan (pelaku) lari ke sana. Dan itu tadi, juga tugas dalam rangka mengamankan kampung-kampung, sehingga (pasukan) cukup banyak lah ya, namun bukan operasi militer.”

Pangdam menyebut pihaknya tidak dapat menargetkan secara pasti berapa hari akan berlangsung pengejaran terhadap pelaku. Sebab, kata dia, pelaku diyakini akan berusaha maksimal untuk kabur agar tidak tertangkap.

Menurut Pangdam, kunjungannya ke Lhokseumawe dan Aceh Utara untuk mengunjungi keluarga korban yang membutuhkan dukungan moril. Selain itu, ia ingin melihat langsung situasi di kampung-kampung dan berdialog dengan masyarakat setempat.

“Mungkin selama ini situasinya agak mencekam ya, kemarin kita sudah pertemukan rakyat di kampung-kampung dengan prajurit, dan situasi mulai normal. Memang di kota tidak dirasakan, tapi di kampung di mana daerah itu yang dikelilingi kelompok-kelompok bersenjata itu, (rakyat) gelisah, sehingga kami bersama Polri menempatkan pasukan di kampung-kampung itu,” ujarnya.[] (mal)

Abu Paloh Gadeng: Jangan Ganggu Damai Aceh

Abu Paloh Gadeng: Jangan Ganggu Damai Aceh

LHOKSEUMAWE – Ulama kharismatik di Aceh Utara, Teungku H. Mustafa Ahmad atau Abu Paloh Gadeng minta kelompok bersenjata ilegal segera sadar sehingga tidak lagi membuat kekacauan di Aceh.

“Jangan ganggu damai yang sudah dirasakan masyarakat Aceh, karena selama perdamaian berjalan aktivitas masyarakat sangat lempang. Masyarakat dapat mencari kebutuhan hidup, ketentraman ini perlu dijaga dan dipelihara semua pihak,” kata Abu Paloh Gadeng kepada wartawan di Lhokseumawe, Rabu, 25 Maret 2015.

Abu Paloh Gadeng menyampaikan itu saat dimintai tanggapannya terkait kasus-kasus penculikan hingga penembakan yanga menewaskan dua anggota TNI di Nisam Antara, Aceh Utara. “Gara-gara kejadian pembunuhan terhadap dua anggota Kodim Aceh Utara, masyarakat petani di Kecamatan Nisam Antara sudah tidak berani ke kebun, dan ini sangat kita sesalkan,” ujarnya.

“Peristiwa tersebut telah merusak situasi aman sehingga mengganggu mata pencaharian masyarakat. Kalau ini terus terjadi di Aceh, Provinsi Aceh tidak pernah akan bisa maju, karena mana mungkin maju kalau para investor tidak berani menanam modal di Aceh,” kata Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara ini.

Itu sebabnya, Abu Paloh Gadeng mengimbau kelompok tertentu yang masih menyimpan senjata api ilegal tidak mengedepakan tindakan main hakim sendiri di Aceh. “Jangan kedepankan kepentingan pribadi, tapi harus mengedepankan kepentingan umat. Jangan hanya demi memperjuangkan kepentingan pribadi mengorbankan kepentingan jutaan masyarakat Aceh,” ujarnya.

“Hukuman penculikan dan pembunuhan sama dengan linteung nuraka plueng. Janganlah kita melakukan hal seperti itu, mencari-cari dosa,” kata Abu Paloh Gadeng yang juga Pimpinan Dayah Darul Huda di Desa Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.

Abu Paloh Gadeng juga berharap kepada aparat keamanan bekerja sesuai prosedur dalam mencari pelaku kriminal bersenjata api. “Jangan sampai tersentuh (tersakiti) masyarakat kalau pun kasus itu harus dituntaskan, masyarakat harus diselamatkan,” ujarnya.[]

Ketua DPRA Minta Pengacau Angkat Kaki dari Aceh

Ketua DPRA Minta Pengacau Angkat Kaki dari Aceh

LHOKSEUMAWE – Ketua DPRA Teungku Muharuddin minta pihak tertentu yang ingin mengacaukan situasi di Aceh segera angkat kaki dari daerah ini. Pengacau dimaksud politisi Partai Aceh ini adalah kelompok yang menembak dua anggota TNI di Aceh Utara dan kasus penculikan lainnya.

“Kita berharap kepada pihak yang sedang bermain di Aceh segera angkat kaki dari Aceh,” ujar Teungku Muharuddin kepada portalsatu.com seusai acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al-Munawwarah di Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Rabu, 25 Maret 2015.

