Author: MAULANA AMRI

Ini Nama Geuchik di Julok yang Dipaksa Sumbang untuk Kelompok Din Minimi

Ini Nama Geuchik di Julok yang Dipaksa Sumbang untuk Kelompok Din Minimi

IDI RAYEUK- Asnawai, Geuchik Ujong Tunong, Kecamatan Julok, Aceh Timur, mengaku uang yang dikutipnya dari 11 geuchik lainnya untuk biaya pernikahan Zubir alias Rambo, anak buah dari Din Minimi.

“Selain untuk logistik kelompok DM, uang tersebut juga untuk biaya pernikahan si Rambo,” ujar  Asnawi saat diwawancarai portalsatu.com di ruang Kasat Reskrim Aceh Timur, sekitar pukul 14.00 wib, Selasa 22 September 2015.

Asnawi juga mengakui  selama aksinya ia tidak pernah berjumpa dengan Din mini, namun untuk  pengutipan uang tersebut merupakan instruksi  dari anak buahnya yaitu Bahar dan Zubir.

“Saya tidak pernah berjumpa dengan Din Minimi, tapi saya hanya disuruh oleh anak buahnya untuk mengutip uang dari geuchik lain, dan uang tersebut saya serahkan untuk Bahar dan Zubir alias Rambo,” katanya lagi.

Sementara itu Kapolres Aceh Timur, AKBP Hendri Budiman, dalam konfrsensi persnya menyebutkan pelaku merupakan tersangka sebagai mediator untuk kelompok bersenjata(DM) di Aceh Timur dengan kasus memeras beberapa geuchik dengan menggunakan senjata tajam.

“Terkait masalah ini tersangka tetap dalam proses kita untuk melakukan perkembangan lanjut terhadap mediator lainnya yang berperan  membantu logistik kelompok bersenjata di Aceh  Timur,” ujarnya.

“Saya mengimbau masyarakat untuk tidak berpengaruh dengan provokasi mengatas namakan  membantu kelompok bersenjata khususnya di Aceh Timur, dan jika ada yang melakukan pemerasan kita harap masyarakat untuk segera menginformasikannya,” kata Kapolres.

Berita Data  Nama 11  desa dan nama  geuchik yang diminta  uang  secara paksa oleh Geuchik Asnawi di wilayah Kecamatan Julok.

Pengakuan tersangka, keseluruhan uang tersebut diberikan untuk anak buah Din Minimi, Selasa 22 September 2015:

Gampong Paya Pasi, Geuchik Pon   : Rp300.000.

Alue Cek Doy, Geuchik Nurdin     : Rp300.000.

Tanjong, Geuchik Rasyid          : Rp200.000.

Blang Gleum, Geuchik Nek Yan     : Rp200.000.

Seumatang, Tgk Maha              : Rp200.000.

Gampong Baro, geuchik Sulaiman   : Rp200.000.

Lhok sentang, Sulaiman           : Rp200.000.

Ujong tunong, Asnawi             : Rp500.000.

Buket Makmu                            : Rp150.000

Tepin Tengoh, Tgk Danil          : Rp200.000.

Matang, Tgk Mahyuddin            : Rp. 200.000.

Jumlah keseleuruhannya           :Rp2.450.000.

Terkait Din Minimi, Uang Yang Dikutip Asnawi Untuk Biaya Pernikahan Rambo

Terkait Din Minimi, Uang Yang Dikutip Asnawi Untuk Biaya Pernikahan Rambo

IDI RAYEUK- Asnawai, Geuchik Ujong Tunong, Kecamatan Julok, Aceh Timur, mengaku uang yang dikutipnya dari 11 geuchik lainnya untuk biaya pernikahan Zubir alias Rambo, anak buah dari Din Minimi.

“Selain untuk logistik kelompok DM, uang tersebut juga untuk biaya pernikahan si Rambo,” ujar  Asnawi saat diwawancarai portalsatu.com di ruang Kasat Reskrim Aceh Timur, sekitar pukul 14.00 wib, Selasa 22 September 2015.

Asnawi juga mengakui  selama aksinya ia tidak pernah berjumpa dengan Din mini, namun untuk  pengutipan uang tersebut merupakan instruksi  dari anak buahnya yaitu Bahar dan Zubir.[Baca: Terkait Din Minimi, Polisi Tangkap Pj Geuchik Ujong Tunong]

“Saya tidak pernah berjumpa dengan Din Minimi, tapi saya hanya disuruh oleh anak buahnya untuk mengutip uang dari geuchik lain, dan uang tersebut saya serahkan untuk Bahar dan Zubir alias Rambo,” katanya lagi.

