Angin segar dari sektor ekonomi Aceh

Pertumbuhan ekonomi Aceh pada 2012 menorehkan kenaikan berarti. Laju inflasi ditekan di bawah rata-rata nasional. Apakah rakyat sejahtera?
______________________________________

Hotel itu berdiri megah di Jalan Panglima Nyak Makam, Lampineung, Banda Aceh. Hermes Palace, namanya. Berdiri sejak 2006, inilah satu-satunya hotel berbintang empat di Banda Aceh.  Hotel ini pula yang sering dipakai jika ada event berskala nasional atau internasional.

Saat disambangi The Atjeh Times pada Jumat pekan lalu, sejumlah wajah bule dan tamu luar Aceh terlihat di lobi hotel. Sebagian mereka datang ke sebagai wisatawan, sebagian lainnya untuk keperluan dinas atau berbisnis.

Communication Marketing Hermes Palace Hotel, Swestika Okfina mengatakan, jika dibanding tahun sebelumnya, pada 2012 jumlah tamu yang menginap di hotel itu meningkat 7 persen. Jika pada 2011 ada 52 ribu tamu, pada 2012 jumlahnya menjadi 55 ribu.

Munculnya sejumlah hotel lain di Banda Aceh tak membuat Hermes Palace sepi pengunjung. Kata Fina, persaingannya memang menjadi lebih kompetitif. Selain Hermes, ada belasan hotel lain berbagai kelas di Banda Aceh. Ini belum termasuk wisma dan penginapan lain.

Pada 2012, Dinas Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Banda Aceh mencatat, Pendapatan Asli Daerah dari sektor jasa perhotelan mencapai Rp 3,2 miliar, melebihi target yang semula dipatok hanya Rp3 miliar.

“Banyaknya pengunjung yang datang ke Aceh membuat jasa perhotelan berkembang, secara tidak langsung juga menumbuhkan perekonomian Aceh” kata Fina.

***

Jasa perhotelan hanya salah satu sektor yang ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi Aceh.  Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat, pertumbuhan ekonomi Aceh terus mengalami peningkatan sepanjang 2012.

“Ada peningkatan pertumbuhan ekonomi Aceh per triwulan pada 2012. Jika pada triwulan pertama tercatat 5,12 persen, triwulan kedua 5,20 persen, pada triwulan ketiga  5,21 persen, dan pada triwulan keempat tercatat 6,06 persen,” kata Kepala BPS Aceh Syeh Suhaimi kepada wartawan di Banda Aceh, Selasa pekan lalu.

Pada kuartal keempat, kata Suhaimi, indeks pertumbuhan ekonomi Aceh mencapai 1,70 persen dengan migas. Sementara pertumbuhan tanpa migas mencapai 1,94 persen dari tahun ke tahun (y to y).

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Aceh dari sektor migas mencapai 6,06 persen. Sementara pada 2011 hanya mencapai 5,87 persen.

Di sektor migas, pertumbuhan ekonomi Aceh mencapai 5,20 persen. Angka ini meningkat dibanding 2011 yang hanya mencapai 5,00 persen.

Untuk nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) migas pada triwulan ke empat meningkat Rp24,76 triliun dan Rp20,97 triliun PDRB nonmigas pada triwulan empat tahun 2012. Di triwulan ketiga, PDRB migas hanya mencapai Rp24,27 triliun rupiah sedangkan PDRB nonmigas sebesar Rp20,49 triliun.

“Jika dibandingkan dari tahun ke tahun, PDRB migas tahun 2011 tercatat Rp87,99 triliun, dan tahun 2012 sebesar Rp96 triliun. Sedangkan untuk PDRB nonmigas tahun 2011, sebesar Rp73, 3 triliun dan tahun 2012 mencapai Rp81,04 triliun,” ujarnya.

Sehari sebelumnya Kepala Perwakilan BI Aceh Zulfan Nukman juga menyampaikan hal yang sama. Saat bertemu Gubernur Aceh dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Meuligoe Gubernur, Zulfan melaporkan pertumbuhan ekonomi Aceh tumbuh positif.

“Ini tidak terlepas dari dunia perbankan, jadi perlu diberikan apresiasi kepada mereka” kata dia.
Sektor perbankan, kata Zulfan, telah membantu pemerintah dengan menyalurkan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dalam bentuk usaha kecil dan menengah.