Tengku Muharuddin turut menyampaikan belasungkawa terhadap dua anggota TNI yang menjadi korban penembakan kelompok bersenjata api di Kecamatan Nisam, Aceh Utara.

“Kita ikut bersedih, belasungkawa terhadap korban penembakan, dua anggota TNI yang kita dengar kemarin sudah meninggal. Saya atas nama DPR Aceh ikut belasungkawa,” kata Teungku Muharuddin.

Tengku Muharuddin berharap ke depan tidak ada lagi pihak-pihak yang memperkeruh suasana damai di Aceh. “Biarlah hari ini Aceh yang telah damai terus berlanjut, ekonomi mulai tumbuh, pemerintah juga akan fokus terhadap pembangunan,” ujarnya.

“Kalau terjadi seperti ini (penculikan dan penembakan) tentu akan berefek terhadap pembangunan ekonomi itu sendiri, efek sosial dan lainnya,” kata dia lagi.

Ia menambahkan, jika kelompok tertentu merasa kecewa terhadap pemerintah lantaran tidak mendapatkan perhatian, maka persoalan tersebut mestinya diselesaikan dengan cara yang tepat.

“Kalau ada masalah kita selesaikan, coba disampaikan kepada pemerintah apa sebenarnya keinginan mereka. Hari ini mungkin perhatian pemerintah terhadap mereka kurang, sampaikan. Jadi jangan main hakim sendiri, kita hidup di negara hukum, kita harus hormati hukum,” ujar Teungku Muharuddin.[]

Mualem: KPA Tidak Terlibat Penculikan

Mualem: KPA Tidak Terlibat Penculikan

Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Muzakir Manaf atau Mualem menegaskan KPA tidak terlibat dalam penculikan yang terjadi di Aceh, termasuk kasus yang menewaskan dua anggota TNI.

“KPA tidak terlibat dalam kriminal itu,” kata Mualem pada acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al-Munawwarah di Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Rabu, 25 Maret 2015.

Mualem menyesalkan kriminalitas yang terjadi di Aceh Utara hingga menewaskan dua anggota TNI. Ia menyatakan saat ini ada provokator yang ingin memperkeruh suasana di Aceh.

“(KPA) jelas tidak terlibat (penculikan), malah anggota KPA yang terkena imbas  yaitu Ayah Mud (Panglima Muda KPA Wilayah Pase yang diculik kelompok bersenjata di depan rumahnya di Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Minggu malam, 22 Maret 2015 ),” ujar Mualem saat ditemui portalsatu.com dan wartawan lainnya.

Berdasarkan kabar diperoleh Mualem, penculik Ayah Mud diduga kelompok kriminal bersenjata yang sebelumnya sering beraksi di Aceh Timur. Ia berharap Ayah Mud dibebaskan dengan selamat.

“Kita yakin polisi dan TNI mampu menuntaskan kasus-kasus ini. Kelompok (kriminal) itu kita minta segera sadar dan kembali ke tengah masyarakat agar tidak lagi jatuh korban, dan tidak bertambah anak yatim (akibat orang tuanya dibunuh),” katanya.

Mualem yang juga Wakil Gubernur Aceh mengajak semua pihak terkait bekerja sama menjaga situasi agar Aceh tetap aman dan damai. Sebab, kata dia, Pemerintah Aceh tengah berupaya membangun daerah ini dengan mengundang investor.[] (mal)

Mualem: Ada Provokator Ingin Mengacaukan Aceh

Mualem: Ada Provokator Ingin Mengacaukan Aceh

Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem menyatakan saat ini ada provokator yang ingin mengacaukan Aceh. Mualem yang juga Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat menyampaikan itu terkait penculikan dan penembakan yang menewaskan dua anggota TNI di Aceh Utara.

“Kita sesali kriminalitas yang terjadi di Aceh Utara, apalagi sampai meninggalnya dua anggota TNI. Ada provokator yang sengaja menghancurkan Aceh, jadi ini sebagian ada unsur politiknya juga,” ujar Mualem dalam sambutannya pada acara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al-Munawwarah di Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Rabu, 25 Maret 2015.

Ditemui portalsatu.com dan wartawan lainya usai acara itu, Mualem kembali mengungkapkan bahwa ia sangat menyesali insiden yang menewaskan dua anggota TNI di Aceh Utara. “Kita harapkan kepada keluarga (korban) bersabar menghadapi cobaan ini,” katanya.

