Author: IRMANSYAH D GUCI

Koalisi NGO HAM dan KontraS Pantau Nisam Antara

Koalisi NGO HAM dan KontraS Pantau Nisam Antara

LHOKSUKON – Direktur Eksekutif Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad dan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, Hendra Saputra memantau kondisi di Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, Senin, 30 Maret 2015.

“Kita ingin melihat langsung situasi terakhir di Nisam Antara (sepekan paska kejadian penculikan dan penembakan yang menewaskan dua Intel TNI),” kata Zulfikar Muhammad didampingi Hendra Saputra kepada portalsatu.com, Senin jelang sore.

Selain mengelilingi desa-desa di kawasan pedalaman itu, Zulfikar dan Hendra turut menjumpai sejumlah warga termasuk Keuchik Alue Papeun, Nisam Antara, Syawaluddin. Keduanya pun sempat ngopi bareng bersama warga dan keuchik di warung milik M. Nur yang disinggahi Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto, Kamis lalu. (Baca: Pangdam Ngopi Bareng Warga Nisam Antara: Black Jade hingga Pinang).

Dalam perbincangan di warung kopi itu, sejumlah warga menyampaikan kepada Zulfikar dan Hendra bahwa sejak Selasa lalu hingga kini masyarakat belum berani beraktivitas di kebun. Padahal, menurut warga, saat ini tengah musim panen pinang di lahan kebun yang sangat luas.

“Dari rumah, kami hanya ke warung kopi, belum berani ke kebun, karena banyak tentara (mengejar kelompok bersenjata), takut terjadi seperti masa konflik (kontak tembak), kami masih trauma,” kata seorang warga Dusun Bate Pila Desa Alue Papeun.

Menurut warga setempat, aparat keamanan memang tidak tampak di pemukiman penduduk, tetapi masih menyisir kawasan perkebunan dan hutan. Itu sebabnya para petani belum berani ke kebun untuk memanen pinangnya. Sementara Keuchik Syawaluddin menyebut aparat keamanan tidak melarang masyarakat beraktivitas di kebun. Kata dia, pihak kepolisian hanya menyarankan jika ke kebun agar warga tetap mengantongi KTP atau mengajak istri sebagai teman.

“Tapi masyarakat masih merasa was-was, karena teringat masa konflik, makanya belum berani ke kebun,” ujarnya.

Menurut Syawaluddin, sejauh ini tidak terjadi kekerasan atau perlakuan buruk dari aparat keamanan terhadap warga setempat.

“Aktivitas sekolah siang hari dan pengajian malam hari tetap normal. Aparat (keamanan) juga tidak melarang jika masyarakat menggelar rapat malam hari, misalnya rapat persiapan kenduri. Jadi hanya aktivitas di kebun saja yang belum berani dilakukan masyarakat,” katanya.

Setelah berdialog dengan warga dan keuchik setempat, Zulkifar dan Hendra menyimpulkan salah satu ekses operasi aparat keamanan mengejar kelompok bersenjata paska tewasnya dua Intel Kodim Aceh Utara, telah berdampak buruk pada aktivitas ekonomi masyarakat Nisam Antara dan sekitarnya.[]

Menyusuri Gua Batu Gamping di Belantara Geureudong Pase

Menyusuri Gua Batu Gamping di Belantara Geureudong Pase

LHOKSUKON – Belantara di pucuk Geureudong Pase, Aceh Utara, tidak hanya memiliki “surga mungil” yang kini dikenal sebagai Air Terjun Tujuh Bidadari. Akan tetapi juga “menyembunyikan” gua-gua di bawah batu karang raksasa yang menjadi sumber air.

Hasil penelusuranportalsatu.co bersama sejumlah relawan Centre Informasi for Samudra Pasai (Cisah) Lhokseumawe, pertengahan Februari 2015, terdapat sejumlah lokasi gua di punggung gunung Geureudong Pase. Gua-gua itu berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi Air Terjun Tujuh Bidadari.

Mulanya, ditemukan gua di bawah batu karang raksasa yang menjadi sumber Air Terjun Tujuh Bidadari. Di bagian depan batu karang itu tampak seperti kolam. Airnya jernih dan terlihat tenang. Akan tetapi ke depannya lagi seperti alur atau anak sungai yang dipenuhi batu karang berlumut berukuran lebih kecil.
Tidak jauh di seberang anak sungai itu ditemukan batu karang raksasa lainnya yang juga menyatu dengan bukit dan dipenuhi tumbuhan liar. Di bawah batu karang itu pun ada gua yang mulutnya teramat lebar. Untuk masuk ke gua itu harus membungkukkan badan lantaran tinggi mulutnya kurang satu meter.

Selain membungkukkan badan atau berjongkok, harus pula berhati-hati agar kepala tidak membentur batu karang yang runcing bertaburan di langit-langit gua. Gua itu menjulur ke perut bumi. Bagian mulut gua tampak kering, akan tetapi di dalamnya berisi air yang jernih.

“Semakin ke dalam, airnya semakin dalam, tapi saya tidak berani masuk terlalu jauh karena sangat gelap,” ujar Khairul Syuhada, seorang pengurus Cisah. “Guanya berkelok-kelok,” kata Mardani, relawan Cisah.

Ada gua lainnya? Tidak jauh dari lokasi itu setelah melewati jalan setapak yang sedikit mendaki di antara pepohonan dan tumbuhan liar di belantara yang dihibur “nyanyian” aneka burung tersebut, ternyata terdapat batu karang yang jauh lebih besar dan tampak indah.

“Ini baru luar biasa,” ujar Muslem, relawan Cisah yang juga seorang guru ketika tiba di lokasi itu.

Di celah-celah batu karang teramat lebar dan juga menjulang ke langit itu terdapat sejumlah gua. Para relawan Cisah mencoba masuk satu per satu mulut gua, namun tidak ada yang berani menerobos lebih jauh ke dalam lantaran sangat gelap.

Ahli Geologi Unsyiah Banda Aceh Gartika Setiya Nugraha memastikan karang yang memiliki gua itu merupakan batu gamping (limestone) yang menjadi sumber air di tengah belantara.

“Tidak salah lagi itu sudah dipastikan merupakan kawasan batu gamping. Di mana batuan tersebut mudah larut oleh air, jadi dapat sebagai tempat menyimpan air yg baik dan sering ditemukan sungai bawah permukaan dan keluar ke permukaan lewat retak-retak pada batuan tersebut,” ujar Gartika usai melihat foto-foto yang dikirim portalsatu.co untuk ia analisis.

Anda pencinta alam? Jangan lewatkan sensasi gua-gua batu karang raksasa di belantara Geureudong Pase![]

Doyok, Anak Buah Din Minimi Ditangkap?

Doyok, Anak Buah Din Minimi Ditangkap?

LHOKSEUMAWE- Aparat keamanan dari Satuan Brimob dilaporkan berhasil menangkap Doyok (nama panggilan), salah seorang anggota komplotan bersenjata pimpinan Nurdin alias Din Minimi, dua hari lalu di Nisam Antara pada Jumat, 27 Maret 2015.

Informasi diperoleh portalsatu.com, selain menangkap Doyok, Brimob juga menemukan 500 amunisi. Saat ditangkap, Doyok menggunakan baju warna biru dan celana hitam. Sejauh ini portalsatu.com belum memperoleh konfirmasi lengkap terkait hal itu.

Kapolda Aceh Irjen Pol Husen Hamidi membenarkan adanya penangkapan Doyok, anak buah Din Minimi. Melalui pesan singkatnya sekitar pukul 20.20 Wib, Kapolda mengatakan, “Betul, keterangan lengkap tanya sama Kapolres Lhokseumawe.”

Namun Kapolres Lhokseumawe, AKBP Cahyo Hutomo yang dihubungi secara terpisah sejak petang tadi belum merespon panggilan masuk. Ia juga belum membalas pesan singkat yang dikirimkan wartawan portalsatu.com terkait kabar tersebut.

Sebagaimana diberitakan, eks kombatan yang masih mengangkat senjata api, Din Minimi bersama komplotannya selama ini terlibat sejumlah kasus kriminal di Aceh Timur dan Aceh Utara. Kasus terakhir, penculikan Mahmudsyah alias Ayah Mud, Panglima Muda Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pase, Minggu, 22 Maret lalu. (Baca: bagaimana perkembangan terakhir ayah mud).