Sementara itu Kapolres Aceh Timur, AKBP Hendri Budiman, dalam konfrsensi persnya menyebutkan pelaku merupakan tersangka sebagai mediator untuk kelompok bersenjata(DM) di Aceh Timur dengan kasus memeras beberapa geuchik dengan menggunakan senjata tajam.

“Terkait masalah ini tersangka tetap dalam proses kita untuk melakukan perkembangan lanjut terhadap mediator lainnya yang berperan  membantu logistik kelompok bersenjata di Aceh  Timur,” ujarnya.

“Saya mengimbau masyarakat untuk tidak berpengaruh dengan provokasi mengatas namakan  membantu kelompok bersenjata khususnya di Aceh Timur, dan jika ada yang melakukan pemerasan kita harap masyarakat untuk segera menginformasikannya,” kata Kapolres. [] (mal)

Terkait Din Minimi, Geuchik Asnawi Sudah Lama Diincar Polisi

Terkait Din Minimi, Geuchik Asnawi Sudah Lama Diincar Polisi

IDI RAYEUK- Kapolres Aceh Timur AKBP Hendri Budiman melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu, menyebutkan mekanisme pengutipan uang dari sejumlah geuchik oleh Asnawi dengan  dimintainya secara  paksa setiap per kepala desa di wilayah Julok.

“Caranya  mengutip dengan cara memeras dan di datanginya satu persatu geuchik yang bersangkutan, dan sudah ada sampai saat ini 11 geuchik yang sudah memberikan uang kepada Asnawi,” ujar AKP Budi kepada portalsatu.com, Senin 21 Septembet 2015, saat konfirmasi lanjut. [Baca: Terkait Din Minimi, Polisi Tangkap Pj Geuchik Ujong Tunong]

Menurut Budi, aksi Asnawi sudah diketahui berlangsung selama dua Minggu.

“Aksinya sudah berjalan dua Minggu yang lalu, dan dia juga sudah lama kita incar, namun  kita belum mendapat data yang akurat jadi kita juga sebelumnya  tidak bisa menangkap dulu,” kata Budi lagi.

Sebelumnya diberitakan, jajaran Polres Aceh Timur menangkap Asnawi, Penjabat Geuchik Gampong Ujong Tunong, Kecamatan Julok, Aceh Timur pada Minggu, 20 September 2015 sekitar pukul 22.00 WIB. Dia diduga terlibat dalam kasus pemerasan terhadap 11 geuchik lainnya di wilayah Kecamatan Julok.

“Benar, kita telah menangkapnya sehubungan dengan kasus pemerasan terhadap 11 geuchik. Atas dasar pengakuannya, dia sudah mengambil uang sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta per kepala desa dan uang tersebut telah diberikan kepada Bahar dan Zubir. Keduanya merupakan DPO dari kelompok Din Minimi,” ujar Kapolres Aceh Timur AKBP Hendri Budiman melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu saat dikonfirmasi portalsatu.com, Senin, 21 September 2015 sekitar pukul 17.00 WIB.

Kasat Reskrim mengatakan Asnawi juga mengancam menembak warga jika ada yang mempertanyakan prihal keuangan desa.

“Dari laporan warga yang telah melaporkan ke Polres, Asnawi sempat juga terjadi kisruh dengan warga sehingga ia pernah mengeluarkan pisau kepada dua orang masyarakat di tempat yang berbeda,” ujar Budi lagi. [] (mal)

Terkait Din Minimi, Polisi Tangkap Pj Geuchik Ujong Tunong

Terkait Din Minimi, Polisi Tangkap Pj Geuchik Ujong Tunong

IDI RAYEUK – Jajaran Polres Aceh Timur menangkap Asnawi, Penjabat Geuchik Gampong Ujong Tunong, Kecamatan Julok, Aceh Timur pada Minggu, 20 September 2015 sekitar pukul 22.00 WIB. Dia diduga terlibat dalam kasus pemerasan terhadap 11 geuchik lainnya di wilayah Kecamatan Julok.

“Benar, kita telah menangkapnya sehubungan dengan kasus pemerasan terhadap 11 geuchik. Atas dasar pengakuannya, dia sudah mengambil uang sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta per kepala desa dan uang tersebut telah diberikan kepada Bahar dan Zubir. Keduanya merupakan DPO dari kelompok Din Minimi,” ujar Kapolres Aceh Timur AKBP Hendri Budiman melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu saat dikonfirmasi portalsatu.com, Senin, 21 September 2015 sekitar pukul 17.00 WIB.