Pertumbuhan keuangan di seluruh perbankan di Aceh,  kata Zulfan, sangat memuaskan karena dana pihak ketiga berupa penanaman modal, baik saham maupun tabungan jangka panjang mencapai Rp 19,8 triliun.

“ Dari jumlah tersebut sebesar Rp 18 triliun lebih telah disalurkan melalui Kredit Usaha Rakyat” kata Zulfan.

Hanya saja, Zulfan juga mengingatkan soal banyaknya uang Aceh yang dibelanjakan ke luar daerah, seperti Medan, Sumatera Utara. Jumlahnya, mencapai triliunan rupiah.

“Masyarakat kita cenderung konsumtif dan minimnya tingkat daya saing produksi di Aceh. Sehingga uang Aceh masih cenderung keluar dari Aceh,” ujar Kepala Bank Indonesia Perwakilan Aceh Zulfan Nukman tersebut.

Zulfan mengatakan, dari laporan Bank Indonesia Perwakilan Medan, jumlah uang masyarakat Aceh di Medan, pada 2012 mencapai Rp1,6 triliun.

“Adanya putaran uang milik masyarakat Aceh keluar, tentunya mempengaruhi keuangan Aceh,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan BI Wilayah IX Bagian Sumatera Utara dan Aceh, Hari Utomo mengatakan, angka inflasi terus menurun sepanjang 2012. Jika pada akhir 2011 angka inflasi mencapai 3,43 persen, pada akhir 2012 turun menjadi 0,22 persen.

“Angka ini jauh lebih rendah dari inflasi nasional yang tercatat sebesar 4,3 persen,” kata Hari Utomo saat melantik Zulfan Nukman sebagai Kepala BI Aceh yang baru.

Menurut catatan BPS, rendahnya inflasi lantaran harga barang yang stabil. Selain itu, adanya program pengobatan gratis melalui JKA dan pendidikan gratis secara tidak langsung juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Aceh dan menurunkan laju inflasi.

Hari Utomo pun memaparkan sejumlah indikator lain, seperti membaiknya kesejahteraan rakyat. “Jika pascatsunami 2005 penduduk miskin di Aceh mencapai 1, 17 juta jiwa atau 28 persen,  sekarang turun menjadi 909  ribu jiwa atau tersisa 18 persen” kata dia.

Menurut Hari, membaiknya indikator itu melahirkan optimisme akan stabilitas ekonomi makro di Aceh.

Pada kesempatan yang sama, Sekda Aceh Teuku Setia Budi menyebutkan, pendapatan perkapita masyarakat meningkat setiap tahun. Jika pada 2011, sebesar 16,28 juta per tahun, pada 2012 meningkat menjadi 17,46 juta.

Pengamat Ekonomi Aceh yang juga Dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah Raja Masbar mengatakan geliat ekonomi Aceh saat ini pertumbuhannya memang sangat baik dibandingkan sebelumnya. Bahkan, kata dia, dari data yang pernah diterimanya, angka inflasi di Aceh saat ini cukup rendah dibanding sebelum bencana tsunami 2004.

Sektor pertanian, kata dia, kalau diamati juga terjadi pertumbuhan cukup baik.  Begitu juga dengan sektor jasa dan produksi. ”Namun, kita tidak punya angka pasti sehingga tidak bisa memberi keterangan lebih jauh” kata dia.

Raja Masbar optimis dengan telah disahkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh atau APBA 2013, pertumbuhan ekonomi Aceh akan semakin meningkat. “Secara tidak langsung, akan ada investasi pemerintah di bidang bangunan seperti pembangunan jembatan dan jalan sehingga membuka lapangan kerja, begitu juga di sektor pertanian dan lainnya,” ujarnya.

Kepala Subbidang Pengembangan Produksi dan Produktivitas pada Bidang Perencanaan Bappeda Aceh, Syahyadi, memperkuat pernyataan Raja Masbar.

Kata dia, pemerintah akan terus memacu pembangunan di sektor pertanian, bangunan, jasa-jasa, juga sektor ekonomi mikro dan usaha kecil.

Jika selama ini perekonomian Aceh bergantung dari sektor pertambangan dan penggalian seperti migas, ke depan hal itu tak lagi bisa dijadikan andalan. “Ke depan pembangunan ekonomi Aceh harus mulai dilepaskan dari ketergantungan hasil tambang, terutama minyak bumi dan gas,” ujarnya.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply