Author: MAULANA AMRI

Terkait Dugaan Jual Beli Perbup, Komisi D DPRK Aceh Timur Bakal Panggil Kepala BPMPKS

Terkait Dugaan Jual Beli Perbup, Komisi D DPRK Aceh Timur Bakal Panggil Kepala BPMPKS

IDI RAYEUK – Ketua Komisi D DPRK Aceh Timur Bidang Kesejateraan Rakyat, Hermansyah, mengatakan akan memanggil Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Sejahtera (BPMPKS) Aceh Timur, Alfiandi. Hal ini terkait dengan dugaan praktek jual beli peraturan bupati tentang petunjuk teknis proses pencairan tahap II Alokasi Dana Gampong (ADG) kepada setiap geuchik yang ada di Aceh Timur.

“Sejauh ini untuk pihak kita di Komisi D belum ada laporan terkait adanya isu jual beli Perbup. Namun masalah ini, kita akan menyurati Kepala BPMPKS untuk mengklarifikasi permasalahan itu,” ujar Hermansyah saat diwawancarai portalsatu.com di ruang kerjanya, Kamis, 8 Oktober 2015.

Menurutnya jika praktek jual beli Perbup itu terbukti, secara aturan pihak Komisi D yang juga sebagai instansi mitra kerja dengan BPMPKS tidak melegalkan adanya kasus tersebut.

“Jika ada permasalahan seperti ini kita tidak terima dan kita harapkan kasus yang seperti ini untuk segera dihilangkan. Jangan ada lagi oknum-oknum BPMPKS mengutip uang dari geuchik, jalankan saja sesuai aturan dan mekanismenya yang baik,” katanya.

Ketua komisi D juga beharap untuk ADG yang sudah direalisasikan kepada seluruh desa agar bisa digunakan sesuai dengan kebutuhannya.

Bek gara-gara na peng ADG be-ok, sithon 15 droe lop ureung lam penjara (jangan gara-gara ada uang ADG sedikit, setahun 15 orang masuk penjara). Tetapi cobalah pihak instansi terkait bekerja secara profesional,” ujar politisi Partai Aceh itu.

“Kita berharap kepada seluruh anggota DPRK Aceh Timur untuk bekerja sama dalam mengawasi realisasi Alokasi Dana Gampong (ADG) agar tertata dengan prosedur yang baik,” katanya.[](bna)

Dinas Peternakan Aceh Timur Laksanakan Program GBIB untuk 3000 Sapi

Dinas Peternakan Aceh Timur Laksanakan Program GBIB untuk 3000 Sapi

IDI RAYEUK – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Timur laksanakan program Gertak Birahi dan Inseminasi Buatan (GBIB) di gampong-gampong dalam kabupaten itu. Kegaiatan tersebut direalisasikan 6-21 Oktober 2015.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Timur, Ir. Samsul Bahri melalui Kabid Produksi Hewan, Drh. Mahdi, mengatakan program GBBI untuk percepatan peningkatan produksi dan mengatasi masalah kesulitan bunting (hamil) untuk ternak.

“Ini program pusat yang sebelumnya dinamakan sinkronisasi bibit ternak. Di Aceh Timur, GBBI sedang kita laksanakan di tiga UPT, terdiri dari wilayah Simpang Ulim, Idi Rayeuk, dan Sungai Raya,” ujarnya kepada portalsatu.com di ruang kerjanya, Rabu, 7 Oktober 2015.

Mahdi menyebut sasaran GBIB di Aceh Timur mencapai 3.000 sapi atau masing-masing wilayah UPT  1.000 sapi guna meningkatkan produksi ternak masyarakat.

Menurut Mahdi, selama ini masyarakat masih mengandalkan proses kawin ternaknya secara alami yang membutuhkan waktu tidak menentu. Kini hal itu digantikan dengan singkronisasi (kawin suntik) agar hasil produksi ternak lebih optimal dan merata.

“Kita sudah sosialisasikan program ini kepada masyarakat agar bisa beternak mengunakan metode teknologi seperti GBBI. Kegaiatan ini juga dihadiri tim Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh. Kita berharap program ini bisa menghasilkan bibit inseminasi buatan yang optimal untuk peningkatan produksi ternak masyarakat,” katanya.[]

Kepala BPMKS Aceh Timur Diduga Jual Perbup Juknis Pencairan ADG

Kepala BPMKS Aceh Timur Diduga Jual Perbup Juknis Pencairan ADG

IDI RAYEUK – Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Sejahtera (BPMPKS) Aceh Timur, Alfiandi, dituding menjual peraturan bupati tentang petunjuk teknis progres pencairan tahap II Alokasi Dana Gampong (ADG) kepada setiap geuchik. Praktek jual beli perbup ini diungkap oleh sumber portalsatu.com yang minta namanya dirahasiakan pada Rabu, 7 Oktober 2015.

Menurut sumber tersebut, Perbup juknis pencairan ADG ini dijual kepada para geuchik di Aceh Timur dengan harga bervariasi, mulai Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu per rangkapnya. Sementara itu, jumlah geuchik di Aceh Timur mencapai 513 orang berdasarkan data keseluruhan gampong.

“Untuk mendapatkan perbup itu setiap geuchik menyerahkan uang  langsung kepada Kepala BPMPKS di ruang kerjanya,” ujar sumber portalsatu.com tersebut.

Sementara itu, Kepala BPMPKS Aceh Timur, Alfiandi, saat dikonfirmasi wartawan di kantornya membantah keras isu penjualan perbup tersebut. Namun dia mengatakan pihak BPMPKS tidak memilki anggaran khusus untuk mencetak perbup.

“Jadi untuk keseragaman dan tidak terjadi kesalahan dari perbup baru tahap ke II, pihak kita mengkoordinir untuk mencetak dan memperbanyak kemudian dibagikan kepada setiap geuchik,” katanya.

Dia mengaku BPMKS Aceh Timur tidak menjual perbup tersebut. Pihaknya hanya meminta uang seikhlas hati dari tiap geuchik untuk biaya fotokopi perbup.

“Jika geuchiknya fotokopi sendiri, kita takutkan ada yang salah atau tidak seragam. Namun Jika ada yang kasih uang kita terima dan kita tulis namanya, dan kalau tidak mau kasih, ya fotokopi sendiri aja, gak apa-apa,” ujarnya.

Menurut Alfiandi, uang dari hasil pemberian setiap geuchik akan digunakan untuk memperbaiki ATK Kantor BPMKS Aceh Timur. Dia mencontohkan seperti perbaikan printer dan membeli kertas yang selama ini digunakan untuk membantu geuchik agar proses pencairan dana ADG lancar.

Dia mengatakan pihak BPMPKS juga tidak memaksa meminta uang dari para geuchik.

“Kita hanya niat membantu geuchik saat ada data yang salah. Jadi mereka tidak perlu pulang lagi dan bisa menggunakan komputer yang disediakan pihak kita dan itu demi proses kelancaran administrasi untuk pencairan ADG,” ujarnya.

Dia menduga isu tersebut sengaja dikembangkan untuk kepentingan politik pihak tertentu.

“Ini saya tahu ada orang bermain di belakang untuk mempolitisir jabatan saya, kita di sini hanya niat baik untuk membantu dan tidak memaksa meminta uang dari geuchik,” katanya.[](bna)

Jenazah Warga Aceh Timur Korban Kapal Karam Malaysia Akhirnya Dibawa Pulang

Jenazah Warga Aceh Timur Korban Kapal Karam Malaysia Akhirnya Dibawa Pulang

IDI RAYEUK- Muhammad Nandar, salah satu korban tewas dalam musibah kapal karam di Malaysia dibawa pulang dari Bandara SIM Blang Bintang ke Gampong Seuneubok Pangoe, Aceh Timur, Rabu, 7 Oktober 2015.

“Ya, Muhammad Nandar merupakan warga kita yang musibah dalam kejadian di perairan Malaysia. Untuk saat ini kami bersama warga sedang menunggu kedatangan jenazahnya. Diperkirakan jenazahnya sampai ke sini sekitar pukul 23.00 WIB,” ujar Geuchik Desa Seuneubok Pangoe, Teungku Idris, kepada portalsatu.com sekitar pukul 20.00 WIB tadi.

