Author: BUSTAMI ELFASI

[Wawancara] Irwandi Yusuf: Sudah Saya Bikin, Tapi

[Wawancara] Irwandi Yusuf: Sudah Saya Bikin, Tapi

MEMAKAI kaos warna hitam, Irwandi Yusuf, berbicara banyak hal tentang Aceh dengan wartawan portalsatu.com di Kupi Pancong, Kalibata City, Jakarta Selatan, Kamis, 1 Oktober 2015.

Irwandi yang adalah Gubernur Aceh periode lalu juga menyatakan komitmennya untuk mencalonkan diri kembali di Pilkada 2017.

Berikut kutipan wawancara wartawan portalsatu.com dengan Irwandi Yusuf:

Bagaimana persiapan Anda untuk Pilkada 2017?

Persiapan biasa saja, sama seperti tidak ada persiapan.

Maju melalui calon independen atau partai politik?

Belum tahu, karena partai-partai pun masih sibuk dengan Pemilu 2015. Jadi belum bisa diminta tanggapan.

Apa ada kemungkinan maju dengan partai politik?

Semua ada kemungkinan.

Baik, bagaimana Anda melihat pemerintahan saat ini?

Saya bukan dalam kapasitas menilai orang.

Saran Anda untuk pemerintah saat ini?

Bagian dari janji Zikir (Zaini-Muzakir) yang 21 itu, yang terakhir adalah mengajak para kontestan untuk duduk bersama memikirkan pembangunan Aceh, tetapi Zikir tidak tanya, tidak ada jawaban.

Terkait Din Minimi, bagaimana tanggapan Anda?

Itu bukan kapasitas saya menjawabnya. Saya tidak berharap apapun, yang penting Aceh ini aman, damai. Itu yang penting!

Harapan Anda untuk Pemerintah Aceh?

Saya mungkin tidak boleh berharap. Harapannya tentu all the best. Mengharap yang terbaik lah.

Mengenai lambannya proses tender, bagaimana pendapat Anda?

Dinas dulu kan ada Kabid-Kabid atau subnya, masing-masing mengajukan proyek sesuai dengan bidangnya. Umumnya dalam mengajukan proyek ke DPR itu semangat. Padahal proyeknya itu tidak dilengkapi dengan data-data yang dibutuhkan untuk ditender. Waktu ditender itu harus jelas apa yang harus dilakukan, itu DED (detail engineering design). Umumnya yang tertahan saya lihat faktor pendukung, sehingga lelangnya terlambat, baru bikin DED. Harusnya perangkat peninggalan saya bisa digunakan maksimal. Pak Taqwallah, ada lembaganya. Sampai bulan ini sudah memasuki bulan 10 masih banyak proyek yang belum ditender, saran saya itu tidak usah ditender lagi. Udah batalkan saja untuk tahun depan, sebab kalau ditender, tender itu butuh waktu sampai dua bulan, udah habis tahun.

Apa ada kaitanya dengan DPRA terkait lambatnya realisasi anggaran?

Pengesahan anggaran tidak terlambat.

Idealnya bulan berapa?

Idealnya akhir Desember untuk tahun depan.

Realisasi anggaran seharusnya?

Pas Februari sudah bisa jalan. Duit ada di awal tahun, tergantung pengesahan APBA, kalau APBA disahkan segera ada uang?

Apakah ada kaitannya dengan pemerintah pusat terkait ini?

Tidak ada peraturan negara seperti itu.

Kalau soal Qanun BRA apa tanggapan Anda?

Apakah reintegrasi itu proses selamanya, proses seumur hidup? Kan tidak. Atau proses jangka panjang. Kalau dikatakan reintegrasi belum berjalan penuh, apa tanda-tanda kalau reintegrasi sudah berjalan penuh, apa targetnya? Apa ukurannya, itu harus jelas.

Mengenai dana desa, apa pendapat Anda?

Ini maaf, terpaksa ini saya ngomong juga. Yang jelas yang sudah ada kejadian dana desa dikatakan dana Timses, dana dari tim ke rayat. Nah, itu salah bin salah. Dana desa kan dana dari pemerintah pusat. Yang diklaim itu dana kontestan.

Bagaimana seharusnya penggunaan dana desa?

Dana itu digunakan untuk banyak hal, tapi yang jelas perangkat desa sudah memiliki dukumen PG (peumakmu gampong) dan sekarang ada dokumen untuk dana desa itu. Tentu saja tidak boleh tumpang tindih, kalau untuk saling memperkuat boleh. Misalnya tidak cukup dana di BKPG (Bantuan Keuangan Peumakmu Gampong), disuntik dengan dana desa ini bisa dan tidak hanya untuk infrastruktur. Infrastruktur desa saya kira sudah selesai dengan dana BKPG, udah beberapa tahun. Tinggal sekarang pemberdayaan ekonomi. Bentuknya pemberdayaan bagaimana, itu harus sudah dipikirkan. Jangan sampai hilang uang itu.

Mengenai produk lokal, bagaimana pendapat Anda?

Simpelnya, masyarakat juga tidak mau banyak memikir. Berpikir sebagai pengusaha tidak ada pada masyarakat, yang ada sama pengusaha. Yang paling simple, solusi yang sangat dibutuhkan adalah bahan pangan. Itu saja. Bagaimana mungkin peningkatan produksi beras, peningkatan produksi beras, bagaimana mungkin peningkatan produk kelautan, produk kelautan.

Berarti kita tidak bicara ekspor?

Kalau ngomong swasenda, tentu sudah ngomong ekspor. Lebihnya kemana, ekpor itu ada dua, ekspor dalam negeri dan ekspor luar negeri. Ekspor dalam negeri ke provinsi lain.

Fokusnya tetap produksi bahan pangan?

Produksi bahan pangana lebih simple dan bisa dikejar dalam lima tahun kepemimpinan. Misalnya, kita mau buat sentral produksi macam-macam. Misalnya disana produksi manggis, disini rambutan. Itu bisa saja, tapi kalau sudah banyak terbentuk dengan pasar. Nah, harus dipikirkan penampungan, penampungan bisa jadi pedagang penampung, bisa jadi industry pengolah. Tanpa didukung oleh itu agak susah, tapi itu mudah apabila bisa dikonsep. Yang susah menjalankan konsep ini, karena pemerintahan berganti-ganti, karena mood anggota DPRA yang mengesahkan anggaran berubah-ubah. Udah produksi, lalu kita usulkan biaya untuk insentif pembangunan pabrik pengolahan katakanlah, terbentuk dengan pembiayaan, bisa tidak ada biaya, dan yang sering pengesahan tidak disetujui dan tidak ada kesempatan.

Mengenai peran Pemerintah Aceh untuk pengusaha agar keuntungan dari infrastruktur bisa diputar kembali dalam bentuk industry kecil dan menengah, apa pendapat Anda?

Sangat sulit mengukur return dari proses infrastruktur ini. Dimana labanya sulit diukur secara matematik biasa, tetapi memang kewajiban pemerintah menyiapkan infrastruktur dasar, seperti irigasi, jalan, listrik, air dan segala macam. Itu memang kewajiban. Mau rugi pun harus dibikin itu, infrastruktur dasar di Aceh belum semuanya merata. Apalagi dalam bidang pertanian, banyak irigasi yang perlu dibangun baru, udah banyak yang dibangun tapi belum jadi. Kemudian pencetakan sawah baru atau lahan pertanian yang baru. Itu harus ditambah, sebab penduduk Aceh bertambah. Dalam menambah lahan baru itu gampang, dimana yang belum dibuka, ya dibuka. Tapi tidak gampang ketika konsen kita menyangkut pembangunan yang berkelanjutan, tidak bisa hutan itu ditebang, walaupun sekarang banyak yang ditebang. Namun saya sudah menjalankan kewajiban saya menyelamatkan alam dengan moratorium, persoalan masih dikawal atau tidak, itu bukan urusan saya lagi, cuma saya sedih saja. Banjir sekarang bertambah banjir, kering bertambah kering.

Mengenai instabilitas ekonomi nasional, khusus di Aceh sepertinya pemerintah takut dengan pengusaha, apa pendapat Anda?

Tidak ada pemerintah takut, apalagi saya. Cuma masalahnya belum banyak pengusaha Aceh yang bergerak di bidang investasi selain kontraktor pemerintah. Menginvestasi dalam perkebunan, kopi menjadi trend market untuk Aceh, kenapa tidak ikut terlibat pengusaha yang besar, walaupun ada pengusaha kecil yang terlibat. Yang mana kopi Aceh yang dijual nampak Acehnya, nampak ekspornya. Saya pernah bicara dengan starbuck. Starbuck pembeli kopi Aceh terbesar, kopi Aceh harap diambil di Aceh! Kalau tidak, tidak dijual. (Dijawab), ‘tidak bisa pak, yang kita kirim dalam kapal kan bukan kopi saja, komposisi campuran, kopi paling satu kargo saja isinya’. Akhirnya saya tidak bisa memaksakan kehendak kopi harus diambil di Aceh. Kopi diambil di Aceh, tapi oleh pedagang Medan. Bagaimana kalau kita ganti pedagangnya, pedagangnya orang Aceh juga, itu terserah pada kawan-kawan pedagang Aceh mahu tidak bergerak ke arah itu.

Kenapa tidak dipanggil orang Aceh?

Sudah pernah saya panggil.

 Kenapa orang Aceh tidak mau pulang ke Aceh?

Bukan masalah masalah ekonomi tidak lancar, tapi masalah keamanan. Dari masa saya sampai sekarang belum tuntas, di masa saya lumayan bisa saya kontrol. Sekarang kalau keamanan seperti ini terus, sampai kapan pun tidak terwujud. Aceh ini daerah konflik dulu. Medan daerah yang tidak konflik. Dan kemudian damai Aceh. Riilnya orang yang membawa uang ke Aceh yang dipikirkan pertama adalah aman.

Di Medan kasus pembobolan ATM bisa diselesaikan cepat. Di Aceh, kasus Din Minimi saja tidak selesai. Bagaimana pendapat Anda?

Saya tidak punya ilmu untuk menjawab itu, karena masa saya tidak terjadi. Saya tidak bisa komentar, karena itu tidak menyangkut saya. Saya tidak bisa komen “dapur” orang.

Baik, kembali soal Pilkada, apabila terpilih kembali menjadi Gubernur Aceh, bagaimana model Aceh yang Anda inginkan?

Kalau saya, nanti saya umumkan. Rencana sudah ada, tapi tidak boleh diketahui oleh orang lain.

Mengenai koordinasi keamanan di Aceh dengan pemerintah pusat bagaimana?

Sekarang saya tidak tahu.

Pada masa Anda?

Jelas! Umumnya inisiatif saya sendiri. Kalau ada gerakan-gerakan saya dekati. Anda kan melihat banyak sekali senjata yang saya ambil dengan damai di tangan milisi, mantan GAM dan bagaimana saya bikin ALA ABAS itu redam.

Menurut Anda, untuk pembangunan Aceh apa yang harus diutamakan?

Kalau bisa paralel, tidak bisa bicara sulit sekarang. Dasar-dasar untuk bangun ke depan sudah ada saya tinggalkan. Sudah saya bikin, tapi saya tidak bilang mereka tidak melanjutkan, tapi saya bilang saya sudah buat.[]

Mantan Kombatan: Mualem-Sofyan Dawood Menyadari Perpecahan Tidak Baik

Mantan Kombatan: Mualem-Sofyan Dawood Menyadari Perpecahan Tidak Baik

BANDA ACEH – Mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Gumarni Arfan mengapresiasi pertemuan Muzakir Manaf atau Mualem dan Sofyan Dawood.

“Mungkin Mualem dan Sofyan Dawood mulai menyadari bahwa perselisihan sampai terjadinya perpecahan, bukan jalan yang terbaik dalam membangun Aceh ini,” kata Gumarni kepada portalsatu.com, di Banda Aceh, Jumat, 2 Oktober 2015.

Gumarni menilai pertemuan itu juga ada kaitannya dengan kondisi Aceh yang bertambah parah. Pasalnya, kata dia, pemberdayaan ekonomi mantan kombatan belum tercapai, sehingga banyak terlibat kriminal dan akhirnya masuk penjara.

Menurut Gumarni, pertemuan Mualem dan Sofyan Dawood salah satu pendewasaan dalam perpolitikan Aceh.  “Karena mungkin juga beliau sudah mulai dewasa dalam medan berpolitik saat ini. Mungkin beliau mengenang ucapan indatu; wate di laot sapeu pakat pakoen wate di darat laen terjadi,” katanya.

Gumarni berharap Mulem dan Sofyan Dawod selalu “Seuneusap Seuadoe-A” dalam membangun Aceh yang bersih dan bermartabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.[]

Foto: Gumarni Arfan

UIN Ar-Raniry Gelar Workshop Manajemen Percetakan

UIN Ar-Raniry Gelar Workshop Manajemen Percetakan

BANDA ACEH – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Percetakan UIN Ar-Raniry menggelar workshop penguatan manajeman kelembagaan percetakan di Aula Pascasarjana UIN, Banda Aceh, Jumat, 2 Oktober 2015.

“Percetakan penerbitan yang berkualitas adalah bagian dari peningkatan status akreditasi Universitas. Selain itu akan merangsang para akademisi untuk menuangkan pemikiran dalam sebuah jurnal yang berkualitas,” kata Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, M.A., dalam sambutannya.

Menurut Farid, mutu kemasan buku hasil percetakan dan penerbitan menjadi tolak ukur para akademisi, baik lokal ataupun internasional untuk menerbitkan pemikirannya.

“Ini bukan hanya berguna secara kelembagaan UIN Ar-Raniry, tapi Aceh secara umum jika pemikiran akademisi dalam jurnalnya menyinggung soal peningkatan perekonomian, pertanian, dan sektor lainnya,” ujar Farid.

Kegiatan dua hari, 2-3 Oktober 2015, itu diperuntukan bagi jajaran akademisi, perwakilan penerbitan, dan mahasiswa. Workshop tersebut menghadirkan Direktur Institut Pertanian Bogor Press, Dr. Ir. H. Elang Ilik Martawijaya, M.M., dengan materi “Pola Manajemen Modern Percetakan Universitas dan Standar Mutu dan Teknik Pengelolaan Percetakan Berkualitas”, Direktur Utama PT Balai Pusaka, Saiful Bahri, S.E., M.M., yang memaparkan materi “Pemasaran Hasil Produk Penerbitan dan Percetakan secara Nasional”.

Berikutnya, Eka Saputra, S.Sos.I., menyampaikan materi “Disain Grafis dan Layout untuk Penerbitan dan Percetakan”, dan Muliadi Kurdi dengan materi “Standar Mutu Karya Ilmiah untuk Penerbitan dan Percetakan”.

Ketua panitia, Dr. Anton Widyanto, M.Ag., mengatakan, workshop yang menghadirkan para pemateri pelaku penerbitan nasional itu untuk merangsang penulis berkarya. Kata dia, pihak penerbit juga membuka diri kepada peserta untuk mengirimkan karya-karya terbaiknya.[]

Fakultas Dakwah dan Komunikasi Serahkan Hewan Qurban

Fakultas Dakwah dan Komunikasi Serahkan Hewan Qurban

BANDA ACEH – Civitas Akademik Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menyerahkan enam ekor hewan qurban kepada masyarakat Gampong Lam Neuheun, Kuta Baro, Aceh Besar.

Keenam ekor hewan qurban itu diserahkan oleh wakil dekan I bidang Akademik, Dr Jauhari Hasan M Si di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Selasa, 22 September 2015.

Dr Jauhari Hasan M Si mengatakan hewan qurban tersebut berasal dari Civitas akademika Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Ranairy dengan tujuan menghidupkan syiar Islam melalui semangat berqurban dan untuk merajut silaturahmi dengan desa binaan di sekitar Aceh Besar.