Ayah Mud dilaporkan berhasil melarikan diri dari penyekapan kelompok Din Minimi, Kamis, 26 Maret lalu. Ia kemudian diamankan pihak Polda Aceh di Banda Aceh untuk pengembangan kasus penculikan tersebut. Ayah Mud sempat muncul di sebuah warung kopi di seputaran Blang Padang, Banda Aceh, Jumat malam tadi. (Baca: semalam ayah mud muncul di warkop).[ihn]

Keceriaan di Air Terjun 7 Bidadari

Keceriaan di Air Terjun 7 Bidadari

LHOKSUKON – Tiga belas pemuda—sebagian besar di antaranya—peminat sejarah dan pesona alam, berhasil mencapai lokasi Air Terjun Tujuh Bidadari di belantara Geureudong Pase, Aceh Utara, pertengahan Februari 2015.

Lokasi air terjun itu menawarkan pemandangan eksotis yang membuat mereka betah berlama-lama untuk menumpahkan keceriaan. “Kami bahkan bermalam di kawasan itu agar benar-benar puas menikmati air terjun yang sangat indah dan alam tropis yang mengesankan,” kata Abel, ketua rombongan 13 pemuda itu.

“Suatu saat kami akan datang lagi ke lokasi ini. Saya kira siapa pun yang sudah menikmati pesona Air Terjun Tujuh Bidadari pasti akan tertarik untuk kembali pada kesempatan berikutnya,” Abel menambahkan.

Abel menyebut lokasi Air Terjun Tujuh Bidadari jauh dari pemukiman penduduk, 30 kilometer lebih dari Mbang, Ibukota Kecamatan Geureudong Pase. Jika menuju ke sana menggunakan sepeda motor, kata dia, dipastikan menguras energi secara total lantaran medan jalan sangat sulit.

“Saran saya, jika mau ke Air Terjun Tujuh Bidadari, jangan saat musim hujan, sebab besar kemungkinan tidak akan berhasil karena medan jalan licin, naik turun bukit terjal, rawan kecelakaan,” ujar Abel.

Lihat foto-foto keindahan Air Terjun Tujuh Bidadari di bawah ini:terjun6 terjun5 terjun8 terjun7 terjun1 terjun3 terjun2Pesona Air Terjun Tujuh Bidadari di belantara Geureudong Pase, Aceh Utara. Foto Irman

Pesona Air Terjun Tujuh Bidadari di belantara Geureudong Pase, Aceh Utara. Foto Irman

Tahanan Kasus Narkoba Masuk Islam

Tahanan Kasus Narkoba Masuk Islam

LHOKSEUMAWE – Krisman Totona Hia, 22 tahun, tahanan kasus narkoba Polres Lhokseumawe, yang beragama Kristen Protestan, resmi memeluk Islam setelah mengucap dua kalimat syahadat, di Masjid Babuttaqwa kompleks markas polres setempat, Jumat, 27 Maret 2015.

Krisman mengucap dua kalimat syahadat dipandu Ketua Komisi A Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Lhokseumawe, Teungku M. Isa. Prosesi tersebut disaksikan Imam Masjid Babuttaqwa, Teungku Subhan dan Teungku Hasballah, Wakapolres Lhokseumawe Kompol Driharto, para perwira dan personil polres, dan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Muara Dua, M. Hasyim.

Sebelum mengucap dua kalimat syahadat, Krisman membacakan pernyataan bahwa ia memeluk Islam atas kesadarannya sendiri. Setelah resmi masuk Islam, warga Deli Serdang, Sumatera Utara itu berganti nama menjadi Ahmad Mubarak. Ia turut dipeusijuek oleh Kepala KUA Muara Dua, M. Hasyim.

Wakapolres Driharto dalam sambutannya menyebut pihaknya hanya memfasilitasi baik tempat maupun acara pengucapan dua kalimat syahadat yang dipandu pihak MPU.

Ditemui usai acara itu, Ahmad Mubarak mengaku ditangkap polisi terkait kasus narkotika jenis pil ekstasi di Batuphat, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, 10 Januari 2015.

“Saya ingin masuk Islam setelah terilhami lewat dua kali mimpi, baru-baru ini. Awalnya, saya bermimpi bertemu seorang laki-laki yang minta sedekah, kemudian dia minta diantar ke masjid, dan mengajak saya salat. Kemudian saya bermimpi diberikan peci oleh seseorang yang tidak tampak wujud,” ujarnya.[] (mal)

Giring Pangdam ke Rumah, Janda Korban Konflik dapat Rp10 Juta

Giring Pangdam ke Rumah, Janda Korban Konflik dapat Rp10 Juta

ACEH UTARA – Ti Kamariah yang tadinya duduk mematung, dingin, dan kaku seperti batu, sekonyong-konyong melompat dari kursi dan “menghadang” Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto.

Saat itu, Pangdam baru saja berpamitan pada warga di warung kopi milik M. Nur di Keude Alue Papeun, Kecamatan Nisam, Antara, Aceh Utara, Kamis, 26 Maret 2015. (Baca: Pangdam Ngopi Bareng Warga Nisam Antara: Black Jade hingga Pinang).

Ti Kamariah merangkul tangan Pangdam. Ia kemudian mengungkapkan rasa trauma lantaran melihat banyak prajurit TNI menyisir Nisam Antara setelah insiden penculikan hingga menewaskan dua Intel Kodim Aceh Utara, Senin lalu.

“Saya takut pak, sekarang sudah seperti konflik, banyak tentara masuk ke sini,” ujar Ti Kamariah. “Bagaimana ini pak, saya tidak berani lagi ke kebun, tidak bisa cari rezeki. Mau cari uang di mana (untuk kebutuhan hidup),” kata dia lagi.

Ti Kamariah mengaku ia adalah janda korban konflik. Suaminya, Ismail, tewas akibat konflik bersenjata berkecamuk di Tanoh Nanggroe. Anak angkatnya, Saifullah hilang masa konflik dan hingga kini tidak diketahui di mana makamnya.

Perempuan ini juga mengalami kekerasan pada masa konflik silam. Ia pun menunjukkan bekas luka di pahanya ekses kekerasan tersebut.

“Kalau nanti terjadi sesuatu kepada saya seperti konflik dulu, saya harus mengadu kemana, pak. Kalau saya datang ke Kodam, apa saya bisa jumpa bapak,” Ti Kamariah terus saja mencurahkan keluh kesahnya.

Pangdam berupaya menenangkannya dan memberi semangat. Menurut Pangdam, keberadaan tentara dan polisi di Nisam Antara untuk melindungi rakyat, termasuk Ti Kamariah.

“Ibu tidak perlu takut, sekarang Nisam Antara (paska-pembunuhan dua Intel TNI oleh kelompok bersenjata api) sudah aman, ada tentara dan polisi yang menjaga rakyat agar bisa berkebun, mencari rezeki seperti biasa,” ujarnya.

Ti Kamariah mengaku tetap saja merasa takut. Ia trauma dengan konflik yang telah merengut nyawa orang-orang yang ia cintai. Apalagi, kata dia, hidupnya kini sebatang kara dan tidak memeroleh perhatian pemerintah. “Saya orang kecil pak, hidup melarat, tidak ada yang bantu saya, di rumah tidak ada apa-apa,” katanya.

Pangdam lantas menanyakan di mana rumah Ti Kamariah. “Di situ, pak, dekat,” kata dia sambil mengarahkan jari telunjuknya. “Ayo bapak Kodam (Pangdam) lihat bagaimana kondisi rumah saya, nanti saya tunjukan foto suami saya,” ujarnya.

Pangdam dan Ti Kamariah4

Sambil bergandengan tangan, Pangdam dan Ti Kamariah mengayunkan langkah menuju rumah perempuan itu. Jarak warung kopi milik M. Nur dengan rumah Ti Kamariah ternyata mencapai hampir satu kilometer. Mulanya, diperkirakan hanya terpaut 50 hingga 100 meter lantaran Ti Kamariah menyebut “dekat”.

Di tengah jalan menuju rumah Ti Kamariah, ramai bocah turut bergabung menemani Pangdam yang didampingi Keuchik Alue Papeun Syawaluddin. Tiba di rumahnya, Ti Kamariah menyilakan Pangdam masuk tanpa harus membuka sepatu. Rumah itu berkonstruksi permanen/beton. “Hanya rumah ini harta saya yang tersisa, saya membangunnya dengan menjual apa yang ada,” katanya.

Ti Kamariah kemudian menunjukkan gambar almarhum suaminya yang terpajang pada dinding ruangan tamu. “Sejak suami meninggal, saya harus cari rezeki sendiri, kalau Aceh ribut-ribut lagi, bagaimana nasib saya, pak. Saya tidak punya apa-apa, tidak ada yang peduli dengan nasib saya,” ujar Ti Kamariah meratap.

Pangdam menanyakan selama ini Ti Kamariah memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hasil usaha apa. “Tidak ada pak, tidak punya usaha, orang kecil di kampung, paling-paling kerja upahan di kebun orang,” katanya.

Pangdam lantas menyerahkan bantuan senilai Rp10 juta kepada Ti Kamariah. Pangdam berpesan agar bantuan itu digunakan untuk membuka usaha agar menghasilkan pendapatan untuk kebutuhan hidup.

Jenderal bintang dua itu turut meminta Keuchik Sawaluddin membantu menjaga dan membimbing Ti Kamariah agar bisa hidup mandiri. “TNI siap membantu rakyat. Insyaallah, bersama TNI, rakyat kuat,” ujarnya. Ia pamit usai foto bersama Ti Kamariah, Keuchik Syawaluddin dan sejumlah bocah warga Alue Papuen.

Pangdam menyebut Ti Kamariah merasa trauma bukan karena melihat pasukan TNI. “Traumanya mungkin kemarin memang ada kejadian (pembunuhan dua Intel Kodim Aceh Utara). Dan kita TNI datang (ke Nisam Antara), warga meluapkan semua keluhannya, itu bagian kondisi masyarakat,” kata Pangdam kepada para wartawan.

Ia mengimbau masyarakat Nisam Antara kembali tenang dan bekerja kembali seperti biasa. “D sini ada polisi dan tentara yang menjaga. Tadi kita sampaikan juga pada Pak Keuchik agar pimpin rakyatnya yang bagus, mari bangkitkan semangat bekerja dengan potensi yang ada di sini,” ujar Pangdam.

Ti Kamariah berharap Pangdam tidak hanya kali ini turun ke Nisam Antara memantau situasi keamanan. Janda korban konflik ini berharap pula Pangdam “membangunkan” pemimpin pemerintahan Aceh agar peduli dengan rakyat kecil di daerah pedalaman. “Rakyat butuh perhatian pemimpin”.[] (mal)

Pangdam Ngopi Bareng Warga Nisam Antara: Black Jade hingga Pinang

Pangdam Ngopi Bareng Warga Nisam Antara: Black Jade hingga Pinang

LHOKSUKON – Pangdam menyeruput segelas kopi sambil merekat keakraban dengan warga Alue Papeun, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara. Mulanya, bercanda tentang batu “black jade”. Perbincangan kemudian mengalir soal potensi pinang. Silaturahmi itu mengusir suasana seram yang menghantui Nisam Antara.

***

Usai menyantap hidangan makan siang di Markas TNI Kavaleri Kompi Serbu di Cunda, Lhokseumawe, Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto “naik gunung” ke Nisam Antara, Aceh Utara, Kamis, 26 Maret 2016. Jenderal bintang dua itu ingin memantau kondisi daerah pedalaman yang mencekam setelah kelompok sipil bersenjata api menewaskan dua Intel Kodim Aceh Utara, Senin lalu.

Ketika mobil rombongan Pangdam melintasi jalan menghubungkan sejumlah desa di Kecamatan Nisam Antara, terlihat ramai warga bersantai di warung kopi. Ada pula warga yang sibuk membelah pinang di muka rumahnya. Hampir semua rumah warga di sejumlah desa, di halamannya tampak tumpukan pinang. Di beberapa desa kawasan pedalaman itu, jarak antarrumah warga dipisahkan lahan kebun pinang dan tumbuhan lainnya.

Sebagian rumah warga, kondisinya sangat sederhana, bahkan ada yang tampak memprihatinkan, berkonstruksi kayu sudah lapuk. Akan tetapi, sebagian lainnya rumah permanen/beton yang terlihat masih baru.

Rombongan Pangdam terus meluncur melewati jalan depan kantor Camat, Pos Polisi, dan Koramil Nisam Antara. Di halaman kantor Camat dan Pos Polisi, ramai personil Polri. Sedangkan di kantor Koramil, banyak tentara. Sebagian polisi dan tentara tengah makan nasi bungkus.

Mobil Pangdam akhirnya menepi di muka sebuah warung kopi di Keude Alue Papeun, tepat pukul 14.00 WIB. Turun dari mobil, Pangdam langsung berbaur dengan warga di warung milik M. Nur, lalu duduk semeja untuk minum kopi.

Sejumlah warga yang berada di warung lainnya kemudian bergabung dengan Pangdam ditemani Dandim Aceh Utara Letkol Inf Iwan Rosandiyanto, termasuk Keuchik Alue Papeun Syawaluddin. Beberapa pemuda dan remaja yang ada di keude (pasar) itu turut mengerumuni warung M. Nur untuk melihat Pangdam dan memotretnya dengan kamera telpon genggam.

Pangdam Agus Kriswanto memulai keakraban dengan warga lewat canda tawa tentang batu giok jenis black jade. “Itu black jade ya,” ujar Pangdam sambil meraba cincin di jari tangan seorang pria paruh baya. Pria itu mengangguk sambil mengumbar senyum. Warga lainnya terkekeh.

“Black jade ini kalau malam pasti gelap dia kan,” kata Pangdam sarat canda.

“Sekarang hampir semua orang, termasuk di kampung-kampung pakai giok,” ujar seorang pria beruban.

Pangdam kemudian menanyakan tentang kebun yang digarap warga setempat. “Di sini kebunnya apa sih, pinang semua ya, ada sawit juga. Sawah kering
ya?”

“Sebagian besar kebun pinang, Pak Pangdam,” kata Keuchik Syawaluddin.

“(Potensi) pinang kan bagus ya,” Pangdam kembali bertanya. Ia lantas menyeruput kopi yang dihidangkan pekerja warung M. Nur. Kopi panas pas untuk “menghangatkan” badan lantaran hujan gerimis mulai membasahi Nisam Antara.

“Saat ini lumayan lah, Pak Panglima, sedang musim panen,” timpal seorang pemuda.

Pangdam bertanya lagi, “Ada peremajaan ya (pohon pinang), bibitnya darimana, bibit sendiri ya”.

“Kalau pinang jatuh bisa tumbuh lagi,” kata warga.

“Situasi di sini gimana,” Pangdam bertanya soal keamanan paska-insiden pembunuhan dua Intel Kodim Aceh Utara di kawasan itu.

“Aman, pak. Masyarakat nggak tau apa-apa (tentang kelompok bersenjata api). Rakyat hanya mengharapkan daerah ini aman saja,” ujar pemuda tadi.

Pangdam berupaya memompa semangat warga agar tidak lagi merasa takut. Ia menyatakan keberadaan TNI dan Polri di Nisam Antara untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi rakyat. “Itu tugas TNI. Sekarang warga bisa berkebun lagi, silakan beraktivitas seperti biasa, ada TNI dan Polri yang menjaga,” katanya.

Kopi kini tersisa di dasar gelas beralas piring mungil. Gerimis belum reda. Pangdam kemudian pamit pada warga yang terus saja berhias senyum. “Senyum damai. Damai itu pinang bagi warga Nisam Antara”.[] (mal)

Warga Trauma Paska-pembunuhan Intel TNI, Ini Kata Pangdam

Warga Trauma Paska-pembunuhan Intel TNI, Ini Kata Pangdam

LHOKSUKON – Sebagian warga di daerah pedalaman Aceh Utara kini merasa trauma paska-insiden pembunuhan dua Intel TNI di Kecamatan Nisam Antara. Pasalnya, TNI kini mengerahkan pasukan untuk memburu kelompok bersenjata api yang membunuh dua Intel Kodim Aceh Utara itu.

Informasi diperoleh portalsatu.com, sejak Selasa, 24 Maret 2015, sejumlah petani di Nisam Antara dan sekitarnya tidak berani lagi ke kebunnya. Petani khawatir terjadi kontak tembak antara pasukan TNI dengan kelompok bersenjata api. “Kami merasa trauma seperti masa konflik Aceh,” kata seorang petani Nisam Antara yang enggan namanya ditulis.

Petani itu berharap aparat kemanan segera menangkap kelompok bersenjata api ilegal agar situasi di daerah pedalaman kembali normal sehingga masyarakat dapat berkebun dengan nyaman.