Sebelumnya diberitakan perahu yang dinaiki oleh WNI karam di Perairan Sabak Bernam, Selangor, Malaysia pada kedudukan 9 mil laut barat daya, Tanjung Sauh, pada Kamis, 3 September 2015.

Perahu itu dinaiki sekitar 70 orang pendatang ilegal asal Indonesia yang diduga berangkat dari Kuala Sungai Bernam menuju Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara.[](bna)

Truk Pengangkut Puluhan Sepeda Motor Merk Honda Terbalik

Truk Pengangkut Puluhan Sepeda Motor Merk Honda Terbalik

IDI RAYEUK – Truk colt diesel BL 8581 AQ dilaporkan terbalik di kawasan Desa Seuneubok Teungoh, Kecamatan Idi Timur, Kabupaten Aceh Timur, Selasa, 6 Oktober 2015 sekitar pukul 08.00 WIB. Truk yang mengangkut 32 sepeda motor merk Honda ini disopiri Arisahputra, 26 tahun, warga Desa Ceurucok Sagoee, Kabupaten Pidie.

Truk tersebut dilaporkan dalam kondisi rusak parah dan barang bawaannya terhempas ke pekarangan rumah warga yang ada di tepi jalan tersebut. Puluhan sepeda motor yang bakal didistribusikan ke Aceh Timur dan Aceh Utara ini juga dilaporkan dalam kondisi rusak.

Kapolres Aceh Timur AKBP Hendri Budiman melalui Kanit Laka Aiptu Bustamam membenarkan kejadian tersebut. Dia mengatakan kecelakaan ini disebabkan supir mengantuk sehingga truk oleng.

“Namun dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa. Truk tersebut kini telah kita amankan guna untuk pemeriksaan lanjutan,” katanya.[](bna)

Siswa SD Paya Gajah Jadi Korban Tabrak Lari

Siswa SD Paya Gajah Jadi Korban Tabrak Lari

IDI RAYEUK- Muhammad Farel, 6 tahun, siswa kelas 1 Sekolah Dasar Negeri Paya Gajah,  Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, mengalami luka serius akibat kecelakaan saat pulang dari sekolah, tepatnya di Desa Paya Gajah, jalan lintas Medan-Banda Aceh sekitar Pukul 13.30 WIB, Selasa 6 Oktober 2015.

Akibat kecelakaan tersebut, korban mengalami luka  sobek di bagian wajah  dan patah di bagian kaki kirinya.

Pantauan wartawan di lapangan, sepeda motor jenis Kawasaki Ninja Nopol BL 3003 AY tergeletak di pinggir jalan. Sedangkan pengendaranya diduga sudah melarikan diri.

Menurut keterangan  salah satu saksi mata,  Nurhayati, 35 tahun, kepada portalsatu.com   menyebutkan saat itu Farel (korban) keluar dengan temannya hendak menyeberang jalan, namun tiba –tiba sepeda motor melaju cepat dari arah Medan sehingga menabrak korban hingga terpental.

“Tadi saya melihat si Farel( korban) ingin menyeberang dengan teman-temanya, namun tiba -tiba datang  sepeda motor dari arah Medan langsung menabraknya hingga jatuh,” katanya.

Nurhayati menyebutkan siswa SD N Payah Gajah sering terjadi kecelakaan  saat pulang sekolah. Hal ini diduga akibat tidak ada pengamanan pihak sekolah saat anak-anak menyeberang jalan di waktu pulang.

“Ini bukan kejadian yang pertama kalinya. Namun disini juga sering anak sekolah kecelakaan. Saya sendiri disini sudah tidak tahan melihat anak-anak yang kecil  ditabrak tanpa pengawasan pihak sekolah,” katanya.

motor pelaku

Sementara itu salah satu guru SD N Paya Gajah yang enggan menyebut namanya saat diwawancaarai portalsatu.com mengakui kurangnya pengawasan dari pihak sekolah untuk siswanya hingga terjadi kecelakaan.

“Ya, untuk pengamanan kita disini tidak ada, dulunya memang ada Satpol PP yang bertugas tapi sekarang tidak ada lagi,” ujarnya.