Mualem menyesalkan tindakan kelompok kriminal bersenjata api yang dinilai ingin memperkeruh situasi di Aceh. “Kita harapkan kepada mereka yang terlibat tersebut kembalilah kepada keluarga dan masyarakat supaya Aceh bisa kita bangun seperti yang kita harapkan,” ujar Mualem yang juga Ketua Umum Partai Aceh.

Menurut Mualem, saat ini ada upaya provokasi yang sedang dimainkan pihak tertentu di Aceh. “Saya rasa yang kita lihat begitu, yang kita dengar kabar berasal dari Pusat juga, ada orang-orang tertentu yang ingin mengacaukan Aceh. Ada juga orang yang tidak senang dengan perdamaian dulu. Makanya ada unsur politik juga mungkin,” katanya.

Mualem berharap insiden penculikan dan pembunuhan yang terjadi di Aceh Utara tidak berimbas terhadap masyarakat setempat. Untuk itu, ia berharap kepada aparat keamanan agar mengambil tindakan dengan sasaran yang jelas dan tepat dalam mengungkap kasus tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Sertu Indra dan Serda Hendrianto tewas ditembak kelompok bersenjata api ilegal setelah kedua anggota intelijen TNI itu diculik di Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Senin, 23 Maret 2015. (Baca: Ini Kronologis Penculikan Intel TNI Hingga Tewas).[]

Mualem Letak Batu Pertama Masjid Al-Munawwarah

Mualem Letak Batu Pertama Masjid Al-Munawwarah

WAKIL Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Al-Munawwarah di Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Rabu, 25 Maret 2015.

Selain Mualem turut hadir Ketua DPRA Tgk Muharuddin, ulama kharismatik Abu Kuta Krueng, Abu Paloh Gadeng, Abati Babah Buloh, Abu Paya Pasie, Wakil Wali Kota Lhokseumawe Nazaruddin, Ketua DPRK M. Yasir, Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pase Zulkarnaini Hamzah, dan kalangan lainnya.

Peletakan batu pertama masjid ini diawali peusijuek oleh Abu Kuta Krueng, dilanjutkan doa bersama.

Menurut panitia pembangunan masjid, luas lahan mencapai 1.674 meter dengan luas masjid 32 x 37 meter. Kebutuhan biaya pembangunan sampai selesai Rp6,147 miliar.

Ketua KPA Pase Zulkarnaini Hamzah dalam sambutannya berharap masyarakat setempat ke depan juga harus memprioritaskan memakmurkan masjid ini.

Wakil Wali Kota Nazaruddin menyatakan pemerintah mendukung sepenuhnya pembangunan masjid ini.

“Untuk bantuan saya minta pak Sekda menyerahkan 1.000 zak semen dan bantuan itu akan berlanjut,” katanya.

Mualem selaku Ketua Umum PA juga membantu dana Rp10 juta untuk pembangunan masjid tersebut.[](mal)

Cerita Istri Intel TNI; Buka Facebook Hingga Pecah Gelas

Cerita Istri Intel TNI; Buka Facebook Hingga Pecah Gelas

“Laa ilaaha illallah….” Tuti Niswati terus saja melantunkan kalimat syahadat itu sambil mengayunkan putri bungsunya, Asya, 9 bulan, di sebuah rumah milik tetangga orang tuanya di Desa Paloh Gadeng, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, Selasa, 24 Maret 2015.

Siang itu, sekitar pukul 13.30 WIB, di rumah Musa Latif, ayah kandung Tuti, di Dusun Dua Alue Puntong Desa Paloh Gadeng, sudah berkumpul ramai warga. Salah seorang di antaranya, ulama kharismatik Teungku H. Mustafa Ahmad atau Abu Paloh Gadeng. Sebagian warga berkumpul di warung dan rumah tetangga Musa Latif.

Musa Latif, Tuti, dan para pelayat itu, menunggu jenazah Sertu Indra, suami Tuti, yang sedang dibawa pulang dari Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe. Sertu Indra dan rekannya, Serda Hendrianto, keduanya anggota Satuan Intelijen Kodim Aceh Utara, tewas ditembak setelah diculik kelompok bersenjata api di Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Senin sore. Jenazah kedua korban dievakuasi ke Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe, Selasa siang. (Baca: Dua Intel TNI Tewas Setelah Diculik Kelompok Bersenjata).

Tuti tampak bersikap tegar walau kedua pipinya masih lembab setelah meneteskan air mata. Ia bersedia melayani perbincangan dengan portalsatu.com dan wartawan lainya di sela-sela menunggu jenazah Sertu Indra.

Ibu tiga anak ini lantas berbagi cerita tentang suaminya. Sehari sebelum Sertu Indra ditemukan tewas, Tuti masih berkumpul bersama suaminya di rumah yang mereka tempati di kompleks eks karyawan PT AAF di Krueng Geukueh, Kecamatan Dewantara.

“Dia (Indra) sempat ngomong malam Senin (Minggu malam) kemarin: “Kamu jangan cemburu-cemburu kalau saya berpergian, saya kan tugas dinas. Saya nggak akan macam-macam, jangan curiga ya,” kata Tuti menirukan ucapan suaminya.

Tuti kemudian berkata, “Ya lah bang, saya ngerti. Dulu kan sering juga kamu tinggalkan saya saat sedang dinas”.

Malam itu, kata Tuti, sebelum tidur suaminya sempat mengakses layanan Facebook. “Sempat buka-buka facebook, dia perlihatkan foto bersama kawan-kawannya yang di Jawa, dan foto keluarganya. Akhirnya saya ketiduran,” ujar Tuti yang merupakan guru honorer di SMAN 1 Nisam, Aceh Utara.

Keesokannya, Senin sekitar pukul 09.00 WIB, kata Tuti, suaminya menerima pesan singkat (SMS) dari temannya. “Isi SMS temannya itu, “Kita dinas ke Nisam, saya tunggu di Simpang Empat Krueng Geukueh”. Kemudian dibalas suami saya, “Ok,” kata Tuti.

Indra lantas meminta Tuti mengantarnya dengan sepeda motor ke Simpang Empat Krueng Geukueh. Tuti turut membawa dua dari tiga anaknya, Azizi Soni Irawan, 4 tahun, dan Asya, 9 bulan. Sedangkan si sulung, Anzir, 12 tahun, tinggal di rumah.

Tiba di Simpang Empat Krueng Geukueh, Indra kemudian masuk ke tempat ATM BRI untuk mengambil uang. “Sebagian dikasih ke saya untuk uang belanja,” ujar guru kesenian itu.

“Kemudian dia menyebrang jalan, duduk di tempat orang asah (batu) cincin, menunggu temannya. Kemudian dia balik lagi ke tempat saya yang masih berada di sebrang jalan. Dia mencium anak kami, dan sempat bercanda manja dengan anak-anak,” ujar Tuti.

Indra sempat pula berpesan pada anak dan istrinya itu. “Adik cantik, baik-baik ya, jangan nakal-nakal. Ma (Tuti) hati-hati jalannya, lampu sein kiri (sepeda motor) jangan lupa dihidupkan,” kata Tuti menirukan pesan suaminya.

Menurut Tuti, biasanya suaminya pulang ke rumah pukul 14.00 WIB siang. Akan tetapi, hari itu (Senin), Indra belum pulang seperti biasanya. Sekitar pukul 15.00 WIB, tiba-tiba Tuti merasakan firasat buruk.

“Saat itu anak saya, Anzer minum dengan gelas yang sering dipakai suami saya untuk minum. Saat Azer menaruk gelas di atas tempat masak, tiba-tiba pecah sendiri, padahal nggak jatuh. Saya langsung merasakan firasat: ini telah terjadi sesuatu dengan suami saya,” ujar Tuti.

Sampai sore hari itu, Tuti tidak memeroleh kabar tentang suaminya yang belum pulang. Ia kemudian mendapat informasi dari salah seorang anggota Kodim Aceh Utara sekitar pukul 21.00 WIB, bahwa mobil yang digunakan Indra bersama Hendrianto ditemukan di kawasan Simpang Empat Nisam, Aceh Utara.

“Tapi orangnya tidak ada dalam mobil, kami sedang mencari keberadaan Indra dan temannya itu. Sabar ya buk,” kata Tuti menirukan ucapan anggota Kodim itu.

Tuti terus menunggu kabar tentang suaminya hingga Selasa pagi. “Sekitar jam sepuluh (10.00) tadi ada yang kasih informasi bahwa suami saya sudah ada di (Rumah Sakit) Kesrem, sudah meninggal dunia,” ujarnya.

Indra merupakan prajurit TNI yang berasal dari Palembang. Ia menikah dengan Tuti tahun 2004 silam di Paloh Gadeng. Keduanya saling kenal sejak Indra bertugas di kawasan desa itu sebagai prajurit TNI BKO pada masa konflik Aceh.

“Masa konflik dulu, pos TNI yang ditempati Indra berjarak sekitar 100 meter dari rumah orang tua Tuti,” kata Haji M. Nur Idris, warga Paloh Gadeng yang memiliki hubungan kerabat dengan ayah kandung Tuti.