Kasat Reskrim mengatakan Asnawi juga mengancam menembak warga jika ada yang mempertanyakan prihal keuangan desa.

“Dari laporan warga yang telah melaporkan ke Polres, Asnawi sempat juga terjadi kisruh dengan warga sehingga ia pernah mengeluarkan pisau kepada dua orang masyarakat di tempat yang berbeda,” ujar Budi lagi.

“Saat ini pihak Polres Aceh Timur telah mengamankan barang bukti berupa sebilah rencong atau badik dan satu rekap nama-nama geuchik yang memberikan uang kepada kelompok DM serta satu unit handphone,” kata AKP Budi.[](bna)

Jelang Meugang, Harga Cabai Petani Aceh Timur tak ‘Pedas’

Jelang Meugang, Harga Cabai Petani Aceh Timur tak ‘Pedas’

IDI RAYEUK- Biasanya harga cabai merah melonjak menjelang meugang hari raya. Akan tetapi, menjelang meugang hari raya Idul Adha tahun ini, harga cabai merah hasil panen petani Aceh Timur justru anjlok.

Safrani,  warga Desa Lhok Nibong, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur kepada portalsatu.com, Senin, 21 September 2015, mengatakan harga cabai menjelang meugang kali ini anjlok dari Rp25.000 menjadi Rp10.000 perkilogram.

“Harganya turun mencapai 50 persen lebih, ini membuat pendapatan petani cabai menjelang meugang ini tidak maksimal,” ujar petani cabai ini.

Safrani menyebut tak ‘pedasnya’ harga cabai merah lantaran pasokan dari pedagang pengumpul ke pasar tradisional membludak. “Salah satu penyebabnya pasokan cabai saat ini ‘banjir’ di pasar, jadi harganya bisa murah seperti ini”, katanya.

“Kita berharap harga cabai bisa meningkat, minimal harganya bisa menutupi modal usaha kami,” ujar Safrani lagi.

Sementara itu, Syukri salah satu pedagang di Pasar Lhok Nibong membenarkan harga cabai saat ini murah. “Kami bisa membeli dari petani dengan harga 10.000, dan bisa kita jual lagi kepada masyarakat 11.000 hingga 12.000 per kilogram,” katanya.[] (idg)

Foto: Cabai merah hasil panen petani Aceh Timur. @Maulana Amri/portalsatu.com

Potensi Budidaya Ikan Kerapu Meningkat di Aceh

Potensi Budidaya Ikan Kerapu Meningkat di Aceh

IDI RAYEUK- Potensi budidaya bibit ikan kerapu mengalami peningkatan daya jual, bahkan bibit ikan kerapu tersebut sudah diekspor ke luar negeri, seperti Malaysia, Singapore, Filipina dan Jepang oleh petani tambak di kawasan Gampong Matang Ulim kecamatan Darul Aman Kabupaten Aceh Timur, Minggu 20 September 2015.

Salah satunya, Sarifuddin, petani tambak yang sudah sukses di desa setempat kepada portalsatu.com, mengakui daya jual bibit ikan kerapu mengalami peningkatan.

“Saat ini kita bisa menjualnya dengan harga 500 rupiah perekor, dan permintaan sekarang  sangat banyak mulai dari tingkat daerah dan luar negeri”, ujarnya.

Setiap dua minggu sekali, ia mengakui permintaan bibit ikan kerapu keluar negeri mencapai puluhan ribu ekor.

“Dalam jangaka dua minggu sekali permintaan mencapai puluahan ribu ekor, itu khusus  keluar negeri,belum lagi ditingkat daerah kita di Aceh,” katanya.

“Namun permintaan untuk wilayah Aceh saja begitu sangat meningkat, itu disebabkan petani tambak mulai mengatahui pendapatan yang lumayan besar dari hasil produksi ikan kerapu”, ujarnya lagi.

“Kita berharap di Aceh ini semakin banyak peminat masyarakat untuk menjalankan usaha ikan kerapu, karena menurut pengalaman kami  yang sudah ada nilai jualnya lebih tinggi dibandingkan ikan lainnya, seperti ikan bandeng”, katanya.

Sebelumnya menurut Bupati Rocky, saat mengunjungi salah satu usaha ikan kerapu di Desa Madat, 3 September 2015 menyebutkan, banyak manfaat yang dapat dirasakan jika program budidaya ikan kerapu dilakukan seperti menurunnya angka pengangguran.