Kemudian saat ditannyai wartawan mengapa tidak ditugaskan salah seorang guru piket untuk melakukan pengamanan saat siswa  keluar dari sekolah? Guru tersebut menjawab,”Tugas kitakan hanya di sekolah. Kalau bel pulang sudah berbunyi itu bukan tanggung jawab kita lagi,” ujarnya.

Korban kini sudah dilarikan ke Pukesmas desa setempat guna untuk mendapat perawatan medis. Sedangkan pelakunya kabur dan kini sepeda motor sudah diamankan pihak kepolisian  kecamatan Peureulak Barat. [] (mal)

 

 

“Mahdi Bunuh Istrinya karena Curiga Kawin Lain”

“Mahdi Bunuh Istrinya karena Curiga Kawin Lain”

LHOKSEUMAWE – Kasus pembunuhan di Desa Matang Bungong, Kecamatan Peudawa Puntong, Aceh Timur, Kamis/kemarin, diduga dilatarbelakangi perasaan cemburu. Mahdi menikam Halimah dengan senjata tajam karena mencurigai istrinya itu menikah dengan pria lain.

“Berdasarkan pengakuan tersangka, pembunuhan tersebut murni akibat permasalahan keluarga. Tersangka mencurigai korban sudah menikah dengan orang lain. Tersangka kesal, sehingga membunuh isitrinya itu,” ujar Kapolres Aceh Timur AKBP Hendri Budiman melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu saat dikonfirmasi portalsatu.com, Jumat, 2 Oktober 2015.

Budi menyebut penyidik juga akan minta bantuan ahli terkait kondisi psikologis tersangka. “Soal tersangka diduga mengalami gangguan jiwa, tentunya juga akan diperiksa nantinya,” kata Kasat Reskrim ini.

Polisi menangkap Mahdi, tersangka pembunuhan Halimah di Desa Matang Bungong, tidak lama setelah kejadian, dan kini ditahan di Markas Polres setempat. Mahdi dilaporkan menikam istrinya itu dengan senjata tajam usai cek cok dalam keluarga mereka. (Baca: Suami Pembunuh Istri Ditahan di Mapolres Aceh Timur).[]

Foto ilustrasi

Suami Pembunuh Istri Ditahan di Mapolres Aceh Timur

Suami Pembunuh Istri Ditahan di Mapolres Aceh Timur

IDI RAYEUK –  Polisi menangkap Mahdi, 35 tahun, tersangka pembunuhan Halimah di Desa Matang Bungong, Kecamatan Peudawa Puntong, Aceh Timur, Kamis/kemarin, dan kini ditahan di Markas Polres setempat. Mahdi dilaporkan menikam istrinya itu dengan senjata tajam usai cek cok dalam keluarga mereka.

Kapolres Aceh Timur AKBP Hendri Budiman melalui Kasat Reskrim AKP Budi Nasuha Waruwu saat dikonfirmasi portalsatu.com, Jumat, 2 Oktober 2015, mengatakan, tidak lama setelah kejadian, petugas berhasil menangkap tersangka pembunuhan itu.

“Sekitar pukul 15.00 WIB, kemarin, korban menghembuskan nafas terakhirnya. Dan sekitar 15 menii kemudian kita berhasil menangkap pelaku pembunuhan yang merupakan suami dari korban,” ujar AKP Budi.

Menurut Budi, Halimah (korban) diketahui meninggal akibat ditikam suaminya Mahdi saat tersangka mengantar anaknya ke rumah mertua. “Mereka jumpa di tengah jalan, sehingga terjadi pertengkaran mulut dengan korban. Kemudian tersangka mencabut pisau menusuk korban di bagian dada sebelah kanan dan di telapak tangan kanan,” katanya.

Setelah kejadian tersebut, lanjut Budi, korban mengalami pendarahan hebat. Masyarakat setempat  lantas mengevakuasi korban ke RSU dr. Zubir Mahmud Idi Rayeuk.

“Tersangka dan barang bukti kini telah diamankan di Mapolres untuk pemeriksaan lanjutan,” kata Budi.