Menjawab portalsatu.com di Mess Lilawangsa, Lhokseumawe, Kamis, 26 Maret 2015, Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto mengatakan, “Agar tidak trauma, masyarakat harus tetap waspada, dan melaporkan apabila terjadi ancaman-ancaman.”

“Kita berharap rakyat tetap berusaha menenangkan diri, dan kami berusaha menjaga keamanan koordinasi dengan Polri, dan pemda terkait,” ujar Pangdam Agus Kriswanto.[] (mal)

Soal Daerah Rawan Kelompok Bersenjata, Ini Kata Pangdam

Soal Daerah Rawan Kelompok Bersenjata, Ini Kata Pangdam

LHOKSEUMAWE – Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto mengatakan Aceh Utara dan Aceh Timur merupakan daerah yang masih rawan dari aksi kelompok sipil bersenjata api.

“Saat ini yang nyata jelas di Aceh Utara dan Aceh Timur,” kata Pangdam Agus Kriswanto menjawab para wartawan di Mess Lilawangsa Lhokseumawe, Kamis, 26 Maret 2015.

Menurut Pangdam, di dua daerah itu diperkirakan ada tiga kelompok bersenjata. Namun, TNI belum dapat memastikan kelompok mana yang membunuh dua Intel Kodim Aceh Utara. “Karena kita juga harus hati-hati,” ujarnya.

“Karena sebenarnya antarkelompok mereka sendiri juga ada permasalahan, antara mereka dengan pemerintah juga ada permasalahan, sehingga nanti itu dibahas dalam Forum Pimpinann Daerah provinsi maupun kabupaten,” kata Pangdam Agus.

Pangdam berharap kelompok bersenjata yang memiliki permasalahan dengan pemerintah daerah agar membangun komunikasi untuk mencari solusi penyelesaian.

“Mereka bisa berkomunikasi kepada pemda, atau kepada kami sebagai panglima, silahkan berkomunikasi, dan mungkin permsalahan apa yang bisa kita selesaikan dengan baik-baik, karena TNI di mana pun berada pasti dalam rangka membantu pemda meningkatkan kesejahteraan dan menjaga keamanan,” ujar Pangdam.

Pangdam menegaskan pihaknya tidak akan terpancing walau kini ada upaya menarik TNI dalam konflik antarkelompok bersenjata di Aceh. “TNI bukan ikan, nggak kepancing ya,” katanya.

“Memang apabila orang tidak mengerti kondisi Aceh ini mungkin yang di luar akan sakit hati, akan marah. Namun begitu mereka mengerti mungkin kita akan berpikir lebih kondusif. Dan tadi beberapa pakar juga menyampaikan agar TNI jangan terpancing dan tidak gegabah,” kata Mayjen Agus.[]

Apa Motif Pembunuhan Intel TNI di Aceh Utara?

Apa Motif Pembunuhan Intel TNI di Aceh Utara?

LHOKSEUMAWE – Panglima Daerah Militer Iskandar Muda Mayjen TNI Agus Kriswanto belum dapat memastikan motif pembunuhan dua Intel Kodim Aceh Utara.

“Sampai saat ini belum bisa dipastikan (motifnya),” ujar Pangdam Agus
menjawab para wartawan di Mess Lilawangsa, Lhokseumawe, Kamis, 26
Maret 2015.

Akan tetapi, Pangdam meyakini tidak ada unsur politik dalam kasus tersebut. “Ini kriminalitas bersenjata, sehingga walaupun saya menyerahkan ke polisi secara penyelidikan dan hukum, TNI juga bergerak (mencari pelaku), karena bukan hanya soal ancaman terhadap TNI, namun kita menjaga agar rakyat tidak resah,” katanya.

Menurut Pangdam, tidak menutup kemungkinan jika kelompok bersenjata
api itu bagian dari jaringan narkoba di Aceh yang merasa dendam
terhadap TNI lantaran ikut memberantas narkotika.

“TNI bergerak melawan narkoba,  menemukan lahan (ganja) 13 hektar, ada yang 10 hektar, dan  4 hektar,” ujar Pangdam.

Yang menjadi catatan khusus TNI setelah peristiwa ini? “Ke depan TNI
harus waspadalah, lebih jeli lagi,” ujar Pangdam. (ihn)