“Dan yang paling mencuat nantinya, jika sukses dalam budidaya kerapu maka Aceh Timur bisa dijadikan daerah penghasil kerapu terbesar di Aceh yang bisa menutupi kebutuhan lokal dan interlokal,” kata Rocky. [] (mal)

IPPAT Umumkan Penerimaan Berkas Beasiswa Pemkab Aceh Timur

IPPAT Umumkan Penerimaan Berkas Beasiswa Pemkab Aceh Timur

BANDA ACEH –Ikatan Pemuda pelajar Aceh timur (IPPAT)  meminta kepada seluruh mahasisiwa yang berada di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar untuk mempersiapkan berkas beasiswa .

Hal ini disampaikan langsung oleh ketua IPPAT Abdul Muthalib kepada portalsatu.com melalui surat elektroniknya, Minggu 20 September 2015.

“Informasi ini berdasarkan surat edaran yang di antar langsung oleh Kasubbag Pendidikan Kab Aceh Timur Syaharani S,Ag. MA  dan pihaknya meminta kepada pengurus IPPAT  untuk segera menginformasikan kepada seluruh mahasiswa yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar untuk menyiapkan berkas melengkapi syarat pengurusan beasiswa,” ujarnya.

Bagi pelamar lanjutnya,  bisa mengatarkan langsung ke sekretariat IPPAT Banda Aceh, Jalan Rawa sakti Timur lr VII No.1B Peurumnas Jeulingke Banda Aceh.

“Alhamdulillah melaui proses panjang yang kita lalui, Pemkab Aceh Timur kembali membuka beasiswa kurang mampu dan yang berprestasi. Ini patut diapresiasikan kepada pemerintah kabupaten Aceh timur yang peduli kepada mahasiswa untuk kemajuan daerahnya kedepan,” katanya.

“Saya mengimbau agar mahasiswa menanggapi positif bantuan ini dan segara melengkapi persyaratan yag sudah ditetapkan oleh Pemerintah kabupaten Aceh Timur dan IPPAT hanya bertangung jawab yang Mengirimkan langsung ke sekretariat IPPAT Selaku lembaga resmi yang di akui pemerintah,” katanya lagi.

Sementara itu yang membidangi Departemen Kemahasiswaan  IPPAT,  Riandhani dan juga selaku panitia penerimaan berkas beasiswa menambahkan,  panitia mulai membuka peneriman berkas  29 September 2015-15 November 2015.

“Untuk  contoh format surat bisa diambil langsung di sekreatariat IPPAT,” katanya. [] (mal)

Pengusaha Abicomm Lirik Potensi Aceh Timur

Pengusaha Abicomm Lirik Potensi Aceh Timur

IDI RAYEUK – Berbagai pengusaha sukses asal Aceh di luar negeri yang kini bergabung dalam Aceh Bussiness Community (Abicomm) mulai meririk berbagai potensi alam di Kabupaten Aceh Timur. Kedatangan pengurus Abicomm itu disambut dan diterima jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Timur di Pendopo Bupati Aceh Timur di Idi, Sabtu 19 September 2015.

Pengusaha Abicomm hadir antara lain H.Irfan Mutyaram,SE (Ketua Pembina Abicomm) dan Suriadin Noernikmat,ST,MM selaku Ketua Umum Abicomm. Sementara jajaran Pemkab Aceh Timur diwakili Asisten II Setdakab Aceh Timur Usman A.Rahcman,SH,S.IP, Kepala Bappeda DR.H.Maimun,SE.Ak, Kepala Dinas Pertanian Ir. H. Sanusi, MM, Kepala SKP Ir.Ahmad, Kepala KP2T dan Kabag Ekonomi serta Kabag Humas Setdakab Aceh Timur.

Dalam kesempatan itu, Asisten II Setdakab Aceh Timur Usman A.Rachman menjelaskan berbagai potensi alam yang dimiliki Aceh Timur, baik dibidang kelautan dan perikanan, bidang perkebunan dan kehutanan serta bidang pertanian, tanaman pangan dan holtikultura. Keseluruhan bidang tersebut dinilai mampu mensejahterakan 400.000 jiwa lebih masyarakat Aceh Timur yang berdomisili di 24 kecamatan.

“Jika mampu kita kelola bidang ini menjadi bahan dan barang jadi, maka kita yakin kedepan Aceh Timur semakin baik dan sejahtera. Artinya, Aceh Timur hari ini butuh investasi luar yang benar-benar mendirikan industri dan mampu mengolah bahan baku untuk dipasarkan di Aceh dan luar Aceh,” kata Usman A.Rahcman.

Menurut dia, berbagai potensi Aceh Timur hingga saat ini diangkut ke luar Aceh dan diprosuksi di Sumatera Utara, seperti sawit, coklat, pinang dan lainnya. Jika para pengusaha yang tergabung dalam Abicomm tersebut mampu mengolah bahan baku ini di Aceh Timur dan dipasarkan ke luar Aceh, termasuk ke luar negeri melalui Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Idi, maka kita yakin lapangan kerja semakin lebar dan ekonomi masyarakat semakin meyakinkan.

Atas nama Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, kata Usman, pihaknya sangat mendukung keinginan pengusaha asal Aceh yang telah berhasil kembali ke Aceh untuk membangun Aceh secara menyeluruh dibidangnya masing-masing.

“Pintu investasi terbuka lebar di Aceh Timur, siapapun yang memiliki keinginan baik membangun Aceh maka kami sangat siap mendukungnya. Artinya, mari sama-sama kita membangun Aceh Timur dan kesejahteraan rakyat,” ujar Usman A.Rahcman. [] (mal)

ASISTEN II Setdakab Aceh Timur Usman A.Rahcman (kanan) menyerahkan Buku Tata Kelola Ruang Kabupaten Aceh Timur ke Suriadin Noernikmat,ST,MM selaku Ketua Umum Abicomm saat melakukan pertemuan di Pendopo Bupati Aceh Timur, Sabtu 19 September 2015. Foto Bagian Humas Setdakab Aceh Timur

Kabut Asap Tebal, Nelayan Aceh Timur Berhenti Melaut

Kabut Asap Tebal, Nelayan Aceh Timur Berhenti Melaut

IDI RAYEUK – Aktivitas nelayan tradisional di pesisir pantai timur Aceh terganggu akibat kabut asap tebal. Akibatnya harga ikan menjadi tidak stabil, seperti halnya di Desa Ketapang Mameh, Kecamatan Idi Rayeuk, Sabtu, 19 September 2015.

“Banyak nelayan yang sudah pulang, ada juga sama sekali tidak berangkat melaut, karena penglihatan kita tidak nampak dan sulit untuk menentukan lokasi kumpulan ikan berada, dan juga dalam beberapa minggu ini harga ikan tidak menentu,” kata Nurdin, salah satu nelayan saat dikonfirmasi portalsatu.com di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Ketapang Mameh.

Seperti halnya hari ini, kata Nurdin, harga ikan tongkol per kilogram terpaksa dijual Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu. Harga tersebut bisa saja berubah jika pasokan hasil tangkapan nelayan berkurang. Dia mengatakan mayoritas nelayan di tempatnya berhenti melaut. Meskipun begitu ada juga yang nekat melaut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

“Kita di sini hanya menunnggu keadaan di laut normal. Jadi untuk saat ini, kita hanya perbaiki kondisi kapal saja,” ujarnya.[](bna)

Polisi Kembalikan Asoe Talam dan Pelaminan Istri Rambo

Polisi Kembalikan Asoe Talam dan Pelaminan Istri Rambo

IDI RAYEUK – Jajaran Polres Aceh Timur menyebutkan rumah warga Desa Padang Kasap, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur yang digerebek oleh polisi kemarin merupakan salah satu milik kerabat Din Minimi, Jumat, 19 September 2015. Di rumah milik Khatizah tersebut direncanakan berlangsung pernikahan Rambo, anggota Din Minimi.

“Rumah yang kita gerebek kemarin merupakan salah satu kerabat Din Minimi. Jadi mereka tidak kita tahan, hanya kita lakukan interogasi di lapangan saja,” ujar Kapolres Aceh Timur, AKBP Hendri Budiman, melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu saat dikonfirmasi portalsatu.com, Sabtu, 19 September 2015 sekitar pukul 14.00 WIB.

Kasat Reskrim mengatakan pihaknya juga telah mengintrogasi istri Rambo. Dia membenarkan kelompok Din Minimi berada di lokasi tersebut sebelum dilakukan penggerebekan. Namun Kasat Reskrim enggan memberitahukan nama istri Rambo kepada media.

Pihak kepolisian juga telah mengembalikan barang bukti seperti pelaminan dan asoe talam kepada pemiliknya. Namun untuk sepatu PDL dan beberapa bekal makanan milik komplotan Din Minimi dibawa ke Mapolres setempat.

“Kita pihak Polres Aceh Timur tetap melakukan pengejaran terhadap kelompok Din Minimi sampai mereka kita dapat, dan kita harap masyarakat terus memberikan informasi terkait keberadaan kelompok bersenjata tersebut,” katanya.[](bna)