“Hewan qurban tersebut telah diamanahkan kepada perangkat gampong yang telah membentuk panitia pelaksana qurban untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Jauhari Hasan

Jauhari juga mengatakan, keeenam ekor itu adalah satu ekor lembu diberikan kepada masyarakat Gampong Lam Neuheun, satu kambing kepada anak yatim di Gampong Neuheun, Mesjid Raya, Aceh Besar, dan empat ekor kambing untuk para petugas kebersihan dan para pegawai kontak di lingkungan Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

 Geusyik Gampong Lam Neuheun, Syahrizal mengucapkan terima kasih kepada Civitas akademik Fakultas Dakwah dan Komunikasi atas nama masyarakatnya, yang telah punya kepedulian berbagi hewan qurban, dan semoga menjadi amal ibadah. [] (mal)

Ini Tujuh Mimpi Anak-anak Aceh

Ini Tujuh Mimpi Anak-anak Aceh

BANDA ACEH – Masyarakat Aceh memimpikan Indonesia masuk dalam piala dunia 2028. Hal itu dibacakan oleh anak-anak Aceh dalam acara peluncuran Kapsul Waktu 2085 di gedungAAC Dayan Dawood Unsyiah, Banda Aceh, Senin 22 September 2015.

Pembacaan mimpi secara symbolis itu dibacakan oleh seorang pemandu dan diikuti oleh empat puluh siswa Tingkat Kanak-kanak atau TK.

Dalam pernyataan itu, masyarakat Aceh juga memimpikan agar Indonesia bebas dari kemiskinan pada 2020.

Selain itu, masyarakat Aceh memimpikan Indonesia mandiri dalam hal pangan dan Indonesia menjadi pusat perekonomian Aceh.

“Kami memimpikan model Indonesia tampil di pentas Catwalk dunia,” kata pemandu yang diikuti oleh seluruh siswa.

Menyangkut dengan Aceh, masyarakat Aceh memimpikan agar Sabang menjadi tujuan pariwisata kelas dunia. Selain itu juga Indonesia menjadi kekuatan maritime nomor satu dunia. [] (mal)

Rektor Unsyiah: Bangsa Kita Tidak Kompak Lagi

Rektor Unsyiah: Bangsa Kita Tidak Kompak Lagi

BANDA ACEH – Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof Dr Samsul Rizal MEng mengatakan bangsa Indonesia tidak kompak lagi.

“Bangsa kita tidak kompak lagi, tidak seperti orang salat, tidak seperti Tari Saman lagi sesama kita,” kata Samsul Rizal saat memberikan orasi pembangunan dalam acara peluncurak kapsul waktu 2085 di gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah, Banda Aceh, Senin 22 September 2015.

Ia juga mengatakan bahwa Indonesia akan krisis energi. Selain itu ia juga mengakat masyarakat Aceh untuk mempunyai mimpi. “Anda harus bermimpi hari ini,” ujarnya.

Samsul mencontohkan orang Amerika bermimpin, dan diwujudkan dalam film-film. Seperti film Avatar, kartoon dan lain sebagainya.

Dikatakannya, untuk mewujudkan Indonesia yang maju, diperlukan sifat ikhlas, jujur dan bersama dalam membangun Indonesia. [] (mal)

Rakan Mualem Bagikan Masker untuk Warga

Rakan Mualem Bagikan Masker untuk Warga

BANDA ACEH – Rakan Mualem bagikan masker untuk warga Kota Banda Aceh, Senin, 21 September 2015.

“Pembagian masker kepada penguna jalan Kota Banda Aceh merupakan bentuk gerakan kepedulian Rakan Mualem terhadap kesehatan masyarakat yang sedang dilanda kabut asap dalam beberapa hari belakangan ini,” kata Koordinator Rakan Mualem Banda Aceh, Rendi Umbara kepada media.

Menurutnya pembagian masker tersebut adalah hanyalah sebatas kepedulian Rakan Mualem terhadap masyarakat Aceh.

“Kegiatan ini harus dilakukan karna masih banyak masyarakat yang tidak mengunakan masker karena efek dari kebakaran hutan beberapa waktu lalu di Riau,” ujarnya.

Dikatakannya, padahal masker sangat penting digunakan untuk menghindari dampak negatif dari kabut asap terhadap saluran pernapasan.

Ia juga mengatakan, kegiatan pembagian masker tersebut dilakukannya dari pukul 17.00 WIB sampai 18.00 WIB dengan jumlah 2000 lembar masker di bundaran simpang lima Kota Banda Aceh.

