Aroma Teror di Ladang Sawit Seureuke

Suwardi bergegas menghambur ke arah rombongan Danrem dan Bupati Aceh Utara yang baru saja tiba di kampungnya, Senin, 2 Januari 2012 tengah hari. Pria berusia 52 tahun itu ikut terimbas kasus penembakan yang menewaskan satu warga Seureuke dan mengirim seorang lainnya ke rumah sakit.

Suwardi memang tidak menjadi korban penembakan. Namun, rumahnya yang terpisah empat rumah dari lokasi penembakan, ikut disiram hujan. "Kami takut sekali, Pak. Kami minta diberi pengamanan Pak. Bagaimana kami mencari rezeki jika keadaannya seperti ini," kata Suwardi.

Suwardi pantas takut. Minggu malam, saat tahun baru saja berganti, terjadi penembakan di warung milik Paimin. Awalnya, sekitar pukul 21.30 wib, sekelompok orang yang datang dengan sepeda motor menanyakan arah menuju Langkahan. Namun, belum sempat dijawab, pelaku yang diperkirakan 4-5 orang memberondong tembakan secara membabi buta ke arah warga desa yang sedang duduk-duduk di warung.

Akibatnya, Suryadi dijemput malaikat maut setelah peluru menembus tubuhnya. Sedangkan Edi Karyawanto saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit Kesrem Lhokseumawe.

Usai melepaskan tembakan di warung kopi, pelaku juga memberondong tembakan ke arah dua rumah warga di sekitar lokasi kejadian. Salah satunya adalah milik Suwardi. Di rumahnya, polisi menemukan 17 selongsong peluru dari total 45 peluru yang ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Penjabat Bupati Aceh Utara M. Ali Basyah lantas meminta warga mengaktifkan kembali pos-pos jaga. Dia juga meminta polisi dan TNI menitipkan personilnya untuk berjaga bersama masyarakat di tempat-tempat yang dianggap rawan.

Saat ini sejumlah pasukan TNI dan Polri berjaga-jaga di lokasi kejadian.

Komandan Korem 011 Lilawangsa Kolonel Infanteri A Rachim Siregar mengatakan, aksi itu dilakukan secara spontan dan tidak terorganisir."Ada pihak-pihak yang ingin mengacaukan perdamaian di Aceh. Kelompok di Langkahan ini berbeda dengan kelompok di Bireuen dan Geureudong Pase. Hanya saja motifnya membuat masyarakat resah," kata Danrem.

Pemandangan di Seureuke memang tak beda jauh dengan Geureudong Pase. Desa transmigrasi ini berada di tengah-tengah perkebunan sawit. Kampung yang berjarak sekitar 40 kilometer dari jalan negara Banda Aceh-Medan ini dibuka sebagai lokasi transmigrasi sejak 1981. Posisinya berbatasan dengan Aceh Timur dan Aceh Tengah.

Untuk tiba di Blok B, Desa Seureuke, butuh waktu 1,5-2 jam dari Lhoksukon, ibukota Aceh Utara. Medan tempuh juga lumayan sulit. Jalan aspal hanya ada sepanjang 12 kilometer hinggi Cot Girek. Dari Cot Girek ke Seureuke melewati jalan line pipa gas line pipa gas ExxonMobil yang berbatu-batu yang menanjak di antara perbukitan-perbukitan yang tidak terlalu tinggi.

***

Warung kopi di lokasi penembakan  itu masih berdiri utuh. Beberapa lubang bekas peluru masih terlihat. Siang tadi, warung berkonstruksi  kayu itu tutup, hanya pintunya saja yang terbuka. Di teras depan, kursi-kursi tempat Suryadi dan Eko –dua korban penembakan– duduk malam itu, masih berada di tempatnya.

"Kami belum berani buka dan masih berduka," kata Paimin.

Paskatragedi penembakan itu, aroma ketakukan memang begitu kentara di Blok B, Desa Seureuke, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Menjelang magrib datang sore tadi, orang-orang langsung masuk ke rumah.

Tragedi penembakan itu telah mengusik kedamaian Suwardi dan warga desa lain. Aroma teror pun berhembus di antara ladang-ladang sawit Seureuke.[]
 

  • Uncategorized

Leave a Reply