Diberitakan sebelumnya, Halimah, warga Desa Matang Bungong, Kecamatan Peudawa Puntong, Kabupaten Aceh Timur, tewas dibunuh pada Kamis, 1 Oktober 2015 sekitar pukul 13.30 WIB. Korban diduga ditusuk dengan pisau oleh suaminya, Mahdi.

“Sebelum kejadian, mereka sempat cek cok di dekat kedai yang tidak jauh dengan rumah korban,” ujar Geuchik Matang Bungong, Asnawi. Menurutnya, Halimah meninggal dunia dalam perjalanan saat dibawa ke Rumah Sakit Umum dr. Zubir Mahmud. (Baca: Sempat Cek cok, Halimah Tewas Ditikam Suami).

Geuchik Asnawi menduga Mahdi mengalami gangguan jiwa, sehingga nekat menghabisi nyawa istrinya. “Selama ini yang kita lihat dia sedikit mengalami ganguan jiwa. Namun tingkahnya di dalam masyarakat baik-baik saja,” kata Asnawi. (Baca: Nekat Tikam Istri Suami Halimah Diduga Mengalami Gangguan Jiwa).[] (idg)

Foto ilustrasi

 

Nekat Tikam Istri, Suami Halimah Diduga Mengalami Gangguan Jiwa

Nekat Tikam Istri, Suami Halimah Diduga Mengalami Gangguan Jiwa

IDI RAYEUK – Mahdi, suami Halimah, diduga mengalami gangguan jiwa sehingga nekat menghabisi nyawa istrinya. Hal ini disampaikan oleh Geuchik Matang Bungong, Asnawi, kepada portalsatu.com, Kamis, 1 Oktober 2015 sekitar pukul 16.30 WIB.

“Selama ini yang kita lihat dia sedikit mengalami ganguan jiwa. Namun tingkahnya di dalam masyarakat baik-baik saja,” kata Asnawi.

Asnawi mengatakan Mahdi saat ini telah dibekuk petugas Polsek Peudawa. Sementara jenazah Halimah sedang dimandikan di rumah duka dan akan dikebumikan di TPU setempat.

Informasi yang dihimpun wartawan menyebutkan almarhumah Halimah meninggalkan enam orang anak.

Sebelumnya diberitakan, Halimah, warga Desa Matang Bungong Kecamatan Peudawa Puntong, Kabupaten Aceh Timur, tewas dibunuh pada Kamis, 1 Oktober 2015 sekitar pukul 13.30 WIB. Korban diduga ditusuk dengan pisau oleh suaminya, Mahdi.

“Sebelum kejadian mereka sempat cek cok di dekat kedai setempat yang tidak jauh dengan rumah korban,” ujar Geuchik Matang Bungong, Asnawi, kepada portalsatu.com.[](bna)

Sempat Cekcok, Halimah Akhirnya Tewas Ditikam Suami

Sempat Cekcok, Halimah Akhirnya Tewas Ditikam Suami

IDI RAYEUK – Halimah, salah satu warga Desa Matang Bungong, Kecamatan Peudawa Puntong, Kabupaten Aceh Timur, tewas dibunuh pada Kamis, 1 Oktober 2015 sekitar pukul 13.30 WIB. Korban diduga ditusuk dengan pisau oleh suaminya, Mahdi.

“Sebelum kejadian mereka sempat cekcok di dekat kedai setempat yang tidak jauh dengan rumah korban,” ujar Geuchik Matang Bungong, Asnawi, kepada portalsatu.com.

Menurutnya Halimah meninggal dunia dalam perjalanan saat dibawa ke Rumah Sakit Umum dr. Zubir Mahmud. Almarhumah mengalami pendarahan hebat akibat luka tusukan di bagian punggung dan lengan kanannya.

Asnawi mengatakan jenazah Halimah kini telah dibawa pulang ke rumah duka di Desa Matang Bungong untuk disemayamkan.

Sementara itu, Kasat Reskrim Aceh Timur, AKP Budi Nasuha Waruwu, yang hendak dikonfirmasi oleh portalsatu.com membenarkan kejadian tersebut. “Kita sekarang sedang berada di lapangan,” katanya singkat via selular.[](bna)