Dikatakannya lagi, disela-sela pembagian masker, masyarakat terlihat antusias dan beberapa langsung menggunakan masker yang diterima.

“Hanya ini yang bisa kami lakukan, semoga bermanfaat dan semoga dampak polusi kabut asap semakin membaik dengan seiring waktu, amin,” ujar Rendi Umbara. [] (mal)

Besok, Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 Diluncurkan di Aceh

Besok, Ekspedisi Kapsul Waktu 2085 Diluncurkan di Aceh

BANDA ACEH – Koordinator Panitia Daerah Provinsi Aceh, Samsul B Ibrahim mengatakan besok akan diluncurkan ekspedisi kapsul waktu 2085 di Aceh, 22 September 2015 di Gedung AAC Dayan Dawoed, Unsyiah, Banda Aceh

“Peluncuran ekspedisi kapsul di Aceh adalah untuk menyukseskan rangkaian agenda “Gerakan Ayo Kerja” yang dicanangkan oleh Presiden Indonesia, Bapak Joko Widodo,” kata Samsul B Ibrahim dalam konferensi pers di Ring Road Coffee, 21 September 2015.

Samsul berharap agar peluncuran ekspedisi kapsul bisa memicu partisipasi masyarakat Aceh dalam mengisi pembangunan Indonesia di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui gerakan-gerakan budaya dan social yang konstruktif serta gerakan ekonomi yang dapat memacu pemerataan kesejahteraan di semua lini masyarakat.

Dikatakannya, Ekspedisi kapsul waktu 2085 pada dasarnya merupakan sebuah gerakan social yang dipelopori oleh civil society untuk meneguhkan harapan pembangunan Indonesia secara konprehensif berbasis partisipatif. Penyelenggaran ekspedisi kapsul waktu 2085 ini dilakukan secara paralel di 34 provinsi di tanah air, dengan bungkusan gerakan budaya, social, dan ekonomi untuk mendukung program-program kerja yang digulirkan oleh Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

“Gerakan nasional ini difasilitasi oleh Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc melalui Surat Perintah Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia No 02/M.Sesneg/05/2015 tertanggal 6 Mei 2015 dan Surat No.19/g70/AyoKerja/VII/2015,” ujarnya.

Subtansi kegiatan yang dicanangkan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo nantinya akan merumuskan mimpi dan harapan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia untuk pembangunan Indonesia 70 tahun mendatang dan akan dibawa oleh sebuah tim ekspedisi nasional dengan melewati 34 provinsi, mulai dari Aceh hingga Papua.

Dikatakannya lagi, acara perumusan ini akan melibatkan berbagai stakeholder dan masyarakat. Selain dipadukan dengan penampilan budaya, kegiatan ini nantinya juga akan diwarnai dengan diskusi panel serta orasi pembangunan yang akan disampaikan oleh representasi Pemerintah Aceh, tokoh muda, tokoh pengusaha, dan representasi Pemerintah Pusat.

Ia juga berharap peluncuran ekspedisi kapsul waktu agar bisa memicu partisipasi masyarakat Aceh dalam mengisi pembangunan Indonesia di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui gerakan-gerakan budaya dan social yang konstruktif serta gerakan ekonomi yang dapat memacu pemerataan kesejahteraan di semua lini masyarakat.

Selain acara peluncuran ekspedisi kapsul waktu, panitia Aceh juga akan mengisi acara dengan pementasan panggung kebudayaan seperti Salsabil, Tari Saman dan beberapa penampilan seni lokal lainnya.

Selain itu, juga akan ada orasi pembangunan yang akan diisi oleh representasi Pemerintah Aceh, tokoh muda, tokoh pengusaha, dan representasi Pemerintah Pusat dan Membaca Harapan Rakyat Aceh untuk 70 Tahun mendatang oleh siswa dan siswi yang  menggunakan pakaian adat seperti yang sudah dilakukan pada peluncuran Gerakan Ayo Kerja perdana di Tugu Nol Kilometer, Sabang.