Menurut Tuti, beberapa bulan setelah ia menikah dengan Indra, keduanya pindah ke pulau Jawa lantaran suaminya harus bertugas di Markas Kostrad. Seusai mengikuti tes secaba TNI AD tahun 2010, Indra minta pindah tugas ke Aceh. “Sebelum menjadi anggota intel Kodim Aceh Utara, dia pernah bertugas di Koramil Nisam,” ujar salah seorang anggota TNI ditemui di rumah orang tua Tuti.

Sejumlah pemuda Paloh Gadeng menyebut selama ini Indra memiliki hubungan pergaulan yang baik dengan masyarakat setempat. Hal itu juga dibenarkan para tokoh warga, termasuk M. Nur Idris. “Setiap ada acara kenduri di rumah masyarakat desa ini dan sekitarnya, Indra selalu diundang, dan dia turut membantu menyiapkan persiapan kenduri,” kata M. Nur Idris.

Jenazah Indra akhirnya tiba di rumah orang tua Tuti, sekitar pukul 15.00 WIB. Ratusan warga setempat, termasuk para santri dayah pimpinan Abu Paloh Gadeng menyambutnya dengan duka cita. Setelah jenazah Indra diperlihatkan kepada Tuti dan anak-anaknya, kemudian disalatkan masyarakat dipimpin Abu Paloh Gadeng sebagai imam.

Sertu Indra lantas dimakamkan di kompleks kuburan umum di Dusun Empat Munawarah Desa Paloh Gadeng melalui upacara militer yang diawali tembakan salvo (tembakan serentak sejumlah senapan sebagai tanda penghormatan militer). Turut hadir Dandim Aceh Utara Letkol Inf Iwan Rosandiyanto.

Tuti memilih bersikap tabah atas musibah yang menimpa orang yang sangat ia cintai. Istri Sertu Indra ini berkata, “Suami saya berbuat baik, pelakunya (yang membunuh Sertu Indra) saya serahkan kepada Allah, biar Allah yang menghukumnya.”[] (mal)

Kata Danrem Soal Kelompok Pembunuh Dua Intel TNI

Kata Danrem Soal Kelompok Pembunuh Dua Intel TNI

LHOKSUKON- Danrem-011/Lilawangsa Kolonel Inf. Achmad Daniel Chardin memperkirakan kelompok bersenjata api ilegal yang menculik dan membunuh dua anggota intelijen TNI berjumlah lebih 10 orang.

“Berdasaran informasi dari masyarakat yang melihat langsung (peristiwa penculikan), kelompok ini diperkirakan 10 hingga 15 orang.  Diperkirakan mereka menggunakan dua mobil, salah satunya Avanza,” kata Danrem Daniel kepada para wartawan seusai memimpin evakuasi jenazah kedua korban ke Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe, Selasa, 24 Maret 2015.

Daniel menyebut kelompok tersebut menggunakan senjata api jenis AK-47 dan M-16. Pasalnya, di lokasi temuan jenazah kedua korban, ditemukan selongsong AK-47 dan M-16.

“Pakaiannya juga campuran, ada yang berupaya menampilkan sosok pakaian loreng, ada yang baju hitam untuk memberi kesan itu brimob, dan ada juga yang pakaian preman,” ujar Daniel.

Ditanya apakah pelakunya kelompok yang selama ini sering melakukan penculikan di Aceh Utara dan Aceh Timur, Danrem Daniel mengatakan, “Belum tahu. Kita identifikasi, ada beberapa kelompok yang sebenarnya mereka sendiri berkonflik.”

“Ini akan menjadi catatan kita, kita tahu mereka ada beberapa kelompok yang masih bersenjata dan ada konflik internal mereka yang mengarah kepada kriminalitas.  Kelompok-kelompok mantan kombatan yang masih bersenjata, dan mungkin ada friksi sesama mereka, ini yang terjadi,” katanya.

Danrem memperkirakan penculikan hingga terjadi pembunuhan terhadap dua intelijen sebagai upaya menarik TNI dalam permasalahan tersebut. “Ini yang kita cermati, kita berharap kita tidak dipancing untuk ikut dalam permasalahan yang bersifat keamanan, karena sekarang kita fokus untuk tugas-tugas teritorial, tugas kesejahteraan,” ujar Daniel.

“Kita harapkan ini (pembunuhan anggota TNI oleh kelompok bersenjata api ilegal) kejadian terakhir setelah MoU Helsinki,” katanya.[] (MAL)