Menurut informasi, ada sejumlah tokoh Aceh yang akan mengisi acara, antara lain Drs Dermawan (Sekda Aceh), Sjamsul Kahar (Budayawan), Suraiya Kamaruzzaman, Teungku Faisal Ali (Tokoh Ulama Aceh), Prof Dr Samsul Rizal MEng (Rektor Unsyiah), Drs Muharrir Asy’ari Lc MA (Rektor Unmuha)

“Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan merupakan salah satu Program Nawacita Presiden Joko Widodo,” kata Samsul B Ibrahim.

Dikatakannya lagi, ekspedisi kapsul waktu 2085 harus mampu memicu respon positif masyarakat dalam implementasi kegiatan massal yang bertumpu pada optimalisasi kerja-kerja masyarakat, terutama di sektor penataan ekonomi lokal.

“Gerakan ini diharapkan bisa menjadi manifesto pembangunan Indonesia secara konprehensif karena mengedepankan pola pembangunan dari desa ke kota,” kata Samsul B Ibrahim. [] (mal)

UIN Ar-Raniry Siapkan Konselor

BANDA ACEH – Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry siapkan konselor dengan mengadakan pelatihan keterampilan konseling bagi dosen dan mahasiswa.

Dr. A Rani Usman, M.Si., Dekan FDK UIN Ar-Raniry, Kamis, 17 September 2015, mengatakan konseling bagian dari proses membantu terapi kejiwaan seseorang supaya bertindak wajar sesuai norma agama dan adat istiadat dalam masyarakat.

“Proses konseling ini juga memberikan nilai positif bagi penyembuhan traumatik,” kata A. Rani Usman di Banda Aceh.

Ketua Jurusan Bimbingan Konseling Islam FDK, Jarnawi, M.Pd., mengatakan pelatihan tersebut untuk memberikan pengetahuan dan pertukaran ilmu dengan konselor agar sesama pegiat sosial nantinya bisa mengembangkan diri secara optimal mungkin mengatur dan pemberi solusi dalam kehidupan bermasyarakat.

“Konselor ini bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan. secara individu kita punya potensi untuk jadi konselor bagi kita sendiri, semua manusia punya permasalahan hidup. Dan peran kita sebagai konselor bagi diri sendiri juga akan membantu,” ujar Jarnawi.

Pelatihan tersebut menghadirkan dua psikolog sebagai pemateri yakni Yulia Direzkia, yang juga staf Rumah Sakit Jiwa Aceh dan Nurjannah Nitura.[] (idg)

Dosen Unsyiah: Kondisi Aceh Serba Tidak Ideal

Dosen Unsyiah: Kondisi Aceh Serba Tidak Ideal

BANDA ACEH –Dosen Universitas Syiah Kuala, Azhar Mahmud, mengatakan kondisi riil Aceh sekarang serba tidak ideal karena berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

“Kondisi Aceh hari ini serba tidak ideal. Artinya bahwa segala lini sektor kehidupan memiliki banyak masalah baik secara sosial ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan dan sektor-sektor lainnya,” kata Azhar Mahmud dalam silaturahmi akademisi dengan Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf di Warkop Dek Mie, Darusalam, Banda Aceh, Kamis, 17 September 2015.

Menurutnya kondisi tersebut merupakan tanggung jawab bersama, terutama para pemangku kepentingan. Baik itu pemerintah Aceh, kampus dan sektor swasta yang ada di Aceh.

“Konsep-konsep strategis aplikatif yang mampu menyelesaikan persoalan tersebut harus lebih banyak lagi diproduksi oleh komunitas intelektual Aceh supaya beban yang dihadapi oleh pemerintah dan rakyat Aceh, agar bisa lebih ringan dan terselesaikan secara konprehensif, dalam upaya-upaya pembangunan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab,” ujar Azhar Mahmud.

Dikatakannya lagi, upaya-upaya kebersamaan, kekompakan dan menggiring cara berfikir postif menjadi modal utama dalam membawa Aceh yang lebih bermartabat dan sejahtera.

Dalam pertemuan tersebut, Muzakir Manaf menyetujui apa yang disampaikan oleh salah seorang akademisi, Azhar Mahmud agar pembangunan Aceh adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah Aceh, akademisi dan masyarakat secara keseluruhan.[](bna)